Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 30 : Diam-Diam


__ADS_3

Keesokan harinya Josh terbangun sendiri. Ia tidak melihat Evelyn masuk untuk membangunkannya, entah ke mana wanita itu. Tidak seperti biasanya. Josh pun segera bangkit dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi untuk mandi terlebih dulu.


Setelah selesai. Ia terkejut karena sudah ada setelan kemeja dan jas di atas ranjang. Tapi, tidak ada Evelyn di sini. Josh merasa bingung, apa Evelyn tengah menghindarinya? Atau ia tahu tentang sesuatu? Jangan-jangan wanita itu mendengar aktivitasnya di kamar mandi kemarin.


Wajah Josh kian menegang saat memikirkan bagaimana jika Evelyn tahu apa yang dirinya lakukan. Untuk menepis pemikirannya, ia segera memakai pakaian dan bersiap-siap. Mungkin wanita itu ada di bawah, sedang menyiapkan sarapan.


Saat sampai di lantai bawah. Josh segera berjalan ke ruang makan untuk memastikan apakah Evelyn ada di sana atau benar-benar tidak ada. Tapi syukurnya saat dia tiba di ruang makan, Evelyn berada di sana dan tengah duduk dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku, Evelyn?" tanya Josh sembari duduk. Lalu menoleh pada Nina, "mana makananku?" tanyanya.


Nina pun segera menyiapkan sandwich seadanya karena tidak seperti biasa pria itu makan di meja makan ini.


"Kau belum menjawab pertanyaan dariku, Evelyn. Apa kau mendadak bisu?" tanya Josh sekali lagi dengan menatap wanita di sebrang sana.


Jarak keduanya memang terlihat jauh, tidak duduk berdampingan selayaknya suami istri. Entah kenapa Josh merasa kesal sendiri karena Evelyn tidak bergeming.


"Evelyn!" tegas Josh setengah mengerutkan keningnya.


Evelyn menghela napas. Lalu meletakan sendok dan garpu itu di atas piring. Sepertinya ia sudah selesai sarapan. "Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa terus membangunkan–mu. Karena aku pun tidak bisa terus bangun sepagi itu sembari mengerjakan tugas lain. Tapi, saat kau mandi aku akan menyiapkan pakaian. Aku permisi," tutur Evelyn sembari berdiri.


Evelyn yang berjalan melewati Josh pun segera pria itu tahan dengan menarik tangannya. Wanita itu tampak gugup dan mengulum bibirnya berharap tidak terjadi apa-apa.


"Kau mulai melepaskan kewajibanmu sebagai istri Evelyn? Bagaimana jika aku mengadu pada Mommy dan mengatakan kau tidak mengurusku dengan baik."


Evelyn yang mendengar itu segera membalikan tubuhnya. "Harusnya jika hanya bangun tidur, tidak harus menunggu aku yang membangunkan. Untuk urusan pakaian aku selalu menyiapkannya," balas Evelyn.


"Ya, kau juga harus membangunkan aku. Bagaimana jika aku kesiangan dan terlambat pergi ke kantor? Memangnya kau yang mau menggantikannya?"


"Besok aku akan memasang jam weker lagi. Jad-"


"Tidak!" sela Josh bangkit dari duduknya. "Kau harus membangunkan aku setiap paginya, tidak ada penolakan! Karena aku tidak suka ditolak!" tegasnya kemudian.


Evelyn menghela napas. Mau tidak mau ia harus menuruti apa yang Josh mau. Padahal, ia hanya ingin membiasakan Josh untuk bisa bangun pagi sendiri, agar tidak perlu membutuhkannya. Ia pun segera mengangguk dan menjawab, "iya. Maaf untuk hari ini karena tidak membangunkan."


"Oke, bagus. Aku harus pergi ke kantor sekarang," ucap Josh sembari berjalan meninggalkan Evelyn.

__ADS_1


Josh berjalan sudah hampir sampai ke depan pintu. Tapi, ia merasa kesal karena Evelyn tidak mengantarnya. "Dia memang sedingin itu, ya? Menyebalkan!"


Josh pun keluar dari rumah dengan sedikit membanting pintunya karena kesal.


Sedangkan Evelyn yang melihat tingkah Josh pagi ini hanya mampu mengerutkan keningnya bingung. "Entah kenapa di hari ini," gumamnya.


"Sepertinya Tuan sedang terkena virus, Nona," timpal Nina yang tiba-tiba sudah ada di samping Evelyn.


Evelyn membalikan badannya memposisikan diri menghadap Nina. "Maksudnya bagaimana, Na? Apa demam kemarin masih belum sembuh sampai terkena virus?"


Nina mengulum bibirnya menahan tawa. Lalu segera menjawab, "maksudku, virus cinta, Nona."


Evelyn langsung mengerutkan keningnya, bingung. Kenapa virus cinta? Apa semudah itu Josh jatuh cinta kembali setelah dikhianati Sarah? Pikirnya.


"Maksudmu dia sedang jatuh cinta lagi? Memangnya akan semudah itu, ya? Dia baru saja dikhianati oleh Sarah." Evelyn bertanya untuk memastikan pikirannya.


"Kita lihat saja Nona. Tuan sedang jatuh cinta pada siapa," jawab Nina sembari menutup mulutnya yang menahan tawa. Ia benar-benar tengah menertawai wanita yang ada di hadapannya, karena tidak peka.


***


"Kita hanya memerlukan tanda tangan Tuan Luise. Tapi, sepertinya Tuan tidak akan begitu saja memberikan tanda tangannya nanti," jawab Eric.


"Hmm... Harus menunggu sampai Daddy sembuh, ya. Atau aku harus mencari lahan lain?"


"Memangnya Anda sudah deal untuk membangun perumahan di sana, Tuan?" Eric balik bertanya untuk memastikan.


"Hmm... Sepertinya aku akan menunda proyek pembangunan rumah minimalis itu, dan menggantinya dengan proyek cadangan–ku," kata Josh dengan membuka berkas satunya lagi.


"Proyek baru, Tuan? Pembangunan apa lagi?"


"Membangun sebuah hotel mewah dan terdapat kasino di dalamnya. Sepertinya akan sangat menguntungkan jika membuka kasino di negara itu. Terbukti ada beberapa kasino terbaik di sana," ungkap Josh dengan tersenyum saat melihat desain hotel yang ingin dirinya bangun.


"Apa Anda sudah mendapatkan lahan strategis itu?" tanya Eric serius.


"Aku akan menelepon seseorang di sana, dan mencari lahan yang siap dijual serta lokasinya yang strategis."

__ADS_1


Setelah keduanya berbincang. Josh pun segera mengajak Eric untuk keluar mencari udara segera karena dirinya merasa lelah seharian ini harus berhadapan dengan beberapa klien dan membaca semua berkas yang masuk.


Josh mengajak Eric untuk ke daerah pertokoan. Lalu, menghentikan mobilnya di depan sebuah toko ponsel. "Cepat turun, dan belikan Evelyn ponsel baru. Yang bagus serta tidak ketinggalan zaman," perintahnya kepada Eric.


Melihat Eric keluar dari mobil dan masuk ke toko ponsel itu. Josh segera keluar dari mobil dan menuju sebuah toko. Setelah itu ia kembali sebelum Eric keluar dari toko ponsel.


Tidak lama kemudian Eric pun muncul dan segera masuk ke dalam mobil. Lalu, menyodorkan paper bag berisi ponsel itu pada sang tuan.


"Kau yakin ini ponsel terbaik?" tanya Josh memastikan dengan segera memeriksanya dan menghidupkan ponsel itu.


"Saya yakin, Tuan. Itu keluaran terbaru, satu bulan lalu," jawab Eric.


"Oke. Cepat berangkat, kita pulang?!"


Mobil pun kembali melaju menyusuri jalan. Mereka tidak kembali ke perusahaan melainkan memilih pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Josh segera keluar dari mobil. Eric tidak ikut keluar dari mobil, karena harus memasukan mobil ke garasi.


Josh masuk ke dalam rumah. Dirinya bisa melihat Evelyn yang berada di dapur bersama Nina. Ia pun mulai naik ke lantai dua dengan mengendap-endap. Lalu, masuk ke dalam kamar Evelyn dan meletakan paper bag itu di atas ranjang.


Beberapa jam kemudian. Evelyn yang baru masuk ke dalam kamar itu dibuat terkejut, dengan sebuah paper bag dan buket bunga di atas ranjang. Ia mengerutkan keningnya sembari mendekat dan melihat isi paper bag itu.


"Ponsel? Apa Eric yang meletakkannya di sini? Tapi, kenapa dia sampai memberi bunga segala?" gumamnya dalam tanya.


Evelyn segera menghidupkan ponsel itu, dan setelah hidup tiba-tiba ponselnya berdering. Di dalam layar pun tertera sebuah nama "My Love".


Dengan penasaran Evelyn pun dengan cepat mengangkatnya. "Halo?"


"Ponsel baru untukmu, dan sebuket bunga untuk permintaan maaf."


Deg!


Manik mata Evelyn membulat sempurna. Apa ia tidak salah dengar? Ia mencoba mencubit tangannya berharap ini hanya mimpinya saja. Tapi, ternyata ia memang tersadar dan ini nyata.


"Josh?"

__ADS_1


__ADS_2