Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
27. Hadiah


__ADS_3

Mondar-mandir aku di kamar. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Aku tak ingat, tapi aku tahu bahwa sudah waktunya menghentikan kegiatan tak berfaedah ini. Apalagi, setelah merasakan kepala sebelah kananku mulai berdenyut. Sepertinya pusing.


Berhenti. Memilih duduk di tepi kiri ranjang.


“Papa tidak mau tahu Zii, kamu harus pulang sekarang! Papa tidak menerima alasan apa pun.”


Ucapan Papa tempo lalu di ruang tamu ketika menghubungi Kak Zii kembali terlintas. Iya, pada akhirnya laki-laki itu dipaksa pulang oleh Papa. Tampaknya Papa sangat khawatir dengan anak semata wayangnya itu, apalagi sesaat setelah Papa tahu kalau Kak Zii kecelakaan.


Betul, Kak Zii memang kecelakaan. Namun, tak parah. Kabarnya, si pria terjatuh dari tangga apartemennya. Tak sebatas terjatuh, tangan sebelah kiri laki-laki itu ceritanya patah. Itulah kenapa Papa bersikeras memaksa Kak Zii pulang ke rumah walau laki-laki itu telah berkali-kali mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Kembali melirik penanda waktu di atas meja nakas. Pukul 18.47 menit. Itu artinya, sekitar tiga belas menit lagi laki-laki itu akan tiba di rumah bila tak ada kendala di perjalanannya.


Lantaran diri ini tak ingin bertemu dengan si lelaki, kini aku tengah mengurung diri di kamar. Telah mengunci pintu rapat-rapat supaya laki-laki yang sebentar lagi pulang itu tak bisa masuk ke kamarku.


Aku telah bertekad akan mencoba menghindar darinya. Tidak akan menyapa, tidak akan menatap, tidak akan berbicara dengannya. Bahkan aku sudah berencana akan mulai menabung untuk membeli kontrakan atau mungkin menyewa satu kamar kos-kosan. Sudah pasti untuk kutinggali supaya tak lagi  harus serumah dengan laki-laki berbahaya itu.


“Non, makan malamnya sudah siap. Non Kana nanti ke bawah, ya. Tuan minta Non Kana buat nunggu di meja makan. Sebentar lagi Tuan dan Den Zii datang. Katanya akan makan bersama.”


“Aduh..., aduh...”


Pura-pura sakit. Seketika hanya itu yang terlintas di kepala ini.


“Non Kana baik-baik saja, kan?”


“Aduh..., Bi. Sepertinya aku nggak bisa ikut makan malam. Kepalaku pusing lagi. Apa makanannya bisa tolong dibawa ke kamar, Bi. Aku nggak kuat rasanya buat jalan. Aduh..., aduh...”


“Ya Allah, Non.”


Suara panik Bi Sirim mulai terdengar.


“Ya sudah Non Kana istirahat saja, ya. Nanti Bibi bilang sama Tuan kalau Non Kana lagi sakit. Untuk makanannya akan segera bibi antar.”


Menghela napas lega. Syukurlah, untuk hari ini paling tidak aku tak akan melihat tampang si lelaki itu. Dan semoga saja hari-hari seterusnya pun aku tak akan pernah melihat apalagi bertemu dengannya.


***

__ADS_1


Sengaja bangun pagi-pagi dan langsung keluar kamar. Aku yakin, si pria itu pasti masih tidur seperti kebiasaannya dulu. Hingga kemungkinan kami untuk ketemu amat kecil pagi ini.


Rencana aku ingin membuat sarapan sendiri. Akhir-akhir ini aku memang tengah mencoba belajar banyak hal. Termasuk di antaranya adalah mencoba belajar memasak.


Pun, lidah ini rasanya sudah bosan dengan makanan yang itu-itu terus. Mengingat makanku harus benar-benar dijaga. Tidak boleh makan inilah. Tidak boleh makan itulah. Padahal ada masanya aku bosan apalagi dengan makanan yang setiap hari kumakan berkali-kali.


Pagi ini niatnya akan kumasak nasi goreng. Entahlah, makanan sederhana ini sudah beberapa hari ini ingin sekali kumakan. Semenjak menjalani perawatan di luar negeri, aku belum pernah atau lebih tepatnya tidak diizinkan memakan makanan berat salah satunya yaitu nasi goreng. Karenanya, tak heran jika aku sudah lama mengidam-idamkan makanan khas Indonesia ini.


“Ya Allah, Non. Apa yang Non Kana lakukan? Siapa yang suruh Non masak? Kan ada Bibi.”


Ketahuan. Padahal biasanya Bi Sirim jam segini masih di pasar atau paling tidak masih sibuk dengan pekerjaan lainnya. Namun, kenapa hari ini ART-ku ini sudah di sini? Apa ia tahu kalau aku tengah memasak?


“Bibi kok di sini?” tanyaku sok drama sembari memamerkan senyum terbaik.


“Non Kana kenapa masak? Sini biar Bibi saja. Nanti kalau Tuan lihat, Non Kana bisa kena marah.”


“Papa nggak bakal marah kok, Bi. Malah seharusnya beliau senang. Aku belajar masak.”


“Tapi, Non Kana masih sakit. Nggak boleh kecapekan.”


Bi Sirim melangkah mendekat, melihat makanan yang aku masak.


Hanya bisa menghela napas. Padahal nasi gorengnya sudah matang. Tinggal dihidangkan ke piring. Tapi, kalau sudah begini mau bagaimana lagi. Kalau pun tetap kumakan, pastilah Bibi akan lapor ke Papa.


Ujung-ujungnya Papa akan marah, sedang aku tak mau membuat Papa emosi. Aku sadar diri untuk tidak membuat ulah lagi. Sudah cukup aku menyusahkan laki-laki setengah baya itu.


“Kalau aku nggak boleh makan, terus ini nasi gorengnya mau diapain, Bi? Masak iya mau dibuang? Kan sayang. Aku capek lho bikinnya. Daripada dibuang mending aku aja yang makan ya, Bi. Nggak aku habisin kok. Makannya cuma dikit. Iya, dikit doang.”


Belum menyerah. Masih berusaha membujuk si Bibi.


“Sekali tidak ya tidak, Non. Bibi masih sayang sama pekerjaan Bibi. Bibi belum mau dipecat.”


“Terus siapa yang mau makan, Bi?”


“Biar Kakak yang makan, Na.”

__ADS_1


Deg!


Tubuhku tidak sanggup digerakkan, apalagi untuk menoleh ke belakang—tempat suara si pria barusan berasal. Badan ini sukses diam sempurna.


Sementara, Bi Sirim tampaknya menghampiri si pria.


“Den Zii kenapa ke mari? Aden kan masih sakit. Belum banyak gerak.”


Suara Bi Sirim samar-samar masih kudengar, tapi aku belum juga berani menggerakkan tubuh ini.


“Saya lapar, Bi. Apalagi setelah mencium aroma yang harum ini. Perut saya semakin meronta-ronta. Lama juga rasanya belum makan makanan Indonesia.”


“Oalah. Ya sudah, Den Zii duduk dulu. Biar Bibi masakan makanan kesukaan Aden.”


“Enggak usah, Bi. Saya makan masakan Kana saja. Daripada dibuang mending buat saya.”


Kesal. Apa-apaan laki-laki ini. Mau cari muka? Mau berpura-pura sok baik? Akh..., menyebalkan. Aku benci.


Geram. Tanpa sadar tangan ini langsung mengambil wadah bubuk cabai yang belum lama kupakai. Tanpa ampun, kutuang bubuk cabai sebanyak-banyaknya ke dalam nasi goreng yang kumasak. Kuaduk-aduk sebentar supaya bubuk cabainya tercampur merata.


Aku bergidik ngeri melihat tampil nasinya yang kini tampak merah. Pasti super pedas.


Mengambil piring. Menyajikan nasi goreng yang kuyakini sangat pedas ini di atasnya. Tanpa takut, langsung kuantarkan pada si laki-laki yang masih duduk santai di meja makan.


“Ini hadiah buat Kak Zii. Harus dihabisin!”


Setelah meletakkan sepiring nasi goreng itu, gegas aku pergi—membawa kaki kembali ke kamar. Tak mau berlama-lama melihat tampang si b3rengsek. Toh, pastinya ia tak akan memakan masakanku. Jadi, aku tak perlu merasa bersalah karena telah menumpahkan hampir semua bubuk cabai yang ada di dapur ke dalam nasi gorengnya.


“Uhuk..., Uhuk...”


Langkah ini mendadak berhenti.


“Den, astagfirullah..., jangan dimakan. Biar Bibi buatkan makanan lain saja, ya. Den Zii juga kan enggak bisa makan pedas. Ya Allah..., minum, Den. Minum.”


Deg!

__ADS_1


Apa betulan laki-laki itu memakannya?


Next...


__ADS_2