Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
29. Ia Kembali


__ADS_3

POV Dien


Sudah tiga tahun lebih berlalu semenjak kepergian Kana dan selama itu pula aku telah meninggalkan rumah Ibu.


Benar. Pada akhirnya, aku lebih menuruti kata hati—menunggu Kana kembali—dibandingkan harus melanjutkan hubungan dengan Iska. Setelah dipikirkan masak-masak, aku mundur memperjuangkan Iska karena aku tak ingin menyakiti hatinya.


Tahu. Aku memang b***ngsek, tetapi aku tak sejahat itu untuk memberikan kebahagiaan semu kepadanya.


Menikahi Iska bukanlah solusi, yang ada itu masalah. Mengingat, Iska akan terus menderita karena sikapku karena hati ini seutuhnya telah kembali menjadi milik Kana.


Namun malang, apa yang kutunggu-tunggu tidak jua datang. Sampai detik ini, aku belum pernah bertemu lagi dengan pujaan hatiku itu. Hanya mendengar kabar bahwa ia telah sadar dari komanya.


Pun katanya, sekarang ia masih di luar negeri—tinggal dan melanjutkan pendidikannya di sana. Kapan ia kembali? Aku tak tahu. Benar-benar tidak tahu.


Bahkan sekarang, aku mulai menyerah dengan perasaanku. Aku tak yakin apakah perasan ini akan terbalas. Memikirkan apakah ia masih mengingatku atau tidak, pun aku tak tahu. Boleh jadi, ia telah menemukan tambatan hatinya di sana. Laki-laki yang pastinya di atas segalanya dibandingkan diriku.


Apalah aku, seorang pengangguran yang sampai detik ini masih berusaha mencari pekerjaan.


Jangankan untuk menghidupi anak orang, membiayai diri sendiri pun aku masih kewalahan.


“Hah...”


Membuang napas. Lambat-laun hidup ini mulai menakutkan. Terlebih, di saat apa yang direncanakan, yang diharapkan tidak pernah terwujud.


Namun, terlepas dari apa yang akan terjadi nanti, aku percaya bahwa Sang Kuasa sudah menyiapkan segalanya. Hanya bisa berharap, akan ada keajaiban yang tidak kuduga-duga.

__ADS_1


Mendongak kepala ini. Pun, turut terangkat sudut-sudut bibir. Menatap langit-langit ruangan yang tampak putih bersih.


Hari ini, aku akan melakukan wawancara kerja. Meski sudah sering ditolak banyak perusahaan, tetapi tak ada salahnya untuk mencoba kembali.


Selama masih bisa, kenapa tidak, kan? Lebih baik mencoba tapi gagal daripada menyesal karena tidak pernah mau melakukan.


Haha..., sepertinya aku berbakat menjadi motivator.


“Dengan Pak Rahdien Alamsyah. Silakan masuk, Pak!”


Aku menoleh ke arah laki-laki yang tadi memintaku itu dan dengan cepat mengangguk. Lekas kubangkit dari tempat duduk. Yah, akhirnya tiba juga giliranku.


Untuk yang ke sekian kalinya, aku kembali merapikan baju.


‘Bismillah. Semoga kali ini diterima.’


Mengernyit dahiku setelah melihat ruangan yang katanya adalah ruang interview ini. Ruangan yang kumasuki sekarang tampak lengang dan sepi.


Tidak kulihat orang di dalamnya.


Lain daripada itu, ruangan ini lebih cocok disebut ruangan CEO atau pun direktur dibandingkan ruangan untuk interview. Mengingat ruangan ini luas dan terkesan sangat mewah.


‘Apa aku salah masuk ruangan?’ batin ini mulai panik.


Namun, aku menggeleng. Tidak mungkin aku salah karena jelas-jelas laki-laki yang tadi memanggil, menyuruhku masuk ke ruangan ini.

__ADS_1


“Permisi. Saya Rahdien Alamsyah. Calon karyawan yang hari ini akan interview.”


Meski tak menemukan kebenaran seseorang di dalam ruangan ini, pun entah ruangan yang kumasuki benar atau salah. Aku tetap mencoba memperkenalkan diri. Siapa tahu ini adalah cara baru sebuah perusahaan dalam merekrut karyawannya.


Cukup lama berdiri di depan pintu, tetapi tetap tak kulihat tanda-tanda kemunculan seseorang. Pun tak terdengar suara apa pun. Selain daripada deru napas dan detak jantung yang masih sedikit gugup ini.


“Permisi. Saya Rahdien Alamsyah. Calon karyawan yang hari ini akan interview.”


Sekali lagi, mengulangi ucapanku tentu dengan suara yang lebih keras dan juga berwibawa. Namun, lagi-lagi tidak ada yang menyahut. Masih sama seperti tadi. Sepi.


Akhirnya, menyerah menunggu. Aku pun memilih untuk keluar. Membalikkan badan. Bersiap membuka pintu.


Namun, tiba-tiba...


“Maaf. Saya baru menerima panggilan mendesak. Saya harap Bapak tetap mau melanjutkan wawancara ini. Silakan duduk!”


Deg!


Suara ini? Suara gadis itu. Pendengaranku tentu tidak keliru. Walau telah berpisah lama, meski tak pernah mendengar lagi suaranya, aku masih tahu—diri ini masih hafal betul suara ini. Benar. Ini suara Kana. Tidak salah lagi.


Langsung terangkat sudut bibir ini. Tersenyum.


Akhirnya..., Kana-ku kembali.


Next...

__ADS_1


📌 Hi..., kalian tim siapa? Setujunya Kana sama Zii apa Dien? Yuk, bantu author milih. Karena jujur, saya pun bingung ಥ‿ಥ


__ADS_2