
“Kak...”
[Hm?]
“Kakak tahu nggak?”
Laki-laki yang sebelumnya masih fokus dengan makanannya itu menoleh ke arahku atau lebih tepatnya menatap layar HP-nya.
[Kenapa? Lagi ada masalah di kantor?]
Menghela napas. Aku yang semula duduk di tepi kanan mobil beralih ke sisi kiri. Memosisikan diri senyaman mungkin supaya Kak Zii tetap bisa melihat wajahku dengan benar.
“Bukan masalah.”
[Lalu?]
“Kalau Kana kerja sama laki-laki..., apa Kakak bakal cemburu?”
[Siapa?]
“Dien.”
Kak Zii langsung terdiam setelah nama itu kusebut.
“Kak...”
Aku mencoba memanggilnya. Betul-betul khawatir bila laki-laki yang masih sibuk dengan makanannya marah.
“Kakak ambil minum dulu.”
Aku mengangguk walau kutahu itu hanya cara Kak Zii menghindar. Mungkin ia kecewa padaku, tapi tak mau menunjukkannya secara terang-terangan.
Kulihat Kak Zii kembali dengan segelas air putih di tangannya. Ia menatap ke ponselnya.
[Kakak nggak masalah kamu kerja sama laki-laki mana pun asalkan kamu bisa jaga kepercayaan Kakak.]
Lega mendengar jawabannya. Itu artinya Kak Zii tak keberatan.
“Kana bakal jaga hati Kana buat Kakak. Tapi...”
[Tapi, apa?]
“Tapi, Kana yakin kalau dia bakal terus desak Kana. Dengar-dengar, Dien bakal lamar Kana, begitu kata Tante Ratna kemarin. Kalau Kak Zii nggak di sini, Kana jadi bingung harus nolak dengan cara apa. Kana butuh bantuan Kakak.”
Kak Zii meneguk air minumnya hingga habis. Ia tampak gusar.
[Kakak akan usahakan semuanya cepat selesai di sini. Kakak hanya minta, tolong bertahan sampai Kakak kembali.]
Aku mengangguk walau sebetulnya hati ini belum juga tenang.
“Non, sudah sampai,” ucap sopirku ketika mobil sudah berhenti.
“Iya, Pak. Saya turun di sini.”
Aku lantas membuka pintu dan keluar dari mobil.
Berjalan masuk ke dalam kantor. Aku sengaja berangkat pagi supaya kantor belum terlalu ramai. Pun, aku bisa istirahat sebentar sebelum jam kerja dimulai.
Memasuki ruang kerja. Aku duduk di kursi.
“Kak, Kana sudah sampai kantor. Nanti Kana telepon lagi. Kakak yang semangat belajarnya. Biar bisa cepat nikahi Kana.”
Kulihat Kak Zii tersenyum.
[Iya-iya. Ini Kakak juga mau berangkat. Jangan kerja berat-berat. Jangan lupa makan. Dan jangan...]
“Jangan apa?”
[Jangan selingkuh.]
Tersenyum tipis. Di kepalaku muncul ide untuk menggoda Kakakku ini.
“Emang kalau Kana selingkuh, Kak Zii mau apa?”
[Kakak akan langsung nikahi kamu kalau kamu sampai selingkuh.]
Aku tertawa. Menggemaskan melihat ekspresi Kak Zii yang sekarang. Pura-pura marah.
“Kakak tenang aja. Kana nggak mungkin selingkuh. Wong, Kana cuma cintanya sama Kak Zii seorang—”
“Bu Kana...”
__ADS_1
Kening ini mengerut karena tak biasanya ada orang yang akan masuk ke ruanganku saat jam kerja belum dimulai.
Kulirik penanda waktu yang ada di atas meja, masih ada sekitar lima belas menit lagi untuk bersantai. Namun, siapa orang yang sudah datang mengganggu?
Karena penasaran siapa yang datang, aku bangun dari kursi setelah sebelumnya meletakkan ponsel di atas meja. Lalu, berjalan ke arah pintu.
“Ada apa?”
“Ada yang mencari Bu Kana.”
“Siapa?”
“Namanya Pak Dien.”
Baru ingat kalau sempat meminta Tante Ratna untuk menyuruh Dien menemuiku langsung ke kantor.
Aku mengangguk.
“Langsung suruh ke ruangan saya.”
Sang asisten mengangguk. Dengan segera, ia pergi.
Kembali menutup pintu. Berjalan ke arah meja kerja. Merapikan beberapa kertas yang masih berantakan di atasnya.
Tok..., tok...
Bunyi ketukan pintu terdengar disusul suara yang tak asing itu.
“Permisi...”
“Masuk!” ucapku tanpa menatap ke arah pintu sedikit pun. Alasannya, karena aku masih sibuk merapikan beberapa berkas yang ada di atas meja.
Kudengar suara pintu terbuka, lalu ditutup kembali. Namun, setelah itu sepi—tak ada lagi suara yang terdengar.
Memandang lurus ke arah depan. Sang pria masih berdiri tegap beberapa langkah di depanku.
“Silakan duduk!” ucapku kemudian sembari menunjuk kursi yang ada di depanku dengan ujung dagu.
Dien menurut. Ia langsung duduk.
“Na...,” ucapnya membuka suara.
Aku yang masih canggung, apalagi Dien dengan terang-terangannya memanggil namaku langsung, tanpa ada embel apa pun membuat diri ini semakin tak nyaman.
Mencoba biasa-biasa saja.
Si lelaki menggeleng.
“Lalu? Apakah ada hal lain?”
“Na, aku bukan mau bahas pekerjaan. Tolong jangan seperti ini.”
Menghela napas.
“Lalu kamu mau bahas apa? Ini kantor jadi waktunya aku kerja.”
“Aku tahu, aku banyak salah sama kamu. Tapi, apa kamu nggak bisa kasih kesempatan sama aku?”
Menatap lurus Dien.
“Kesempatan apa yang kamu maksud, Di? Kamu mau pekerjaan? Papa bisa kasih itu buat kamu.”
Pria yang pernah menjadi masa laluku itu lagi-lagi menggeleng.
“Aku mau kamu, Na.”
[Uhuk..., uhuk...]
Deg!
Pandanganku langsung mengarah pada ponsel yang ada di atas meja. Baru sadar kalau ternyata aku belum mematikan panggilan teleponku dengan Kak Zii.
Gegas mengambil HP, bersiap untuk mengakhiri panggilan. Namun, Kak Zii mencegahku.
[Jangan dimatikan, Na. Kakak masih mau dengar suaramu, Sayang.]
“Siapa dia, Na?”
Tahu bagaimana rasanya berada di posisi ini sekarang? Benar-benar tak enak. Di satu sisi, aku senang Kak Zii menunjukkan perhatiannya, tapi di sisi lain aku tak mau Dien tersakiti. Walau bagaimanapun, Dien pernah menjadi seseorang yang dulu begitu berarti dalam hidupku.
[Saya calon suaminya Kana. Sebentar lagi kami akan menikah,] jawab Kak Zii tegas dan penuh penekanan.
__ADS_1
Kak Zii sendiri yang menjawab. Bukan aku. Padahal yang ditanya aku bukan dia.
Apa mungkin Kakakku ini tengah cemburu sekarang? Menyadari akan hal itu, aku tersenyum.
“Apa betul dia calon suamimu, Na?”
Senyum di bibir ini langsung memudar setelah laki-laki di depanku ini kembali bertanya. Seakan apa yang dikatakan Kak Zii tadi tak cukup menjawab pertanyaannya.
“Iya. Aku akan menika—“
“Dengan laki-laki berengs-ek yang bahkan pernah mau membunuhmu itu, Na?”
[Kenapa? Kamu marah karena Kana lebih memilih saya?]
Kepalaku makin pusing sekarang. Aku bingung bagaimana harus melerai pertengkaran mereka.
“Saya marah atau tidak. Itu bukan urusanmu. Kana hanya belum tahu saja siapa kamu sebenarnya. Laki-laki b3jat sepertimu tidak pantas untuk menik—“
“Cukup, Di! Kalau kamu hanya mau buat keributan. Lebih baik kamu keluar dari sini!”
“Na...”
“Keluar atau saya panggil satpam buat usir kamu!”
Dien tersenyum kecut.
“Kamu mengusir saya, Na?” ucapnya sembari mencekal tanganku.
Aku mencoba melepaskan cekalan tangannya, tapi tak bisa. Tenaga Dien amat kuat.
“Lepas!”
“Kenapa? Kamu takut, Na?”
Tanpa aku sadari, Dien sudah merampas ponselku yang masih terhubung dengan Kak Zii.
[Mau apa kamu?]
“Kana nggak papa, Kak. Kak Zii nggak usah khawat..., akh...”
Dien semakin mempererat cekalannya. Seperti sengaja ingin membuatku berteriak supaya Kak Zii cemas.
[Brengsek! Jangan sentuh gadisku!]
Dien terkekeh.
“Gadismu? Lucu sekali. Kana milikku. Bukan milikmu. Dulu, kamu sudah merebutnya dariku. Maka sekarang akan kurebut dia kembali.”
[K3p4rat kamu Dien! Lepaskan Kana atau kamu akan m4ti.]
Percuma. Ancaman Kak Zii tak mempan. Dien seperti dirasuki api cemburu bercampur amarah yang siap meledak.
“M4ti? Saya tidak akan mati sebelum menikahi Kana.”
“Dien lepas atau saya akan teriak!”
[Teriak, Sayang. Papa pasti akan datang!]
Terdengar jelas bahwa Kak Zii amat mencemaskanku.
“Teriak atau kamu kucium, Na!” ancam Dien tiba-tiba membuat nyali ini menciut.
[Berani kamu sentuh calon istri saya. Habis kamu, Dien. Tunggu saya!]
Setelah itu, Kak Zii mematikan sambungan telepon. Entah apa alasannya mengakhiri panggilan secara tiba-tiba.
Tidak mungkin Kak Zii akan pulang hanya karena ingin menyelamatkanku, kan?
Akh..., aku terlalu mengada-ada. Kak Zii tidak akan sampai berbuat seperti itu walau kutahu ia menyukaiku.
Kurasakan cekalan di tanganku terlepas. Pikiran ini kembali fokus pada Dien.
“Aku minta maaf, Na.”
Setelah itu, sang lelaki langsung berdiri dari kursi dan pergi—meninggalkan ruanganku.
Hanya bisa merenung.
Lalu, tadi apa maksudnya? Apa maksud Dien sebenarnya? Apa laki-laki itu hanya sengaja memanas-manasi Kak Zii supaya ia cemburu?
Benar-benar tak tahu aku akan jalan pikirnya Dien. Entah dulu, entah sekarang, laki-laki itu selalu tak bisa kutebak.
__ADS_1
Next...