Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 25 : Rooftop


__ADS_3

"Apa yang terlihat saat ini, bukan benar-benar Tuan Josh, Nona. Dan... Tolong jangan bicarakan ini padanya atau pada Tuan Luise. Di sini Saya berusaha netral, dan melindungi keduanya. Begitupun dengan Anda sekarang, jika Tuan Josh mencoba menyakiti Nona, tentu Saya yang akan menegurnya atas perintah Tuan Luise."


Mendengar itu Evelyn semakin dibuat takut dan gelisah. Pikiran ingin menjalani hidup selayaknya air yang mengalir pun kini berubah menjadi ketakutan dan ingin melarikan diri dari keluarga Dexter. Tentu Evelyn tahu ini tidak akan mudah baginya. Tapi, jika terus berada di sini akan sampai mana dirinya bertahan? Apa ia harus se–pasrah itu dengan hidupnya dan berakhir mati dalam genggaman pria berhati dingin itu?


"Jika sudah tidak ada yang ingin ditanyakan, maka kita harus segera berangkat. Sebelum Nyonya Irish marah karena kita terlambat, Nona," ucap Eric dan segera membalikan badannya untuk menghidupkan mobil.


Mobil pun mulai melaju. Evelyn masih tetap tidak bergeming. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Tapi, sepertinya tidak tepat jika harus ditanyakan hari ini.


"Jangan terlalu dipikirkan, Nona. Tuan Josh bukan tipe orang yang akan menyakiti orang lain jika orang itu tidak menyentuhnya." lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Eric. Ucapannya justru akan mempersulit Evelyn untuk melupakan pikiran-pikirannya tentang keluarga Dexter.


Hanya butuh waktu setengah jam mereka untuk sampai di rumah sakit. Eric pun membukakan pintu mobil untuk Evelyn keluar. Keduanya segera masuk ke dalam dan menuju kamar VIP tempat di mana Tuan Luise berada.


"Evelyn," ucap wanita paruh baya itu saat melihat sang menantu sudah datang. "Josh tidak bersamamu?" sambungnya bertanya saat tidak melihat sang anak datang.


"Dia sedang menjemput kakak, Mom," jawab Evelyn sekenanya, karena hanya itu yang dirinya ketahui.


"Oh," sahut Nyonya Irish tampak masih bersikap dingin akan kedatangan anak perempuannya. Ia kembali duduk di sofa dengan menarik lengan Evelyn.


Saat melihat wajah sang ibu mertua. Ingin sekali rasanya Evelyn bertanya tentang keluarga mereka, tapi apakah wanita itu akan berkata jujur? Atau malah marah karena Evelyn berusaha mengulik tentang mereka. Yang pasti saat ini Evelyn benar-benar tengah dibuat gelisah dengan semuanya.


Pikirnya, lebih baik ia bekerja banting tulang mencari uang meski harus sampai menangis untuk melunasi hutang-hutang sang ayah. Di bandingkan harus terjebak di dalam rumah keluar Dexter yang setahu dirinya adalah keluar terpandang dan kaya di Negara ini.


Memikirkan kembali nasibnya. Selama kekacauan beberapa hari terakhir, ia tidak sempat memikirkan bagaimana kabar kedua orang tuanya. Ia juga tidak ingat nomor telepon mereka karena dibawa ke sini pun ia tidak membawa ponselnya.


Selalu ada pertanyaan tentang keluarganya, apa mereka memikirkan nasibnya saat ini? Apa mereka merasa menyesal telah menjual dirinya? Atau malah merasa biasa saja karena sudah terbebas dari hutang? Ah, memikirkannya saja Evelyn masih merasa sakit. Bagaimana bisa orang tuanya menjual Evelyn semudah itu hanya karena hutang.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


Pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Irish tiba-tiba mengejutkannya. Ia segera menjawab dan sedikit gugup, "ah, ti–tidak apa-apa, Mom. Mungkin hanya kelelahan saja, semalam tidurku tidak nyenyak.


Eric sedikit melirik, ia menatap Evelyn dingin. Dirinya tahu, tidak mungkin wanita itu akan berbicara tentang percakapannya dengan Josh.


"Kenapa tidurmu tidak nyenyak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


"Hanya sedikit gugup karena akan bertemu dengan anak perempuan Mommy," kilah Evelyn segera tersenyum. "Ah, apa Mommy sudah makan?" sambungnya bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah. Tapi Mommy tidak berselera makan," jawab Nyonya Irish menghela napas. "Mommy juga gugup, setelah tiga tahun tidak bertemu dengan kakaknya Josh," sambungnya gelisah.


Evelyn segera mengusap tangan ibu mertuanya dengan lembut sembari tersenyum. Ia mencoba menenangkan wanita paruh baya itu.


Tidak lama kemudian, Josh pun datang dengan seorang wanita berparas cantik. Wajahnya hampir seiras dengan pria itu, keduanya tampak mirip.


"Mom," lirih wanita bernama lengkap Jesslyn Wilhelmina Dexter itu. Ia segera merengkuh tubuh sang ibu dan memeluknya erat.


"Jangan ganggu mereka. Kita harus keluar. Ikut aku!" ketusnya sembari menarik tangan Evelyn.


Evelyn mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah Eric yang juga ikut keluar. Ia merasa heran dengan pria berstatus suaminya itu. Padahal jika ia menyentuh tangannya, pria itu akan marah. Tapi, kali ini dia yang lebih dulu memegang tangan Evelyn.


"Kita mau ke mana?" tanya Evelyn karena Josh terus membawanya berjalan menelusuri lorong.


Tentu Evelyn sedikit panik, dan beberapa kali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Eric mengikutinya atau membiarkan dirinya berjalan bersama Josh. Tapi, ternyata Eric juga mengikuti.


Josh membawa Evelyn menaiki tangga menuju sebuah rooftop. Syukurnya Eric juga mengikuti mereka. Sesampainya di sana, barulah Josh tersadar karena sedari tadi ia menarik tangan Evelyn.


Pria itu segera berjalan menuju tembok pembatas. Ia menatap lautan yang terlihat luas itu, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api khas miliknya. Ia pun menyalakan rokok itu dan mulai menyesapnya.

__ADS_1


Evelyn tidak bergeming. Ia hanya menatap lurus pada pria yang saat ini tengah duduk di tembok pembatas. Lalu sedikit menoleh pada Eric yang berdiri jauh darinya. Entahlah, ia juga tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


"Kau kan yang semalam menguping kami, Evelyn?" tiba-tiba Josh bertanya, dan membuat Evelyn setengah panik. "Tidak perlu berbohong. Karena aku sudah yakin itu kau," sambungnya.


Evelyn menelan saliva–nya paksa. Mau tidak mau ia harus mengakui dan jujur, meski ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan Josh nantinya. "Tapi, aku tidak bermaksud menguping. Hanya tidak sengaja mendengar."


"Jangan ceritakan apapun pada Daddy atau Mommy. Jika kau tidak mau mendapat hukuman. Eric mungkin sudah memberitahumu kan?" Josh menoleh pada sang asisten dengan menyeringai.


"Ckh! Sudah kuduga kau akan berbicara, Eric," decaknya.


"Maaf Tuan. Nona Evelyn bertanya, dan Saya hanya sedikit menjawabnya," kata Eric, dengan menunduk.


Josh menghela napas kasar. "Karena kau terlanjur tahu, maka aku akan memberitahu sedikit tentangku. Aku paling tidak suka seseorang yang berbohong, apalagi pengadu. Jadi, jika kau ingin aman maka kau tidak boleh berbicara pada orang tuaku," tekan Josh.


"Untuk masalah pembicaraan semalam antara aku dan Eric, kau tidak perlu takut berlebihan. Aku tidak akan membunuhmu hanya karena pernikahan paksa ini, kecuali jika kau benar-benar akan mengadu. Dan... Mungkin ini pertanyaan yang paling ingin kau tanyakan. Apa keluargaku keluarga mafia? Jawabannya, benar. Hanya saja, aku belum bebas masuk ke dalam organisasi yang dipegang Daddy. Untuk itu aku membangun kerajaan bisnisku sendiri dibawah sepengetahuan Daddy. Ah, untuk apa juga aku memberitahumu. Sudahlah, hanya itu yang bisa aku katakan," sambungnya.


Evelyn terpaku. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja Josh katakan. Entahlah sejauh ini yang selalu Evelyn lakukan adalah bertahan hidup dan mencari uang untuk makan sehari-hari. Ia tidak pernah berpikir untuk tahu seluk-beluk organisasi gelap itu. Ia hanya mendengarnya dari orang-orang sekitar, dan tidak lebih.


"Kau paham, Evelyn?! Kenapa tidak menimpali apa yang baru saja aku katakan?" tanya Josh dengan alis yang sudah beradu dan tatapannya yang tajam.


"I–iya, iya. Aku mengerti, aku tidak akan memberitahu semua ini pada kedua orang tuamu. Aku berjanji," sahut Evelyn dengan gelagapan.


"Bagus. Oh, satu lagi. Jangan kau pikir, aku ini pria bucin yang mengejar Sarah," ucapnya dengan menyeringai.


Evelyn hanya mengangguk dan tidak berani menjawab lagi.


"Pergilah. Masuk ke ruangan Daddy dan berkenalan dengan Kakakku. Aku masih ada urusan dengan Eric," perintah Josh kemudian.

__ADS_1


Mendengar itu, Evelyn pun mengangguk dan segera berjalan pergi. "Tidak bucin apanya? Bukankah dia sendiri yang mabuk-mabukkan, hih!" cibir Evelyn pelan.


__ADS_2