Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 37 : Keputusan Tuan Luise


__ADS_3

Dua minggu setelah kepulangannya, kini Tuan Luise sudah semakin pulih dan sehat kembali. Hanya saja ia masih tidak diperbolehkan berjalan terlalu lama oleh Nyonya Irish.


Seperti sekarang pria itu tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor dengan dibantu oleh sang istri.


"Meski pun kau sudah semakin pulih, tapi bukan berarti aku mengizinkan untuk tidak memakai kursi roda di kantor. Aku akan mengawasi melalui Markus, dan dia akan lebih ekstra menjagamu," tutur Nyonya Irish sembari memasangkan dasi untuk suaminya.


"Iya. Kau akhir-akhir ini terlihat sangat cerewet, Irish. Tidak seperti biasanya, apa aku harus sakit dulu, supaya kau mengkhawatirkan aku?"


Nyonya Irish menghela napas setelah mendengar ocehan suaminya, dan segera berbicara, "memangnya aku kenapa? Aku selalu seperti ini, mungkin kau saja yang tidak menyadarinya."


"Maksudku, kau kali ini lebih perhatian."


"Sudah. Sekarang sarapan dulu," ucap Nyonya Irish sembari memapah suaminya keluar dan berjalan menuju ruang makan.


Di sana Jesslyn sudah makan lebih dulu. Ia belum diizinkan pulang oleh ibunya, dan terpaksa meminta cuti kembali dari rumah sakitnya di California.


"Mom, Dad. Maaf aku makan lebih dulu, karena rasa laparnya tidak bisa ditunda," ucap Jesslyn sembari terkekeh.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Nyonya Irish sembari membantu Tuan Luise untuk duduk.


"Daddy sudah mau pergi ke kantor?" tanya Jesslyn memastikan.


"Iya. Ada yang ingin Daddy sampaikan pada mereka. Daddy sudah menelpon sekertaris untuk menyiapkan meeting antar pemilik saham," jawab Tuan Luise.


"Aku ikut, ya. Aku tidak yakin Markus akan menjaga Daddy dengan baik. Karena dia pasti akan segan untuk melarang. Daddy kan orangnya selalu tidak bisa dicegah," kata Jesslyn sembari menyuapkan sepotong steak itu ke dalam mulutnya.


"Mommy–mu sudah memperingati Daddy, jadi kau tidak perlu ikut."


"Tidak, Dad! Pokoknya aku akan ikut, iya kan Mom? Boleh kan ya?" Jesslyn menoleh pada sang ibu dan mengedipkan matanya.


Nyonya Irish tersenyum dan mengangguk. "Boleh, Jesslyn. Itu lebih bagus, agar Daddy–mu tidak macam-macam."


"Well. Aku akan ikut, Dad," ucap Jesslyn tersenyum.


"Hubungi Josh, dia tidak perlu ke sini. Suruh saja dia langsung berangkat ke kantor," ucap Tuan Luise.


"Baik, Dad. Aku akan menelpon Josh sekarang," sahut Jesslyn sembari meraih ponselnya.

__ADS_1


Beberapa menit tidak ada jawaban dari sang adik. Jesslyn pun kembali mencoba menghubunginya hingga telepon pun tersambung.


"Josh. Kenapa lama sekali mengangkatnya?" tanya Jesslyn dengan penasaran.


Namun, yang wanita itu dengar hanya suara napas yang menderu. Ia menghela napas dan mengerti kenapa adiknya lama mengangkat telepon.


"Masih pagi, Josh!"


"Maaf, kak. Kau menelpon tidak tepat waktu. Ada apa?" tanya Josh setelah menetralkan napasnya.


"Kata Daddy, kau tidak perlu ke sini, langsung saja berangkat ke kantor."


"Ah, baik. Itu bagus karena aku tidak perlu cepat-cepat pergi," ucap Josh sembari terkekeh.


"Terserah! Sudah dulu, bye!"


Jesslyn memutuskan panggilannya. Sedangkan Josh ia hanya mengangkat bahunya dan segera meletakan ponsel itu di nakas.


Ia pun kembali membalikkan badannya menghadap Evelyn. Aktivitasnya sempat terganggu, dan itu membuat Josh sedikit kesal.


Josh pun kembali mencium bibir ranum Evelyn dan melumatnyaa dengan rakus. Hingga Evelyn pun melepaskan ciumann itu.


"Sekarang kau harus bersiap-siap. Aku juga sudah harus mandi," jawab Evelyn.


"Hmm."


Josh pun terpaksa harus menahan keinginannya lagi. Ia tidak mungkin harus memaksa Evelyn, pasti sang istri sudah sangat kelelahan.


Evelyn pun mandi lebih dulu, dan setelah selesai ia segera pergi ke bawah untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Josh, ia masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal.


***


Sesampainya di kantor. Tuan Luise segera dirangkul oleh Jesslyn, sedangkan Markus membawa kursi roda itu untuk nanti digunakan.


Mereka segera naik ke lantai 20 menuju ke ruang meeting. Setibanya di sana, semua orang telah menyambut kedatangan pemimpin perusahaan dengan gembira. Bahkan, Josh pun membawakan buket bunga untuk sang ayah.


Jesslyn pun segera menuntun sang ayah untuk duduk dan mereka semua pun mengikuti duduk di kursi masing-masing.

__ADS_1


"Kalian mungkin sudah mengerti kenapa aku mengumpulkan kalian di ruangan ini. Sesuai dengan janjiku waktu itu, dan setelah berpikir cukup matang. Saat melihat kinerja Josh akhir-akhir ini di perusahaan, dan sudah membuat saham semakin meningkat. Maka dari itu, aku memutuskan untuk segera pensiun dan memberikan jabatan ini kepada anakku, Josh."


Mendengar penuturan Tuan Luise, ada beberapa pemegang saham yang terlihat berbisik tidak setuju dengan pengangkatan Josh. Karena pengalaman Josh yang masih kurang menurut mereka.


"Kami sedikit tidak setuju, Tuan Luise. Karena Josh masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan ini, meski Anda adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan ini," ucap salah satu pria berkepala plontos itu.


"Ya. Kami juga masih meragukan kinerja Josh. Karena masih belum terlihat, mungkin hanya kebetulan saja kemarin-kemarin ini berkembang pesat. Tapi kita tidak yakin 3 atau 4 tahun ke depan bagaimana?" tambah seorang pria di sebelah pria berkepala plontos dengan alis yang terangkat sebelah.


Tuan Luise sudah tahu jika situasinya akan seperti ini. Tapi, ia tentu sudah memikirkannya dengan matang. Ia tidak mungkin membiarkan Josh menjadi pemimpin begitu saja dengan orang-orang di bawahnya yang seperti ini.


"Keputusanku sudah bulat. Siapapun yang menentangnya, maka silakan putuskan hubungan dengan perusahaan ini!" tegas Tuan Luise. "Satu, lagi. Aku akan menunjukan beberapa daftar nama yang akan aku depak dari perusahaan ini, berikut dengan kesalahannya!" sambungnya dengan penuh penekanan.


Setelah mendapat isyarat. Sang sekertaris pun segera memasangkan flashdisk pada laptop dan membuka file itu. Lalu memasangnya pada layar monitor di depan.


Tidak lama kemudian kedua orang dan beberapa yang menentang tadi spontan membalakan matanya. Mereka terkejut karena nama-namanya terpampang di sana. Sekaligus kesalahan apa saja yang mereka perbuat.


"See. Kalian bisa melihat siapa yang bermain curang di perusahaan ini. Alih-alih menuduh anakku, rupanya kalian sendiri yang memanipulasi data perusahaan dan mengambil keuntungan. Terutama saat aku sakit kemarin," tutur Tuan Luise dengan tatapan tajam melayang ke arah mereka.


Mereka yang merasa malu dan tidak terima itu segera menggebrak meja. Namun, dengan cepat markus dan beberapa bodyguard lainnya mencoba mengamankan agar tidak terjadi keributan. Terutama demi keselamatan Tuan Luise.


Setelah meeting selesai. Tuan Luise pun segera dibawa ke ruangannya oleh Jesslyn dengan kursi roda. Josh dan Eric pun mengikuti mereka dari belakang.


Sesampainya di ruangan. Josh pun segera menghampiri sang ayah untuk berbicara dengannya.


"Daddy. Apa Daddy bersungguh-sungguh akan memberikan perusahaan ini padaku? Kenapa tiba-tiba?" tanya Josh sembari mengusap lembut tangan sang ayah.


"Daddy sudah mempercayaimu untuk memimpin perusahaan ini. Dan Daddy tidak mungkin kembali bekerja di sini dengan kondisi seperti ini," ujar Tuan Luise sembari menghela napas. "Dan, ini sebagai hadiah karena kau sudah berbulan madu dengan Evelyn," sambungnya.


Josh tersenyum lega, begitupun dengan Jesslyn yang sedari tadi berada di samping sang ayah.


"Untukmu, Jesslyn. Sebagai permintaan maaf Daddy karena terlalu keras kepadamu, sekarang kau bebas memilih ingin membangun rumah sakit di mana pun," ucap Tuan Luise menatap anak perempuannya.


"Kesembuhan Daddy adalah yang utama. Untuk membangun rumah sakit, rasanya aku belum cukup berminat. Aku hanya akan melanjutkan pekerjaanku sebagai dokter di California," balas Jesslyn.


"Baiklah. Daddy tidak akan memaksamu lagi. Tapi, jika kau ingin sesuatu bilang saja ya," ucap Tuan Luise.


Setelah percakapan itu selesai dan semuanya kembali ke aktivitas masing-masing. Kini, Josh pun kembali pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahukan berita gembira itu pada istrinya.

__ADS_1


Sesampainya di gerbang. Josh melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Ia tidak mengenali mobil itu, begitupun Eric.


Setelah keluar dari mobil, Josh pun terburu-buru masuk dan membuka pintu, hingga manik matanya membulat saat melihat siapa orang-orang yang ada di dalam.


__ADS_2