
“Non Kana. Ini Bibi.”
Bangun dari kasur. Langsung berjalan ke arah pintu.
“Bibi kenapa cari Kana malam-malam?”
“Den Zii, Non ....”
Mendengar nama Kakakku disebut. Aku panik luar biasa. Khawatir kalau terjadi sesuatu padanya.
“Kak Zii? Kak Zii kenapa, Bi ...?”
“Den Zii ternyata bohong sama Non Kana.”
Kedua alis ini terangkat. Tak paham dengan perkataan si ART.
“Mending Bibi masuk dulu, ya. Kita bicara di dalam. Biar lebih enak ngomongnya.”
Menuntun wanita setengah baya ini masuk ke dalam kamarku. Bersama-sama duduk di sisi kiri kasur.
Menatap lurus-lurus si wanita.
“Coba sekarang Bibi cerita. Apa maksud Bibi yang bilang kalau Kak Zii bohong?”
“Tadi, pas Bibi ke supermarket, buat beli tambahan sayur. Bibi nggak sengaja lihat Den Zii dan dia nggak sendiri. Dia sama cewek bule-bule gitu, Non. Mereka gandengan kayak pasangan yang lagi kasmaran.”
Sangat terkejut, tapi sebisa mungkin kukontrol perasaan ini supaya tak emosi.
“Bi-bi yakin kalau yang Bibi lihat itu Kakakku?”
“Yakin, Non. Benar-benar yakin. Serius. Bibi nggak bohong. Non Kana sendiri tahu kan Bibi nggak pernah berani bohong sama Non.”
Hatiku nyeri mendapati kenyataan sepahit ini. Padahal baru tadi pagi aku teleponan dengannya. Namun, apa karena Kak Zii mengira aku berbuat macam-macam dengan Dien, makanya ia jadi mengkhianatiku?
Setega itukah ia padaku? Semudah itukah ia berubah mengingkari janji-janjinya?
“Non ...., maafin Bibi, ya. Gara-gara Bibi Non Kana jadi sedih begini.”
Aku menggeleng.
“Bibi nggak perlu minta maaf. Bibi nggak salah.”
Mencoba tersenyum selebar mungkin.
“Makasih udah kasih tahu Kana kebenarannya.”
__ADS_1
Bibi mengangguk dan setelah itu, beliau langsung pamit keluar. Mau tidur.
Menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Aku hanya bisa diam. Rasanya capek. Sakit.
Aku benar-benar tak menyangka bila kejadian di masa lalu akan terulang kembali. Aku yang patah hati. Tersakiti. Lagi dan lagi.
Antara aku yang bodoh atau laki-laki itu yang berengsek.
Payah. Aku hanya bisa menangis dalam diam. Apanya yang sudah berubah, nyatanya aku masih seorang gadis lemah yang hobi nangis. Miris sekali.
Memeluk lutut, membenamkan kepala. Membiarkan diri ini menangis semaunya. Biarlah malam ini kembali kumengenang rasanya sakit patah hati. Biarlah. Toh, juga aku sudah pernah seperti ini dulu. Bukankah rasanya memang seperti itu? Mestinya aku baik-baik saja sekarang.
Drt ..., drt ....
Perhatianku teralih oleh getar HP-ku yang tiba-tiba berbunyi. Dengan tanpa minat, aku bangun dari kasur. Mengambil ponsel yang sejak tadi ku-charger di atas meja.
Satu pesan dari Papa masuk. Langsung kubuka.
[Na, kamu belum tidur kan, Sayang? Bantu Papa cari kunci mobil, Nak. Papa lupa taruhnya di mana. Papa di halaman belakang. Sepertinya jatuh di sekitar sini tadi. Papa tunggu!]
“Aku lagi patah hati lho, Pa. Masak mau disuruh cari kunci mobil yang hilang?” racauku tak jelas.
Walau demikian, aku tetap akan membantu sang pria. Mungkin dengan membantu mencari kunci mobil Papa, sedihku akan berkurang.
Meletakkan kembali hapeku di atas meja. Melirik jam di dinding. Sudah pukul sepuluh malam rupanya.
“Papa malam-malam begini nyari kunci mobil?”
Aku mulai curiga. Seperti ada yang aneh. Lagi pula, jika Papa betulan kehilangan kunci mobil, kenapa harus aku yang tak ahli menemukan barang-barang kecil yang diminta bantuannya? Padahal di rumah ini masih ada Pak Satpam, sopirnya Papa sendiri yang jauh lebih jago mencari sesuatu.
“Apa ada sesuatu, ya?” tanyaku pada diri sendiri.
Penasaran. Aku langsung keluar setelah menyambar kerudung. Tahu bahwa udara di luar amat dingin, tapi aku hanya mengenakan baju tidur yang cukup tipis. Aku malas harus pakai jaket atau semacamnya. Biarlah. Toh, nggak masalah kalau badan ini demam. Biar semuanya makin komplit. Nggak cuma sakit hati, tapi sakit fisik juga.
***
“Sini, Na ...,” ucap Papa ketika dilihatnya aku sudah keluar.
“Papa kenapa cari kunci malam-malam? Di sini dingin. Kalau nanti Papa sakit gimana? Minta orang lain aja yang cari. Papa ayo masuk ke dalam!”
Mendengar omelanku yang seperti Emak-Emak rempong, Papa malah terkekeh. Beliau mendekatiku.
“Memang sudah pantas kamu jadi Ibu, Na.”
“Jadi Ibu? Maksud Papa?”
__ADS_1
Papa tak menjawab ucapanku. Yang ada ia malah menuntunku menjauh dari halaman belakang.
“Lah, Papa mau bawa Kana ke mana? Bukannya tadi katanya mau dibantu cari kunci di halaman belakang, kok sekarang malah mau ke mana?”
“Nanti juga kamu tahu sendiri, Na. Udah, ya. Kamu nurut aja.”
“Ih ..., nggak bisa begitu, Pa.”
Melepaskan tangan yang digenggam sang pria. Aku menjauh darinya.
“Papa jelasin dulu!”
“Papa mau berenang, ayo!”
“Berenang? Malam-malam begini? Papa yang serius ih, jangan bercanda.”
“Papa serius, Sayang. Ayo!”
Bukannya mendekat. Aku malah menajuh.
“Nggak mau. Pergi aja sendiri. Kana ngantuk. Mau tidur.”
Berbalik. Mengarahkan langkah ke dalam rumah.
Kesal. Benar-benar kesal. Bisa-bisanya Papa bercanda malam-malam begini. Jelas-jelas aku lagi patah hati, malah diajak bercanda. Enggak lucu sama sekali.
Sebal. Kesal. Mau marah. Mau nangis.
“Na ....”
Merasakan tanganku di sentuh Papa. Refleks aku berhenti. Namun, tak juga kubalikkan badan.
“Na ....”
“Apalagi sih, Pa? Kalau Papa mau berenang ya berenang aja sendiri. Jangan ajak-ajak Kana. Kana ngantuk. Kana mau tidur. Jangan bercanda terus, ih. Lama-lama Kana jadi kesal. Kana lagi patah hati. Sakit. Sesak dada ini. Jangan mancing-mancing emosi Kana lagi. Kana capek. Kana lelah terus disakiti. Kesal, ih ....”
Sepi, hening setelah kukeluarkan unek-unek di dalam kepala ini. Papa juga tak lagi menggenggam tangan ini.
“Udah! Jangan ganggu Kana dulu, Pa. Kana mau istiraha—“
Deg!
Tubuh ini dipeluk dari belakang. Namun, bukan itu yang membuatku syok.
“Kamu makin manis kalau lagi marah-marah. Kakak senang lihatnya.”
__ADS_1
Nah, itu. Suara dia.
Next...