Terpaksa Menikahi Kakak Tiri

Terpaksa Menikahi Kakak Tiri
30. Apes


__ADS_3

POV DIEN


“Dien?”


Persis sepertiku, gadis di depanku ini kini juga tengah mematung. Mulutnya sedikit membuka. Namun, gegas ditutupnya.


Berusaha mengontrol diri untuk tak lekas memeluknya, kubawa langkah ini mendekat.


“Aku merindukanmu, Na.”


Dari sekian banyak kata yang ingin terlontar, hanya kalimat itu yang sanggup kuucap. Perasaan ini rasanya tak mampu lagi dibendung, terlebih setelah melihatnya yang kini nyata-nyata berdiri di depanku.


“Ah, i-iya. Silakan duduk! Kita langsung mulai saja wawancaranya!”


Sedikit kecewa karena melihatnya yang lebih mengutamakan pekerjaan dibandingkan dengan harus menyapa atau membalas ucapanku terlebih dahulu.


Mendapati sikap Kana yang acuh tak acuh, hati ini mulai bertanya, ‘apakah Kana tidak merindukanku sehingga dengan gampangnya ia mengalihkan pembicaraan kami?’


Akh..., kepalaku mulai tidak bisa berpikir jernih.


Tampaknya, aku harus lebih bersabar. Barangkali, Kana tengah mencoba bersikap profesional dengan pekerjaannya. Hingga ia harus terpaksa mengesampingkan perasaannya.


Diam-diam aku tersenyum membayangkan hal apa yang kiranya akan terjadi setelah proses interview ini selesai?


Sudah kusiapkan berlusin-lusin kata manis untuknya. Pun, aku telah sedia untuk melamarnya hari ini juga.


“Maaf. Boleh, silakan duduk dulu! Wawancaranya akan segera kita mulai.”


Aku mengangguk dan cepat-cepat duduk di kursi—tepat di depannya. Tak ada pembatas di antara kami selain daripada meja hitam yang mengkilap ini.


Kondisi meja yang mengkilap ini membuatku bisa melihat pantulan wajah Kana dengan leluasa. Hingga, beberapa kali sengaja menundukkan kepala, semata-mata supaya dapat melihat wajahnya yang kini bertambah manis itu.


Si4l. Tidak menyangka bahwa aku akan sampai bersikap seperti itu. Gadis ini memang mampu membuyarkan akal sehatku.


Sekitar lima belas menit, proses tanya-jawab masih berjalan lancar. Setiap pertanyaan yang Kana ajukan, bisa dengan lugas dan tegas kujawab.


Hingga tanpa diduga-duga, ponsel milik gadis yang masih fokus dengan lembaran-lembaran kertas di depannya berbunyi.


Panggilan pertama tak diangkatnya. Pun paling kedua tak digubrisnya.


Sebenarnya, panggilan ketiga juga tidak mau dijawabnya, tetapi entah karena apa diri ini malah berucap, “Diangkat dulu, Na. Siapa tahu penting. Wawancaranya ditunda dulu. Aku masih punya banyak waktu. Aku akan menunggu.”


Ia sempat menatapku sejenak. Namun, setelah itu ia langsung meraih ponsel dan lekas dijawabnya panggilan yang entah dari siapa.


“Ya. Masih di kantor. Lagi wawancara karyawan.”


[....]


“Iya..., aku udah makan. Udah kuminum juga obatnya.”


[....]


“Enggak usah dijemput. Hari ini aku bawa mobil sendiri. Papa udah ngizinin.]


[....]


“Iya-ya..., habis ini langsung pulang, Vio Sayang. Udah ya, aku masih sibuk. Daa...”

__ADS_1


Kana menutup sambungan telepon secara sepihak dan kembali fokus dengan kertas-kertas di depannya.


“Bisa kita lanjut?” ucapnya kemudian, tanpa menatap ke arahku sedikit pun.


Dada ini sesak. Hati ini pun jadi tak karu-karuan. Bukan. Bukan karena gadis manis ini tidak melihat ke arahku, tetapi lantaran satu nama yang barusan ia sebut dengan panggilan sayang.


Vio.


Siapa dia?


Kenapa Kana terlihat begitu senang ketika menerima telepon darinya?


Apa yang sebenarnya tidak kuketahui tentang gadis ini?


Dan jauh daripada itu, apakah artinya, sudah tidak ada lagi aku di hatinya?


“Maaf. Apa kita bisa lanjutkan wawancaranya?”


Kali ini, ditatapnya mataku. Pun, aku balas menatapnya. Cukup lama.


“Vio itu siapa, Na? Kenapa kamu memanggilnya dengan panggilan semesra itu? Apa dia kekasihmu?”


Netra gadis itu mengerjap-ngerjap. Diputuskannya langsung kontak mata kami. Terlihat, ia tampak gelagapan.


“Jawab, Na! Siapa itu Vio?”


Sedikit meninggi nada suaraku. Sepertinya api cemburu mulai menguasai diri ini.


“Ki-kita lanjutkan wawancaranya sekarang.”


Sebentar, Kana terdiam.


Namun, tak lama kemudian, kulihat ia membuang napas. Sepertinya, gadis ini mulai tak nyaman dengan pertanyaanku yang terlalu menuntut.


Kembali, ditatapnya netraku.


“Vi-Vio itu....”


“Maaf mengganggu Bu Kana. Saya diminta Pak Fahri untuk menggantikan Ibu. Sementara, Ibu diminta ke ruangan beliau sekarang.”


Menatap tajam ke arah laki-laki yang sepertinya adalah karyawan di perusahaan ini. Siapa dia? Seenaknya saja mengganggu obrolan orang.


Akh..., bila tak tahu tempat, ingin sekali kuceramahi dirinya.


“Baiklah! Saya akan ke sana. Saya serahkan wawancara di sini pada Bapak. Mohon bantuannya.”


Lekas memfokuskan pandangan ke arah gadis di depanku ini.


“Na..., ma-maksud saya Bu Kana..., Ibu tidak boleh seperti ini. Obrolan.., ah tidak, maksud saya wawancara kita belum selesai. Ibu tidak bisa pergi begitu saja. Ibu harus profesional!”


Bodoh amat dengan wibawa. Sebisa mungkin, aku harus menahan gadis ini di sini. Sudah terlalu lama aku bersabar menunggunya kembali.


Kali ini—pada kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang ini, aku harus mengutarakan semaunya. Harus.


“Mohon maaf, Pak, tapi Bu Kana harus segera menemui pimpinan. Bapak tidak berhak menahan Bu Kana di sini. Proses interview akan tetap berjalan. Saya yang akan mewawancarai Bapak. Jadi, mohon kerjasamanya!” jawab sang laki-laki itu sok berkuasa.


Aku menggeleng.

__ADS_1


“Saya menolak. Saya hanya mau di-interview oleh Bu Kana. Tidak oleh yang lain.”


Sepertinya, aku cari m4ti di sini. Memang ada calon karyawan yang senekat aku? Akh..., sudah pasti tidak ada.


Mana ada calon karyawan yang jelas-jelas bukan siapa-siapa di perusahaan ini bersikap semaunya. Mengatur-atur atasan pula.


Kalaupun tidak diterima bekerja di sini, aku tidak masalah. Asalkan, hubunganku dengan gadis yang masih menatapku ini kembali seperti sedia kala.


‘Rela kupertaruhkan pekerjaan yang sudah lama aku idam-idamkan ini semata-mata hanya untuk dirimu, Na.’


Laki-laki yang berdasi hitam itu melangkah maju—mendekat ke arahku. Sorot matanya terlihat tajam. Tangannya sedikit mengepal.


‘Mungkinkah dia marah?’


Namun, tentu saja diri ini tak takut. Sudah kepalang tanggung. Jika harus sampai bermain kasar alias berkelahi sekalipun, ya aku siap. Akan kuladeni.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kenapa ada suara ribut-ribut?”


Semua mata tertuju pada laki-laki berbadan tegap yang belum lama masuk.


Deg!


Nyali ini langsung menciut setelah melihat siapa beliau. Pak Fahri—Papa tiri Kana telah berdiri di depan pintu sambil memandangku dan lelaki suruhan Papa Kana tadi bergantian.


Diri ini hanya diam mematung. Tak berani menggerakkan badan sedikitpun. Sedang kulihat si karyawan laki-laki songong itu mendekat ke arah Pak Fahri.


Sang bawahan tampak membisikkan sesuatu pada atasannya.


“Kamu boleh keluar. Tugasmu sudah selesai!”


Pak Fahri lantas berucap demikian pada laki-laki itu. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, sang karyawan berdasi itu keluar dari ruangan.


Menyisakan aku, Kana, dan tentu saja Pak Fahri.


“Papa ada perlu apa ke mari?”


Kana akhirnya membuka suara setelah beberapa saat keheningan menyelimuti ruangan ini.


Pandangan sang lelaki berumur yang semula mengarah padaku itu berubah haluan—kini menoleh pada anak perempuannya.


“Papa mencarimu. Ada yang menunggumu di ruangan Papa. Sebaiknya, segera temui dia!”


“Siapa?”


Sama seperti pertanyaan Kana, aku juga menebak-nebak siapakah orang yang tengah menunggu Kana di ruangannya Pak Fahri itu.


“Nanti kamu juga tahu. Temui saja dulu. Urusan di sini biar Papa yang selesaikan. Biar Papa yang melanjutkan tugasmu.”


Napas ini menjadi tak teratur setelah mendengar ucapan pimpinan perusahaan ini.


Apa itu artinya, aku akan diwawancarai langsung oleh Pak Fahri? Oleh laki-laki yang dulu pernah bersitegang denganku di rumah sakit itu.


Tangan ini rasanya dingin, padahal keringat mulai bercucuran. Sementara, sedari tadi napas ini tak henti-hentinya kuhela.


Akh..., sepertinya hidupku akan tamat di sini. Benar-benar apes. Seapes-apesnya.


Next...

__ADS_1


__ADS_2