Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
20. Sadar


__ADS_3

POV DIEN


“Na..., bangun! Aku mohon.”


Gemetar tangan ini kala mengangkat tubuhnya yang telah terkulai lemas.


“Na..., buka matamu, Sayang!”


Terus mencoba bersuara di telinganya. Namun, percuma. Netranya seolah menolak terbuka.


Pelan. Meletakkan tubuh tak bertenaga itu di sisi kolam. Mengguncang-guncangnya. Berupaya memberinya pertolongan pertama.


“Ya Allah..., Kana...”


Baru akan mendekatkan wajah, memberi Kana napas buatan. Namun, Ibu lebih dahulu menghampiri.


Tanpa aba-aba, Ibu lekas duduk dan menggantikanku—membantu Kana.


“Nak. Bangun, Sayang! Ibu di sini,” ucap Ibu di sela-sela kegiatannya yang sedang memberikan pertolongan pada Kana.


“Maafkan, Ibu, Na.”


Menyerah. Wanita baya itu berhenti menekan-nekan dada gadis yang beberapa bulan baru diangkatnya anak itu. Sepertinya, ia tahu bahwa apa yang dilakukannya percuma. Sia-sia saja.


“Tidak!”


Kepalaku tak henti-hentinya menggeleng. Kana harus selamat. Gadis yang nyatanya masih mengisi hatiku ini tidak boleh m4ti.


Tanpa memedulikan Ibu yang masih menangis. Lekas, mengambil alih tubuh gadisku. Menggendongnya keluar dari tempat terkutuk itu.


“Di..., kamu mau bawa Kana ke mana, Nak...?”


Ibu berteriak. Namun, aku tak menjawab. Hanya pujaan hatiku yang paling penting saat ini.


Mempercepat langkah menuju mobil, sementara bisa kulihat Ibu mengekor di belakang.


“Ke rumah sakit Prasakti! Cepat, Pak!” titah pada sopir setelah Ibu akhirnya berhasil masuk dan duduk di kursi depan.


Tak berselang lama, mobil pun melaju membelah jalanan.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, tak pernah teralihkan netra ini dari wajah gadisku itu.


Wajah yang mulai memutih. Bibir yang memucat. Membuat mataku panas.


Menggenggam tangannya erat. Benar-benar berharap tangan dinginnya kembali hangat.


“Na..., aku mohon bertahan, Sayang. Kamu harus sadar. Kita akan menikah. Kita akan hidup bahagia, Na.”


Kukecup punggung tangannya berkali-kali. Sembari membisikkan kata-kata yang selama ini kupendam untuknya.


Namun, lagi-lagi tak ada jawaban. Tak ada suara. Tak ada pergerakan. Kana tetap diam membisu.


Kulit putihnya bertambah pucat. Hal itu lantas membuatku semakin tak suka melihatnya. Ia terlihat begitu rapuh dan amat lemah sekarang.


Mobil berhenti.


“Kita sudah sam—“


Tak menunggu ucapan sopir sampai selesai. Langsung kudorong kasar pintu mobil. Cepat-cepat membawa Kana keluar. Berlari sekuat yang kubisa.


“Tolong! Calon istri saya baru tenggelam. Tolong tangani dia!”


Aku berteriak bak orang kemalingan.


“Silakan ikuti saya, Pak!” ujar seorang suster yang entah dari mana datangnya.


Tak mau disuruh dua kali, gegas kubawa tubuh gadisku itu—mengekori sang suster.


“Silakan baringkan pasien. Saya akan segera memanggil dokter. Bapak boleh tunggu di luar. Biar kami yang tangani.”


Meski tak ingin berpisah dari Kana, aku tetap keluar. Bukan waktunya egois. Untuk saat ini, Kana lebih membutuhkan pertolongan dokter.


“Na..., kamu harus bertahan, Sayang. Harus!”

__ADS_1


Sebelum benar-benar keluar dari ruangan, aku masih sempat-sempatnya melihat ke arah ranjang—tempat di mana tubuh tak bertenaga itu kubaringkan.


“Aku menunggumu, Na. Kamu harus kuat!”


Kududukkan tubuh di salah satu kursi di depan ruang rawat Kana. Hanya bisa menundukkan kepala. Berdoa pada Sang Pemilik Segalanya.


Tak berselang lama, Ibu datang dan duduk di sampingku.


“Bagaimana, Nak? Apa Kana sudah ditangani?”


Mendongak. Lalu, mengangguk.


“Dokter baru saja datang, Bu,” balasku hampir tak bertenaga.


Ibu menghela napas. Terlihat lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Wanita baya itu kemudian duduk di sebelahku.


Aku hanya terdiam. Sementara Ibu terus melantunkan doanya.


“Ya Allah selamatkan anakku,” ujarnya benar-benar penuh harap.


“Ibu di sini, Na. Kamu pasti kuat, Nak.”


Ibu terus mengucapkan kalimat itu. Umpama mantra yang akan terkabul.


“Di mana, Kana?”


Aku mendongak setelah mendengar suara yang tak asing. Pun halnya dengan Ibu. Netra kami sama-sama terfokus pada laki-laki itu.


“Ada perlu apa Anda ke mari?”


Laki-laki seusia Bapak itu menghampiriku dan Ibu.


“Ada perlu apa Anda ke mari?” tanyaku sekali lagi.


Aku berdiri. Mendekat ke arahnya.


Pak Fahri. Alias Papa tiri Kana. Laki-laki itu melirik ke arah Ibu yang masih duduk. Hanya sekilas. Sedang Ibu tampak tak tertarik dengan kehadiran sang pria. Malah, dari gerak-geriknya Ibu tampak menghindar. Aneh.


“Di mana Kana?”


Mungkinkah ia tahu akan hal yang menimpa Kana? Akan anak kandungnya—pria b3rengsek itu yang ingin menodai gadisku? Membuatnya seperti sekarang, sampai tidak sadarkan diri.


“Kana akan ikut saya!”


Mataku hampir memicing. Apa maksudnya?


“Bapak jangan asal bicara.”


“Saya tidak asal bicara. Hari ini juga saya akan bawa Kana pergi.”


Tanganku mengepal. Merasa tak terima dengan keputusan laki-laki di depanku ini. Atas dasar apa ia ingin membawa Kana? Dan kenapa harus sekarang. Di saat gadisku itu tengah bertaruh nyawa. Ke mana saja ia selama ini?


“Tidak. Kana tidak akan ke mana-mana. Kana akan tetap bersama saya. Saya akan melindunginya.”


“Melindungi?”


Laki-laki berumur itu mendengkus.


Ia semakin maju hingga jarak kami semakin dekat. Di luar dugaan, ia menepuk bahuku.


“Putri saya tidak akan seperti ini kalau sejak awal kamu tidak mengusik hidupnya,” ucapnya pelan, tapi entah mengapa sanggup menusuk ulu hati.


Menepis tangannya yang masih menyentuh bahuku.


“Bapak jangan asal bicara? Jangan membolak-balik fakta! Justru keluarga Bapak yang sudah mengusik hidup Kana.”


Emosiku tak bisa diredam. Hingga tanpa sadar aku telah menarik kerah baju laki-laki itu.


“Dien cukup! Jangan buat keributan. Ibu tidak mau melihatnya.”


Ibu yang sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya.


“Tapi..., Bu. Orang ini sudah memfitnah Die—“

__ADS_1


“Berhenti atau Ibu akan panggilkan satpam supaya kamu diusir dari sini!”


“Kenapa jadi Dien yang harus diusir? Harusnya laki-laki ini, Bu,” ucapku sambil terus memojokkan si pria tua itu.


“DIEN!”


Ibu berteriak—membentak. Netranya menatapku nyalang.


Mengerikan. Satu kata itu cukup mendeskripsikan bagaimana Ibu sekarang. Alhasil, nyaliku menciut.


Tubuhku mundur teratur. Dengan kasar, melepaskan tanganku dari kerah baju si lelaki tua itu.


“Kali ini Anda akan saya biarkan. Tapi, lain kali..., jangan harap. Sedikit saja Anda berani menampakkan diri di hadapan Kana. Detik itu juga Anda akan habis di tangan saya”


Seumur-umur, baru kali ini aku mengancam orang yang lebih tua dariku. Emosi nyata-nyata telah membuatku sanggup melakukan hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.


Lantas, apakah aku harus meminta maaf dan menyesali ucapan tidak sopanku tadi? Tidak. Aku tidak akan pernah menyesalinya karena apa yang barusan kulakukan adalah kebenaran. Iya, semua itu demi kebaikan—kebaikanku dan Kana.


Papa tiri Kana hanya tersenyum, lantas membenarkan pakaiannya yang kusut akibat ulahku.


“Di..., duduk, Nak! Tenangkan dirimu!”


Aku menggeleng. Rasanya aku belum puas. Emosiku masih belum sepenuhnya mereda. Aku butuh pelampiasan.


Aku berbalik. Lalu, melangkah menjauh dari Ibu dan laki-laki yang tidak ingin kulihat itu.


“Kamu mau ke mana, Nak?”


Ibu berusaha mengejar.


“Aku mau memberikan pelajaran pada laki-laki yang sudah membuat Kana seperti ini, Bu!”


Aku serius dengan ucapanku. Seperti yang sudah kubilang bahwa aku masih butuh pelampiasan dan laki-laki yang bernama Eziio itu cocok jadi korban.


“Sudah cukup, Di! Ibu tidak mau melihatmu terluka. Biarkan polisi yang mengurus mereka.”


Ah, benar. Belum kuceritakan kisahnya. Setelah mengusir Kana dari rumah, Ibu masih tidak sepenuhnya yakin kalau Kana bisa berbuat seperti apa yang dikatakan Bapak. Hingga mati-matian Ibu menginterogasi Bapak.


Dan benar saja, Bapak mengaku bahwa dirinyalah yang sudah menjebak Kana. Bukan malah sebaliknya. Seperti apa yang aku lihat.


Mendapati kebenaran itu, Ibu dengan cepat menyuruhku mencari Kana. Beliau meminta supaya aku membawa Kana kembali ke rumah.  


Namun, malang. Aku tidak menemukan Kana di mana pun. Hingga di pinggir jalan, aku tidak sengaja menemukan gelang milik Kana yang diberikan Ibu kepadanya. Dengan cepat, aku memeriksa CCTV yang kebetulan memang terpasang di jalanan itu.


Tahu akan apa yang sebenarnya telah terjadi—Kana yang ternyata dibawa orang-orang berseragam hitam—aku lantas memberitahu Ibu dan segera menghubungi polisi untuk dimintai tolong melacak keberadaan mobil yang membawa Kana.


Aku dan Ibu beserta polisi langsung menuju daerah yang diyakini sebagai tempat terakhir mobil yang membawa Kana itu terlihat.


Dan betul saja, setelah sampai di lokasi, aku dengan mudahnya mengenali suara Kana yang tengah memohon-mohon.


Emosiku kian memuncak terutama ketika melihat gadisku itu dil*cehkan. Sebagian pakainya telah dilucuti oleh laki-laki yang sangat kutahu orangnya. Iya, laki-laki yang katanya adalah kakak sambung dari Kana, yang tak lain adalah Eziio.


Di saat akan menghentikan perbuatan bejat laki-laki itu, aku malah dikejutkan dengan Kana yang tiba-tiba saja melompat dari balkon.


Hal tak terduga itu sontak membuat duniaku seolah runtuh. Dengan gelagapan, aku bergegas turun, padahal aku telah susah payah berlari menaiki tangga hingga hampir sebagian tenagaku terkuras.


Sementara aku turun menyelamatkan Kana, polisi meringkus laki-laki biadab itu beserta anak buahnya.


Setelah itu, aku tak tahu nasibnya, apakah benar ia telah berhasil ditangkap polisi ataukah ia masih bisa melarikan diri karena saat itu fokusku hanya tertuju pada gadisku yang sudah tak berdaya.


“Di..., jangan pergi, Nak!“


Ibu kembali menahanku. Namun, aku menggeleng.


“Maaf, Bu. Aku harus ke kantor polisi. Aku harus pastikan bahwa laki-laki itu telah tertangkap.”


Tanpa menunggu jawaban sang wanita baya, cepat kuberlalu dan meninggalkannya.


“Di..., Nak...!”


Tak menghiraukan panggilan-panggilan Ibu yang berulang kali memintaku kembali. Terus melangkahkan kaki, meninggalkan Ibu di belakang. Tekadku untuk memberi si b3rengsek itu pelajaran lebih besar saat ini.


Laki-laki itu harus merasakan bagaimana rasa sakit yang kini aku rasakan sekarang. Ia juga harus tahu penderita yang dialami Kana saat ia menodai gadisku itu.

__ADS_1


“Tunggu aku Eziio!”


Next...


__ADS_2