Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
BAB 35


__ADS_3

Maju beberapa langkah setelah pelukan si pria terlepas.


Segera kubalikkan badan. Pria yang beberapa waktu lalu kupikirkan kini telah berdiri di depanku. Bak mimpi.


“Kenapa menjauh? Takut sama Kakak?”


Aku tak menjawab. Masih belum sadar sepenuhnya pada kenyataan yang ada.


“Kak Zii betulan pulang? Bukannya masih di—“


“Kenapa? Enggak senang kalau Kakak di sini?”


Kak Zii berjalan mendekat. Refleks aku mundur. Entahlah! Aku bingung dengan maunya diri. Kenapa malah mundur. Bukankah seharusnya aku senang karena akhirnya ia pulang?


Melihat aku yang terus menjauh membuat sang Kakak berhenti mendekat. Ia tersenyum.


“Ini betulan Kakak, Na. Bukan hantu. Jangan takut!”


“Kakak kapan pulang?”


“Kemarin.”


“Jadi, apa yang dibilang Bibi itu benar ... kalau Bibi lihat Kak Zii di supermarket sama cewek lain?”


Benar. Mungkin itu alasannya kenapa aku jadi tak ingin dekat-dekat dengan Kak Zii. Aku kesal. Aku cemburu.


“Ih ... jawab! Jangan senyum-senyum terus.”


Makin kesal diriku apalagi setelah melihat si pria yang tampak santai. Sudut-sudut bibirnya terus terangkat.


“Emang kenapa kalau Kakak dekat sama cewek lain. Bukannya kamu juga waktu itu dekat sama mantan tunanganmu?”


Oh, jadi dia mau balas dendam? Mau manas-manasi aku? Oke, fine. Aku terima tantangannya.


Sengaja aku maju. Mencoba lebih dekat dengan si lelaki.


Tersenyum aku semanis mungkin.


“Kakak ke sini bareng cewek Kakak itu? Mana? Coba dong kenalin ke Kana sekali-kali. Kana mau lihat.”


Lagi, kulihat senyum di bibir si pria. Mungkin, ia puas karena melihatku yang cemburu buta seperti ini.


“Dia orangnya cantik, lho, Na. Nanti kalau Kakak kenali kamu jadi minder.”


“Ya, udah ... kalau menurut Kakak dia lebih cantik dan Kana jelek. Sana ... pergi. Temui aja cewek Kakak itu. Jangan pulang-pulang lagi! Jangan temui Kana. Jangan muncul depan Kana. Pokoknya jan—“


Tubuhku mematung. Ucapanku terjeda. Kulihat Kak Zii berjongkok dengan satu lututnya menyentuh tanah. Si pria mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.


“Masih mau marah? Masih mau cemburu?” ucap si pria sambil menatapku dengan senyum khasnya.


“Kak ....”


Tak bisa berkata-kata saking bahagianya.


“Mau kan jadi istri Kakak lagi? Mau kan nikah sama Kakak? Mau kan terima kekurangan Kakak? Mau kan hidup bareng Kak—“


“Kana mau,” jawabku cepat. Bahkan Kakakku belum selesai dengan ucapannya, aku lebih dulu memotong.


Kak Zii tersenyum. Ia berdiri, beranjak dari posisinya. Diraihnya kedua tanganku. Digenggamnya erat.


“Cincinnya mau dipakai sekarang atau nanti?” tanyanya membuatku malu saja.


Kepalaku menunduk saking salah tingkahnya. Bahkan untuk menatap wajah Kak Zii pun aku tak sanggup. Semuanya terasa seperti mimpi. Oh ... benarkah aku akan menikah lagi dengan pria ini?


Wajahku makin memanas.


“Bisa enggak sih, Na. Kita nikah malam ini langsung? Kakak udah enggak sabar, Sayang,” bisik Kak Zii di telingaku. Sengaja memang si pria ingin menggoda.


Alih-alih menjawab, aku malah berbalik dan langsung berlari ke dalam rumah. Aku malu, sumpah.


“Cie ... cie ....”


Apalagi ternyata ... sejak tadi, di sekitar sini masih ada Bibi, Papa, dan orang-orang rumah lainnya yang melihat. Akh ... aku malu. Benar-benar malu.


“Selamat ya, Non. Akhirnya, dilamar juga. Huhui ....”

__ADS_1


Bibi dan para ART lain menggodaku. Membuat pipi ini makin memerah. Kedua tanganku bahkan harus menutupi muka. Jangan sampai mereka menyadari kalau majikannya ini tengah salah tingkah.


“Na ... kenapa Kakak ditinggal? Kakak belum masangin cincinnya, lho.”


“Be-besok aja, Kak. Kana udah ngantuk. Ka-Kana mau tidur.”


Benar. Itu hanya alasan. Jika tidak segera melarikan diri. Bisa-bisa semua badanku bergetar saking gugupnya.


***


Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun. Jujur, semalam aku tak bisa tidur. Masih belum percaya kalau Kak Zii melamarku. Tiap kali mengingat kejadian semalam, pipi ini langsung menghangat lagi.


Sudut-sudut bibirku pun turut terangkat. Tak bisa untuk menyembunyikan perasaan senang ini.


“Non Kana .... Non diminta turun sama Tuan. Sudah ditunggu juga sama Den Zii.”


Ditunggu Kak Zii? Memang mau ke mana sepagi ini?


Langsung turun dari kasur. Berjalan menuju pintu. Membukanya lebar-lebar.


“Pagi, Sayang.”


“Kak, Zii?”


Aku terkejut karena tak mengira bahwa sang Kakak sudah di depan kamarku.


“Bi-bi mana? Bukannya tadi ada Bibi juga di sini?” tanyaku berbasa-basi.


“Kenapa cari, Bibi? Kan ada Kakak di sini, Na.”


Lagi-lagi, aku dikerjai. Bibi dan Kak Zii memang senang buat ulah.


“Kakak mau apa? Pagi-pagi udah di depan kamarku?”


Aku pura-pura kesal. Dipikir aku juga tidak bisa ngerjai dia apa?


“Papa minta kita buat urus persyaratan buat nikah, Na.”


“Tapi, ini masih pagi, lho, Kak. Emang jam segini udah pada buka kantor tempat ngurusnya?”


“Belum, Na. Tapi, Kakak mau ajak kamu ke suatu tempat dulu.”


“Ke mana?”


Kak Zii tersenyum membuatku makin penasaran.


“Nanti juga kamu tahu sendiri. Sana siap-siap dulu! Kakak tunggu di bawah.”


Tak bisa mengelak. Aku menurut perintah si calon suami. Aduh ... masih pagi padahal, tapi udah panggil-panggil calon suami. Apa bucin memang buat diri jadi segila ini?


Kya ... berhenti senyum-senyum. Aku harus siap-siap.


***


“Ayo, turun!”


Pelan. Kubuka pintu mobil. Kaki ini menapak ke tanah yang kering. Mataku menatap sekeliling.


Tampak batu-batu nisan yang hampir sama tingginya.


Setelah sekian lama, akhirnya aku baru mampir ke tempat ini. Mataku hampir berkaca-kaca. Ada sesak juga di dada.


Merasakan tanganku digenggam. Aku menoleh pada Kak Zii.


“Ayo, temui, Mama!”


Aku mengangguk pelan. Terus kuikuti Kak Zii yang masih menggandeng tanganku.


Sampai di depan batu nisan yang adalah kuburan Mama, aku dan Kak Zii duduk.


Sejenak, aku terdiam. Air mata langsung turun seketika.


“Ma ... Zii sama Kana datang. Zii mau sampaikan kabar bahagia. Sebentar lagi Zii sama Kana bakal menikah. Kali ini Zii serius, Ma. Zii janji di hadapan Mama, Zii enggak akan sakiti Kana lagi. Zii minta maaf. Zii menyesal.”


Baru pertama kali, kulihat Kak Zii sekacau ini. Kepalanya ia tundukkan. Bahunya naik-turun.

__ADS_1


Apa mungkin Kak Zii menangis?


“Kak ...”


Kutepuk pundaknya pelan.


“Kak Zii kenapa?”


“Maafkan Kakak, Na. Maaf.”


Suaranya bergetar. Sepertinya benar. Kak Zii menangis.


Menarik kembali tanganku di pundaknya. Sejenak, kubiarkan si pria tenang. Memilih menatap kuburan Mama. Kuusap tanah di atasnya yang sudah ditumbuhi rerumputan liar.


“Ma ....”


Belum selesai ucapanku, air mata sudah kembali turun. Aku kembali menangis.


Tak bisa bersuara karena tak kuat. Aku hanya bisa berucap dalam hati.


“Mama ... maafin Kana yang baru bisa datang ziarah. Banyak hal yang telah terjadi, Ma. Tapi, Kana masih bisa bertahan. Kana kuat kan, Ma? Kana kangen Mama. Kana pengen peluk, Mama. Tapi, Kana sadar ... Mama udah tenang di alam sana. Mama baik-baik, ya. Karena Kana juga akan baik-baik di sini. Sebentar lagi Kana akan menikah dengan Kak Zii. Mama jangan khawatir karena Kak Zii yang sekarang beda dengan Kak Zii yang dulu. Kak Zii udah berubah, Ma. Dia enggak main kasar lagi. Kana berharap di pernikahan kedua ini, Kana benar-benar bahagia. Semoga Kana dan Kak Zii bisa terus bersama sampai maut memisahkan.”


***


Tiga hari kemudian ...


Menatap laki-laki yang kini sudah sah jadi suamiku. Matanya masih memejam. Wajah damainya amat senang kupandang. Makin bertambahnya umur, bukannya terlihat tua, Kak Zii malah tampak dewasa dan aku menyukai itu.


Bibir ini tersenyum. Tak henti-hentinya kukagumi wajah rupawan sang suami. Hatiku terasa berbunga-bunga. Aku suka.


Pelan, kuulurkan tangan ingin menyentuh rambut hitam Kak Zii. Namun, belum berhasil menyentuh rambutnya, tanganku sudah ditarik. Refleks, aku mendekat ke arah tubuhnya yang masih terlentang.


“Kak Zii ....”


“Hm,” jawabnya tanpa membuka matanya sedikit pun.


“Ayo, bangun! Nanti ketinggalan pesawat.”


Akhirnya, mata hitam itu terbuka. Kak Zii tersenyum.


“Emang mau ke mana sampai harus ketinggalan pesawat?”


“Ih ... jangan pura-pura lupa! Ayo, bangun! Mandi!”


Kuangkat tangan sang pria. Membantunya bangun dari kasur.


“Kak Zii, ayo ... ih .... Kana tinggal baru tahu rasa.”


“Ini masih pagi, lho, Sayang. Mending kita main lagi. Sini ...!”


Mataku menatap tajam si pria.


“Main. Main. Main. Main aja sendiri. Kana capek tahu.”


Kesal. Aku berbalik. Berniat keluar dari kamar.


“Na ... mau ke mana, Sayang?”


“Mau cari suami lagi. Kak Zii mah isi otaknya gitu terus. Kana kesal.”


Sengaja membanting pintu kamar supaya Kak Zii mengira kalau aku betulan kesal.


Langkahku terhenti karena merasakan tangan ini ditahan.


“Sayang ... Na .... Ini Kakak udah bangun! Jangan ngambek. Kakak enggak mau kita pisah lagi.”


Kak Zii memelukku erat. Seolah-olah benar-benar takut kehilangan istrinya.


Tubuhku dibalik. Menghadap dirinya. Kak Zii tersenyum manis.


Ditangkupnya kedua pipiku. Kening kami bersentuhan. Tiap kali Kak Zii sedekat ini denganku, aku pasti jadi gugup. Dadaku bergemuruh.


“Ayo, mandi!” ucapnya pelan.


Nah ... kan ...? Dia mikir gitu lagi.

__ADS_1


Dahlah we ... ceritanya mending ditamatin aja. Biar Kak Zii enggak mikir-mikir gitu lagi.


Adeh ....😷


__ADS_2