Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
25. Telepon


__ADS_3

“Pa...”


Laki-laki yang tengah duduk bersantai di ruang tengah sembari memfokuskan netra pada ponselnya menoleh.


Ia tersenyum.


“Sini, duduk!”


Aku mengangguk dan langsung duduk di depan beliau.


“Ada apa? Tumben pagi-pagi nyari, Papa?”


Sedikit ragu untuk mengatakannya, tetapi karena terlampau penasaran mau tak mau aku harus tanya.


“Itu..., Tan-te Ratna siapanya, Papa?”


“Ratna?”


“Iya, kemarin beliau nyari Papa sampai datang ke rumah. Papa kenal sama Tante Ratna?”


“Iya, kenal. Kenapa?”


“Enggak ada sih, tapi berarti Papa tahu kalau dulu yang menyelamatin Kana adalah Tante Ratna?”


Laki-laki berkacamata ini mengangguk.


“Apa wanita itu yang cerita atau Papa tahu sendiri?”


“Kalau it—“


Drt... drt... drt...


“Sebentar, Sayang. Papa harus terima telepon. Dari Kakakmu.”


Deg!


Dada ini langsung naik turun. Napasku mendadak sesak. Mau apa lagi laki-laki itu?


Entah sengaja atau tidak, Papa tak beranjak dari duduknya. Beliau masih tetap di sini—di depanku—seolah-olah dibuat-buat supaya aku dapat mendengar percakapan mereka.


[Pa, Zii rencana bakal balik.]


Mematung tubuh ini. Tanganku terulur memegang dada yang makin menyempit. Napasku makin memburu.


“Kenapa secepat itu, Nak? Bukannya studimu belum selesai?”


[Hanya satu semester lagi, Pa. Setelah itu Zii pulang.]


Papa mengangguk. Senyum di bibirnya tak bisa disembunyikan. Laki-laki ini terlihat bahagia. Mungkin karena sebentar lagi, ia akan bertemu dengan anak semata wayangnya.


Sedang aku adalah kebalikan dari Papa. Diri ini belum siap bertemu dengan laki-laki itu. Amat belum siap. Hatiku belum sepenuhnya memaafkan. Belum bisa lebih tepatnya.


“Baik. Papa senang mendengarnya. Apalagi, adikmu juga sudah di rumah sekarang. Kamu pasti senang.”


Mata ini langsung menatap ke arah Papa. Terkejut. Buat apa laki-laki ini menyebut-nyebutku dalam percakapan mereka?

__ADS_1


[Apa dia baik-baik saja, Pa?]


Kembali, semakin kaget diri ini. Tak menyaka sama sekali, kalau laki-laki itu akan menanyakan keadaanku.


Pun kenapa? Kenapa dari nada suaranya, si laki-laki tampak khawatir? Apakah karena ia tahu aku di sini—mendengar—makanya ia berpura-pura sok peduli?


Akh..., dasar laki-laki berengs3k.


“Apa kamu mau bicara sama adikmu, Nak? Mumpung sekarang Kana ada di samping Papa?”


Membola mataku. Kepala ini kugeleng-gelengkan kuat-kuat, pertanda bahwa aku tak mau.


Namun, alih-alih paham, Papa malah tersenyum. Sembari terus menyodorkan ponsel miliknya padaku.


“Kakakmu mau bicara, Na.”


Lagi, aku menggeleng.


“Hanya sebentar, Sayang. Barangkali ada hal yang ingin Kakakmu sampaikan. Berilah kesempatan untuknya.”


Papa meletakkan gawainya di atas meja, sedang beliau langsung pergi, entah ke mana. Sepertinya Papa memang sengaja menghindar—memberi ruang untukku bicara dengan laki-laki di telepon ini.


[Pa..., hallo...]


Sejenak aku hanya menatap ponsel. Membiarkan si penelepon bicara seorang diri.


[Pa, apa Papa di sana?]


Teruslah bicara karena sampai kapan pun aku tak akan menjawab. Aku akan diam sampai dia mematikan telefonnya.


[Pa..., apa Papa mendengar suara, Zii?]


[Na, Kakak tahu kamu di sana.]


Langkah ini terhenti. Mematung. Dari mana ia tahu?


[Kakak minta maaf, meski Kakak sadar Kakak tak pantas menerima maafmu. Kakak menyesal, Na. Kakak benar-benar berengs3k.]


Menutup telinga.


[Andai waktu bisa diulang, Kakak akan minta sama Tuhan buat tidak mempertemukanmu dengan laki-laki j4hanam seperti Kakak. Hanya karena dendam Kakak yang tak logis, Kakak sampai merusakmu. Kaka—]


“DIAM!”


Pada akhirnya aku bersuara juga. Ah, atau lebih tepatnya berteriak.


Seketika. Langsung hening. Tak ada suara lagi yang terdengar.


Masih membiarkan gawai Papa di atas meja dan kini malah membelakanginya. Aku berucap, “Aku muak. Aku lelah. Aku capek. Jadi, tolong berhenti..., berhenti usik hidupku. Cukup dulu kau rusak diri ini. Sekarang, jangan lagi. Aku mohon.”


Lama tak ada balasan. Hanya kudengar helaan napas panjang. Hingga...


[Jika itu maumu, Na. Kakak akan lakukan. Kakak akan bilang sama Papa kalau Kakak akan menetap di sini. Kakak tidak akan pulang. Kakak tidak ingin menyakitimu lagi. Jaga dirimu baik-baik. Kakak menyayangimu.]


Setelah itu kudengar bunyi panggilan terputus. Sepertinya si laki-laki memutuskannya.

__ADS_1


Menurunkan kedua tangan yang kupakai untuk menutup telinga. Membawanya ke depan dada. Memegang jantung yang tak bisa tenang.


“Hah...”


Berusaha mengatur laju napas yang masih tak normal. Masih sesak, apalagi setelah mendengar pengakuan terakhir Kak Zii yang entah benar atau tidak.


‘Kakak menyayangimu.’


Kenapa? Kenapa hanya dengan kalimat itu hati ini langsung goyah padahal belum tentu laki-laki itu tulus mengucapkannya.


“Sudah, Na?”


Langsung menoleh diri ini ke arah sumber suara. Papa telah kembali.


“Papa sengaja kan?” tuduhku langsung.


“Sengaja apa, Sayang? Papa hanya memberi kesempatan sama Kakakmu. Kasihan dia, Na. Andai kamu tahu bagaimana dulu Kakakmu itu begitu menderita setelah mendengar kondisimu yang sempat koma—berminggu-minggu tak sadarkan diri.”


Diri ini kembali duduk, di tempat semula. Mengikuti Papa yang juga duduk di sofa.


“Maksud Papa?”


“Zii sempat mogok makan. Kakakmu itu hanya mengurung diri di kamar. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Setiap malam, setiap hari ia selalu meracau, ia menyesali perbuatannya. Bahkan ia juga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit karena tubuhnya kekurangan nutrisi.”


Diri ini masih mencoba menyimak walau pikiran dan hati ini menolak untuk percaya.


“Setelah dinyatakan pulih oleh dokter dan ia bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya, sehari—sepulang dari rumah sakit, Kakakmu itu langsung menyerahkan dirinya ke polisi.”


Aku menunduk. Apakah yang kudengar tadi adalah kenyataannya? Apakah laki-laki itu benar menyesali perbuatannya?


Namun, buru-buru aku menggeleng.


Tidak. Itu tidak mungkin. Laki-laki yang nyata-nyata menginginkan kematianku, mana mungkin menyiksa dirinya hingga harus dilarikan ke rumah sakit? Pun, menyerahkan diri ke polisi?


Akh..., terlalu dini untuk mempercayai ucapan Papa. Pasti itu hanya cerita rekaan Papa supaya hati ini merasa iba hingga akhirnya aku memaafkan laki-laki itu.


“Papa bicara apa adanya, Na. Papa tidak bohong. Buat apa Papa membohongimu. Kamu bisa mencari sendiri buktinya. Kamu bisa mendatangi rumah sakit dan kantor polisi. Kamu bisa tanya langsung. Apakah perkataan Papa ini benar atau tidak.”


Masih mencoba tak terlalu mendengarkan.


“Papa bukan mau membela Kakakmu. Tidak sama sekali. Tapi, apa salahnya memberi kesempatan padanya, Na. Bukalah sedikit hatimu, Sayang. Liatlah ketulusannya. Jangan biarkan dendam dan rasa benci itu menguasai dirimu. Selama masih ada waktu, selama masih ada kesempatan, orang bisa berubah, Sayang. Segala sesuatu bisa terjadi.”


Masih diam. Kepala ini masih betah menunduk. Belum kutemukan kata-kata untuk menjawab ucapan Papa. Ingin menyangkal, tetapi entah kenapa hati ini rasanya tertampar. Ada getar tak wajar di dalamnya.


“Permisi, Tuan. Maaf mengganggu, tapi di depan ada tamu.”


Mengangkat kepala karena Bi Sirim tiba-tiba datang mencari Papa.


“Siapa, Bi?”


“Bu Ratna, Tuan.”


Kulihat Papa mengangguk dan lekas bangkit dari sofa.


“Papa tinggal dulu, Sayang,” pamit sang pria kepadaku.

__ADS_1


Setelah itu, baik Papa ataupun Bi Sirim pergi. Meninggalkanku seorang diri. Yang masih sibuk dengan pikiran-pikiran yang terus mengitari kepala ini.


Next...


__ADS_2