
Setelah keberangkatan Nyonya Irish dan Jesslyn membawa Tuan Luise ke rumah sakit terbaik di Canada. Kini, Josh kembali melakukan aktivitasnya. Ia sudah mulai kembali bekerja dan mengurus perusahaan.
Pagi ini, Evelyn seperti biasa akan selalu membangunkan Josh karena pria itu tidak pernah bisa bangun pagi. Jam weker yang sudah Evelyn siapkan pun sudah rusak akibat pria itu membantingnya.
"Ee-eu... Josh. Eh, Tuan... Sudah pukul 6 pagi. Saatnya bersiap-siap untuk pergi ke kantor, sebelum terlambat. Kata Eric jam 8 akan ada meeting bersama klien."
Perlahan Evelyn mengguncangkan tubuh Josh. Tapi, saat ia menyentuh pria itu, suhu badan Josh terasa panas.
"Panas?" gumam Evelyn. Ia pun segera memastikan dengan menempelkan punggung tangannya di kening Josh. Manik matanya membulat, ia terkejut karena suhu tubuh Josh begitu panas.
"Tuan. Sepertinya kau demam. Sebentar aku ambilkan air untuk mengompresnya," ucap Evelyn meski tidak tahu pria itu dapat mendengarnya atau tidak. Evelyn segera berlari keluar.
Sedangkan Josh, ia mulai membuka kelopak mata. Lalu, mengedarkan pandangannya yang sedikit samar dan berusaha bangkit. Josh memegang keningnya tampak pusing, ia bisa sedikit merasakan suhu tubuhnya yang panas.
"Argh. Kenapa harus demam," desahnya dengan berusaha mengumpulkan tenaga untuk berdiri.
Tiba-tiba Evelyn datang dan sedikit terkejut saat melihat Josh sudah bangun. "Jangan berdiri dulu," cegah Evelyn sembari mendekat. "Jangan memaksakan diri jika tidak kuat. Kau istirahat saja, aku akan mengatakan pada Eric jika kau sakit," sambungnya.
"Tidak. Aku harus berangkat, karena meeting ini penting bagi perusahaan Dexter Corporation. Ambilkan saja obat penurun panas di laci sana," ucap Josh sembari menunjuk arah laci di belakang Evelyn.
Evelyn pun menurut dan gegas membawa obat dari dalam laci. Lalu segera ia berikan pada Josh sembari menyodorkan air putih yang tadi dirinya bawa.
"Tetap mau memaksa?"
Josh mengangguk pelan tanpa berbicara. Ia segera bangkit, tapi tubuhnya hampir oleng dan segera Evelyn tahan.
"Masih pusing kan? Bagaimana nanti di kantor? Lebih baik urungkan niatmu."
"Sudahlah, lebih baik kau siapkan kemeja dan jas untukku. Aku akan mencuci muka," timpal Josh memerintah dan segera melepaskan diri dari genggaman Evelyn, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tidak ada yang bisa Evelyn lakukan lagi selain menuruti. Meski ia sedikit khawatir dengan pria itu karena suhu badannya benar-benar sangat panas. Ia pun segera menyiapkan pakaian untuk Josh sebelum pria itu kembali dan marah jika belum disiapkan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Josh pun keluar dari kamar setelah berganti pakaian yang dipilihkan Evelyn. Wanita itu pun mengekor di belakangnya. Keduanya menuruni tangga dan menuju luar rumah.
Eric sudah berada di depan mobil menunggu kedatangan Josh. Setelah suaminya masuk, Evelyn pun segera mendekat pada Eric dan berbicara, "Tuan–mu itu sedang demam. Tolong awasi dia, karena dia tidak mau menunda meeting itu."
Eric mengangguk dan setelahnya segera masuk ke dalam mobil. Lalu, mobil pun meluncur meninggalkan Evelyn yang masih menatap kepergian mereka.
"Nona!"
Teriakan manja Nina mengejutkan Evelyn. Ia pun segera menoleh dan mendapati wanita itu sudah berada tidak jauh di belakangnya. "Ada apa, Nina?"
"Hmm... Saya sepintas melihat sepertinya ada yang sudah terbiasa melayani suami," ledeknya dengan menutup mulut sembari tersenyum.
"Apa sih, Nin. Aku hanya menjaganya sesuai permintaan ibu mertua," kilah Evelyn.
"Saya mencium bau-bau akan adanya perasaan cinta yang mulai tumbuh."
Lagi-lagi Nina meledek Evelyn. Wanita itu pun hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, "mencium bau gosong, Nina! Kau sedang masak kan?!"
Evelyn tersenyum simpul. Ia merasa terhibur dengan kelakuan Nina yang kadang seperti anak kecil itu. Evelyn pun segera kembali masuk ke dalam rumah dengan menghela napas, meski sedikit khawatir dengan keadaan Josh.
***
"Terima kasih, Tuan. Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik," ucap Josh dengan tersenyum dan menjabat tangan klien yang baru saja mengadakan meeting bersamanya.
Setelah meeting itu selesai. Josh pun kembali ke dalam ruangannya. Ia yang masih merasa sedikit pusing itu segera merebahkan diri di atas sofa dan membiarkan Eric mematung di sana.
"Tanya sekertaris Daddy–ku. Apa masih ada jadwal untuk hari ini," ucap Josh kemudian.
Eric mengangguk dan segera keluar untuk menanyakan pada sekertaris Tuan Luise. Sedangkan Josh ia merogoh ponselnya dan mulai menghidupkannya untuk melihat berita di media.
"Sepertinya wanita itu kembali mendapatkan mangsa untuk membersihkan namanya dengan uang," gumamnya dengan mendengus kesal.
__ADS_1
"Untung saja tidak jadi aku nikahi wanita itu. Bisa-bisanya aku tertipu," gerutunya lagi.
Tidak lama kemudian Eric pun datang. "Sepertinya tidak ada jadwal pertemuan lagi. Hanya ada sedikit dokumen yang harus diperiksa dan ditandatangani," ucapnya.
"Cari tahu semua hal tentang Evelyn."
Eric mengerutkan keningnya saat mendengar satu kalimat yang meluncur dari mulut pria dingin di hadapannya. Apa ia tidak salah mendengar? Atau ini efek dari demamnya sampai Josh melantur?
"Hah?" hanya itu yang keluar dari mulut Eric yang merasa bingung.
Kening Josh terlihat mengerut, ia mulai menatap Eric dengan tajam. "Kau tidak mendengar perintahku barusan? Aku mau kau mencaritahu lebih dalam tentang Evelyn! Kenapa responmu seperti itu, hah?!"
"E-eu... Maaf, Tuan. Saya kira tadi Saya salah dengar. Jadi Anda ingin Saya mencari informasi tentang Nona Evelyn?" tanya Eric kembali untuk memastikan.
Josh memutar bola matanya. Ia nampak sedikit kesal dengan sang asisten yang menurutnya sedikit lemot. "Iya! Apa perlu aku membuat pengumuman?!"
Eric mengangguk cepat dan segera menimpal. "Baik, Tuan. Saya akan mencaritahu semua hal tentang Nona Evelyn. Tapi, apa yang membuat Anda ingin mengetahui tentangnya, Tuan?" tanya Eric penasaran.
"Lakukan saja perintahku! Tidak perlu banyak tanya, sebelum kuhapus bonus untukmu!"
Mendengar itu Eric pun kembali menunduk dan segera berpamitan untuk pergi melaksanakan tugasnya.
Setelah kepergian Eric. Josh pun kembali meneruskan melihat-lihat foto pernikahannya bersama Evelyn yang berada di ponsel setelah tadi tidak sengaja mengunduh foto-foto itu di grup keluarganya.
Terlihat sudut bibirnya mulai terangkat. Ia mengulas senyum saat mencoba memperbesar foto dirinya yang tengah bersama Evelyn. "Kau cantik juga saat tersenyum."
Tanpa sadar Josh telah memuji Evelyn, hingga beberapa menit kemudian ia segera memukul bibirnya. "Astaga, Josh! Apa yang kau katakan barusan?!"
Demi menjaga kewarasannya ia segera mematikan ponsel agar tidak terus melihat foto-foto itu. Lalu, mulai memejamkan matanya. Tapi, kemudian ia kembali mengumpat!
"Sial! Kenapa saat menutup mata yang terlihat hanya wajah Evelyn?!
__ADS_1