
POV DIEN
“Di..., semalam kenapa enggak pulang? Bapakmu sampai nyari.”
Tanganku yang baru akan menyendok sayur terpaksa berhenti. Menatap Ibu yang duduk di depanku—tampak masih menunggu jawaban.
“Semalam Dien ke rumah teman, Bu. Ada tugas kuliah, tapi karena kemalaman, Dien nginap,” jawabku mantap pada sang Bunda.
Setelah itu, melanjutkan niatku yang tadi sempat tertunda—menyendok sayur bening.
“Tumben sekali nginap. Biasanya pasti pulang.”
Sepertinya Ibu menaruh curiga sekarang.
Jelas sekali dari raut wajahnya bahwa ia tengah berusaha menyelidiki keanehanku.
Memang benar apa yang dikatakan Ibu, aku tidak pernah barang sekali pun bermalam di rumah teman. Namun, beda ceritanya dengan tadi malam, karena tak ingin bertemu dengan wanita itu, aku terpaksa menghindarinya dengan cara pergi dari rumah.
Terdengar pengecut memang. Namun, begitulah. Aku masih merasa tak nyaman dan enggan bila harus bertemu dengannya, apalagi sampai harus melihat muka sok cantik dan polosnya itu. Membuatku jijik saja.
“MasyaAllah, Nak. Kamu cantik sekali, Sayang...”
Sebelah alisku terangkat karena tak paham dengan apa yang Ibu katakan.
Tak ada hujan, tak ada angin, Ibu tiba-tiba bicara seperti itu. Siapa yang cantik? Tidak mungkin kan pujian itu Ibu lontarkan untukku?
“Siapa yang cantik, Bu?” tanyaku yang masih penasaran dengan ucapannya barusan.
Ibu yang ditanya hanya tersenyum sambil terus menatap ke arahku. Maksudku menatap lurus ke belakangku.
Sepertinya ada seseorang di belakangku yang begitu menyita perhatian Ibu karena sejak tadi beliau masih antusias menatapnya.
“Duduk di sini, Nak Kana. Kita sarapan sama-sama.”
Deg!
Seketika jantungku langsung berdetak cepat, suasana hatiku turut goyah. Keringat dingin mulai terasa membasahi tangan dan pelipis.
Apakah lebih baik aku harus pergi sekarang supaya bisa menghindarinya? Sungguh, diri ini masih tak sudi melihat wajahnya. Rasanya hatiku masih belum siap menerima kehadirannya kembali.
Degup jantungku semakin bertalu-talu seiring dengan langkah kaki yang mulai terdengar mendekat.
Susah payah mencoba mengatur deru napas, meredam pula emosiku. Sebisa mungkin aku akan bersikap biasa-biasa saja dan membuktikan padanya bahwa aku kini telah melupakan ia sepenuhnya.
Sepertinya ia telah duduk di samping Ibu karena dapat kudengar suara kursi ditarik. Sementara, aku masih berpura-pura menyibukkan diri dengan makananku karena seperti kataku di awal, aku tidak ingin melihat wajahnya.
“Di..., ini Kana. Gadis yang Ibu ceritakan kemarin dan Kana ini Dien, anak Ibu.”
__ADS_1
Namun, sepertinya mau tak mau aku harus menatapnya supaya Ibu tak curiga kalau aku ternyata telah mengenalnya.
Perlahan tapi pasti, kumulai mengangkat wajah yang semoga saja air muka ini tidak tampak seperti seorang yang ingin membalaskan dendamnya.
Deg!
Getaran di hati ini masih ada apalagi setelah melihatnya yang kini tengah mengenakan hijab milik Ibu.
Entah pandanganku yang bermasalah atau memang seperti itu adanya, wajahnya kini terlihat jauh lebih cantik bila dibandingkan dengan terakhir kali kami bertemu.
Tak ada polesan mace up di mukanya. Hanya ada polesan lipstik tipis di bibir tipisnya itu.
Sejenak, tak bisa mengalihkan pandangan ini dari wajahnya hingga suara Ibu menyadarkanku.
“Di..., kamu kenapa, Nak?”
“Ah, eng-gak papa, Bu. Dien cuma baru ingat kalau hari ini ada kuliah pagi. Jadi, harus segera berangkat,” elakku buru-buru.
“Lho, kamu ada kuliah pagi? Padahal Ibu sudah bilang sama Iska kalau hari ini dia mau datang ke sini. Katanya kalian mau membicarakan tentang tanggal pernikahan kalian.”
Uhuk...,uhuk...
“Ya Allah, Na..., kamu kenapa, Nak? Ini minum dulu. Makannya hati-hati, Sayang.”
Sekilas, dapat kulihat bahwa wanita itu terlihat terkejut atau mungkin lebih tepatnya tampak murung setelah mendengar penuturan Ibu tadi.
Sejurus kemudian, ide untuk membuatnya cemburu atau mungkin rencana balas dendam itu pun terlintas di kepala ini. Sepertinya, ini waktu yang tepat untuk membuatnya merasakan rasa sakit yang dulu pernah ia torehkan.
Dipikir aku akan diam saja setelah apa yang dulu ia lakukan padaku? Sayangnya, aku tak seiba itu untuk mengampuninya. Aku akan membuatnya menyesal sedalam-dalamnya karena telah mengkhianati cinta tulusku dulu.
“Kenapa Iska enggak kabari aku, Bu? Tumben dia datang enggak bilang-bilang?”
“Jangan tanya Ibu, Di. Ibu mana tahu. Coba hubungi saja Iskanya. Sekalian kamu bilang kalau hari ini ternyata kamu ada kuliah. Kan kasihan kalau dia datang ke sini terus kamunya enggak ada.”
“Iya, habis ini. Aku kaba—“
“Assalamualaikum...”
Ucapanku terpotong karena tiba-tiba kudengar suara yang sangat kukenal. Iya, itu suara gadisku—Iska.
“Waalaikumussalam,” ucap kami hampir serempak.
Aku langsung berbalik dan menghampiri Iska. Semata-mata untuk menunjukkan kepada wanita itu bahwa sekarang aku sudah memiliki seseorang yang kini amat kusayang.
“Kenapa enggak kabari Kakak? Kakak kan bisa jemput kalau mau ke sini?” ucapku mulai beramah-tamah dengan Iska.
“Kak Di kan harus kuliah, aku enggak mau merepotkan Kakak.”
__ADS_1
“Ajak Iska duduk dulu, Di. Kasihan Iska berdiri terus. Sini! Duduk! Di samping Kana!”
“Kana?” tanya Iska bingung. Kulihat wajahnya kini menatap ke arah wanita yang masih duduk diam di samping Ibu sambil menundukkan kepalanya.
“Siapa dia, Kak?” bisik Iska di telingaku. Jelas sekali dari nada bicaranya bahwa ia penasaran.
“Kata Ibu namanya Kana. Ibu ketemu dia di sungai. Sepertinya mau coba bun-uh diri. Tapi, beruntung ada Ibu dan orang-orang yang ada di sekitar sungai yang bantu dia.”
Kulihat Iska masih setia mendengarkan, sedang si wanita itu hanya diam sembari menundukkan kepala.
“Kakak sampai enggak habis pikir, kira-kira apa yang ada di dalam kepalanya sampai dia mau menghabisi dirinya sendiri. Mungkin hidupnya susah kali, ya? Makanya, sampai mau melakukan perbuatan sehina itu.”
Lagi, kucoba melirik si perempuan, tetapi posisinya masih sama. Masih menunduk, mungkin malu bila harus memperhatikan wajahnya yang sok polos itu.
“Kamu jangan sampai seperti itu ya, Ka. Kakak enggak mau kehilangan kamu. Kakak benar-benar mencintaimu,” ucapku berbisik kepada Iska, tetapi suaraku masih cukup keras untuk bisa didengar oleh Ibu dan wanita itu.
Sengaja? Iya, aku memang sengaja melakukannya supaya perempuan itu sakit hati.
Kejam? Iya, aku tahu. Anggaplah aku memang sekejam itu karena mungkin ia akan tersakiti. Namun, lagi-lagi aku tak memedulikan itu.
“Astagfirullah, Di. Sejak kapan kamu bisa bicara seperti itu, Nak? Minta maaf sama Kana sekarang!” gertak Ibu yang tiba-tiba entah kenapa malah marah kepadaku.
Alih-alih minta maaf, aku malah tersenyum sambil menatapnya sinis. Kini wajahnya telah ia perlihatkan.
“Maaf, Tante. Semuanya. Sa-saya izin ke belakang? Permisi!” ucap gadis m*rahan itu. Dan tanpa aba-aba, ia langsung berlari ke dalam ruangan yang kini menjadi kamarnya.
Suaranya terdengar bergetar. Mata kami sempat beradu sebentar. Matanya terlihat memerah. Sepertinya, ia ingin menangis sekarang. Namun, aku tak peduli. Justru malah bagus bila ia menangis. Itu artinya, rencanaku untuk membuatnya sakit hati berhasil.
“Cepat kejar Kana, Dien! Minta maaf sama dia! Kamu sudah menyakiti hatinya, Nak. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya sampai-sampai dia melakukan hal seperti itu.”
Aku mulai heran kenapa Ibu begitu membela gadis r*ndahan itu.
Apa Ibu telah diperdayanya sampai-sampai beliau begitu kekeh memihak padanya? Dasar perempuan munafik. Begitu lihat menipu dan mencari perhatian Ibu.
“Kak Di..., sana minta maaf! Kasihan dia, Kak. Kata-kata Kakak tadi sangat kejam.”
Astaga..., kenapa sekarang Iska malah ikut-ikutan membela wanita itu?
Ibu dan Iska masih terus menatapku. Membuatku jengah saja akan sikap mereka. Kali ini, sepertinya aku memang harus menuruti permintaan mereka. Benar-benar membuatku kesusahan saja.
“Akh..., iya-iya, ini aku minta maaf,” ujarnya gusar sambil mengacak-acak rambut karena terlalu kesal akan sikap Ibu dan Iska yang tak memihakku.
Dengan langkah gontai, akhirnya kucoba mengejar gadis s*alan itu. Paling-paling kini ia tengah berpura-pura nangis.
Akh..., s*al.
Next...
__ADS_1