
Seorang wanita tengah berjalan dengan tegap memasuki sebuah rumah nan megah. Ia dan kedua anak buahnya pun disambut oleh salah seorang pria dengan berpakaian rapi, mengenakan dasi kupu-kupu.
Lalu, pria itu segera menuntun wanita tadi naik ke lantai dua menuju sebuah ruang pertemuan. Sesampainya di depan pintu berukuran besar itu, pria tadi segera membukakannya untuk sang wanita.
Wanita itu segera masuk sendiri, dan pintu pun tertutup kembali. Ia berjalan menghampiri seorang pria yang tengah berdiri di dekat jendela dengan memegang gelas berisi wine.
"Aku sudah melakukan tugasku, Jasper. Sekarang, giliran kau," ucap wanita itu yang tak lain adalah Rose. Ia tersenyum sembari menatap pria yang kini sudah membalikkan badannya.
Pria itu mendekat sembari meneguk wine itu dan setelahnya ia meletakan gelas itu di atas meja. Ia pun mengusap lembut surai hitam Rose dan membelai pipinya seraya berkata, "Thanks you, Rose. Kau memang sepupuku yang baik. Sekarang aku sudah siap untuk membalaskan dendamku pada Josh. Tapi... Ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau benar-benar tidak mencintainya?"
Rose mundur selangkah, menghindari pria itu. Lalu sepersekian detik ia kembali menatap Jasper, sang sepupu. "Perkenalanku dengannya memang karena ambisi kau yang ingin membalas dendam pada keluarga Dexter. Aku sudah mencoba mendekatinya hingga dia terperangkap dalam genggamanku. Tapi, karena semua ini adalah rencana-mu, aku tidak mau terperangkap semakin jauh karena sempat mencintainya," tutur Rose.
Jasper tertawa kecil. Ia tidak menyangka jika sepupunya akan mencintai musuhnya sendiri. Lalu Jasper kembali menatap tajam ke arah sepupunya itu. "Kau tidak boleh mencintainya, Rose! Sekarang kau sudah bisa pergi dari negara ini. Jangan sampai aku melihatmu menemui Josh lagi dan menggagalkan semua rencana-ku!" tegas Jasper.
"Aku memang akan meninggalkan negara ini. Tapi, tolong bebaskan aku. Aku tidak mau kau mengawasiku lagi dengan para bodyguard sialanmu itu!"
Jasper tersenyum dan mengangguk pelan. "Kau tenang saja, Rose. Aku tidak akan mengawasimu lagi kali ini, asal kau tidak bermacam-macam denganku!"
Setelah itu, Rose pun segera pergi dengan wajah kesalnya. Jasper bahkan sudah menyiapkan semuanya agar Rose segera meninggalkan negara ini dengan cepat. Karena ia khawatir rasa cinta itu akan memberatkan Rose meninggalkan Josh.
***
"Tuan saya baru mendapatkan informasi tentang keberadaan Nyonya Evelyn. Tapi, sepertinya ada yang tidak beres, Tuan," ucap Eric saat baru saja sampai di ruang kerja Josh.
"Apa maksudmu, Eric? Tidak beres bagaimana?" tanya Josh dengan kening yang mengerut.
__ADS_1
"Ada sebuah mobil yang mengikuti mobil yang ditumpangi Nyonya Evelyn dan Nina. Mereka berjalan memang ke daerah pedesaan. Tapi, setelah kedua mobil itu berbelok ke kiri, tiba-tiba semuanya menghilang. Tidak ada jejak mobil lagi di sana," jelas Eric.
Josh segera berdiri. Ia meremas ponselnya dengan kuat dan menggebrak meja. Lalu tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Eric pun segera membuka pintu dan mendapati anak buahnya membawa sebuah kotak.
Pria itu segera berjalan dan menghampiri Josh yang masih terlihat sangat emosi itu.
"Ada yang mengirimkan ini, Tuan. Kotak misterius ini dilempar oleh seorang pengendara motor. Setelahnya dia pergi," tutur pria itu sembari meletakan kotak di atas meja.
Josh melirik ke arah Eric dengan alis yang terangkat sebelah. "Buka cepat! Periksa apa yang ada di dalamnya!" perintah Josh dengan tegas.
"Baik, Tuan," sahut Eric sembari segera meraih kotak itu dan perlahan membukanya. Lalu, manik matanya membulat kala melihat isi yang ada di dalam kontak itu.
Eric segera membalikan posisi kotak itu dan menyerahkannya pada Josh. Dan seketika pria itu terkejut kala melihat foto-foto Evelyn dan Nina tengah disekap di sebuah gudang.
"Kurang ajar! Siapa yang berani-beraninya menyekap istriku?!"
Josh menggebrak meja sekuat tenaga, lalu melemparkan semua barang yang ada di atasnya. Ia terlihat sangat murka hingga meremas foto-foto itu.
"Siapkan semua orang-orang kita, Eric! Aku akan menghubungi Daddy, untuk meminta Markus ikut bersama kita!" perintah Josh.
Eric pun mengangguk dan segera pergi keluar untuk menelpon. Sedangkan Josh, terlihat sorot matanya yang mulai memerah padam. Ia bahkan segera meraih ponselnya untuk menelpon sang ayah.
"Halo, Dad. Aku perlu bantuan Markus dan semua anak buah Daddy. Evelyn dan Nina sepertinya tengah diculik! Aku akan mencari tahu siapa orang yang berani mengusik hidupku!"
"Kurang ajar. Oke, Daddy akan mengerahkan semua anak buah Daddy untuk membantumu. Bawa kembali menantuku dengan tanpa lecet sedikit pun, Josh! Jika perlu, kau bunuh berandal kurang ajar itu!" tegas Tuan Luise yang tak kalah murka.
__ADS_1
Josh mengangguk dan segera mematikan teleponnya. Lalu, ia mencoba menelpon seseorang untuk melacak seorang hacker terpercayanya untuk melacak keberadaan Evelyn.
Setelah itu, Josh meraih jas dan segera memakainya. Sebelum keluar dari ruangan, ia pun berjalan ke arah lemari yang penuh dengan buku dan ornamen-ornamen kecil itu. Lalu, menekan sebuah tombol kecil yang terletak di antara patung mini. Kemudian, lemari itu bergeser dan menampakan sebuah jalan menuju ruangan.
Josh berjalan masuk dan segera menempelkan jempolnya untuk membuka pintu yang terkunci dengan keamanan sistem biometrik itu. Lalu, ruangan yang dipenuhi senjata itu pun terbuka. Josh segera memilih dan membawa beberapa pistol.
Lalu, setelah merasa sudah siap, Josh pun kembali menutup pintu rahasia itu dan berjalan keluar ruangan menyusul Eric.
Eric yang sudah menunggu di dekat mobil itu segera mengangguk, dan Josh melemparkan salah satu pistolnya pada Eric. Lalu, mereka pun masuk dan mobil segera berjalan meninggalkan halaman rumah.
***
"Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Irish saat tahu suaminya mendapatkan telepon dari sang anak.
"Evelyn dan Nina diculik. Aku yakin, sepertinya orang itu adalah orang yang sama dengan yang mencoba mencelakai ku," tutur Tuan Luise.
Nyonya Irish memegang daddanya yang tampak sakit, ketika mendengar bahwa menantunya telah diculik. Tuan Luise yang sudah sehat itu segera membantu sang istri untuk duduk.
"Tenangkan dirimu, Sayang. Kau harus tetap menjaga kesehatanmu. Aku yakin Josh bisa menyelesaikan masalah ini," ucap Tuan Luise.
"Kau istirahat dulu. Aku akan menyuruh Markus dan semua anak buah–ku untuk menyusul Josh," sambungnya.
Setelah itu, Tuan Luise segera berjalan dan menghampiri Markus yang tengah berada di luar.
"Markus. Kerahkan semua anak buah ku dan susul Josh. Dia tengah mencari pelaku penculikan Evelyn!" perintah Tuan Luise.
__ADS_1
Markus segera mengangguk dan berlari masuk ke dalam mobil sembari menelpon pasukannya. Lalu ia pun berangkat menyusul Josh dan menelpon Eric.