
POV KANA
Menuruti perintah Papa, aku menemui sang tamu yang dimaksud. Entah kenapa jantung ini terasa berdebar-debar tak jelas. Pasalnya, aku takut bila orang yang dimaksud Papa sebagai tamu itu adalah dia.
Pelan, membuka pintu ruangan Papa.
“Kakak kira kamu nggak akan ke sini, Na.”
Deg!
Jantung ini makin menjadi. Deru napasku pun tak teratur.
“Duduk sini!” ucap si pria.
Entahlah, bak wanita penurut aku mengikutinya. Duduk tepat di depan Kak Zii. Iya, dugaanku benar kalau tamu yang dimaksud Papa adalah dia—mantan suamiku.
“Kak Zii kenapa cari Kana?”
Ia terdiam. Namun, netranya tak pernah lepas dari wajahku. Pun begitu dengan diri ini. Rasanya tak ingin sedikit pun melewati kesempatan untuk tidak menatap wajahnya yang masih rupawan.
Ia terkekeh. Membuatku langsung membuang muka.
“Kakak masih tampan, kan?”
Aku diam. Tak menjawab.
“Kamu juga masih cantik, Na.”
Tidak naif, hati ini terasa berbunga-bunga kala Kak Zii mengatakan kalimat itu. Aku menyukai ucapan manisnya tadi.
“Kakak akan kembali hari ini.”
Langsung menoleh ke arahnya. Aku amat paham, kembali yang dimaksud Kak Zii adalah ia akan pergi lagi ke luar negeri. Tentu, untuk melanjutkan study-nya yang belum selesai.
“Apa akan lama?”
Kak Zii tersenyum. Lalu, kulihat ia menganggukkan kepalanya.
“Sangat lama, Na. Mungkin Kakak tidak akan kembali lagi ke sini.”
Hatiku langsung perih mendengarnya. Aku tak suka mendengar ucapan sang pria.
“Apa itu artinya, Kak Zii sudah siap kehilangan Kana?”
Kak Zii terdiam. Matanya memejam. Cukup lama.
__ADS_1
“Kalau Tuhan menakdirkan seperti itu, Kakak bisa apa.”
Ia kembali menatapku setelah netranya ia buka.
Hanya bisa tersenyum kecut. Ternyata memang hanya aku yang masih berharap banyak. Kak Zii buktinya tak mau memperjuangkanku lagi.
Aku mengangguk dan lekas bangkit.
“Hati-hati di jalan. Semoga Kakak selalu sehat.”
Baru akan membuka pintu, bermaksud keluar pastinya. Toh buat apa lagi tetap di sini kalau sudah tak ada harapan lagi untuk kembali bersama.
“Na...”
Kurasakan tangan ini ditarik.
“Kakak minta maaf. Bukannya Kakak menyerah begitu saja. Tapi, Kakak tidak mau lagi menyakitimu. Kamu berhak bahagia, Na, tapi bukan sama Kakak.”
“Egois. Kak Zii egois. Kana udah mati-matian buka hati dan kasih kesempatan buat Kakak. Tapi, apa? Kak Zii milih mundur?”
“Na, bukan begitu—“
“Apa Kak Zii pikir. Kana bisa bahagia jika harus sama laki-laki lain? Nggak ada yang mau terima perempuan bekas seperti Kana, Kak. Nggak ada laki-laki yang mau sama wanita yang nggak bisa punya anak seperti Kana.”
Kurasakan tubuhku dibalik menghadap Kak Zii. Detik berikutnya, aku sudah berada dalam pelukan sang pria.
Kak Zii menatapku setelah pelukannya ia lepaskan. Tangannya terulur menghapus air yang masih menggenang di kelopak mata.
“Kakak tidak bohong. Kamu tidak mandul, Sayang. Kamu ingat susu pahit yang dulu kamu minum tiap pagi?”
Aku mengangguk.
“Susu itu sudah dicampur obat. Kakak minta Bibi mencampurnya dengan obat yang tidak bisa membuatmu hamil.”
Antara terharu dan sedih mendengar penuturan Kak Zii.
“Tapi, waktu sebelum nikah dengan Kakak, kita juga sudah melakukannya. Kak Zii sudah pernah menyentuh Kana. Dan waktu itu, Kana belum minum obat apa pun.”
“Kakak selalu pakai pengaman.”
Tersenyum kecut. Jika begitu kenyataannya, lalu kenapa waktu itu Kak Zii amat menginginkan aku hamil, sementara dia tahu bahwa itu tak akan terjadi? Apa karena semata-mata supaya aku bisa menikah dengannya? Atau supaya Papa merestui hubungan kami?
“Kakak tahu ini menyakitkan, Na karena telah menyembunyikan kenyataannya dari kamu. Kakak minta maaf.”
Aku menggeleng.
__ADS_1
“Nikahi Kana sekali lagi baru Kana akan memaafkan Kak Zii.”
Aku tahu, aku perempuan bodoh. Sudah tahu laki-laki ini banyak salahnya, sudah menyakitiku secara fisik dan batin, tapi aku tetap mau memaafkannya. Tetap mau menikah lagi dengannya. Bahkan kini, aku yang menawarkan diri untuk kembali dinikahi.
Sungguh, aku tak mau berbohong, hanya bersama laki-laki ini hidupku terasa berwarna. Hanya Kak Zii yang mampu menghadirkan, mengenalkan cinta yang tak biasa untukku.
“Ada laki-laki yang lebih baik yang bisa membahagiakanmu.”
Aku menggeleng.
“Hanya Kak Zii yang Kana mau. Kana nggak mau nikah sama laki-laki lain.”
Bahkan Dien sekalipun, aku tak mau. Rasa untuk pria itu sudah tak lagi ada, lanjutku dalam hati.
“Na...”
Aku menggeleng lagi. Dengan cepat, kupeluk laki-laki ini. Erat. Akal sehatku betul-betul tak berfungsi sekarang.
“Kana nggak mau. Kana maunya Kak Zii. Ayo, kita nikah!”
Kurasakan Kak Zii membalas pelukanku. Kudengar juga suara helaan nafasnya.
Kak Zii melepas pelukan kami. Ia menatapku lekat-lekat.
“Baik, kita akan menikah, tapi tunggu Kakak selesai dengan urusan Kakak di luar negeri dulu. Satu tahu. Apa kamu mau menunggu Kakak selama itu?”
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk.
Meski samar, kulihat Kakakku ini tersenyum. Ia mendekat ke arahku, ke arah telingaku lebih tepatnya.
Ia lalu berbisik, “Kamu jangan coba-coba lirik laki-laki lain, apalagi selingkuh karena mulai detik ini kamu milik Kakak. Paham?”
Sudut-sudut bibir ini langsung merekah. Entah mengapa ancaman Kak Zii kali ini membuat jantung ini berdebar hebat. Aku menyukainya.
Aku mengangguk.
“Gadis pintar.”
Kak Zii kembali memelukku. Kali ini lebih erat dari sebelum-sebelumnya. Pun, aku langsung membalasnya.
‘Kak Zii, Kakak sudah mengambil alih hati dan pikiran ini. Aku menyukai Kakak,' ucapku dalam hati.
Aku berharap bahwa kesempatan kedua yang kuberikan untuk laki-laki ini tidak ia sia-siakan. Semoga, di pernikahan kedua ini, kami hidup dengan bahagia.
Next...
__ADS_1
____
📌 Hai semua. Maaf, ya. Baru bisa update lagi. Semoga masih ada yang mau baca, ya. Maafkan ಥ‿ಥ