
“Na, Papa mohon jangan pergi, Sayang. Tinggallah di rumah ini.”
Papa mencoba memegang tanganku, namun segera kutepis.
“Setelah apa yang Papa lakukan kepada Mamaku, Papa masih berani buat suruh aku tinggal di sini?”
Aku mendengkus.
“Enggak, Pa! Aku enggak seb0doh itu. Papa pikir aku akan tetap diam?”
Aku menggeleng
“Enggak. Aku akan laporkan perbuatan Papa ini ke polisi karena sudah buat Mamaku meninggal.”
Pada akhirnya, Mama tidak bisa diselamatkan. Luka di kepalanya amat serius. Beliau kehilangan banyak darah. Hingga, belum ada satu jam setelah aku sampai di rumah sakit, Mama telah berpulang.
Masih menatap sang pria baya tajam.
“Aku akan tuntut Papa supaya Papa membusuk atau sekalian m4ti saja di penja—”
Plak...
Papa lebih dulu mendaratkan tangannya di pipi sebelum kalimatku selesai.
Memegang pipi yang barusan ditampar Papa. Rasanya perih. Namun, jauh daripada itu ada hal yang lebih menyakitkan.
Seumur-umur aku tinggal di sini, baru kali ini Papa berlaku kasar padaku. Perlakuan Papa yang kasar seperti ini membuatku lagi-lagi harus membuka mata bahwa Papa yang selama ini aku agung-agungkan nyatanya seb3r3ngsek ini.
“Seharusnya kamu bersyukur Kana, Papa sudah memberi kemewahan untukmu dan Mamamu.”
Sejenak tatapan Papa tertuju pada pipiku yang mungkin kini sudah memerah. Namun hanya sebentar.
“Semestinya kamu dan Mamamu berterima kasih sama Papa karena berkat Papa kalian bisa terbebas dari penderitaan hidup kalian. Tapi, apa yang Papa dapat? Mamamu itu selingkuh dan dengan tidak tahu malunya Mamamu malah ingin menguasai harta Papa? Kamu pikir Papa tidak tahu akan hal itu.”
“Papa pikir Mama s3r3ndah itu? Mama enggak mungkin selingkuh. Dan setakut-takutnya Mama jatuh miskin, Mama enggak mungkin mau menguasai harta Papa. Biar bagaimanapun Mama cinta sama Papa.”
Papa mendengkus. Tidak percaya.
Alih-alih merespons ucapanku, pria berumur itu justru kembali mencekal tanganku. Kuat sekali.
“Papa lepas! Papa mau bawa Kana ke mana. Lepas!”
Terus berteriak dan berontak.
“Diam! Hidupmu kini ada di tangan Papa. Melawan sedikit saja kamu bisa m4ti. Atau kamu mau menyusul Mamamu yang j*lang itu?”
Meski tak terima dengan ucapannya, terpaksa tak kuhiraukan. Sebab, aku hanya fokus untuk terus melawan.
Menggigit tangannya yang mencengkeram kuat lenganku.
Tanganku terlepas.
“Akh..., anak si*l4n!” pekik sang lelaki sambil memegang tangannya yang barusan kugigit.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung berlari sejauh yang kubisa.
Menaiki tangga lantai dua. Ke kamarku.
Bila ada yang bertanya, mengapa aku tidak memilih lari ke luar rumah? Akh..., aku tentu ingin melakukannya.
__ADS_1
Namun, entah mengapa aku sangat yakin, pintu utama sebagai akses masuk dan keluar di rumah ini telah dikunci laki-laki tua itu.
Dari gelagatnya, laki-laki yang ternyata hanya berpura-pura baik itu sudah menyadari bahwa malam ini aku akan melarikan diri.
“Tolong..., siapa pun tolong aku...!”
Aku terus berteriak. Berharap akan ada ART yang terbangun dan datang menolong. Meski kemungkinannya kecil, tetapi aku tetap ingin berharap.
“Tolong...! Tolong...!”
Langkahku seketika terhenti setelah di depanku kudapati laki-laki itu.
“Kamu kenapa, Na? Teriak malam-malam seperti orang kesetanan begitu? Kamu merindukan Kakak, hmm?”
Menghiraukan ucapan sang lelaki. Aku makin mendekat ke arahnya.
“Kak Zii. Tolong! Papa mau b*nuh aku.”
Akh, sepertinya hidupku sampai kapan pun tak akan pernah lepas dari laki-laki di depanku ini.
Mengapa dari sekian orang yang ada di rumah ini, harus dia yang datang?
Namun, aku sudah tak punya pilihan lain. Hanya dia yang bisa menolongku sekarang.
“Apa imbalannya kalau Kakak menolongmu?” ucapnya datar.
Aku terdiam.
“Jawab, Na. Apa yang akan kamu berikan kalau Kakak bisa menyelamatkanmu?”
Kak Zii mengangkat daguku supaya aku bisa menatap wajahnya.
“Apa pun yang Kak Zii minta akan aku lakukan.”
Iya, aku tahu itu. Tapi, lagi-lagi tak ada pilihan lain. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Di satu sisi aku membenci Kak Zii, tetapi di sisi lain aku tak ingin dibu-nuh Papa.
Aku masih ingin hidup. Dosaku terlampau banyak, sementara aku belum bertobat.
Senyum Kak Zii langsung mengembang sempurna setelah mendengar ucapanku, sementara aku hanya bisa menelan ludah.
“Menikahlah dengan Kakak, Na. Maka Kakak berani jamin Papa tidak akan bisa menyentuhmu barang seujung jari pun. Bagaimana? Apa kamu mau?”
Sejenak aku terdiam. Menggigit bibir bawah kuat-kuat.
Bila sedang tak terpojok, sudah pasti aku akan menolak. Namun, sekarang situasinya berbeda. Aku sedang dalam bahaya dan solusinya hanya menuruti kemauan pria ini.
Percuma berpikir keras bila ujung-ujungnya pilihannya hanya itu. Hingga, akhirnya aku pun berucap, “I-iya. Aku mau menikah sama Kakak.”
Tubuhku telah diangkatnya. Lagi-lagi, aku berada dalam gendongnya. Tanganku pun telah mengalung di lehernya.
“Eziio, apa yang kamu lakukan pada adikmu?”
Tampaknya laki-laki tak muda itu berhasil mengejarku. Aku tak bisa melihat Papa karena aku memunggunginya. Namun, sepertinya Papa mulai menghampiri kami karena dapat kudengar suara langkahnya semakin mendekat.
“Turunkan adikmu!” titahnya keras.
“Kami sedang bersenang-senang, Pa. Tak bisakah Papa melihat sendiri,” ujar Kak Zii santai.
__ADS_1
Aku yang masih berada dalam gendongan Kak Zii tidak berani mengangkat wajah. Kini mukaku malah kusembunyikan di leher sang lelaki.
“Berhenti bermain-main dengan adikmu, Zii. Jangan sampai dia hamil.”
“Justru itu, Pa. Kami akan menikah dan segera memberikan papa cucu. Benar kan, Sayang?”
“Eziio! Berhenti m3l3c3hkan adikmu. Dia harus melanjutkan kuliahnya. Jangan buat hidupnya rusak!”
“Bukankah Papa juga sudah merusak hidupnya Kana dengan membunuh Mama? Papa jangan seenaknya saja menyalahkan Zii. Papa juga harus sadar diri. Kalau Zii enggak rebut kesucian Kana, pasti Papa sendiri kan yang akan melakukannya?”
“Dasar anak kurang aj4r. Serahkan Kana sama Papa atau Papa akan bekukan semua fasilitasmu.”
Pikirku Kak Zii akan menurut setelah mendengar ancaman Papa, tetapi faktanya tidak. Laki-laki itu menurunkanku dari gendongannya dan berjalan menuju Papa.
Aku tidak tahu setelah itu Kak Zii dan Papa membicarakan apa. Suara mereka nyaris tak terdengar sama sekali. Hanya bisikan-bisikan tak jelas yang terdengar.
Namun yang aku tahu, setelah mengatakan itu, rahang Papa mengeras. Wajahnya pun merah padam seperti orang yang tengah menahan kemarahan yang hampir siap meledak.
“Baik, Papa restui hubungan kalian. Kalian akan Papa nikahkan, tetapi setelah itu Papa lepas tangan, terutama denganmu Kana.
Papa sudah berikan kesempatan terakhir untuk memperbaiki hidupmu, tetapi kamu malah memilih Kakakmu yang b*r*ngsek ini. Papa berharap semoga kamu tidak menyesal dengan pilihanmu.”
Suara Papa begitu tajam, tetapi dari sorot matanya aku bisa melihat kesedihan di dalamnya.
Sejenak hatiku menjadi ragu. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memilih bersama Papa dan meninggalkan Kak Zii?
Tetapi, apa bedanya, Papa juga akan memperlakukanku sebagai budak nafsunya, bukan?
Aku barang pasti tak menginginkan itu. Cukup Kak Zii yang melakukan itu dan aku tak mau sampai Papa juga melakukannya. Aku bukan wanita bergilir yang bisa dimiliki oleh semua lelaki.
“Kana enggak akan menyesal, Pa. Kana yakin Kana akan hidup bahagia sama Kak Zii,” ujarku mantap meski dalam hati masih ada keraguan.
Papa tersenyum sinis, seperti orang yang tengah mengejek.
“Kamu sudah buta, Kana. Seandainya kamu mau mendengarkan penjelasan Papa. Mungkin kamu akan berubah pikiran.”
Penjelasan apa? Bukankah semuanya sudah jelas?
Ucapan Papa kembali membuat hatiku resah.
“Cukup, Pa! Papa jangan buat Kana goyah. Kana sudah memilih Zii dan itu artinya Papa tidak punya hak atas Kana. Sekarang Papa pergi! Zii sama Kana mau melanjutkan permainan kami.”
Kak Zii menyeringai.
“Dasar anak b*r*ngsek,” umpat Papa geram. Lantas dengan segera, Papa meninggalkan kami begitu saja.
“Sayang..., Na...!”
“Ah, i-Iya, Kak.”
“Kenapa, hmm? Masih memikirkan ucapan Papakah?”
Aku mengangguk karena memang begitu kenyataannya.
Kak Zii meraih kedua tanganku kemudian dikecupnya.
“Na..., percaya sama Kakak! Kakak janji akan terus melindungimu. Apa pun yang terjadi, Kakak enggak akan meninggalkanmu. Kakak benar-benar tulus mencintaimu. Menikahlah denganku, Sayang. Maka Kakak akan jadikan kamu ratuku.”
“Apa Kak Zii akan menetapi janji Kakak?”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu bertanya seperti itu karena jawabannya sudah pasti. Kakak pasti akan tepati janji Kakak.”
Next...