Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
11. Vonis Dokter


__ADS_3

Kini genap sudah sebulan lamanya aku resmi jadi istrinya Kak Zii.


Tak ada yang berubah dari hidupku baik saat sebelum menikah atau setelah menikah.


Mungkin bedanya, kini kewajibanku bertambah. Ya, setiap hari aku kadang harus menyiapkan keperluan Kak Zii dan pastinya melayaninya setiap suamiku itu menginginkannya.


Seperti halnya pagi ini. Kami telah selesai melakukannya.


“Kakak enggak ke kantor? Sudah mau jam delapan lho, Kak?” ucapku membuka obrolan.


Tak lupa mendongakkan kepala supaya bisa melihat wajah tampannya itu. Sebab, sedari tadi aku hanya membenamkan muka di dada bidangnya.


“Hari ini Kakak sengaja meliburkan diri,” jawabnya serak.


Dieratkan pelukannya di pinggangku.


Mungkin sadar akan ekspresiku yang bingung. Kak Zii kembali menambahkan, “Kakak kan harus temani kamu ke dokter kandungan. Bukannya kemarin kita sudah janji akan pergi, hmm?”


Ah, iya. Benar. Hari ini aku harus ke dokter kandungan karena harus memeriksa keadaanku.


Padahal mau lebih sebulan kami menikah, tetapi belum juga ada tanda-tanda aku akan hamil.


Karenanya Kakak menyarankan supaya aku memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Barangkali ada hal yang membuatku terlambat hamil atau semacamnya.


“Kak...,” panggilku hati-hati.


“Hmm.”


Mata hitamnya kembali membuka setelah sebelumnya sempat terpejam.


“Bagaimana kalau ternyata aku enggak bisa kasih Kak Zii anak? Apa Kakak akan tetap mencintaiku?”


Entah perasanku atau memang benar adanya, tiba-tiba saja tubuh Kak Zii menegang. Air mukanya pun sedikit berubah. Dari tatapannya, ia tampak tengah memikirkan sesuatu.


“Kak?” panggilku pelan karena sedari tadi ia sibuk melamun.


“Ah, iya. Kita siap-siap sekarang, Na. Kakak mau mandi dulu,” jawabnya cepat. Seakan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ia melepaskan pelukannya di pinggangku. Lantas, bangkit begitu saja dari kasur.


“Kakak enggak mau mandi denganku?”


Aku mencoba menggodanya karena merasa sikap Kak Zii sedikit berubah setelah kuajukan pertanyaan tadi.


Pikirku, Kak Zii akan mengiyakan tawaranku karena biasanya kami selalu menghabiskan waktu di kamar mandi bersama-sama. Namun, sepertinya kali ini tidak.


Kulihat Kak Zii menggelengkan kepalanya. Dan dengan cepat, masuk ke dalam kamar mandi. Menghilang di baliknya.


Melihat sikap Kak Zii yang seperti itu membuat hatiku tak nyaman. Ada perasaan takut yang muncul. Khawatir bila apa yang menjadi ketakutanku terjadi.


Bagaimana jika Kak Zii membuangku karena tak bisa memberikannya keturunan? Apa yang akan aku lakukan bila hal itu benar terjadi?


Sementara aku telah menyerahkan semua yang kupunya kepadanya, termasuk dengan hatiku.


Entah sejak kapan, Kak Zii berhasil menggeser posisi Dien di hatiku.


Sebulan hidup dengan Kak Zii membuatku benar-benar merasakan yang namanya dicintai. Kak Zii betul-betul bisa memanjakanku, terutama dalam perkara ranjang.


Dia benar-benar ahli. Aku yang semula tak tahu banyak tentang hal semacam itu, kini menjadi ingin terus melakukannya.

__ADS_1


Kak Zii memang telah mengubahku menjadi wanita yang awalnya polos menjadi perempuan yang kini terus menginginkannya.


“Na, mandilah. Kakak tunggu di bawah. Kakak akan siapkan sarapan!” ucapnya setelah keluar dari kamar mandi.


Aku mengangguk dan berjalan ke kamar mandi.


Sengaja aku tak menggunakan selimut untuk menutupi tubuhku. Aku masih ingin menggoda suamiku itu.


Barangkali, kali ini ia akan terpikat. Namun, lagi-lagi tak berhasil. Kak Zii malah memalingkan mukanya.


Dengan kesal, kubuka pintu kamar mandi dan menutupnya keras.


Akh..., apakah aku kini telah berubah menjadi wanita j*lang?


Ke mana rasa maluku yang dulu? Ya meski tak masalah menunjukkannya pada suami sendiri, tetapi tak bisakah aku tetap menjaga harga diriku?


Akh..., benar-benar membuatku tak habis pikir.


...***...


“Ini. Makan!” ucap Kak Zii sembari menyodorkan sepiring spageti di hadapanku.


“Apa Kakak marah karena pertanyaanku tadi?”


“Makan dulu, Na.”


Sepertinya Kak Zii memang marah karena sejak tadi ia tak menggubris ucapanku.


Dengan tak berselera, aku mencoba memakan spageti yang disajikannya. Entah kenapa rasanya hambar.


“Kenapa? Tak suka?”


Aku mengangguk.


Aku masih mematung di tempat karena baru kali ini Kak Zii membentakku seperti itu.


Biasanya ia akan dengan senang hati menggantikan makananku atau menawarkan makanan yang lain bila aku tak menyukainya.


‘Kenapa sikap Kak Zii mendadak berubah seperti ini setelah aku mengatakan bahwa aku kemungkinan tak bisa memberinya anak?’ batinku terus bertanya.


'Apakah sikapnya semudah itu berubah? Padahal selama ini kami baik-baik saja.'


Hanya bisa pasrah dan terus berdoa. Semoga saja sikap Kak Zii yang manis dan penuh perhatian itu segera kembali.


“Ayo, pergi! Kakak tunggu di mobil,” titahnya.


Ia berjalan begitu saja keluar rumah. Tanpa menungguku.


Lagi-lagi aku hanya bisa membuang napas melihat sikap Kak Zii yang tiba-tiba menjadi dingin.


Tanpa memedulikan makananku, apalagi berniat untuk menaruhnya ke dapur, aku lantas beranjak begitu saja dan menyusul sang suami yang sudah jauh di depan.


Selama di mobil tak banyak obrolan yang kami bicarakan karena Kak Zii hanya menanggapi pertanyaanku sambil lalu. Padahal aku telah berusaha keras membangun obrolan, tetapi sepertinya sia-sia.


Suamiku itu tak tertarik dengan obrolan kami. Ia malah sibuk dengan jalanan di depannya.


“Turun!” perintahnya datar.


Lekas dibukanya pintu mobil dan tanpa menungguku, ia langsung berjalan mendahului. Lagi-lagi meninggalku di belakangnya.


“Kak, tunggu!” ucapku sambil berusaha mengejarnya, tetapi alih-alih berhenti Kak Zii malah semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa pasrah sembari menatap punggung suamiku yang semakin jauh di depan.


...***...


“Kak, aku minta maaf kalau aku ada salah,” ucapku serius setelah berhasil duduk di bangku—di sampingnya.


Ya. Sekarang kami tengah berada di ruang tunggu. Menunggu antrean dipanggil.


“Sudah, Na. Kakak lagi pusing. Kamu jangan ajak Kakak bicara.”


“Tapi, Kak—“


“Dengan Bu Kana. Dokter Isna telah menunggu.”


Ucapanku terpotong karena mendengar suara perawat yang memanggil namaku.


“Ayo!” ajak Kak Zii sambil menarik tanganku.


Aku pun bangkit dan mengikuti langkahnya menuju ruangan dokter Isna.


Sekitar dua puluh menit dokter memeriksaku dan kini tinggal menunggu hasilnya.


“Jadi, bagaimana hasilnya, Dok?”


Kak Zii langsung bertanya setelah aku selesai diperiksa. Sikap tak sabarannya keluar.


Aku yang masih berbaring di kasur rawat pun beranjak turun. Memilih kembali duduk di kursi—di samping Kak Zii.


Kulihat dokter Isna menghela napasnya. Dari air muka sang wanita, sepertinya akan ada berita buruk yang akan kami terima. Hal itu tentu membuatku takut.


“Sebelumnya kami turut prihatin atas apa yang menimpa Bu Kana...”


“Apa maksud Dokter? Katakan dengan jelas!” sambar Kak Zii ketus.


“Kak, sabar!”


Aku mencoba menenangkannya meski hatiku juga tak tenang.


“Bu Kana tidak akan bisa memiliki anak.”


Brak...


Kak Zii menggebrak meja yang ada di depan kami. Sampai-sampai beberapa benda yang ada di atasnya terjatuh.


“Dokter jangan asal bicara. Saya bisa tuntut dokter jika benar dokter memberikan informasi bohong,” bentak sang pria.


“Saya tidak berbohong. Bapak boleh periksa istri Bapak di rumah sakit lain dan saya sangat yakin hasilnya akan tetap sama kalau istri Bapak mandul,” jawab Dokter Isna yang tak kalah kerasnya.


Sementara aku hanya bisa terdiam. Kristal-kristal bening telah mengalir sejak tadi, menganak sungai di pelupuk mataku.


Tak sanggup rasanya mendapati kenyataan sepahit ini.


“Akh..., b*r*ngsek.” Kak Zii mengumpat.


Kemudian dengan kasar berdiri begitu saja. Lantas keluar dari ruangan dokter Isna.


Lagi-lagi, untuk ke sekian kalinya ia meninggalkanku.


“Maafkan sikap suami saya, Dok. Mungkin, beliau masih belum bisa menerima kenyataan ini.”


Aku berusaha bicara setegar mungkin meski suarku bergetar.

__ADS_1


Dokter Isna hanya mengangguk. Setelah itu, aku berpamitan dan langsung keluar. Berniat menyusul Kak Zii yang entah ke mana perginya.


Next...


__ADS_2