Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
6. Obat Aneh


__ADS_3

Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar dan sampai detik ini tak ada seorang pun yang berani mendekati kamarku. Bahkan mendengar suara pintu kamar diketuk pun tak pernah.


Rasa penasaran sebenarnya hampir beberapa kali menyergap benakku karena tak mendapati seorang pun datang—bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?


Tentang mengapa aku terus berdiam diri di kamar.


Paling tidak ada orang yang menawari, menyuruhku makan atau semacamnya, mungkin?


Sebab biasanya, bila bukan Mama, maka Bi Sirim yang akan mengantarkan makanan ke kamar jika aku sampai melewatkan sarapan, makan siang, atau pun makan malam.


Namun, dua hari ini benar-benar aneh. Rumah terasa sepi. Seperti tak ada tanda-tanda kehadiran seorang pun di dalamnya.


Kududukkan tubuh dan menyenderkan sebagian badan di kepala ranjang.


Kuraih ponsel yang ada di dekat guling, lalu membukanya. Berharap panggilan dan pesan yang kukirimkan sedari kemarin kepada Dien diresponsnya.


Aku tersenyum miris.


Tak ada satu pun pesan masuk yang berasal dari Dien. Hanya ada pesan dari Mama, Papa, dan beberapa dari teman-temanku.


Kubuka pesan dari Papa yang seharusnya kubaca kemarin. Namun, karena terlalu sedih pasal Dien yang tiba-tiba mengakhiri hubungan kami, aku sampai tak memikirkan apa pun yang ada di sekitar.


[Sayang, istirahat yang banyak, ya. Maaf kalau Papa dan Mama belum bisa ikut merawatmu. Sekarang sampai besok Papa harus ke luar kota bersama Mamamu. Baik-baik di rumah. Kalau butuh sesuatu, minta tolong sama kakakmu. Jangan terlalu memaksakan diri. Jaga kesehatan. Semoga cepat sembuh. Papa menyayangimu.]


Pantas saja suasana rumah sepi. Sedari kemarin Mama dan Papa tak ada di sini.


Lalu ke mana Bi Sirim dan ART lainnya? Mengapa mereka tidak menengokku? Dan juga, ke mana laki-laki itu?


Akh..., bukan. Aku bukannya menginginkan dia ke sini. Tetapi, entah mengapa perasaanku sedikit tak enak. Aku takut bila dia tengah merencanakan sesuatu di saat Mama dan Papa sedang tidak di rumah.


“Non Kana..., ini Bibi, Non. Bibi bawakan makanan.”


Sebelah alisku terangkat setelah mendengar suara itu. Itu suara Bi Limah, salah satu ART di rumahku juga.


Namun yang membuatku heran, kenapa malah Bi Limah yang mengantarkan makanan untukku, sementara beliau tak pernah sekali pun melakukan pekerjaan itu.


Masuk ke kamarku saja Bi Limah tak pernah.


Serius.


Ini kali pertamanya ia melakukan pekerjaan mengantarkan makanan untukku. Karena seperti kataku di awal, bila bukan Mama, makan Bi Sirim yang akan melakukannya.

__ADS_1


‘Ke mana Bi Sirim? Kenapa bukan dia  yang mengantar makanan untukku?’ batinku bertanya-tanya.


“Non..., apa Non sudah bangun? Kalau sudah tolong pintunya dibuka ya, Non.”


Aku membuang napas kasar. Setelah akhirnya, kusibak juga selimutku. Mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang masih hilir mudik.


Tak sebaiknya menaruh curiga yang mendalam kepada ART-ku itu hingga aku pun lekas membukakannya pintu.


“Syukurlah, Non. Saya kira, Non Kana kenapa-kenapa. Ini makanannya saya taruh di sini, ya. Jangan sampai tidak dimakan, lho. Itu perintah langsung dari papanya, Non. Harus dihabiskan. Supaya Non Kana cepat sembuh,” celotehnya sambil menaruh nampan yang berisi makanan dan segelas susu di atas meja kecil di depan kasur.


“Bi Sirim ke mana? Kenapa bukan dia yang antar?”


“Sirim dari kemarin cuti, Non. Katanya ada keluarganya yang sakit.”


Lagi-lagi, kedua alisku bertaut. Aneh? Iya, biasanya kalau Bi Sirim cuti, beliau pasti berpamitan padaku. Hal kecil saja beliau ceritakan, apalagi perkara cuti. Bisa-bisanya ia tak memberitahuku? Hal itu tentu membuatku semakin penasaran saja, seakan-akan ada sesuatu yang telah terjadi.


“Kalau begitu saya permisi ya, Non. Saya masih ada kerjaan di dapur. Jangan lupa makanannya di makan. Susunya juga diminum. Dihabiskan. Biar Non cepat sembuh.”


Aku hanya mengangguk dan tak berminat menjawab lebih. Rasanya masih ada sesuatu yang aneh. Tapi, aku tak tahu apa itu.


Kututup kembali pintu kamar setelah Bi Limah pergi. Tetapi kali ini tidak kukunci karena aku merasa tak akan ada bahaya yang datang.


Toh, Kak Zii juga pasti tak lagi di rumah. Dia paling tengah sibuk di kantor—menggantikan tugas Papa yang sedang ke luar kota.


Tanpa pikir panjang, segera kuraih susu stroberi kesukaanku itu dan hanya dengan beberapa kali teguk, susunya telah habis.


Masih belum kenyang, kuputuskan untuk memakan makanan yang sedari tadi mengeluarkan aroma yang sanggup menggugah selera.


Tak butuh waktu lama, makanan yang ada di piring langsung tandas. Hah, beginilah rakusnya kalau tak makan dari kemarin.


Sempat kubereskan piring-piring dan gelas yang berserakan di meja.


Hingga beberapa menit berlalu, mendadak kepalaku terasa pusing. Luar biasa pusing.


Tubuhku juga turut melemas pun terasa terbakar. Panas yang amat hingga keringat bercucuran.


Susah payah kucoba bangkit dari sofa. Berjalan ke luar kamar. Segera mencari bantuan.


Tubuhku terasa aneh. Aku tak mengerti akan maunya karena baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini.


“Akh...” desisku sambil sesekali ingin membuka pakaian yang kukenakan karena saking panasnya tubuhku.

__ADS_1


Bruk...


Kakiku tak sanggup lagi berjalan. Tubuhku meluruh menyentuh lantai kamar. Kepalaku makin berdenyut sementara badanku kian lama seperti makin terbakar. Padahal aku sangat yakin, AC di kamarku sedang tidak bermasalah.


“To...long, sia-pa pun ku-mohon to-long...”


Bahkan suaraku terdengar serak. Serius. Aku tak tahu penyebabnya.


Cklek...


Kudengar suara pintu kamarku dibuka. Langsung, mencoba mengerjapkan mata berkali-kali karena penasaran ingin tahu siapa orang yang membukanya.


Sayang, aku tak bisa melihat dengan jelas, tetapi dari postur tubuhnya dia seorang laki-laki.


“Ternyata efek obatnya lebih cepat dari apa yang kubayangkan.”


Suara itu? Kenapa dari sekian banyak orang yang ada di rumah ini, dia yang harus datang? Dan apa katanya tadi? O-obat? Apa maksudnya?


‘Akh..., tubuhku semakin panas. Aku sudah tak tahan.’


“Ka-k Zii, to-tolong! Pa-nas, Kak. Ba-danku pa-nas. Ba-wa aku ke ka-mar man-di, Kak. Aku bu-tuh a-ir.”


“Tenang, Sayang! Sabar!”


Setelah berkata demikian, tubuhku langsung terangkat. Digendongnya aku bak seorang princess.


Sementara tanganku entah sejak kapan mengalung di lehernya. Kurasakan tubuhku juga semakin merapat ke tubuhnya.


Otakku menolak melakukan itu semua, tetapi tubuhku terus memberontak melawan akal sehatku.


“Sayang sabar..., sebentar lagi kamu akan mendapatkan hadiahmu.”


Dapat kudengar suara pintu kamar mandi dibuka dengan keras.


“Sayang...,” ujarnya lembut sembari membelai pipiku.


“Kali ini kamu harus hamil. Kita harus secepatnya menikah sebelum Papa melancarkan rencananya. Kamu harus percaya sama Kakak. Kakak tulus mencintaimu, Na. Kali ini menurutlah sama Kakak. Kakak janji akan bersikap lembut.”


Aku hanya mengerjap-ngerjapkan mata, tak sepenuhnya sadar akan maksud dari ucapan Kak Zii.


Fokusku sepenuhnya masih tersita oleh rasa aneh yang terus menjalar di sekujur tubuhku.

__ADS_1


Next...


__ADS_2