
Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Josh yang sedang bersiap-siap untuk pulang itu, tiba-tiba dikejutkan oleh Eric yang menerobos masuk ke ruangannya.
"Kau mengejutkanku, Eric!" tegur Josh dengan mendengus.
"Ah, maaf Tuan. Saya baru saja menyelesaikan tugas dari Anda. Semua tentang Nona Evelyn ada di dalam berkas ini," tutur Eric dengan menyodorkan amplop berwarna coklat.
Josh pun menerimanya. Tapi, tidak ada waktu untuk membuka berkas itu sekarang. Ia pun segera memasukannya ke dalam tas kerja.
Setelah itu keduanya berjalan keluar dari ruangan dan disambut oleh beberapa karyawan yang masih bekerja. "Eric, apa ada informasi lain tentang kecelakaan Daddy? Apa kau sudah menemukan pelaku pemilik mobil putih itu?" Tanya Josh sembari terus berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Eric pun segera masuk dan mulai menghidupkan mobil. Lalu, ia pun mengendarai mobil itu dan segera menjawab. "Masih Saya selidiki, Tuan. Sepertinya tidak jauh dari lawan bisnis kita."
"Bisnis yang mana? Perusahaan Dexter atau bisnis gelap?"
"Bisnis gelap, Tuan," jawab Eric.
Josh sudah menduga jika kecelakaan ayahnya tidak mungkin hanya kecelakaan biasa. Apalagi menurut keterangan Markus, jika mereka sudah diikuti sebelum terjadinya kecelakaan.
"Cari terus informasi itu. Temukan pelakunya, meski sampai ke lubang semut sekalipun! Dia mencoba mencelakai Daddy, dan akan berhadapan denganku nantinya!"
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam. Eric dan Josh pun sampai di rumah yang memang bisa dibilang tampak seperti mansion yang megah. Lalu, Josh pun turun dan segera berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Baginya hari ini sangat melelahkan apalagi ia yang masih merasa tidak enak badan.
Saat baru akan membuka kemejanya. Tiba-tiba pintu kamar Josh diketuk beberapa kali. Ia sudah tahu, jika itu pasti Evelyn. "Masuk," ucap Josh sedikit lantang.
Merasa mendapat izin. Evelyn pun segera masuk dengan membawa nampan berisikan air teh hangat untuk Josh. "Ah, ini Tuan. Teh hangatnya," ucapnya sembari meletakkan nampan itu di meja sebelah ranjang.
"Sudah aku bilang, panggil saja aku Josh. Aku tidak terlalu suka dipanggil Tuan, apalagi olehmu," ujar Josh. Kali ini nada bicaranya lebih rendah, di bandingkan dengan beberapa waktu lalu yang selalu ketus saat berbicara.
"Iya, Josh."
"Sudah. Kau mau apa lagi di sini? Apa mau melihatku membuka baju?"
__ADS_1
Evelyn melebarkan matanya. Dengan cepat ia pun menggeleng, "tidak! Aku akan segera pergi. Tapi ingin memastikan dulu suhu badanmu sudah turun atau masih naik," kilah Evelyn.
"Oke. Silakan," ucap Josh dengan merendahkan tubuhnya.
Evelyn tampak bingung karena tidak mengerti. Dengan cepat Josh meraih tangan wanita itu karena terlalu lama. Ia meletakkan tangan Evelyn di keningnya, agar wanita itu bisa memastikan suhu tubuhnya.
Setelah merasakan suhu tubuh Josh yang tidak sepanas tadi, Evelyn pun dengan cepat menarik tangannya karena gugup. Ia pun pamit dan mengambil langkah untuk pergi keluar.
Sedangkan Josh, hanya menatap bingung ke arah Evelyn yang sudah menghilang di balik pintu. Lalu, ia pun segera membuka kemejanya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh semua peluh yang sedari tadi membasahi tubuhnya.
Selesai mandi, Josh terkejut karena di atas ranjangnya sudah disiapkan pakaian tidur untuk dirinya. Mungkin Evelyn yang menyiapkannya, pikir Josh.
Setelah selesai memakai pakaian tidur. Josh kembali teringat berkas-berkas yang Eric berikan, ia pun kembali meraih tas itu dan membawanya ke ruangan kerja di sebelah kamarnya.
***
Keesokan harinya. Josh tidak seperti biasanya, ia tampak terbangun lebih pagi dan mencoba menunggu Evelyn yang mungkin beberapa menit lagi akan membangunkannya.
Benar saja, lima menit kemudian, Evelyn mengetuk pintu dan masuk ke kamar.
"Aku yang bangun terlalu pagi. Tidurku tidak nyenyak," sahut Josh dengan segera bangkit dari ranjang.
"Seperti biasa. Siapkan pakaianku, aku akan mandi," perintahnya dengan melangkah masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai berpakaian dan sedikit terburu-buru karena ada meeting dadakan. Ia pun berlari menuruni tangga, lalu tidak sengaja berpapasan dengan Evelyn di ruang tamu.
"Aku buru-buru, minggir!"
"Kau salah memakaikan dasinya. Sini, biar aku yang perbaiki," ucap Evelyn dengan segera mendekat untuk memasangkan dasi Josh.
Ya benar, Josh baru sadar jika dirinya terburu-buru dan salah memakaikan dasi. Namun, kini dirinya sedikit tidak fokus saat mencium aroma lavender dari rambut Evelyn. Ia tidak sadar mulai merasakannya dan memejamkan mata.
__ADS_1
Hingga teguran Evelyn membuatnya terkejut. "Kau kenapa? Dasinya sudah beres."
Josh mengerjapkan matanya. Ia sedikit gelagapan dan segera menjawab. "Kau belum keramas berapa hari Evelyn? Kenapa bau sekali!"
Mendengar itu Evelyn segera menjauhkan tubuhnya. Ia merasa bingung, karena baru kemarin sore dirinya keramas, masa secepat itu?
"Ah sial aku bisa terlambat!" gerutu Josh dengan segera berlari keluar meninggalkan Evelyn yang masih mematung demi menyembunyikan perasaan salah tingkahnya.
"Bau apanya? Ini harum, kok!" kata Evelyn setelah mencium rambutnya sendiri. Ia pun segera memanggil Nina, "Nina! Sini sebentar!"
Nina yang tengah memotong sayur itu pun segera bergegas menemui Evelyn setelah dipanggil. "Ada apa, Nona?"
"Kau cium rambutku. Harum lavender atau bau," perintah Evelyn.
Nina pun segera menuruti perintah itu dan setelahnya ia kembali berbicara. "Iya harum aroma lavender. Tidak bau, kok."
"Aneh," gumam Evelyn yang masih bisa terdengar oleh Nina.
"Aneh kenapa Nona? Memangnya ada yang bilang bau?" tanya Nina penasaran.
"Tidak! Sudahlah, kau lanjutkan saja memasakmu sana!"
***
Siang itu setelah dua kali meeting dan keduanya sama-sama membuat Josh tidak fokus. Kini, ia pun tengah duduk dan bersandar di kursi dengan menghadap ke luar yang menyajikan pemandangan Laut Mediterania.
"Apa-apaan itu! Kenapa wajah Evelyn sampai memenuhi kaca jendela," gerutu Josh dengan kening yang mengerut. Tapi, ia terus menikmati sensasi jantungnya yang mulai berdebar karena teringat wajah cantik Evelyn jika dilihat dari jarak dekat seperti tadi.
Apalagi bibir ranum Evelyn yang membuat Josh tidak bisa fokus saat meeting tadi. Josh terus terbayang wajah Evelyn, hingga ia tidak menyadari kedatangan Eric.
Eric yang merasa bingung karena ada yang aneh dari tuannya itu segera bertanya, "ada apa Tuan? Sepertinya Anda tengah gelisah? Apa meeting tadi benar-benar membuat Anda terganggu?"
__ADS_1
"Hah apa, Evelyn?" Josh terkejut karena tiba-tiba Eric sudah ada di depannya.
Kini, yang terkejut pun bukan hanya Josh, tapi Eric sama terkejutnya saat sang tuan menyebutkan nama istrinya. "Anda tengah memikirkan Nona Evelyn, Tuan? Apa itu yang membuat pikirkan Anda terganggu saat meeting tadi?"