
Pagi ini, Josh masih terbaring di atas ranjang dengan keadaan acak-acakan. Sudah seminggu setelah pengkhianatan Sarah kepadanya. Entah sudah berapa kali Josh keluar masuk kelab malam hanya untuk minum.
Kini, Evelyn sudah berdiri di depan pintu kamar. Ia masih ragu untuk mengetuknya, takut jika itu mengganggu tidur Josh. Tapi, Nyonya Irish berpesan pada Evelyn untuk tetap menjaga anak lelakinya itu.
Dengan menghela napas, Evelyn pun mengetuk pintu kamar dan segera masuk meski tidak mendapat respon. Ia melihat pria itu masih terbaring di atas ranjang, setelah Eric memapahnya semalam yang sempoyongan. Ia pun segera meletakan nampan berisi sepotong roti selai coklat dan susu putih. Ini merupakan menu sarapan Josh setiap harinya, kata Nyonya Irish. Karena pria itu tipe orang yang tidak suka sarapan pagi terlalu berat.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku!"
Evelyn terkejut saat Josh menegurnya. Ia pikir karena terlalu banyak minum, pria itu tidak akan sadar jika ada seseorang yang masuk ke kamarnya diam-diam.
"Ah, kau membuatku terkejut. Aku membawakan sarapan untukmu, ini sudah sesuai dengan apa yang dikatakan Mommy kepadaku. Jadi, kau tidak perlu khawatir," jawab Evelyn dengan senyum yang tipis.
"Bawa saja. Aku tidak akan memakannya. Pergi! Aku tidak mau diganggu!" ketus Josh dengan mengusir Evelyn.
Evelyn sudah tidak lagi menggubris sikap Josh. Lagipula, ia di sini sama saja seperti seorang perawat yang menjaga pasiennya. Anggap saja ia tengah bekerja di rumah sakit dan bertemu pasien gila yang selalu marah. Ia pun memutar bola matanya acuh. "Oke, kalo mau makan bilang saja!"
Mendengar itu tentu Josh tidak terima. Ia segera menghentikan langkah Evelyn dengan menyentaknya. "Berhenti!"
"Kau barusan menjawab bagaimana? Kau sudah tidak sopan kepadaku, huh?!"
Evelyn tidak mengerti. Ia bingung harus menghadapi pria di depannya ini bagaimana lagi. Evelyn yang lemah dan terlalu menurut seperti kemarin malah diperlakukan seenaknya. Sekarang, Evelyn mencoba acuh dan bersikap dingin, masih salah karena pria itu mengira dirinya tidak sopan. Sungguh, Evelyn tidak mengerti kenapa Nyonya Irish dan Tuan Luise yang baik bisa mempunyai anak seperti Josh.
"Lalu aku harus bagaimana? Kau sendiri yang bilang tidak mau memakan sarapan ini. Jadi aku akan membawanya kembali, apa salah?!" Evelyn mencengkeram kuat nampan itu agar emosinya tidak tersulut. Entah, akhir-akhir ini memang emosinya tidak stabil.
"Kau berbicara ketus kepadaku! Itu tidak sopan, dan aku tidak suka!"
Hei, ayolah. Evelyn ingin sekali tertawa dan menimpali Josh. Bagaimana bisa dia tidak mau diperlakukan seperti ini, sedangkan dirinya saja sudah berlaku seenaknya pada Evelyn.
Evelyn menghela napas. Ia tersenyum, meski dengan keterpaksaan. "Iya, Tuan Joshi. Saya tidak akan ketus lagi!"
"Jangan pernah masuk ke kamarku sembarangan. Lagi pula aku tidak mau melihat wanita berkeliaran di rumahku," ucap Josh.
__ADS_1
Evelyn membalikan tubuhnya sebelum pergi. "Oh bagus. Maka kau bisa bilang sendiri pada orang tuamu untuk mengembalikan aku pulang."
"Apa perlu aku yang berbicara langsung?" sambung Evelyn bertanya.
"Tidak! Kau hanya akan memperumit semuanya. Mereka tentu tidak akan mengizinkan kau pulang," sela Josh dengan bangkit dari duduknya. "Lebih baik kau siapkan bajuku. Aku akan pergi ke kantor," sambung Josh dengan segera berjalan menuju kamar mandi.
"Sudah memerintah, ketus pula. Aish! Menyebalkan sekali pria ini," gerutu Evelyn dengan kembali meletakan nampan itu di meja.
Ia segera mencari pakaian yang akan dikenakan Josh di lemari. Lalu memilih kemeja dan jas yang cocok untuk dipakai Josh. Tidak lama kemudian, ia pun selesai meyiapkan pakaian dan hendak mengambil nampan itu lagi. Tapi, tiba-tiba ia dibuat terkejut dengan Josh yang baru keluar dari kamar mandi. Spontan ia berteriak setelah melihat Josh hanya mengenakan handuk di bagian bawah saja, dan dadda bidangnya ia biarkan tanpa penutup.
"Berisik! Kau seperti tidak pernah melihat pria bertelanjangg dadda saja!"
"Menang tidak! Kau mengejutkanku!" timpal Evelyn dengan segera keluar dari kamar dengan pipi yang sudah merah merona karena malu.
"Hari gini, masih ada wanita polos? Tidak mungkin," gumam Josh dengan mendengus.
Ia pun segera meraih pakaian yang sudah disiapkan Evelyn di atas ranjang. "Bagus juga seleranya tentang pakaian," gumamnya.
Sesampainya di perusahaan. Josh segera menghampiri ruangan sang ayah. Saat di jalan tadi, ia mendapat kabar dari temannya yang berada di Italia bahwa lahan atas namanya sudah tidak lagi menjadi miliknya.
"Daddy! Apa Daddy mengganti nama lahan untuk pembangunan rumah yang ada di Italia itu?" tanya Josh ketika sampai di dalam ruangan.
Tuan Luise terlihat tengah bersantai dengan majalah yang dirinya pegang dan lalu meletakkannya di atas meja. Ia segera menatap Josh yang sudah mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Memang itu punya Daddy, kan? Kau memakai uang perusahaan untuk membelinya. Jadi tidak masalah kan jika Daddy mengalihkan nama pemilik lahan itu?"
Josh mendengus, kesal. "Itu berarti Daddy tidak sayang padaku! Itu tidak seberapa, Dad."
"Benahi dulu hidupmu. Kau terlalu banyak berbohong pada Daddy."
Josh menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia frustasi karena semua fasilitasnya sudah dicabut dan lahan itu juga tidak menjadi miliknya.
__ADS_1
"Kau mau 5 kasino itu, Josh?"
Spontan Josh menoleh saat Tuan Luise menawarinya 5 kasino itu tiba-tiba. 5 kasino terbaik di Negara Malta yang waktu itu hampir dirinya dapatkan dan terpaksa lepas karena masalah ini.
"Ya tentu mau, Dad. Seharusnya aku sudah mendapatkannya kan? Karena aku banyak berkontribusi pada kelima kasino itu dengan mendatangkan banyak klien."
"Ada satu syarat," ucap Tuan Luise menyeringai. "Jika kau sanggup menerima syaratnya. Kau akan mendapatkan 5 kasino itu," sambungnya.
Josh mengerutkan keningnya bingung. Akan ada syarat gila apalagi yang diajukan sang ayah. Setelah mengancamnya dan menyuruh menikah dengan Evelyn. Kali ini, syarat apalagi yang harus Josh lakukan untuk mendapatkan 5 kasino itu?"
"Apa?" tanya Josh penasaran.
"Berikan cucu untuk kami."
Josh melebarkan matanya. Ia terkejut mendengar syarat yang dikatakan sang ayah kepadanya. Bagaimana bisa ia memberikan cucu secara cepat kepada kedua orang tuanya. Lalu, apa itu harus dengan Evelyn?
Ia tentu tidak mau menerima syarat itu. "Tidak! Jika dengan Evelyn aku tidak mau, Dad. Aku tidak mencintainya dan tidak akan pernah mencintainya!" tegas Josh menolak.
"Kau akan kembali pada wanita jal*ng itu? Yang jelas-jelas sudah berkhianat kepadamu? Ckh! Kau tentu tidak mau dianggap rendahan bukan?"
"Dad. Ada persyaratan lain? Aku bisa melakukan syarat apapun asal jangan yang satu itu. Apa perlu aku mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Singapure? Aku bisa Dad. Itu salah satu yang Daddy mau kan? Aku akan mencoba mendapatkannya." Josh berusaha meyakinkan sang ayah untuk menggantikan syaratnya.
"Tidak! Lagipula, Daddy sudah mendapatkan kontrak itu kemarin. Jadi kau tidak perlu bersusah payah, Josh."
Ah sial, Josh tidak lagi bisa mengelak. Ia harus memikirkan bagaimana lagi caranya agar 5 kasino itu jatuh ke dalam tangannya tanpa harus memberikan cucu pada kedua orang tuanya.
"Daddy akan memberimu waktu selama 8 bulan, bagaimana?" tawar Tuan Luise lagi.
"Dad!"
"Ayolah, Josh. Kau sudah tidak bisa mengelak. Sarah sudah bukan kekasihmu. Sekarang kau bisa lebih dekat dengan Evelyn. Apa kau mau melihat masa tua Daddy dan Mommy tanpa cucu?"
__ADS_1