Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
28. Mulai Luluh


__ADS_3

Tak bisa menghindar walau telah berusaha. Aku dan laki-laki itu selalu saja bertemu.


Aku yang tak pergi ke mana-mana dan ia juga yang hanya diam di rumah membuat kami memiliki banyak peluang untuk menggelar perjumpaan.


Seperti kali ini saja misalnya. Aku yang baru akan sarapan malah tak sengaja mendapati si pria tengah duduk manis di meja makan.


Pun malangnya, tak ada Papa atau orang lain di sana. Kulihat hanya ia seorang.


“Kakak mau bicara sama kamu, Na,” ucapnya setelah melihatku yang baru akan berbalik—kembali ke kamar. Ia menahanku, tak membiarkanku pergi.


“Aku sibuk. Bicaranya lain kali saja. Kalau ada Papa.”


Segera melanjutkan langkah, kembali ke kamar. Namun, baru beberapa jengkal kaki melangkah, tangan ini terasa sudah ditarik dari belakang.


Kaki ini refleks mundur. Aku berbalik. Gegas menghempaskan cekalan tangan si lelaki di tanganku.


“Apa yang Kak Zii lakukan? Katanya Kakak sudah nggak akan ganggu hidup Kana? Lalu, kenapa sekarang Kakak ngusik Kana lagi?”


Tak bisa sabar, aku langsung meledak-ledak.


“Hanya sebentar, Na. Kakak mohon. Izinkan Kakak bicara.”


“Nggak ada lagi yang harus dibicarakan. Semuanya sudah selesai.”


Membuang muka. Aku tak mau melihatnya. Takut bila hati ini goyah atau semacamnya.


“Ada, Na. Kakak mencintaimu, Sayang.”


Aku mendengkus. Benci aku mendengarnya. Dikira pernyataan cinta palsunya ini bisa membuat hati ini luluh? Tidak. Jangan berharap.


Menatapnya tajam. Membaurkan mata kami beradu.


“Percuma, Kak. Kana sudah nggak peduli.”


Kulihat ia tersenyum tipis. Wajahnya mendadak murung.


“Kakak dijodohkan, Na. Papa minta Kakak buat nikah.”


Deg!


Dadaku sedikit sesak. Aku bahkan sampai harus membuang napas. Namun, segera kuhempaskan perasaan itu. Logikaku masih mendominasi.


“Ya, sudah. Nikah saja sana! Kana nggak peduli.”


Tak mau membuang banyak waktu dengan si pria. Aku langsung berbalik. Berlari sekencang mungkin menuju kamar.


Aku tak mau mendengar apa pun lagi. Terserah. Aku tidak peduli. Iya, aku tidak peduli. Itu bukan lagi urusanku.


Walau telah kukatakan itu berulang kali, tetap saja air mata ini jatuh. Dada ini pun rasanya sakit. Bukan sakit lantaran aku bertemu dengannya, tetapi karena perkataan Kak Zii yang akan menikah.


Artinya, laki-laki itu sebentar lagi akan jadi milik orang lain dan hati ini rasanya tak rela bila itu terjadi.


Kini, aku sadar bahwa ternyata hati ini sudah kembali digenggamnya. Sudah kembali diisi olehnya. Menyebabkan memang.


***


Tiga hari setelah Kak Zii mengatakan kalau dirinya akan dijodohkan, seorang perempuan cantik yang kiranya sebaya denganku datang ke rumah. Jelas sekali bahwa gadis itu adalah calon istri si pria.

__ADS_1


“Duduk, Na!” perintah Papa padaku yang baru saja turun dari lantai dua.


Katanya, Papa ingin memperkenalkan seseorang. Ya, sudah jelas bahwa orang yang dimaksud itu adalah si perempuan putih ini. Yang tak lain juga adalah calon menantunya.


Akh..., bikin aku kesal saja. Buat apa aku harus berkenalan dengan perempuan yang sebentar lagi akan jadi istri si pria itu?


“Duduk sini, Na!” ujar Papa sekali lagi lantaran aku tak ada tanda-tanda akan mendekat ke arahnya.


Tak bisa menghindar, aku pun lantas duduk di samping beliau, tepat di depan si laki-laki yang katanya akan menikah itu.


Hanya menunduk. Tak mau susah-susah menatap wajah si pria. Pun aku tak mau beramah-tamah dengan si gadis yang duduk di sebelah Kak Zii. Aku hanya akan diam. Menjawab bila ditanya atau secukupnya.


“Na..., ini Viona dan Viona ini Kana, anak gadis Om.”


Mengangkat kepala. Langsung melirik perempuan yang bernama Viona itu. Sekilas aku hanya melihatnya sembari memaksa bibir ini tersenyum tipis.


Kulihat ia mengulurkan tangan, sepertinya berniat salaman. Akh, rasanya malas menjabat tangannya apalagi kala tahu bahwa gadis ini adalah calon istri Kak Zii.


“Viona, panggil saja Vio,” ucapnya setelah kujabat tangannya yang halus itu. Aku hanya mengangguk. Tak mau menyebutkan nama. Toh, tadi Papa sudah memperkenalkan siapa namaku.


Tangan segera kutarik setelah proses perkenalan itu selesai. Aku sudah bosan rasanya di sini. Apalagi sebentar lagi omongan akan pernikahan kedua insan di depanku ini pasti akan memenuhi indra pendengaranku. Tak kuat rasanya mendengar.


“Pa..., apa Kana boleh ke kamar. Kana pusi—.”


“Sebentar dulu, Sayang. Sekarang masih ada Viona. Kasihan kalau kamu tinggal.”


Mendekat aku ke arah Papa. Berbisik seperti hal yang barusan ia lakukan di telingaku.


“Ya, kan ada Kak Zii yang nemenin, Pa. Nggak ada gunanya juga Kana di sini.”


“Na, malam ini Viona bakal nginap di sini! Nanti tidurnya di kamar Kana. Bisa?”


Aku melongo. Benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Papaku ini.


“Pa...,” panggilku lirih sembari menatapnya tajam, lantaran tak terima dengan apa yang barusan Papa bilang.


Si pria malah tersenyum. Membuatku makin kesal.


“Kana nggak mau sekamar sama calon istri Kak Zii, Pa. Kana...”


Segera kututup mulut ini lantaran ucapanku yang dirasa tak sopan. Khawatir bila menyinggung perasaan si gadis cantik itu.


Namun, alih-alih kesal atau semacamnya, kulihat Papa, Kak Zii, dan juga perempuan bernama Vio itu senyum-senyum. Bahkan parahnya, Kak Zii malah dengan terang-terangan tertawa.


Melihat kejadian itu aku bingung sendiri. Heran melihat mereka yang tiba-tiba tertawa seperti ini.


“Calon istri? Sepertinya kamu salah paham, Sayang. Viona bukan calon istri Kakakmu. Lagian siapa yang mau menikah? Kakakmu masih harus menyelesaikan studinya dulu. Viona juga sudah punya tunangan, Sayang. Mana mungkin mereka berdua menikah.”


Mengerjap-ngerjap mata ini. Masih mencerna ucapan Papa barusan.


Menatap sang Kakak tiri kesal.


“Jadi, Kak Zii bohong?”


Yang ditatap malah makin terkekeh.


“Enggak lucu tahu, Kak,” tambahku kemudian.

__ADS_1


Geram. Aku pun bangkit dari sofa. Niat mau melarikan diri dari sini. Malu, kesal, campur aduk sekarang. Akh..., dasar pria menyebalkan.


“Na...!”


Aku berhenti lantaran mendapati namaku dipanggil.


“Ini kan yang Kak Zii mau? Lihat aku malu di depan Papa?”


Mesti tak berbalik aku tahu bahwa orang yang mengejarku barusan adalah si lelaki biang masalah itu.


“Bukan begitu, Na.”


“Lalu? Kenapa Kak Zii harus bohong kalau mau nikah? Kak Zii pasti sengaja kan?”


Alih-alih menjawab, si Kakak malah melontarkan pertanyaan yang membuatku membeku di tempat.


“Apa kamu takut kalau Kakak menikah dengan orang lain, Na?”


Aku bingung. Hati ini rasanya gamang. Namun, bila boleh jujur, perasaan cemas itu ada. Aku masih belum siap bila harus mendapati laki-laki yang masih belum berani kutatap ini menjadi milik orang lain. Aku takut kehilangannya.


“Ta-takut? Buat apa? Terserah. Aku nggak peduli kalau Kak Zii mau nikah. Nikah saja sana! Mau Kakak nikah sampai 100 kali pun aku nggak peduli. Bodo amat.”


Jawaban yang berbanding terbalik dengan hati ini. Memang, lisan dan hati kadang bisa tak sejalan.


Tanpa menunggu jawaban dari si pria, aku berlari menuju lantai dua.


“Na...!”


Kak Zii mengejarku. Namun, aku tak peduli. Pura-pura tuli.


“Na, berhenti!”


“Enggak mau. Sana nikah saja! Nikah. Aku nggak peduli.”


Entah jalanku yang lambat atau memang Kak Zii yang terlalu cepat. Laki-laki itu sudah bisa menyejajarkan langkahnya denganku. Bahkan kini, tanganku sudah berhasil digenggamnya.


“Na...”


Kami saling berhadapan. Namun, aku tak kuasa menatapnya. Bukan lantaran tak mau melihat wajahnya, tapi air mata ini sudah mengenang di pelupuk. Bersiap jatuh.


“Maafin, Kakak. Bukannya Kakak ingin menipumu. Kakak cu—”


“Kak Zii jahat,” tuduhku memotong ucapannya.


Baru akan berbalik, melepas genggaman tanganku, tetapi si pria sudah lebih dulu membawa tubuh ini ke dalam dekapannya.


Aku sempat berontak karena merasa tak nyaman.


“Hanya sebentar, Na. Izinkan Kakak memelukmu.”


Bak sihir, aku menurut. Pun lebih daripada itu, air mata ini turut mengalir. Sudah tak bisa lagi kutahan. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lamanya, aku kembali menangis dalam pelukan laki-laki ini.


“Maafkan Kakak, Na. Tapi, Kakak amat merindukanmu.”


Menahan logikaku, membiarkan perasaan ini menguasai diri. Faktanya sama, aku pun merindukan Kak Zii—merindukan perhatian dan segala bentuk tingkah manis si pria ini.


Next...

__ADS_1


__ADS_2