
Eric dan Nina berhasil membawa masuk Evelyn ke dalam mobil. Lalu Eric segera menancap gas untuk pergi dari tempat itu.
Nina menoleh melihat perlahan gedung itu semakin roboh dan menyebabkan asap yang begitu besar. Ia mulai menangis, membayangkan bagaimana nasib sang tuan dan perasaan nyonya–nya.
"Eric, apa Tuan Josh akan selamat?" tanya Nina menatap tunangannya itu yang terlihat sama-sama khawatir.
"Jangan bahas itu, Nina. Nyonya bisa saja mendengarmu, sekarang kita pergi ke rumah sakit lebih dulu. Nyonya Evelyn butuh penanganan, apalagi ia tengah mengandung," ucap Eric yang terus fokus ke depan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Nina pergi menemani Evelyn yang segera dibawa ke emergency room. Sedangkan Eric, ia berjalan kembali ke dekat mobil.
"Halo, Tuan. Saya tidak bisa memastikan keadaan Tuan Josh dan yang lainnya. Tapi, saya sudah membawa Nyonya Evelyn ke rumah sakit karena pingsan. Selebihnya saya akan menjelaskan di sini," tutur Eric saat ia menelpon dengan Tuan Luise.
Sesampainya di rumah sakit. Tuan Luise dan Nyonya Irish pun segera menghampiri Eric yang sudah menunggu mereka di depan emergency room. Mereka segera menanyakan bagaimana keadaan Evelyn.
"Bagaimana keadaan Evelyn, Eric?" tanya Nyonya Irish.
Eric menghela napas sebelum ia menjawab dan memberitahu yang terjadi sebenarnya. "Tuan, Nyonya… Kami membawa Nyonya Evelyn karena atas permintaan Tuan Josh, dan yang terjadi di sana sangatlah kacau."
Tuan Luise dan Nyonya Irish mengerutkan keningnya. "Maksudmu apa, Eric?" tanya keduanya secara bersamaan.
"Gedung yang kami datangi tiba-tiba meledak, dan Tuan Josh ada di dalam, ia belum sempat keluar. Karena itu, Nyonya Evelyn berteriak histeris, hingga ia pingsan dan kami membawanya ke rumah sakit," jelas Eric.
Tubuh Nyonya Irish terhuyung ke belakang dan segera ditangkap oleh Tuan Luise. "Di mana Markus? Apa dia pergi bersamamu?" tanya Tuan Luise.
Eric menggelengkan kepalanya. Ia bahkan tidak tahu nasib seniornya itu, begitupun dengan anak buah yang lainnya. "Saya tidak tahu, Tuan. Kami buru-buru pergi dari sana."
Nina segera membantu Nyonya Irish untuk duduk di kursi yang ada di depan emergency room. Tuan Luise segera merogoh ponselnya dan segera menghubungi anak buahnya yang lain untuk menanyakan tentang keadaan di sana, terutama sang anak.
__ADS_1
"Josh anakku… Apa kau selamat, Nak? Jangan tinggalkan Mommy dan Daddy. Istrimu juga membutuhkanmu saat ini, bahkan kau belum melihat anakmu lahir nanti," lirih Nyonya Irish sembari menangis tidak kuasa mendengar kabar anaknya itu.
Nina yang mendengar itu semakin tidak kuat dan menitikkan air matanya. Eric tengah berusaha menelpon seseorang di sana, begitu juga Tuan Luise yang sedari tadi tidak berhenti berbicara di telepon.
"Eric, kita ke sana sekarang!" perintah Tuan Luise, dan Eric pun segera mengangguk.
"Nina, tolong jaga istriku di sini. Dan kabari kami jika Evelyn tersadar dari pingsannya," ujar Tuan Luise.
Nina mengangguk dan berusaha menenangkan Nyonya Irish dengan membantu mengusap punggung wanita itu.
Sedangkan Tuan Luise dan Eric, keduanya segera meluncur menuju lokasi. Meskipun Tuan Luise masih belum lancar berjalan dan masih dalam masa pemulihan, tapi demi sang anak ia rela ikut terjun ke lokasi.
***
Malam harinya, Nina dan Nyonya Irish tengah menemani Evelyn yang sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Lalu, tidak lama kemudian Nina melihat pergerakan jari Evelyn, hingga sayup-sayup kelopak mata wanita itu terbuka.
Evelyn mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa putih itu. Lalu, ia mengernyit merasa sedikit pusing dan kembali teringat akan hal yang terjadi.
"Josh!" teriaknya sembari berusaha bangkit dan Nina membantunya.
"Tentang, Evelyn. Tolong tenangkan dirimu sebentar, Josh pasti baik-baik saja," ucap Nyonya Irish berusaha menenangkan menantunya itu.
"Mom. Gedung itu meledak dan suamiku ada di dalam, aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Gedung itu meledak dan runtuh tepat di depan kepalaku sendiri! Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui kabar suamiku," tutur Evelyn sembari menangis tersedu tak kuasa mengingat kejadian itu.
Nyonya Irish segera memeluk Evelyn, ia berusaha menenangkan wanita itu agar tidak terlalu banyak pikiran. "Tentang kan dirimu, Sayang. Kau tengah hamil," ucapnya.
"Mom, suamiku... Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya," lirih Evelyn sembari memegang perutnya dan kembali menitikkan air mata.
__ADS_1
"Tenanglah. Daddy dan Eric sudah pergi ke sana untuk memastikan keadaannya. Kau tenangkan pikiranmu saja ya, demi bayi yang kau kandung," ucap Nyonya Irish.
Evelyn mengangguk sembari mengusap air matanya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya itu. Bayangan tentang ledakan dan reruntuhan gedung itu terus berputar di ingatannya.
Lalu, tidak lama kemudian Tuan Luise membuka pintu ruang rawat Evelyn. Ketiga orang yang ada di sana tampak terkejut. Nyonya Irish segera mendekat dan bertanya, "Dad. Apa yang terjadi?"
Tuan Luise menghela napas, tapi tidak menjawab. Lalu, Eric muncul setelahnya bersama seseorang.
"Josh!" teriak Nyonya Irish yang segera berlari memeluk sang anak.
"Anakku, Sayang. Kau tidak apa-apa, Josh? Kau telah membuat Mommy dan Evelyn khawatir," tanya Nyonya Irish yang masih memeluk anaknya itu.
"Aku tidak apa-apa, Mom," jawab Josh sembari melirik ke arah Evelyn.
Wanita itu tampak menangis terharu. Perasaannya yang sedari tadi terombang-ambing karena tidak tahu bagaimana keadaan suaminya setelah ledakan gedung itu, kini ia menangis bahagia karena suaminya selamat.
Nyonya Irish segera melepaskan pelukannya. Josh pun mendekati Evelyn dan segera memeluknya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hampir membuatmu celaka. Jika saja aku tidak kabur dari rumah, mung-"
"Syuuut! Kau tidak salah. Yang penting sekarang kau sudah berada di sini kembali bersamaku. Maafkan aku karena sudah berbohong tentang wanita itu, aku benar-benar tidak bermaksud," sela Josh.
Evelyn kembali memeluk suaminya itu dengan erat. Ia begitu mengkhawatirkan Josh, dan sangat takut sesuatu terjadi padanya.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Sayang? Apa anak kita baik-baik saja?" tanya Josh sembari mengusap perut Evelyn.
Evelyn mengangguk. "Anak kita kuat sepertimu, ia bisa bertahan dalam kondisi menegangkan seperti tadi," jawabnya sembari tersenyum dan matanya terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Josh pun kembali mencium kening Evelyn, lalu memeluknya dengan erat. Ia menyesali diri karena tidak terbuka tentang masa lalunya dan membuat Evelyn kembali salah paham seperti itu.