Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 22 : Terluka


__ADS_3

Rasa kesalnya pada Sarah masih membayangi Josh. Ia semakin sering keluar malam, pergi ke kelab demi menenangkan dirinya. Ditambah ia harus memikirkan syarat dari sang ayah yang tentu saja membuatnya frustrasi.


Malam ini, Josh tidak sengaja bersenggolan dengan salah satu pengunjung kelab. Pria itu rupanya mengenal siapa Josh.


"Kau bilang apa tadi padaku, huh?!" sergah Josh dengan penuh amarah. Ia mencengkeram kerah baju pria itu meski tubuhnya sudah sempoyongan.


Pria yang memiliki tubuh setinggi dirinya itu sedari tadi mencoba meledek Josh karena mantannya yang memiliki skandal.


"Ckh! Apa yang aku ucapkan benar kan? Kau mantan kekasih model papan atas yang tengah terkena skandal itu. Sarah Violetta Keil. Si cantik yang ternyata piala bergilir."


"Jangan pernah menyebutkan nama wanita itu lagi di hadapanku, brengsekk!" murka Josh. Ia yang merasa sangat kesal dan karena pengaruh alkohol pun langsung meninju wajah pria itu.


Bugh!


Pria itu tersungkur. Ia segera bangkit karena tidak terima dipermalukan, dan jadi tontonan pengunjung kelab. Dengan cepat ia pun meraih botol wiski yang ada di bar dan memukulkannya tepat di punggung Josh hingga pecah.


Josh terjatuh dan tangannya terkena serpihan beling hingga berdarahh. Pria tadi kembali mendekati dan meninju wajah Josh dengan penuh emosi.


"Berani sekali kau memukul wajahku, Josh!"


Eric merangsek masuk ke dalam. Ia berlari dan berusaha melawan pria itu. Lalu, setelah pihak kelab malam melerai mereka. Eric pun segera membawa Josh pulang kembali ke rumah.


Di dalam mobil, Josh sudah tidak sadarkan diri. Eric tidak membawanya ke rumah sakit karena takut jika Tuan Luise mengetahui kelakuannya yang berkelahi dengan orang lain.


Sesampainya di rumah. Eric segera memapah Josh dan masuk ke dalam. Direbahkan–nya tubuh pria itu di sofa. Ia pun segera memanggil Nina dan Evelyn.


Evelyn melebarkan matanya saat melihat tangan Josh berdarahh. Dengan cepat ia memerintahkan Nina untuk membawa air bersih. Sedangkan dirinya berlari mengambil kotak pengobatan.


"Apa yang terjadi?" tanya Evelyn saat tiba di hadapan Josh. Ia belum sempat bertanya saat mereka datang.


"Tuan berkelahi dengan salah satu pengunjung di kelab malam dan berakhir seperti ini," jelas Eric yang masih berdiri.

__ADS_1


Sayup-sayup kelopak mata Josh terbuka. Ia menggeliat dan masih dalam pengaruh alkohol.


Menyadari pria itu setengah sadar, Evelyn pun dengan hati-hati mencoba membersihkan darah di tangan Josh.


Josh meringis, hingga menepis tangan Evelyn. "Jangan pegang tanganku, Sarah!" sentaknya meracau menyebut nama wanita itu.


"Tahan sebentar, kau harus diobati. Membentak saja kau bisa, tapi menahan sakit tidak. Lemah!" cibir Evelyn. "Lagipula siapa Sarah. Sadarlah, buka matamu. Aku ini Evelyn!" sambungnya dengan mendengus.


Josh memgerjapkan matanya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk sadar dari pengaruh alkohol. Tapi, wanita yang ada di depannya itu masih terlihat samar di matanya.


"Sudah! Aku tidak perlu diobati!" ketus Josh dengan melepaskan tangannya dari pegangan Evelyn.


Pria itu mencoba untuk bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Josh membuka jaket yang dikenakannya, dan tangan dirinya segera Evelyn raih kembali.


"Setidaknya luka ini harus dibungkus terlebih dahulu. Agar tidak infeksi," kata Evelyn dengan membalutkan kain kasa.


Josh mulai sedikit sadar dan bisa melihat dengan jelas wajah Evelyn di depannya. Meski matanya sedikit kabur karena rasa pening. "Kau tahu apa tentang luka. Kau tidak lulus jadi perawat, bagaimana bisa merawat luka!" ketusnya.


Evelyn hanya menghela napas tidak menggubris ucapan Josh. Setelah selesai, ia pun merapikan kotak pengobatan itu dan berdiri. "Bawa tuanmu ke kamarnya. Biarkan dia istirahat," ucap Evelyn pada Eric.


Keesokan harinya. Evelyn datang menghampiri kamar Josh dan masuk ke dalam. Lagi-lagi ia tidak peduli jika pria itu marah. Ia hanya ingin memastikan apakah Josh tidak membuka balutan kain kasa itu di tangannya.


"Maaf mengganggu. Aku membawa kotak obat dan air bersih," ucap Evelyn saat menyadari pria itu sudah bangun. Ia segera meletakkan nampan itu di atas meja.


"Biar aku ganti kain kasa di tanganmu. Jangan menolak lagi, jika tidak mau terkena infeksi," ucap Evelyn dengan nada dingin.


"Tidak perlu. Luka ini tidak seberapa," tolak Josh dengan wajah datar.


"Sini, jika tidak mau aku adukan pada Daddy dan Mommy," paksa Evelyn.


Josh mendengus. Ia terpaksa harus mengulurkan tangannya pada Evelyn untuk diobati. Meski hatinya terus menggerutu, masih tidak mau disentuh oleh wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku sudah mandi, dan tanganku sudah bersih. Kau tidak akan terkena virus hanya karena sentuhan tanganku," ujar Evelyn dengan wajah acuhnya. Ia mulai membuka balutan kain kasa itu dan membersihkan lukanya dengan air bersih.


"Bisa pelan-pelan tidak?!" protes Josh dengan menatap tajam Evelyn.


"Ini sudah pelan. Memangnya kenapa? Katanya luka ini tidak seberapa, tapi kau masih merasa kesakitan."


Josh mengerucutkan bibirnya. "Kau pikir aku bukan manusia? Aku juga bisa merasakan sakit!"


"Kupikir kau memang bukan manusia. Karena mulutmu itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja saat berbicara," ucap Evelyn setengah kesal.


Tak!


Josh menyentil dahi Evelyn dengan jarinya. Membuat wanita itu terkejut dan meringis. "Aw! Sakit!"


"Siapa suruh kau menyamakan aku dengan bom! Minggir!" sentak Josh setelah Evelyn selesai membalutkan kain kasa itu.


Ia segera bangkit dan berjalan hendak masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum itu, ia menoleh dan berkata, "jangan bilang pada Daddy apa yang terjadi semalam. Aku tidak suka pengadu!"


Evelyn paham dan segera keluar dari kamar Josh. Ia berjalan menuruni tangga dan menghampiri Nina yang masih berkutat di dapur dengan piring-piring.


"Bagaimana dengan Tuan Josh, Nona? Apa dia tidak menolak diobati?" tanya Nina penasaran.


Evelyn mengambil jus jeruk di dalam kulkas dan menuangkannya ke gelas sembari menjawab, "kau tahu sendiri dia seperti apa, Nina. Awalnya memang menolak, tapi sudah aku obati."


"Oh, di mana Eric?" sambung Evelyn bertanya, karena sedari tadi ia tidak melihat keberadaan pria itu.


"Aku melihatnya berjalan tergesa menaiki mobil, Nona. Tidak tahu dia pergi ke mana, tapi sepertinya ada hal penting."


Evelyn mengerutkan keningnya. "Coba kau hubungi, Nina. Aku takut terjadi sesuatu. Aku akan menghubungi Mommy," ucap Evelyn.


Evelyn segera merogoh ponselnya yang ada di dalam saku. Ia segera mencari kontak sang ibu mertua dan gegas menghubunginya.

__ADS_1


"Halo, Mom. Apa tidak terjadi apa-apa? Aku melihat Eric pergi dengan tergesa."


"Da–daddy... Daddy kecelakaan! Dia dibawa ke rumah sakit!"


__ADS_2