
“Eziio...! Kana...! Inikah yang kalian lakukan di saat Papa tidak di rumah?”
Tidurku langsung terusik setelah mendengar suara yang cukup keras barusan. Perlahan-lahan netraku langsung terbuka.
“Aaa..., Kak Zii kenapa di kasurku? Pergi!”
Aku memekik setelah sadar akan kehadirannya. Bahkan tangan kokohnya masih setia memeluk pinggangku.
“Kak lepas! Sana pergi!”
Lagi-lagi aku kembali mencoba mendorong tubuhnya supaya menjauh dan melepaskan pelukannya.
Namun, alih-alih melepaskan, Kak Zii malah membaringkan tubuhku kembali setelah tadi sempat terbangun.
“Aaa..., Kak Zii lep—“
Belum sempat kutuntaskan ucapanku, tubuh Kak Zii sudah ditarik paksa.
Deg!
Tubuhku langsung membeku setelah tahu bahwa orang yang menarik Kak Zii adalah Papa.
Astaga..., bukankah seharusnya aku menyadari keberadaan laki-laki baya itu sejak tadi?
‘Akh..., dasar Kana bo-doh,' rutukku dalam hati.
“Apa yang sudah kamu perbuat sama adikmu, Eziio? Apa maksud dari semua ini, hah?”
“Aku mencintai Kana, Pa. Tolong nikahkan kami,” jawab laki-laki itu tanpa pikir panjang.
Plak...
Papa menampar Kak Zii. Suara tamparan yang cukup keras sehingga membuat warna kemerahan di pipi sebelah kanan sang pria.
“Sampai kapan pun kalian tidak akan pernah Papa izinkan menikah,” ucap Papa tajam.
Terlihat jelas bila ayah Kak Zii itu tengah menahan emosinya.
“Kenapa, Pa? Aku bahkan sudah menanam benihku di tubuh Kana. Mungkin sebentar lagi, dia akan hamil anakku.”
Plak...
Lagi-lagi, Papa melayangkan tamparannya ke muka anak semata wayangnya itu.
“Sekali Papa bilang tidak ya tidak, Zii. Papa akan gugurkan kandungan Kana bila benar adikmu itu hamil.”
Kak Zii hanya tersenyum mengejek sembari memegang pipinya yang mungkin saja terasa perih.
__ADS_1
“Kenapa Papa begitu menentang? Apa karena Papa juga menginginkan Kana dan berniat menikahinya? Makanya Papa tidak merestui kami?”
Ah, gil4! Apa maksud dari ucapan laki-laki itu? Pa-Papa menginginkanku? Papa ingin menikahiku? Apa-apaan semua itu? Sungguh tak masuk akal.
Plak...
Untuk ketiga kalinya, Papa kembali menampar Kak Zii. Kali ini di pipi sebelah kirinya.
“Anak kurang aj4r. Bicara apa kamu.”
Kulihat tangan Papa mengepal. Dadanya naik turun. Sedang Kak Zii terlihat santai, malah ia masih sempat-sempatnya menunjukkan senyum liciknya.
“Papa pikir Zii enggak tahu dengan rencana Papa. Papa sengaja kan mengajak Mama ke luar kota hari ini supaya Papa bisa melancarkan niat jahat Papa itu. Papa berencana melenyapkan Mama dengan dalih kalau Mama kecelakaan, padahal itu semua adalah bagian dari rencana Papa.”
Bak tersengat aliran listrik. Tubuhku mendadak kaku. Napasku mulai kacau.
Apa maksud semua ini? Apa yang barusan kudengar?
Berharap bahwa apa yang dikatakan laki-laki itu hanya kebohongan, tetapi setelah melihat sikap laki-laki yang kupanggil Papa itu yang hanya terdiam, tanpa ingin membela diri membuat hatiku meringis.
“Dan, setelah Mama meninggal, Papa lantas akan menikahi Kana. Karena kenyataannya, sejak awal Papa tidak pernah mencintai Mama. Papa hanya menginginkan Kana. Pernikahan Mama dengan Papa juga semata-mata hanyalah bagian dari rencana Papa untuk mendapatkan Kana. Bukankah begitu, Pa?”
Kepalaku menggeleng. Rasanya tak ingin lagi mendengar apa pun. Detik itu juga menutup kedua telingaku rapat-rapat.
Cukup! Cukup! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Aku b3nci.
“Anak tak tahu diri! Jangan asal bicara kamu, Zii. Papa bisa hukum kamu karena sudah menuduh yang tidak-tidak!”
“Zii, enggak asal nuduh. Kalau begitu, jawab pertanyaan Zii, sekarang Mama di mana?”
Akh..., dadaku semakin sesak. Sedang kristal bening lambat laun mulai merembes—membasahi pipi.
Kenapa begitu banyak hal menyakitkan yang harus terbongkar? Tidak bisakah barang sejenak ada kedamaian di hidupku? Aku lelah.
Masih dengan rasa sakit yang amat, kubangkit dari ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang lagi-lagi tak kudapati selembar pakaian yang melekat. Kuhampiri Papa dan Kak Zii.
“Pa, di mana Mama sekarang?” ucapku serak karena hampir tak kuasa lagi menahan laju air mata yang terus turun.
“Sa-sayang, Papa bisa jelaskan semuanya. Kamu tenang dulu, ya!”
Aku menepis tangan Papa yang ingin menyentuh tanganku.
“Katakan di mana Mama, Pa? Aku mau tahu di mana Mama, bukan penjelasan dari Papa.”
Suaraku kini meninggi. Ini baru pertama kalinya aku berbicara dengan suara sekeras ini kepada Papa.
Namun, aku tak peduli. Aku hanya mau tahu di mana Mamaku sekarang.
__ADS_1
“Mamamu di rumah sakit. Dia kece—“
Tidak membiarkan Papa menyelesaikan kalimatnya, tanganku langsung tergerak memukul-mukul tubuh Papa.
“J4hat. Papa j4hat. Aku benci Papa. Aku benci!”
Sementara sang pria baya hanya terdiam. Kenyataan itu semakin membuat hatiku tercabik-cabik.
“Kenapa, Pa? Kenapa Papa melakukan semua ini? Mama tidak salah. Mama sangat mencintai Papa.”
Tak kuat berdiri. Tubuhku ambruk. Meluruh terduduk di lantai.
“Sayang..., Papa bis—“
“Jangan sentuh gadisku, Pa!” ucap Kak Zii cepat sembari menepis tangan Papa yang semula ingin memelukku.
“Na..., Sayang..., Kakak di sini.”
Kak Zii akan memelukku, tetapi sebelum itu aku sudah lebih dahulu memundurkan tubuh. Susah payah berdiri.
“Aku benci kalian semua. Enyah dari hidupku!”
Setelah itu, kuambil beberapa pakaian di lemari dan langsung kukenakan begitu saja di depan mereka. Sungguh. Aku tak peduli.
Toh, harga diriku juga sudah tak ada. Hidupku sudah hancur. Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin bertemu Mama. Aku tak ingin kehilangannya karena hanya Mama yang kupunya di dunia ini.
“Na..., biar Kakak antar. Kamu masih lemah, Sayang!” ujar Kak Zii yang kini sudah menghadang jalanku.
“Minggir! Aku enggak butuh bantuanmu. Aku bisa sendiri.”
“Na..., jangan keras kepala. Kakak enggak ingin kamu kenapa-kenapa. Biar Kakak antar!”
Kak Zii lantas menarik tanganku dan langsung menggendongku begitu saja.
“Aku bisa jalan! Turunkan aku!”
“Tidak, Na. Kondisimu masih sangat lemah, Sayang. Kakak enggak mau bayi kita kenapa-kenapa.”
“Gil4. Sampai kapan pun aku enggak sudi mengandung anak Kakak. Kalau pun sampai benar aku hamil. Aku akan gugurkan.”
“Silakan saja gugurkan kandunganmu, Na. Tapi, jangan salahkan Kakak kalau Kakak kembali membuatmu hamil.”
“Kenapa Tuhan mempertemukanku dengan orang gil4 seperti Kak Zii dan Papa? Apa salahku? Hidupku telah Kakak buat hancur. Dan sekarang apa lagi? Kalian mau ambil Mama? Cukup! Cukup tubuhku saja yang Kakak ambil. Jangan Mama. Aku enggak punya siapa-siapa lagi selain dia, Kak. Lebih baik aku m4ti saja.”
“Ssstt..., Na. Sayang..., masih ada Kakak di sini. Kakak enggak akan buat kamu menderita lagi. Kita akan menikah dan hidup bahagia, Sayang. Kamu yang tenang, ya. Kakak akan melindungimu.”
Detik itu juga, bisa kurasakan keningku dikecup Kak Zii. Meski masih belum mempercayai perkataan laki-laki kurang aj4r ini sepenuhnya, tetapi tak bisa kumungkiri bahwa perlakuan lembut yang diberikan Kak Zii kali ini membuat hatiku nyaman.
__ADS_1
Seakan-akan ia memang tulus ingin melindungiku.
Next....