Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
21. Kebenaran


__ADS_3

“Saya ingin bertemu dengan tahanan yang bernama Eziio,” ucapku langsung kepada salah satu polisi yang bertugas.


Cukup lama sang pria berseragam itu mengamati buku yang ada di depannya.


“Maaf, di sini tidak ada tahanan dengan nama yang barusan Anda sebutkan.”


“Coba dicek sekali lagi, Pak! Saya sangat yakin bahwa dia ditahan di sini.”


Aku mendekat. Kini buku panjang lagi tebal yang ada di hadapan polisi itu telah berada di tanganku. Gegas mengobrak-abrik lembarnya dengan tak sabaran.


Namun, benar. Polisi yang kini tengah memperhatikanku itu tidak berbohong. Tidak ada nama laki-laki b3rengsek itu di sana.


“Apa kamu mencariku?”


Refleks badan ini berbalik. Pandanganku langsung terarah pada laki-laki yang sejak tadi kucari.


“Kamu?”


Seketika, jari-jariku mengepal kuat. Ingin rasanya segera menin-ju wajah si b3rengsek itu.


Kaki ini melangkah maju. Sebisa mungkin menepis jarak dengan pria yang telah membuat gadisku menderita.


“Bukankah kamu seharusnya di—”


“Dipenjara?” Eziio menyambar ucapanku. Laki-laki itu menyeringai. Ia bahkan masih sempat-sempatnya tertawa.


Cih. Tangan ini rasanya benar-benar ingin mengh4jarnya. Membuatnya bab4k belur. Terkapar. Hingga m4ti pun aku tak peduli.


Langkahku terhenti setelah berdiri beberapa meter di depan laki-laki yang masih sibuk dengan tawanya itu.


Netra kami beradu. Lagi-lagi ia tersenyum meremehkan.


Kini, giliran laki-laki kur4ng ajar itu yang mendekat. Rahang ini semakin mengeras setelah tangannya yang hin4 itu menepuk pundakku.


“Sayang sekali. Kamu terlalu naif kalau mengira saya akan semudah itu mendekam di penjara,” bisiknya angkuh.


Cukup sudah amarah ini kutahan. Hingga entah kapan tin-juku telah mendarat di perutnya.


“Akh...”


Ia mundur beberapa langkah. Dipeganginya bagian tubuh yang barusan kuh4ntam.


Laki-laki itu membungkuk. Tampak kesakitan.


Baru akan menghampiri sang pria karena barang kali, puku-lanku terlalu keras. Biar bagaimanapun aku harus bertanggung jawab. Aku telah menyakitinya.


“Hahaha...”


Kaki ini langsung diam—tak bergerak lagi. Laki-laki itu rupanya sudah berdiri tegak. Terlihat sehat seperti sedia kala. Tidak seperti seseorang yang baru saja dipu-kuli.


“Wah..., wah...”


Ia bertepuk tangan. Senyum liciknya kembali mengembang.


“Tampaknya ada yang tidak sabaran. Padahal kita bisa bicarakan semuanya baik-baik.”

__ADS_1


Melihat kesombongannya itu, aku menjadi tidak menyesal sama sekali karena telah menghajarnya. Rasa ibaku lenyap seketika. Malah, kini emosiku kembali.


“Kemarilah! Duduk! Kita bicara baik-baik!” perintahnya sembari menunjuk jejeran kursi yang tak jauh di sampingnya.


“Cih. Aku tidak punya waktu meladeni orang gil4 sepertimu.”


Memilih meredam amarah. Dengan cepat, aku berbalik. Lantas berjalan menuju pintu keluar. Kuputuskan kembali sebelum emosiku di luar kendali.


Toh, tidak ada untungnya bagiku. Pun andai kata aku berhasil membuatnya sekarat, tidak ada yang bisa menjamin kalau aku akan bisa pulang ke rumah malam ini. Mentok-mentok, aku akan bermalam di penjara. Pun bila tidak beruntung, aku akan langsung ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus peng4niayaan.  


Tidak. Aku masih waras untuk tidak bertindak sejauh itu.


“Apa kamu tidak ingin tahu seberapa nikmat tubuh dari mantan calon tunanganmu?”


Deg!


Sontak, tubuhku mematung. Pun kaki ini tak bergerak lagi.


‘Apa maksud si b3rengsek itu?’


Kembali, buku-buku tangan ini mengencang. Mengepal sempurna.


Membalikkan badan. Pandangan langsung menatap sang lelaki kurang 4jar.


“Apa maksudmu? Bicara yang benar b3rengsek!”


Entah sejak kapan suaraku meninggi. Mendominasi ruangan yang terasa pengap lagi sesak ini.


Lebar-lebar membawa kaki mengarah pada laki-laki yang sudah duduk santai di jejeran kursi. Seolah-olah telah bersiap menyambut kedatangan lawannya.


Namun, memang laki-laki tak waras. Alih-alih melawan, ia terlihat seolah biasa-biasa saja. Bahkan ia tengah tersenyum sekarang.


“Kamu sebut aku b3rengsek? Seharusnya kamu sadar diri. Sebutan itu lebih cocok untukmu.”


Didorongnya tubuhku keras hingga cengkeramanku terlepas.


“Gara-gara rasa cintanya padamu, adikku yang cantik itu sampai rela menyerahkan keper4wanannya,” sambung sang pria setelah membenarkan kerah bajunya.


“Kamu tentu masih ingat dengan kejadian alat-alat bantu Ibumu yang dilepas paksa, apa kamu pernah berpikir kalau itu semua adalah rencanaku?”


Aku hanya terdiam. Sedikit pun tak tahu akan arah pembicaraannya.


“Berkat kamu dan Ibumu, aku bisa mencicipi tubuh indah Kana.”


‘Apa yang sebenarnya ingin dikatakan laki-laki bi4dab ini?’


Semakin lama mendengar ocehannya yang tak jelas. Darahku semakin naik.


“Kamu tahu..., aku mengancamnya. Aku mengancam akan terus melepas alat penunjang kesehatan Ibumu sampai adikku itu benar-benar menuruti kemauanku.”


Ia menyeringai.


“Dan ya..., pada akhirnya Kana-ku yang cantik itu menerimanya. Hingga tiap malam, kami selalu melakukan itu.”


Napasku tak beraturan. Rasanya sesak luar biasa. Kini, aku paham akan maksud laki-laki ini.

__ADS_1


Eziio bangkit dari duduknya.


Mendekat ia padaku dan kemudian berbisik di telinga, “Kapan-kapan, kamu harus melihatnya sendiri. Kana terlihat begitu manis saat melakukan itu.”


“B3RENGSEK KAU EZIOO!”


Seketika darahku berdesir hebat. Rasanya benar-benar menyakitkan. Sementara, laki-laki k*parat itu hanya tersenyum puas.


“KAMU MEMANG IBLIS.”


Tidak membiarkannya menunggu lama, sekuat tenaga, berkali-kali kuhujani ia dengan pu-kulan bertubi-tubi. Emosiku telah di ambang batas. Pikiranku benar-benar tak bisa terkontrol.


“KAMU HARUS MATI!”


Untuk kesekian kalinya, aku terus memu-kul dan meneriakinya. Tak sedikit pun kuberi waktu untuknya bangkit atau melawan.


“Hentikan! Dia bisa terbu-nuh!” ujar salah seorang polisi yang tiba-tiba datang melerai.


Tangan ini masih terus ingin memu-kul dan merobek-robek wajahnya. Namun, polisi-polisi telah lebih dahulu menjauhkanku dari laki-laki iblis itu.


“Aku akan pastikan kamu membusuk di penjara Eziio,” ancamku untuk yang terakhir kalinya.


Kemudian setelah itu, aku langsung pergi begitu saja tanpa merasa bersalah telah membuatnya babak belur.


Sesegera mungkin aku ingin kembali ke rumah sakit karena hatiku didera perasan bersalah yang amat sangat setelah mendengar penuturan Eziio tadi. Entah mengapa, aku langsung mempercayai ucapannya, tentang pengorbanan yang Kana lakukan untukku.


Sebab, pada saat itu, pada malam itu ketika aku meneleponnya, aku masih sangat ingat bahwa suara gadisku bergetar, seperti seorang yang tengah menahan tangisnya.


Semestinya, aku tak seceroboh itu karena langsung terpedaya oleh perkataan manisnya Eziio hari itu. Seharusnya aku mencari tahu kebenarannya atau setidaknya aku mendengarkan penjelasan Kana.


“AKH..., AKU JUGA TAK KALAH B3RENGSEKNYA DENGAN LAKI-LAKI ITU.”


Berteriak. Pun menendang-nendang semua benda yang ada di depanku. Saat ini, aku benar-benar frustrasi.


“Na..., maafkan aku Sayang. Maaf. Maaf.”


Hanya kalimat itu yang terus kurapalkan. Hingga sejenak aku tertegun karena mendapati cairan bening membasahi pipi.


Akh, aku menangis. Benar-benar menangis. Menangisi diri yang terlampau bodoh karena telah menyia-nyiakan gadis sebaik Kana.


“Sayang, Maaf. Berikan kesempatan untukku membahagiakanmu. Kali ini aku janji akan menjaga dan melindungimu dengan seluruh jiwaku. Aku mencintaimu, Na. Aku mencintaimu. Kita akan hidup bahagia, Sayang.”


Drt... Drt... Drt...


Fokusku teralihkan lantaran ponsel di saku yang berbunyi.


“Ibu?”


Begitu nama yang tertera di layar gawai.


“Iya..., Bu. Dien baru mau ke rumah sak—“


[....]


“A-apa, Bu. Ka-Ka-Kana... per-per-gi...?”

__ADS_1


Next...


__ADS_2