
Setelah Sarah dan kedua orang tua angkat Evelyn dinyatakan bersalah dan mendapatkan hukumannya. Kini, Evelyn mencoba membuka lembaran baru bersama Josh.
Jesslyn pun kembali ke California atas izin Tuan Luise dan Nyonya Irish, meski keduanya tampak keberatan.
"Kau sudah menjadi pimpinan di perusahaan yang sangat ingin kau dapatkan dulu. Jadi, apa hadiah untukku, karena sudah ikut andil membujuk Daddy," ucap Evelyn menggoda sembari memasangkan dasi suaminya itu.
Josh tersenyum, ia mencubit mesra pipi sang istri lalu mencium keningnya dengan lembut. "Kau mau apa, Sayang?"
Evelyn menghela napas sembari memikirkan apa yang dirinya mau. "Aku hanya ingin kau, tidak lebih. Cukup suamiku saja yang ada di sampingku," ucap Evelyn sembari tersenyum.
Josh tentu tersipu malu, ia bahkan mencubit mesra pinggang istrinya itu sembari memeluknya erat. Lalu mencium mesra bibir ranum Evelyn yang sudah ia poles dengan lipstik berwarna merah muda itu.
"Sudah, Sayang, kau bisa terlambat nanti. Cepat, sarapan dulu," ucap Evelyn setelah melepaskan ciumannya.
Keduanya pun berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana Nina tentu sudah menyiapkan semua makanan yang dirinya buat bersama Evelyn tadi.
"Sarapan dulu, ya. Meski sedikit, tapi harus. Harus dibiasakan memakan masakan istri," ucap Evelyn.
Setelah selesai sarapan, Josh pun segera berpamitan pada Evelyn. Dan seperti biasa, Eric sudah menunggunya di dekat mobil. Josh pun segera masuk dan sempat menoleh tersenyum pada Evelyn yang mengantarnya sampai pintu.
Lalu, mobil pun meluncur menyusuri jalanan menuju kantor. Josh kembali membuka ponselnya dan ingin melihat berita di media.
Ia tersenyum menyeringai saat berita utama tentang Sarah naik kembali. "Hancur sudah karirmu Sarah. Entah apa yang terjadi jika aku terus-terusan terjebak denganmu," gumamnya.
"Eric. Tolong tuntut Mario agar dia mengembalikan semua apa yang telah aku berikan pada Sarah. Karena aku tidak mau rugi," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Lalu, tentang pembangunan hotel yang ada di Venesia bagaimana? Apakah sudah ada kabar kembali dari Tuan Jeff?" tanya Eric memastikan barangkali tuannya itu lupa.
"Ah, iya, sudah. Aku sudah mengirimkan 30% dana kepada Jeff untuk pembangunan hotel itu. Mungkin, aku akan ke sana lagi akhir bulan ini," tutur Josh sembari menggulir layar ponselnya kembali.
"Apa Tuan Luise sudah diberi tahu tentang pembangun hotel itu? Sepertinya Anda melupakannya karena masalah kemarin."
Josh memijat keningnya yang tampak sedikit pusing itu. "Aku akan memberitahukan rencana itu nanti setelah pulang dari perusahaan," jawabnya dengan lesu.
Eric hanya mengangguk dan melihat tuannya itu dari kaca spion tengah. Ia tahu, mungkin tuannya itu tengah memikirkan bagaimana caranya agar Tuan Luise tidak marah atas pembangunan hotel itu.
Tidak lama kemudian mereka pun telah sampai di perusahaan. Josh keluar dari mobil dan berjalan tergesa masuk tanpa menunggu Eric. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, sepertinya memang ia tengah banyak pikiran.
***
Sore itu, sesuai dengan ucapannya tadi pada Eric. Josh pun meminta Eric untuk membawanya ke rumah sang ayah. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk mengatakan tentang pembangunan hotel itu.
"Selamat sore, Tuan," sapa Vivian sembari membungkuk dan tersenyum.
"Sore. Daddy ada?" tanya Josh memastikan.
"Ada, Tuan. Tuan Luise tengah berada di belakang. Tuan dan Nyonya Irish sedang menikmati sore hari dengan teh dan camilan. Baru saja saya mengantarkannya," tutur Vivian.
Mendengar itu, Josh pun segera berjalan menuju halaman belakang, bersama Eric yang setia mengekor di belakangnya. Sesampainya di sana, ia bisa melihat kedua orang tuanya tampak mesra dengan menikmati pemandangan sore hari.
Josh berdeham, sembari berjalan menghampiri. Tuan Luise dan Nyonya Irish pun segera menoleh dan tersenyum menyambut sang anak.
__ADS_1
"Josh. Tumben sekali kau ke sini, ada apa?" tanya Nyonya Irish. "Evelyn tidak ikut bersamamu?" sambungnya.
Josh segera duduk dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mom. Aku dari perusahaan langsung ke sini. Jadi Evelyn tidak ikut bersamaku," jawabnya.
"Ada apa? Sepertinya kau ingin berbicara sesuatu Josh?" tanya Tuan Luise seperti sudah mengetahui gelagat sang anak.
Josh pun segera menyiapkan diri untuk berbicara. Ia bahkan sudah siap jika mendapatkan penolakan dari sang ayah. "Dad. Sebenarnya, saat aku dan Evelyn pergi ke Italia, kami bukan hanya berbulan madu saja. Tapi, ada sesuatu yang sedang aku dan temanku rencanakan. E–eu... Ini lebih ke rencanaku, jadi... Aku berencana membuat sebuah hotel berbintang lima di Venesia, dan tentu saja hotel itu adalah rancanganku sendiri. Aku pun berencana jika di dalam hotel itu dilengkapi sebuah kasino yang mewah." Josh menggantung ucapannya. "Tolong jangan marah dulu, Dad. Rencananya aku ingin menghadiahkan hotel itu untuk Evelyn. Sebagai permintaan maafku kepadanya, dan aku sudah menyiapkan semuanya, bahkan akan memberi nama hotel itu dengan namanya," sambungnya.
Setelah menjelaskan dengan sedikit gugup, Josh pun hanya mampu menunduk karena kedua orang tuanya belum merespon apa-apa.
"Aku tidak berbohong, Dad. Bisa tanyakan pada Eric. Iya kan, Eric?" Josh menoleh ke arah Eric dan berharap asistennya itu mengangguk.
"Iya, Tuan. Apa yang diucapkan Tuan Josh benar. Kami sudah merencanakan ini saat Tuan dan Nyonya berada di Canada," ucap Eric.
Tuan Luise menghela napas sembari menatap Josh. "Jadi, hanya itu yang ingin kau bicarakan Josh?"
"Iya, Dad. Tidak ada lagi!" jawab Josh cepat tanpa ragu.
"Seperti yang sudah Daddy katakan jika itu menyangkut Evelyn, maka Daddy akan menyetujuinya. Karena ini adalah hadiah pertamamu untuk Evelyn, maka Daddy setuju. Bahkan jika kau membutuhkan dana lagi, Daddy akan memberikannya," tutur Tuan Luise.
Mendengar itu Josh bisa bernapas lega. Ia mengira jika sang ayah akan marah jika membangun sebuah properti di luar negara ini. Tapi kembali lagi, itu semua karena Evelyn juga.
"Terima kasih, Dad. Aku akan membuat hotel itu semegah mungkin sebagai hadiah untuk istriku sekaligus bisnisku," ucap Josh tampak senang.
"Kau harus ingat, Josh. Daddy memberikan ini semua asal kau tidak menyakiti Evelyn. Karena kau harus tahu, Daddy bisa sampai di titik sekarang itu tentu karena bantuan kedua orang tua Evelyn," ucap Tuan Luise sembari menepuk pundak sang anak.
__ADS_1
"Baik, Dad. Aku berjanji tidak akan menyakiti Evelyn, bahkan aku bersumpah tidak akan membuatnya menangis lagi!" tegas Josh penuh penekanan.
Setelah berbicara dengan sang ayah, akhirnya Josh pun pulang ke rumah untuk menemui sang istri. Kali ini, semuanya berjalan lancar tentu berkat nama Evelyn.