
“Kakak lagi apa di sana?”
[Lagi mikirin calon istri Kakak.]
Tak bisa disembunyikan senyum bahagia langsung terbit di bibir ini.
“Siapa?”
[Gadis cantik yang sekarang pasti sedang senyum-senyum.]
“Kok Kak Zii tahu kalau Kana sedang senyum? Kakak mata-matai Kana, ya?”
Kudengar Kak Zii terkekeh. Sayangnya ini bukan video call yang bisa memperlihatkan wajah sang lelaki kala ia tertawa seperti sekarang.
[Maunya sih begitu. Tapi, takut ketahuan Papa. Nanti Kakak kena marah.]
Kini, giliran aku yang ketawa.
“Kana kangen Kak Zii. Kakak cepat pulang. Biar kita cepat nikahnya.”
[Padahal belum seminggu Kakak pergi, Na.]
Menghela napas.
“Ya, gimana. Hati dan pikiran Kana ingat Kakak terus. Apa Kana ke tempat Kak Zii aja? Kita nikah di sana?”
[Jangan aneh, Na. Nikah di sini ribet. Nggak lama lagi Kakak pulang. Bantu doa aja biar urusan Kakak cepat selesai.]
“Tiap hari Kana doa buat Kak Zii.”
“Non Kana..., Bibi masuk, ya...”
[Siapa?]
Sepertinya Bi Sirim ke kamarku.
“Kayaknya Bibi, Kak. Mau antar makanan. Kana tinggal bentar, ya. Mau bukain pintu.”
Tak menunggu balasan sang pria, kutinggalkan ponsel di atas kasur. Langsung berjalan menuju pintu.
“Ini Bibi antarkan makanan. Non Kana pasti belum makan malam, kan?”
Hanya bisa cengengesan. Bi Sirim memang paling mengerti aku.
“Kok Bibi tahu aku belum makan?”
“Gimana nggak tahu, Non. Wong, dari tadi kerjaan Non Kana cuma teleponan terus. Dari Bibi mulai masak sayur buat makan malam sampai itu sayur udah matang, Non masih aja teleponan. Emang lagi telefon ama siapa, sih? Nggak biasanya Non kayak gini?”
Aku hanya tersenyum.
“Bibi kepo, ih. Rahasia dong,” jawabku masih dengan senyuman yang merekah di bibir.
“Sama Den Zii, ya?”
“Ih, Bibi kepo. Udah, ah. Kana mau makan dulu. Bibi mending makan juga sana. Ngomong-ngomong, makasih ya, Bi udah dianterin sampai kamar. Love you, Bi.”
Bi Sirim hanya tersenyum.
“Moga, kalian berjodoh lagi. Bibi senang lihatnya kalau Non Kana full senyum begini,” ucapnya sebelum akhirnya beliau pergi.
Diam-diam aku mengaminkan ucapan Bi Sirim. Iya, semoga saja aku dan Kak Zii kembali berjodoh.
[Kenapa lama? Pasti habis ngobrol sama Bibi?]
“Iya. Bibi bilang semoga kita berjodoh lagi, Kak.”
[Haha..., aamiin.]
“Kak Zii udah nggak sibuk? Apa Kana boleh ganti jadi video call? Kana mau lihat wajah Kakak.”
[Iya, ini baru sampai apartemen. Sebentar! Kakak cuci kaki dulu.]
Setelah menunggu beberapa menit. Kulihat layar Hp sudah menampilkan wajah Kak Zii.
__ADS_1
“Kok wajah Kak Zii kayak gitu?”
[Kenapa?] ucapnya sembari memegang-megang mukanya.
Aku tersenyum.
“Makin ganteng.”
Kak Zii tampak terkejut, tapi hanya sebentar.
[Oh, sekarang ada yang sudah bisa gombal ceritanya?]
“Ya, kan Kak Zii yang ajari Kana.”
Si lelaki hanya geleng-geleng kepala.
[Itu makanannya kenapa nggak dimakan? Nanti dingin,] ucapnya lagi.
“Kalau Kana makan, emang Kak Zii nggak mau?”
Ia menggeleng.
“Serius Kakak nggak mau?”
“Buat apa makanan, kalau ada gadis semanis ini di hadapan Kakak. Hanya dengan lihat senyummu yang manis ini, Kakak sudah kenyang, Na.”
Aaaa..., mau jungkir-balik rasanya. Namun, aku jaim. Aku hanya tersenyum malu-malu. Namun, tak bisa disembunyikan, aku salah tingkah dibuatnya.
[Pipimu merah. Akh..., jadi pengen nyubit.]
Aaa..., mau teriak aku.
“Kak Zii udah. Kana kepanasan,” ucapku sembari mengibas-ngibaskan tangan di depan muka.
“Kana..., ini Papa, Nak.”
Aku dan Kak Zii saling pandang.
[Ya udah, temui Papa dulu. Kita lanjut nanti teleponnya.]
“Tapi, Kana masih kangen Kakak.”
Aku merajuk seperti anak kecil. Serius, hanya laki-laki ini yang bisa membuatku seperti ini.
“Na...”
“Iya, Pa... Sebentar!”
“Kak, jangan dimatiin hpnya. Kana mau temui Papa dulu. Awas aja kalau dimatiin.”
[Iya, Sayang. Nggak bakal Kakak matiin.]
Aku mengangguk dan langsung keluar menemui Papa.
“Papa udah pulang kantor?”
Sang Papa mengangguk.
“Ada Ibumu di depan. Mau ketemu kamu katanya.”
Ibu yang dimaksud Papa adalah Tante Ratna.
“Mau ngapain ketemu Kana?”
Papa menggeleng. Mungkin ia juga tak tahu.
“Temui saja. Barangkali ada hal yang mau disampaikan.”
“Tapi, Kana lagi makan, Pa. Baru saja mulai.”
Papa tersenyum.
“Lagi makan atau lagi teleponan?”
__ADS_1
Aku nyengir.
“Du-dua-duanya sih, Pa.”
“Udah. Teleponannya dilanjut nanti.”
“Ta-tapi, Pa—“
Papa menggeleng.
“ZII, ADIKMU PAPA CULIK DULU. TELEPONANNYA DILANJUT NANTI,” teriak Papa. Suaranya menggema di seluruh ruangan.
“Ih, Papa.”
Aku lekas berlari ke arah kasur. Mengambil gawaiku.
Kulihat Kak Zii tersenyum.
“Kak dengar kan apa kata Papa tadi? Kana harus pergi.”
[Iya, nggak papa. Mukanya jangan ditekuk gitu. Cantiknya hilang.]
Menghela napas. Sebenarnya masih nggak mau mengakhiri percakapan dengan Kakakku ini.
[Udah, Sayang. Bisa disambung nanti. Sana! Papa masih nunggu tu.]
Aku mengangguk.
“Kana tutup, ya. Dada..., miss you so much.”
“Miss you too honey.”
Dan panggilan ditutup.
***
“Tante cari Kana malam-malam kenapa?”
“Tante mau bicara,” balasnya serius.
Entahah, aku merasa bahwa Tante Ratna aku membicarakan sesuatu yang penting, mungkin atau hal yang bisa membuat isi pikiranku terkuras.
“Soal?”
“Soal Dien.”
Mengernyit dahi ini.
“Dien?”
“Kemarin Ibu ketemu Dien. Katanya, dia habis ngelamar kerja di perusahaan Papamu. Tapi, anak itu pesimis. Takut ditolak, Na. Kalau boleh, Ibu minta sama kamu buat kasih kerjaan yang cocok buat dia. Kasihan dia, Na.”
“Kalau urusan kantor, mungkin Tante bisa mintanya sama Papa karena beliau yang punya perusahaan. Kana hanya karyawan di sana.”
“Walau Papa yang punya, tapi kamu yang kelola, Na. Kamu yang lebih tahu tentang perusahaan. Makanya, Papa minta Ibumu bicara langsung sama kamu.”
Menoleh ke arah Papa yang juga duduk bersamaku dan Tante Ratna. Sebetulnya, masih ingin melemparkan masalah ini pada Papa karena bila aku yang memutuskan dan andaikata aku memberi Dien pekerjaan di perusahaan, aku khawatir bila Kak Zii akan cemburu. Aku tak ingin ia beranggapan bahwa aku masih menyimpan perasaan untuk Dien.
“Na..., bagaimana, Sayang?”
Menghela napas. Kembali menatap Tante Ratna.
“Bilang aja sama Dien Tante kalau besok dia bisa temui Kana di kantor. Biar Kana bicara dengannya.”
Aku mencoba seprofesional mungkin. Akan kujelaskan masalah tentang Dien ini pada Kak Zii. Jika aku jelaskan secara perlahan, Kak Zii pasti bakal terima.
“Oh, iya. Dien juga katanya mau ngelamar kamu, Nak. Dia mau serius sama kamu.”
Deg!
Cobaan apa lagi ini?
Next...
__ADS_1