Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 50 : Janji Josh


__ADS_3

Sepulangnya dari rumah sakit. Josh menuntun Evelyn menuju kamar, dengan penuh kehati-hatian. Ia sempat ingin menggendong istrinya, tetapi tentu mendapat penolakan dari Evelyn.


Sesampainya di kamar, Evelyn segera merebahkan diri di atas ranjang, dengan tangannya yang tidak mau melepaskan tangan suaminya.


"Kau jangan ke mana-mana, Sayang. Aku takut," lirih Evelyn. Rasa takut terlukis di wajahnya. Ia benar-benar masih terbayang bagaimana meledaknya gedung tua itu, hingga membuatnya menangis histeris.


"Aku tidak akan ke mana-mana, Sayang. Tenanglah, aku sudah berada di sini, dan akan tetap berada di sisimu. Kau, beristirahat saja sekarang, jaga kondisi tubuhmu, karena kau bersama anak kita," tutur Josh sembari mengelus perut Evelyn dengan tersenyum. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu anaknya.


"Maafkan aku, karena tidak bertanya padamu dan memilih pergi dari rumah," ucap Evelyn dengan raut wajah sedihnya.


"Itu bukan salahmu. Aku yang bersalah, karena menyembunyikan fakta jika aku pernah bersama Rose sebelum dengan Sarah," kata Josh. "Aku terlalu bajiingan untuk wanita sebaik kau, Evelyn," sambungnya.


"Kau mau memaafkan aku?" tanya Josh lagi, menatap Evelyn dengan intens.


Evelyn tersenyum. "Aku selalu memaafkanmu, asal kau tidak mengkhianatiku," ucapnya.


Josh memeluk Evelyn dan mencium keningnya. "Kita mulai kembali dari awal, bersama bayi kita tentunya," bisiknya.


"Ah! Aku merasakan jika bayi kita bergerak," ucap Evelyn. "Sepertinya dia sangat senang mendengar suaramu, Sayang," sambungnya.

__ADS_1


Josh mendekatkan telinganya ke perut Evelyn. "Iya, Sayang. Daddy pasti akan menjagamu dan Mommy."


"Apa? Kau minta mobil?"


Evelyn spontan memukul kecil lengan Josh. "Kau aneh. Dia tidak mungkin meminta mobil," ucapnya.


"Lalu?"


"Dia mau saham Dexter Corporation, Sayang," canda Evelyn dengan terkekeh.


"Baiklah. Apapun itu, jika demi anakku, aku akan memberikannya. Bahkan, mungkin Grandpa-nya akan memberikan," jawab Josh.


"Ayolah, Sayang. Pada bayi kita pun kau cemburu?" goda Josh tersenyum.


"Hmm. Ya sudah, aku tidak mau berbicara denganmu lagi." Evelyn segera mengelus perutnya. "Sayang, Daddy-mu terlalu pelit pada Mommy," sambungnya berbicara pada jabang bayi.


"Hey! Kau mengadu yang tidak-tidak, Sayang. Oke, oke. Sekarang sebutkan apa yang kau inginkan, hmm?" tanya Josh begitu mesra dengan mengusap surai hitam sang istri.


Evelyn menggembungkan pipinya, matanya melihat ke arah atas. Ia tengah berpikir, dan tersenyum menatap Josh, "Aku… Hanya ingin kau selalu berada di sisiku, sampai bayi kita lahir. Tolong, jangan membuatku sedih seperti kejadian di gedung itu," tuturnya.

__ADS_1


Josh tersenyum, ia mengecup mesra kening Evelyn, kemudian berpindah pada pipi dan mendarat di bibirnya. Setelah itu, ia menangkup wajah sang istri dan menatapnya secara intens. "Apapun itu, asal kau yang meminta. Aku akan menurutinya, meskipun kau mengurungku di rumah ini," ucapnya.


Sementara di bawah. Eric tengah mengobati kaki Nina yang sempat terkilir. "Jangan dulu terlalu banyak bergerak," ucap Eric.


Nina mengangguk. "Terima kasih. Sudah sedikit membaik sekarang, dan tidak terlalu sakit," ucapnya tersenyum.


"Kau harus beristirahat, Nina. Aku akan pergi menemui Tuan Luise sekarang," kata Eric segera bangkit.


Nina menarik lengan kekasihnya itu. "Tolong duduk dulu," ujarnya.


"Ada apa?"


"Bisakah kau tidak terlibat lagi dengan mereka? Bukan aku melarangmu, tapi…"


Eric mengusap tangan Nina. Ia tahu jika kekasihnya itu sangat mengkhawatirkan dirinya, itu yang selalu Nina takutkan selama ini hingga menghindarinya. Ia tidak mau Eric terluka jika terus berurusan dengan urusan orang kaya.


"Menjaga keluarga ini sudah menjadi keharusanku, Nina. Percayalah padaku, aku tidak akan kenapa-kenapa," ucap Eric tersenyum.


"Melihat kejadian dua hari lalu. Saat Nyonya Evelyn menangis histeris karena Tuan Josh, aku semakin takut kehilanganmu, Eric," ungkap Nina.

__ADS_1


"Kau jangan terlalu cemas seperti itu. Semua akan baik-baik saja. Sekarang, kau harus istirahat di kamar, aku akan mengantarmu," ucap Eric sambil berdiri. Ia segera menuntun sang kekasih berjalan menuju kamarnya.


__ADS_2