
Hari demi hari, minggu ke minggu, hingga beberapa bulan kemudian. Setiap harinya, Josh tidak pernah berhenti melepaskan pandangannya memperhatikan dan menjaga Evelyn.
Bahkan, ia membuat keputusan untuk bekerja di rumah saja, sementara, sampai Evelyn melahirkan. Tetapi, jika tiba waktunya meeting ia akan sigap bergegas menuju kantor, tanpa Eric karena harus tetap menjaga Evelyn bersama Nina.
Pagi itu, seperti biasa. Evelyn bangun lebih dulu, dan memindahkan tangan suaminya yang mungkin semalaman memeluknya. Ia gegas berdiri, meski dengan menahan perutnya yang sudah mulai sering terasa kram.
Evelyn mendesah, memegang pinggangnya yang terasa sakit. Perlahan berjalan menuju kamar mandi, untuk bersiap-siap.
Setelah semuanya selesai, dan Evelyn sudah terlihat lebih bugar dari pertama kali membuka mata. Kini, ia mulai membangunkan suaminya itu.
"Sayang… Bangun. Sudah siang," bisik Evelyn tepat di telinga Josh, dengan nada lembut.
Josh melenguh. Ia menarik, memeluk dan mengusap perut istirnya yang semakin membesar. "Morning, Baby," lirihnya masih dalam keadaan memejamkan mata.
"Nak. Lihatlah Daddy-mu ini. Dia mulai bermalas-malasan, seperti ini," ucap Evelyn mengusap perutnya.
"Huek!"
Josh tiba-tiba muntah kosong. Perutnya terasa sangat mual, ia pun dengan cepat bangkit dari atas ranjang dan berlari ke dalam kamar mandi.
Beberapa kali ia berusaha memuntahkan sesuatu, namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Hal itu membuat dirinya bingung. Ia segera mencuci muka, dan kembali ke dalam, menemui sang istri.
"Aku rasa aku tidak enak badan, Sayang. Perutku terasa sangat mual, dan ingin muntah tapi tidak keluar apa-apa," ungkap Josh.
Pria itu mendesah, mencoba duduk di tepi ranjang. Evelyn yang melihat itu segera mengambilkan air yang ada di nakas untuk suaminya.
__ADS_1
"Minum dulu. Mungkin kau tengah masuk angin, Sayang." Evelyn menyodorkan gelas itu dan Josh segera menerimanya, lalu meminum air itu.
Suara ketukan pintu itu spontan membuat keduanya menoleh. Evelyn gegas berjalan ke arah pintu dengan jalannya yang teramat pelan.
"Nyonya. Sarapan sudah siap," ucap Nina setelah Evelyn membukakan pintu.
Evelyn mengangguk dengan tersenyum. "Aku akan turun sebentar lagi," ucapnya. Ia pun kembali masuk dan menghampiri suaminya.
"Kau mungkin belum makan semalaman. Jadi, ayo sarapan dulu, tidak usah mandi, nanti saja," ajak Evelyn.
Josh pun bangkit dari duduknya, meski rasanya ia sangat enggan melakukan aktivitas kali ini. Melangkah saja rasanya teramat sangat berat, bagi seorang Josh, yang selalu tidak suka kemalasan.
Tapi kali ini, begitulah dirinya. Ia ingin tidur, dan bermalas-malasan.
Josh berjalan menuruni tangga memegangi Evelyn. Keduanya berjalan cukup pelan. Pria itu sudah berulang kali mengatakan agar pindah kamar lebih dulu, tetapi Evelyn selalu menolaknya.
Kini, keduanya sampai di lantai bawah. Mereka berjalan menuju ruang makan, dan segera duduk di sana.
Nina sudah menyiapkan makanan, dan mereka tinggal sarapan.
"Makan yang banyak. Kau mungkin masuk angin sekaligus jarang makan," kata Evelyn.
Josh tersenyum dan mengangguk. Ia segera memotong steak itu dan melahapnya. Namun, saat memakannya, ia merasakan sesuatu yang tidak enak. kemudian segera memuntahkannya.
"Kau memasak apa ini, Nina! Kenapa makanannya tidak enak! Ah, sial, aku tidak berselera makan," sentak Josh dengan berdiri.
__ADS_1
Evelyn mengerutkan keningnya. Ia mencoba menyantap steak itu, merasakan apakah yang dirasakan suaminya akan sama. Tetapi wanita itu tampak biasa saja, tidak menemukan keanehan apapun.
"Steak ini enak, Sayang. Malah rasanya selalu seperti biasa, tidak ada bedanya sama sekali," ucap Evelyn. "Duduklah kembali," katanya lagi dengan menghela napas.
Josh kembali duduk meski merasa sangat kesal. Apalagi kini perutnya semakin mual, dan tidak enak sekali.
"Tenangkan dirimu, Sayang. Sepertinya akhir-akhir ini kau mengalami perubahan mood. Kurasa lebih baik kita periksa ke rumah sakit, apalagi kau merasa mual dan muntah-muntah," kata Evelyn lagi.
Josh menghela napas. Ia memang merasa sedikit aneh akhir-akhir ini. Perasaannya menjadi cepat berubah, kadang baik dan kadang jelek. Apalagi ia sering merasa kelelahan, padahal ia merupakan pria paling rajin berolahraga.
"Entahlah, Sayang. Mungkin memang karena pekerjaan saja, aku menjadi kelelahan dan mudah stres," jawab Josh mencoba menetralkan napasnya yang sedang turun-naik.
Evelyn kembali melanjutkan makannya, meski Josh hanya menemani dan tak lagi ikut makan karena tidak berselera. Sedangkan Nina, ia menghampiri Eric yang sudah berpakaian rapi menuruni tangga.
"Kenapa dengan wajah Tuan Josh, Nina? Apa suasana hatinya sedang tidak baik?" tanya Eric mengerutkan keningnya.
"Tuan tidak berselera makan. Bahkan steak buatanku saja dia tidak dimakan dan mengatakannya tidak enak. Tapi menurut Nyonya, tidak, rasanya sama saja," tutur Nina.
"Hanya karena itu?"
"Tidak. Sepertinya ada sesuatu hal. Menurut Nyonya, Tuan Josh mengalami perubahan mood, sering kelelahan, juga perutnya mual dan tadi pun saat aku berjalan ke kamar mereka, aku mendengar suara seseorang muntah," jawab Nina.
"Sepertinya…"
"Sepertinya apa, Nina?" tanya Eric penasaran.
__ADS_1
"Sepertinya Tuan mengalami kehamilan simpatik."