Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 36 : Kembali ke Malta


__ADS_3

Setelah 4 hari berada di kota Roma. Josh telah menyelesaikan serangkaian kegiatan pembahasan proyeknya bersama Jeff. Kini, mereka pun telah tiba kembali di Malta.


Mobil jemputan pun sudah tiba dan setelah mengangkut semua barang-barang itu ke bagasi, mereka pun segera masuk ke dalam mobil.


"Sayang. Kau nanti harus cepat pindah ke kamar utama, ya. Karena kau sudah resmi menjadi istriku, aku tidak mau tidur sendirian lagi," ucap Josh sembari mengusap lembut tangan Evelyn.


"Aku sudah resmi jadi istrimu 4 bulan lalu. Kau saja yang baru mengakuinya. Tega sekali membuatku menganggur dan tidur sendirian di kamar," cibir Evelyn.


"Iya, maaf, Sayang. Tolong maafkan aku, ya, dan lupakan saja sikapku beberapa bulan lalu itu. Kita mulai semuanya dari awal kembali ya."


"Memangnya kau mencintaiku?" tanya Evelyn dengan menoleh pada Josh.


"Pertanyaan macam apa itu? Aku mencintaimu, Sayang. Kau terdengar meragukan aku?"


"Hmm... Ya, karena aku tidak terlalu terkenal, bukan selebriti, dan aku juga tidak secantik Sarah!" Bibir Evelyn mengerucut, cemberut.


Wanita memang seperti itu, jika membahas tentang masa lalu.


Josh yang melihat Evelyn cemberut seperti itu, bukannya ingin marah, ia malah berpikir untuk menciumnya. Tapi, ia mencoba untuk menahannya, karena masih ada Eric dan Nina, termasuk sang sopir di depan.


"Jangan bahas wanita itu lagi. Sekarang di hatiku cuma ada kau, Evelyn."


Ucapan Josh berhasil membuat pipi Evelyn merah merona. "Benarkah? Apa kau yakin? Selain Sarah ada yang lain?" tanya Evelyn memastikan, sembari tersenyum malu.


"Iya, aku yakin."


"Semoga tetap seperti ini ya, Sayang," ucap Evelyn sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Josh. Dan Josh pun mencium mesra kening istrinya itu.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit. Kini mereka pun telah sampai di rumah. Josh menuntun Evelyn untuk keluar dan keduanya segera masuk ke dalam. Sedangkan Eric dan Nina, ia membantu sang sopir untuk mengeluarkan barang-barang mereka.


"Pengantin baru memang selalu seperti itu, ya?" tanya Nina sembari mengeluarkan koper dari bagasi.


"Tergantung."


"Hmm... Tapi aku senang melihatnya, mereka memang sudah sangat serasi dari awal," ucap Nina lagi.


"Iya. Sudah, jangan bicarakan Tuan dan Nyonya lagi, cepat bawa barang-barang ini," kata Eric sembari membawa 2 koper. Keduanya pun segera masuk dan menuju lantai dua.


Nina membantu memindahkan barang-barang Evelyn menuju kamar utama. Sedangkan Josh ia masuk ke dalam ruang kerjanya bersama Eric.


"Ada yang ingin Saya sampaikan, Tuan. Ini informasi tentang Nona Sarah."


Josh mengernyit saat mendengar Eric berbicara tentang wanita itu. "Ada apa? Informasi apa yang kau dapatkan, Eric?"


"Bagus. Awasi terus dia. Aku tidak mau dia sampai berani kembali mendekati keluargaku, terutama menyakiti Evelyn," ucap Josh. "Oh, satu lagi. Suruh orang-orang di rumah orang tuaku untuk merapikan rumah. Mommy bilang dia ingin pindah kamar ke lantai bawah, demi menjaga kondisi Daddy yang belum bisa menaiki tangga," sambungnya.


"Baik, Tuan."


"Oh, sekalian kau belikan aku karangan bunga dan buket bunga untuk menyambut kedatangan Daddy."


"Baik, Tuan," sahut Eric. Lalu, ia pun seger pergi dari ruangan Josh.


Sedangkan Josh, ia merogoh ponsel dan mulai menggulirnya mencari foto pernikahannya dengan Evelyn.


"Ah, sepertinya ini bagus jika aku jadikan lock screen,"  gumamnya sembari tersenyum.

__ADS_1


***


Keesokannya, sesuai dengan jadwal kepulangan Tuan Luise dan Nyonya Irish bersama Jesslyn. Mereka pun telah tiba di bandara. Evelyn dan Josh menjemput mereka bersama dengan Eric.


"Itu sepertinya Mommy, Sayang," ucap Evelyn sembari menunjuk ke arah seorang wanita.


Josh pun menoleh dan melihat ke arah sana. Ia bisa menemukan ibunya tengah mendorong kursi roda sang ayah bersama sang kakak. Mereka berdua pun segera berjalan menghampiri.


"Dad. Akhirnya Daddy pulang juga. Maafkan aku yang tidak ikut serta ke Canada, ya," ucap Josh sembari berjongkok dan menatap sang ayah. Rasanya ia ingin meminta maaf karena merasa bersalah tentang perselisihannya beberapa waktu lalu.


"Daddy–mu masih belum kuat untuk berbicara. Jadi, ayo kita pulang saja. Mommy sudah ingin beristirahat," ucap Nyonya Irish sembari menepuk lengan menantunya.


Evelyn pun tersenyum dan segera merangkul Josh. Tentu pemandangan itu membuat Nyonya Irish terkejut. "Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat sangat lengket?"


"Kenapa apanya, Mom? Bukankah padangan suami-istri wajar jika bergandengan seperti ini?" Josh menimpali sang ibu sembari memberikan buket bunga. "Aku kan bilang pergi ke Italia bersama Evelyn karena urusan pekerjaan. Dan, ya... Selebihnya kami berbulan madu," sambung Josh sembari menatap Evelyn yang mengulum bibirnya tersenyum.


"Evelyn. Apa yang diucapkan suamimu ini benar? Apa kalian sudah berbulan madu? Itu artinya..."


Evelyn mengangguk, "Iya, Mom. Kami sudah resmi menjadi sepasang suami-istri."


"Bahkan kami siap memberikan Mommy dan Daddy cucu!" tangkas Josh dengan penuh percaya diri.


"Akhirnya... Mommy senang melihat kalian berdua seperti ini, semoga tetap mesra, ya."


"Iya, Mom," ucap Evelyn dan Josh berbarengan.


Kini, mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing. Ada 2 mobil utama, yang mereka tumpangi. Empat mobil lainnya mengawal dari depan dan belakang.

__ADS_1


Josh tentu menyiapkan pengawalan ketat seperti ini, menghindari orang misterius yang telah mencelakai sang ayah. Karena bagaimana pun, sepertinya kepulangan Tuan Luise sudah tercium oleh musuh keluarga.


__ADS_2