
Aku yang tak sabar menahan rasa penasaran, diam-diam mengikuti Papa dan Bi Sirim dari belakang.
Sudah tiga menit bersembunyi di balik tembok yang menjadi pemisah antara ruang tamu dan lorong kecil menuju ruang tengah ini. Beruntung, tak ada yang lewat. Pun bila ada ART-ku yang melihat, langsung kuminta ia tutup mulut.
Masih setia aku berdiri di sini, menguping pembicaraan Papa dan Tante Ratna yang dari tadi seperti membahas persoalan perusahaan.
Entahlah, aku masih tak paham dengan obrolan mereka, hingga sampai pada ucapan sang wanita yang membuatku membeku di tempat.
“Mas, apa tidak sebaiknya kita jodohkan Kana dengan Dien? Aku rasa mereka berdua cocok. Sampai sekarang, Dien masih menunggu Kana. Sepertinya, Kana juga masih menaruh rasa sama pria itu. Aku hanya berharap, semoga dengan adanya Dien di hidup Kana, trauma anak itu bakal berkurang.”
“Mas setuju-setuju saja. Tapi, balik lagi sama Kana. Apa anak itu mau. Mas masih menduga kalau Kana belum sepenuhnya bisa membuka hati. Traumanya masih ada. Mungkin, untuk saat ini, ada baiknya kita berikan kebebasan untuknya. Biarlah anak itu menentukan sendiri apa maunya. Selama masih dalam ranah kebaikan, kita dukung, kita support.”
“Tapi, Mas butuh penerus. Siapa yang akan melanjutkan perusahaan Mas? Aku tentu tidak bisa. Aku tidak tertarik.”
“Mas masih punya anak laki-laki. Apa kamu lupa akan itu?”
Sepi. Tak kudengar obrolan lagi. Apa pembicaraan sudah berhenti sampai di situ? Berniat melihat ke arah mereka, tetapi Tante Ratna yang kembali bersuara membuatku mengurungkan niat.
“Iya, Mas punya anak laki-laki, tapi seperti tak punya anak saja. Wong, tidak bisa diandalkan. Bisanya cuma buat masalah. Bikin malu keluarga saja, Mas. Setidaknya dengan Kana menikah dengan Dien, Mas jadi terbantu. Dien bisa diandalkan. Aku yakin anak itu bisa mengelola perusahaan, Mas. Dan Kana kalau diajari, anak itu juga mumpuni. Mereka pasangan serasi.”
Bosan mendengar. Telingaku sudah panas. Tanpa banyak pertimbangan, aku keluar dari persembunyian.
“Pasangan serasi? Siapa yang Tante maksud?”
“Ka-Kana?”
“Sayang?” ucap sang wanita dan Papa hampir berbarengan.
Kedua orang berbeda gender itu menatapku kaget. Terutama si wanita. Yang entah kenapa makin ke sini, aku makin kesal dengan tingkahnya.
Santai. Aku duduk di depan mereka yang masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.
“Kana sejak kapan di situ, Sayang?” tanya Papa yang sudah lebih dulu mencoba bersikap biasa-biasa saja.
“Sejak pembicaraan tentang perusahaan peninggalan orang tua Papa dan Tante Ratna.”
__ADS_1
Mendengar ucapanku, air muka Papa ataupun si wanita makin pucat.
“Kenapa Papa nggak cerita sama Kana kalau Tante Ratna ternyata adalah adik Papa?”
Papa masih diam. Sementara aku tak sabar menunggu jawaban.
Kulihat, beliau—Papa tiriku—menghela napas.
“Papa bukannya mau merahasiakan, Sayang.”
“Lalu?” sambarku cepat.
“Dengarkan dulu Papamu bicara Kana!” perintah Tante Ratna.
Sepertinya, wanita ini sedikit geram melihat tingkahku yang sok. Namun, aku tak peduli. Aku tak punya urusan dengannya. Urusanku hanya dengan Papa.
“Berarti Papa tahu kalau waktu itu Kana diselamatkan oleh Tante Ratna?”
Kembali, aku bersuara. Mencoba menghiraukan keberadaan sang saudara Papa itu.
Lagi, bukan jawaban dari Papa yang kudapati. Malah si Tante Ratna yang menjawab.
Namun, terlepas dari siapa pun yang menjawab, diri ini tetap melongo.
Begitukah kebenarannya? Ternyata hidupku tidak lepas dari campur tangan Papa. Lagi-lagi aku berhutang budi pada pria berumur ini.
“Tapi, Papamu tidak cerita sama sekali tentang siapa sebenarnya kamu. Ibu hanya diminta merawat dan memberikan tempat yang nyaman untuk kamu tinggali. Ibu juga tidak tahu kalau kamu punya hubungan dengan Dien. Sama sekali Ibu tidak tahu.”
Hanya diam menyimak.
“Makanya, kenapa waktu itu Ibu sampai mengusirmu karena Ibu lebih percaya dengan anak angkat Ibu dibandingkan dengan kamu, gadis asing yang entah siapanya Mas Fahri.”
Nyeri terasa di dada ini, apalagi saat harus kembali mengingat semua hinaan, makian, hujatan si wanita dan juga anak angkatnya itu.
“Hubungan Ibu dengan Papamu juga belum sebaik sekarang. Meski kami saudara, tapi kami tak ubahnya orang asing yang hanya tahu nama masing-masing. Kami sibuk dengan keluarga dan pekerjaan satu sama lain. Bahkan untuk bertemu saja tak ada waktu. Makanya kenapa, Ibu tidak tahu kalau Kana ternyata adalah mantan istri dari Eziio.”
__ADS_1
Mulai mencoba mendamaikan hati ini. Pelan-pelan berusaha untuk menerima semua perkataan Tante Ratna.
Memang benar, dulu aku sempat menceritakan semuanya pada saudara Papa ini. Namun, aku sama sekali tak menyinggung—membawa nama Kak Zii—karena lagi-lagi aku mati-matian menjaga nama baik laki-laki itu.
Walau telah tahu betapa b3jatnya ia memperlakukanku, entah kenapa, hati ini tak kuasa untuk membuka aibnya. Barangkali benar bahwa aku masih menyimpan sedikit rasa untuknya.
Entah. Dibandingkan menikah dengan Dien, hati kecil ini lebih memilih Kak Zii. Aku tak menahu alasannya.
Apa benar lantaran hinaan, hujatan, pun makian itu jauh lebih mematikan dibandingkan dengan pukulan? Makanya kenapa, hinaan, cacian Dien di masa lalu lebih membekas di hati ini dibanding perlakuan kasar yang kuterima dari Kak Zii.
Namun, aku tak berani menyimpulkan karena aku pun masih gamang.
Meski lebih memihak pada Kak Zii, bukan berarti aku mau kembali padanya. Tidak.
Untuk menikah, aku belum ada keinginan. Benar kata Papa tadi. Aku masih mau melakukan apa yang kumau sembari memberi ruang untuk hati ini berdamai dengan masa lalunya.
“Papa minta maaf, Sayang. Andai Papa berani turun tangan langsung. Mungkin hidupmu tid—“
“Enggak. Papa enggak salah. Papa enggak perlu minta maaf. Justru, Kana yang harus minta maaf sama Papa. Kana udah banyak nyusahi. Jadi beban buat Papa. Padahal, Kana bukan anak kandung Papa, tapi Papa rela berikan segalanya buat Kana.”
Menunduk kepala ini. Tak bernyali menatap Papa.
Deg!
Kurasakan seseorang memelukku. Ternyata Tante Ratna.
“Sudah, Sayang. Tidak ada yang salah. Kana sudah bukan lagi dianggap anak tiri, Nak. Bagi Mas Fahri, Kana adalah anak gadis satu-satunya. Kana jangan pernah berpikir macam-macam, apalagi sampai menganggap kalau Kana adalah beban. Tidak, Sayang. Kana anak Mas Fahri. Anak Ibu juga.”
Tante Ratna tersenyum tulus. Kembali didekapnya tubuhku erat. Mau tak mau aku membalas pelukannya.
Sudah lama aku tak merasakan pelukan senyaman ini. Rasanya, aku ingin terus berada dalam dekapan wanita ini sepanjang hari. Membuatku tenteram.
“Permisi, Tuan. Tadi ada telepon masuk dari nomor tak dikenal yang bilang kalau Den Zii kecelakaan.”
Deg!
__ADS_1
Next...