Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 32 : Menuju Roma


__ADS_3

Hari-hari berlalu, dan setiap harinya Evelyn selalu membangunkan Josh. Entah bagaimana ceritanya, yang pasti kini keduanya tidak secanggung dulu. Meski terkadang Josh masih sering dingin terhadap Evelyn, begitupun sebaliknya.


Kini, Evelyn tengah berada di kamar Josh. Sedangkan si pemilik kamar sejak 20 menit lalu masih berada di kamar mandi. Entah apa yang dilakukan Josh di dalam sana selama itu. Yang pasti, saat ini Evelyn tengah menjalankan tugasnya.


Josh besok pagi harus segera berangkat menuju kota Roma, Italia. Ia berencana untuk bertemu sang teman yang tak lain adalah Jeff. Seperti yang sudah di rencanakan keduanya sepakat untuk membangun hotel mewah berbintang lima di Venesia.


"Sepertinya cukup jika hanya 4 hari di sana," gumam Evelyn sembari meletakkan pakaian terakhir Josh ke dalam koper.


Tidak lama kemudian Josh pun keluar dari kamar mandi. Ia melihat Evelyn yang berdiri di depan ranjang tengah membereskan pakaiannya. Lalu, ia kembali menepis pikiran aneh tentang lekuk tubuh Evelyn yang seksi meski tertutup pakaian.


"Kau sudah selesai?" tanya Josh sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Evelyn membalikan tubuhnya. Ia sudah tidak lagi terkejut melihat Josh bertelanjang dadda di hadapannya, hanya saja ia memang masih merasa sedikit gugup. "Sudah," sahutnya.


"Aku akan pergi 4 hari ke sana. Apa kau akan baik-baik saja di sini?" tanya Josh dengan segera memakai pakaian tidurnya yang sudah disiapkan oleh Evelyn tadi.


Evelyn menghela napas dan mengangkat bahunya. "Entah. Mungkin akan baik-baik saja, selagi ada Eric. Eric tidak akan ikut kan?" tanya Evelyn memastikan.


"Eric akan ikut."


Evelyn menampakan wajah gelisah. Ia sebenarnya tidak terlalu takut, tapi akhir-akhir ini merasa tidak seberani itu.


"Apa kau mau ikut juga?" tawar Josh.


Evelyn mengerutkan keningnya, bingung. Karena tidak seperti biasa Josh mengajaknya seperti ini. Bahkan acara makan malam bersama klien yang seharusnya membawa istri pun, Josh malah datang sendirian dan tidak memberitahunya.


"Aku tidak yakin. Memangnya kau tidak merasa risih terus berada di dekatku?" Evelyn balik bertanya, untuk memastikannya.


Ia ingat apa kata Nina tempo hari. Sepertinya Josh tengah berusaha membangun hubungan baik dengannya. Evelyn memang tidak terlalu peka akan hal itu, tapi Nina bisa melihatnya dan selalu memberitahu dirinya.


"Risih? Aku tidak merasa risih. Bagus kau ikut denganku, itu artinya kau tetap memenuhi kewajiban seorang istri yang harus melayani suami. Termasuk..."

__ADS_1


Evelyn mengerutkan keningnya. Ia sudah tahu jika pria itu akan berbicara ke arah mana. "Maksudmu apa? Termasuk apa?!"


"Termasuk menemaniku untuk memeriksa tempat yang akan aku bangun proyek perhotelan di sana," kilah Josh mencoba mengalihkan topiknya.


"Hmm... Jika aku ikut, apa Nina boleh ikut?" tanya Evelyn. Ia tentu tidak mau sendirian pergi ke sana. Bagaimana pun ia juga masih membutuhkan Nina.


"Boleh. Dia juga akan membantu kita di sana. Jadi sepertinya aku harus menghubungi Eric sekarang," ucap Josh sembari berjalan pergi.


Josh berjalan keluar dari kamarnya dan segera menelepon Eric yang saat ini sedang tidak berada di rumah ini.


"Eric. Sepertinya aku membutuhkan 2 tiket pesawat lagi untuk ke Roma. Kau harus memesankan nya malam ini, pastikan harus dapat," pinta Josh saat sambungan telepon itu terhubung.


"2 tiket lagi, Tuan?" tanya Eric merasa bingung.


"Iya. Untuk Evelyn dan Nina. Kita tidak mungkin meninggalkan mereka di sini berdua, apalagi kedua pelayan yang Daddy perintahkan itu sedang mengambil cuti."


"Jadi Anda akan mengajak Nona Evelyn dan Nina, Tuan?" tanya Eric memastikan sekali lagi.


"Tidak, Tuan. Baik, saya akan memesankan 2 tiket itu malam ini, Tuan. Semoga masih ada 2 kursi kosong," kata Eric.


"Beli 2 kali lipat pun tidak masalah. Kau harus mendapatkannya, jika tidak, maka batalkan saja penerbangan kita!"


Mendengar itu, Eric pun segera menjawab dengan sigap. Ia pun menutup teleponnya, dan mulai memesan kembali 2 tiket penerbangan menuju Roma, Italia.


***


Pagi harinya, mereka berempat tengah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Evelyn yang baru turun dari tangga itu disergap oleh Nina.


"Nona. Sepertinya Italia sangat cocok untuk kalian berbulan madu," kata Nina dengan terkekeh di akhir kalimatnya.


"Nina! Syuutt! Siapa juga yang mau bulan madu, aduh!" timpal Evelyn dengan mengernyit.

__ADS_1


Keduanya pun tampak terdiam saat Josh menoleh ke belakang. "Ayo, cepat! Kita bisa terlambat kalau berlama-lama seperti ini."


Evelyn dan Nina pun gegas berjalan mengekor di belakang mereka menuju keluar.


Barang-barang sudah dimasukan ke dalam bagasi. Kini, mereka segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju bandara. Hingga setibanya mereka di sana, semua segera masuk menuju pesawat.


Di dalam pesawat, rupanya Eric sengaja memilih tiket Evelyn yang berada di samping Josh dan dirinya berada di samping Nina. Lalu, mereka pun segera duduk di kursi masing-masing.


Josh mencoba memasangkan sabuk pengaman untuk Evelyn. Dirinya tentu tahu jika ini merupakan pengalaman pertama Evelyn naik pesawat. Mungkin, wanita itu tengah ketakutan, karena Josh bisa melihat dari matanya yang terlihat gelisah.


"Jangan takut. Pegang saja tanganku," ucap Josh sembari memasangkan sabuk pengaman itu. Evelyn mengangguk mengerti.


Saat pesawat take off. Tiba-tiba Evelyn dengan cepat memegang tangan Josh. Bisa pria itu rasakan, jika Evelyn tengah ketakutan dengan tangan yang gemetar.


Josh berusaha menenangkan istrinya itu dengan menepuk-nepuk tangannya, dan Evelyn tetap memejamkan matanya. Hingga ia tertidur untuk mengurangi rasa takut.


Josh memposisikan kepala Evelyn untuk bersandar di bahunya agar tidak oleng ke sisi lain. Entah kenapa rasanya jantung pria itu saat ini seperti akan meledak. Ia merasa banyak sekali kupu-kupu yang tengah menggelitik di perutnya.


"Evelyn. Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Kenapa harus denganmu aku jatuh cinta?"


Josh tersenyum saat melihat wajah menenangkan Evelyn yang tengah tertidur. Tanpa dia sadari ada 2 pasang mata yang tengah memperhatikan ke arahnya dengan menahan tawa.


Nina yang terlihat bahagia karena melihat sepasang suami-istri yang mulai dekat itu tidak sengaja menginjak kaki Eric. Hingga pria itu meringis kesakitan.


"Sorry, Eric. Aku terlalu excited melihat keduanya. Aaaa... Semoga mereka segera menyadari, jika keduanya sama-sama jatuh cinta, " ucap Nina.


"Iya. Tapi tidak harus menginjak kakiku. Ini sakit, Nina!"


"Aku kan sudah meminta maaf, Eric. Kenapa kau masih marah?" sungut Nina dengan kening yang mengerut.


"Sudahlah, kau terlalu menyebalkan. Aku harus tidur sekarang!"

__ADS_1


Eric hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nina yang tidak pernah berubah.


__ADS_2