Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
13. Kembali


__ADS_3

Sejak tadi aku hanya menatap kosong ke arah sungai yang ada di depanku. Airnya begitu tenang. Pun tak banyak sampah yang berseliweran. Bisa dibilang airnya termasuk jernih.


Lagi-lagi aku menengok ke sekeliling takut-takut bila ada orang lewat yang melihat. Aku sengaja mencari sudut sungai yang sepi, terhindar dari keramaian karena aku tak ingin seseorang melihatku melakukan aksiku.


Ya, aku sudah tak punya harapan akan hidup. Masih bernapas atau tidaknya aku di dunia ini, tak ada seorang pun yang akan peduli. Benar-benar tak ada. Tak ada pula sanak saudara tempatku berbagi keluh kesah. Hidupku benar-benar telah hancur. Jadi, percuma saja aku hidup.


Untuk yang terakhir kalinya kutarik napas dalam dan membuangnya pelan. Setelah puas memandang keindahan sungai tempat kuberdiri ini, kuputuskan untuk mulai membuang satu persatu barang-barangku ke dalamnya.


Tentu dengan sangat pelan dan hati-hati karena aku tak ingin membuat airnya beriak yang bisa menarik perhatian orang-orang.


Tak ada lagi benda yang kini tersisa. Semuanya telah kubuang ke dalam sungai.


Ah, sebentar! Sepertinya di tanganku masih tersisa satu benda. Sepasang cincin perak yang berinisialkan huruf K dan D.


Aku tersenyum miring.


Iya, itu adalah cincin yang aku persiapkan untuk acara tunanganku dengan Dien.


Entah mengapa satu kristal bening berhasil lolos lagi dari mataku.


Sepertinya, cincin ini sangat berharga sampai-sampai aku tak tega membuangnya. Hingga akhirnya, aku meletakkannya di rerumputan di dekat salah satu pohon yang ada di area sungai itu.


Kupejamkan mata. Kuhapus pula sisa air mata yang sempat jatuh.


“Selamat tinggal Kak Zii. Selamat tinggal Dien. Aku menyayangi kalian. Aku berharap kalian menemukan wanita yang lebih baik dariku. Aku pamit. Semoga kalian tak mencariku karena mulai hari ini aku akan pergi untuk selamanya!”


Tanpa menunggu apa-apa lagi aku pun langsung menceburkan diri. Air sungai yang tenang itu ternyata amat dingin hingga menembus ke tulang-belulangku.


Tak hanya sampai di situ, lambat laun tubuhku terasa diambil alih. Entahlah. Mungkin air telah masuk ke dalam seluruh tubuh sehingga membuat penglihatanku meredup.


Pendengaranku ikut menuli. Pun dengan indra lainnya. Semuanya benar-benar terasa hampa.


Hal terakhir yang masih sempat kudengar adalah suara seseorang yang berteriak.


Sepertinya ia sangat membutuhkan pertolongan sampai-sampai suaranya terdengar begitu histeris. Entahlah. Aku tak ingin tahu lebih banyak lagi. Aku ingin tertidur. Aku lelah.


...****...


Mataku terasa berat. Tak sanggup membuka. Sementara kepalaku begitu pusing. Tetapi, telingaku mulai terusik akibat suara-suara yang begitu asing.


Setelah susah payah mencoba, akhirnya mataku berhasil membuka.


“Alhamdulillah. Ya Rabb. Kamu sadar juga, Nak!”


Aku mengerjap-ngerjapkan netraku karena merasa masih asing dengan apa yang kulihat.


“Tan-te siapa?” ucapku susah payah karena tenggorokanku sesak luar biasa.


Alih-alih menjawab pertanyaanku, wanita yang kira-kira sebaya dengan Mamaku itu malah menyodorkan segelas air.


“Minum dulu, Nak,” ucapnya ramah. Senyum keibuan pun turut mengembang di bibirnya.


“Makasih, Tante,” ucapku masih dengan suara yang serak.

__ADS_1


Gegas mengambil minuman yang tadi disodorkannya setelah aku berhasil mendudukkan diri—menyender di kepala ranjang.


“Siapa namamu, Sayang? Berapa umurmu?”


Sang wanita bertanya setelah menaruh gelas kosong yang barusan kukembalikan.


“Ka-na, Tante. Sa-ya 19 tahun,” ucapku sedikit terbata-bata.


“Kenapa Kana bisa ada di tempat itu, Sayang? Apa Kana jatuh?”


Mendengar pertanyaan wanita baya itu seketika membuat pandanganku mengabur.


Potongan-potongan ingatan beberapa jam yang lalu kembali hilir-mudik dalam pikiran. Tak terasa netraku terasa panas.


“Menangislah Sayang. Tante ada untukmu,” ujar wanita berkerudung peach itu sembari memelukku dalam.


Tangisku pecah.


Antara tangis haru dan tangis penyesalan bercampur menjadi satu. Aku merasa terharu karena masih ditakdirkan hidup. Sementara di satu sisi, aku benar-benar menyesal karena telah mencoba mengh4bisi diriku sendiri.


Ternyata aku memang perempuan b0doh.


Tante yang tak kuketahui namanya itu melepaskan pelukannya. Ditatapnya aku lembut.


“Kana..., seberat apa pun masalah yang telah Allah gariskan untuk kita, pasti dan selalu akan ada solusinya, Nak. Kecuali kalau kita begitu mudah berputus asa. Apalagi sampai-sampai mencari jalan pintas seperti yang Nak Kana sempat lakukan. Sungguh, Nak. Bukannya penyelesaian yang akan kita dapat. Malah dosa kita makin bertambah berkali-kali lipat,” ucapnya sambil beberapa kali menghapus air mataku yang terus mengalir.


Aku hanya terdiam sambil tertunduk. Tak ada balasan yang bisa kujadikan pembelaan karena aku sadar bahwa apa yang kulakukan beberapa jam yang lalu adalah sebuah kesalahan besar.


“Kana istirahat di sini saja, ya. Ibu tinggal dulu. Mau siapkan makan malam. Kalau Kana butuh apa-apa, panggil Ibu saja. Ibu ada di dapur, di ruang depan.”


Aku hanya bisa menatap kosong punggungnya. Perasaanku masih campur aduk.


Apalagi setelah mendengar perkataan wanita ramah senyum tadi. Iya, seharusnya aku paham bahwa pilihanku yang ingin bu-nuh diri jelas-jelas salah.


Aku tahu betul bahwa dosaku masih terlampau banyak, tetapi bukannya bertobat. Aku malah memilih menambah dosa.


Mungkin, inilah alasannya kenapa Tuhan belum mengambil nyawaku karena Dia masih menginginkanku untuk membenahi diri.


“Apa Tante bisa mengajariku caranya salat?”


Entah pikiran dari mana, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.


Wanita yang sudah menyelamatkanku itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan langsung menghampiriku.


“Alhamdulillah. MasyaAllah. Pasti, Sayang,” ujarnya.


Ia pun kembali mengecup keningku. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Meski tak terlalu jelas, aku bisa melihat sebulir air mata menetes membasahi pipinya.


“Alhamdulillah, Nak. Allah menyayangimu, Sayang. Allah mencintaimu.”


“Apa Allah masih mau mengampuni wanita hin4 sepertiku, Tante? Apa benar Allah mencintaiku?”


“Pasti, Sayang. Ampunan Allah itu sangat luas asalkan kita tidak berputus asa dan terus berusaha membenahi diri.”

__ADS_1


Aku baru akan kembali menjawab sebelum suara yang sangat amat kukenal itu mengurungkan niatku.


“Assalamualaikum, Bu. Dien pulang.”


“Na, sebentar ya. Anak Ibu pulang.”


Aku mengangguk, namun pandanganku benar-benar kosong. Pun tubuhku entah sejak kapan terasa menegang.


“Dien?”


Tanpa sadar aku terus mengulang nama itu. Nama yang begitu sangat kurindukan. Bagaimana kabarnya? Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana keadaan ibunya? Apakah Tante Mita masih sakit ataukah malah sudah...?


Lalu, kenapa Dien ada di sini sekarang dan memanggil wanita tadi Ibu? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Sungguh banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya.


“Ya Allah. Apakah Engkau sengaja mempertemukanku lagi dengan Dien semata-semata untuk menyatukan kami kembali?


Jika itu memang benar, aku sangat berterima kasih. Aku janji kali ini aku tidak akan mengkhianatinya lagi. Aku akan memperbaiki diriku dan kembali merajut hubungan yang sempat kandas dulu.


Aku mohon bantu aku melakukannya. Semoga Dien masih mau menerimaku yang penuh kekurangan ini.”


Lagi-lagi, air mataku berjatuhan. Aku tak tahu ini tangis apa. Tapi, yang jelas aku tahu bahwa mulai saat ini hidupku benar-benar akan berubah. Aku yakin kebahagiaanku sudah semakin dekat apalagi dengan adanya Dien di sisiku.


“Ibu dari mana? Kenapa mata Ibu seperti habis menangis?”


Meski samar, aku masih bisa mendengar obrolan Dien dengan wanita yang ia panggil Ibu itu.


“Tadi, Ibu habis bantu orang yang tenggelam di sungai. Karena kasihan, untuk sementara Ibu biarkan dia menginap di rumah kita. Sampai keadaannya benar-benar pulih.”


“Tenggelam? Kok bisa? Sekarang orangnya di mana? Apa Dien boleh lihat. Siapa tahu Dien bisa bantu carikan keluarganya?”


“Ibu juga kurang tahu apa alasannya. Nak Kana belum cerita sama Ibu. Ibu juga tidak berani memaksanya buat cerita. Orangnya ada di dalam. Lagi Ibu suruh istirahat. Kasihan. Sepertinya masih syok, Nak.”


“Ta-di Ibu bilang na-namanya Ka-na?”


“Iya. Kana. Anaknya cantik. Katanya usianya baru 19 tahun. Beda dua tahun dari kamu.”


Sejenak hening karena tak kudengar lagi percakapan apa pun.


“Di..., kamu kenapa, Nak? Kenapa wajahmu langsung memucat begini?”


“Eng-gak papa, Bu. Cuma kelelahan. Ak-u ke kamar dulu. Mau istirahat.”


“Lalu, ketemu Nak Kana-nya kapan? Tadi katanya mau lihat?”


“Ah..., i-itu besok saja, Bu. Sekarang Dien sibuk. Dien masih perlu istirahat. Dien malas ketemu orang asing. Yang ada Dien juga ikutan sakit nanti.”


“Huss..., jangan bicara begitu, Nak. Enggak baik.”


Dadaku langsung sesak. Kenapa Dien berkata seperti itu? Apa maksudnya dengan membuatnya sakit? Seakan-akan aku adalah racun yang bisa menghancurkannya.


Apakah ia tidak merindukanku? Tidak inginkah ia melihatku? Menanyakan kabarku? Menanyakan pula tentang hidupku selama ini? Tidak maukah ia mendengar ceritaku atau menjelaskan kepadaku tentang mengapa ia dulu membatalkan pertunangan kami?


‘Di..., apa kamu benar-benar telah melupakanku?’

__ADS_1


Next...


__ADS_2