Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 42 : Berita Membahagiakan


__ADS_3

Sebulan telah berlalu. Hari demi hari telah mereka lewati dengan tenang tanpa gangguan Sarah bahkan kedua orang tua Evelyn. Josh dan Evelyn pun tampaknya semakin bahagia, apalagi Josh sangat senang saat pembangunan hotel bintang lima hasil rancangannya sudah berjalan hampir 30%.


Seperti biasa, pagi itu Evelyn harus membangunkan suaminya. Namun, kali ini ada yang berbeda dengan Evelyn, ia telah menyiapkan sesuatu. Sebuah kotak kado berukuran kecil yang telah dirinya hias dengan pinta berwarna pink dan biru.


Evelyn tersenyum saat hendak membangunkan suaminya itu. Ia mulai membangunkan Josh dengan mencubit pipinya, lalu beralih ke hidung dan kali ini Evelyn menggelitik perut Josh.


Hingga pria itu mulai menggeliat, sedikit mengerang dan meregangkan otot-ototnya. "Sudah jam berapa ini, Sayang?" tanya Josh dengan suara parau, khas orang bangun tidur.


"Masih jam 5, Sayang. Tapi kau harus bangun, ayo!" bisik Evelyn sembari membukakan selimut tebal itu agar suaminya segera bangkit.


Josh pun bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk. Lalu, mengucek kedua matanya sembari mengerucutkan bibirnya. "Kenapa kau membangunkan aku jam segini, Sayang? Tidak seperti biasanya," tanya Josh sambil menguap karena masih mengantuk.


"Ada sesuatu untukmu, tapi kau harus memejamkan mata lebih dulu," ucap Evelyn sembari mengulum senyum.


Josh mengernyit, mencoba menebak apa yang ingin istrinya berikan itu. Ia pun menolak untuk menutup mata, "tidak mau."


"Kenapa kau tidak mau memejamkan mata?" tanya Evelyn dengan kening yang mengerut dan bibirnya yang mengerucut, tanda cemberut.


Melihat istrinya terlihat cemberut seperti itu, Josh pun tersenyum penuh arti. "Cium dulu pipiku. Kau belum memberikan morning kiss untukku, Sayang. Aku butuh itu," ucap Josh dengan manja.


Evelyn spontan mencubit pelan suaminya itu, hingga Josh meringis. "Sakit, Sayang. Apa kau tega tidak akan memberikan suamimu ini energi? Kau harus mencium pipiku, agar aku semangat," ucap Josh merajuk seperti anak kecil di hadapan Evelyn.

__ADS_1


"Katanya kau mafia. Tapi kenapa bertingkah seperti anak kecil? Kau tampak tidak seperti mafia yang aku bayangkan di luar sana."


Mendengar itu Josh memutarkan bola matanya sembari menghela napas. "Apa aku harus kejam kepadamu? Apa kau ingin melihatku bermain senjata api? Aku hanya tidak mau membuatmu takut. Lagi pula, aku sudah berjanji pada Daddy tidak akan membuatmu menangis," tutur Josh.


"Hmm... Baiklah, sepertinya mafia yang satu ini memang terlihat berbeda," ucap Evelyn sembari mencolek hidung suaminya itu tampak gemas.


"Ayo, kau harus mencium–ku dulu, baru aku akan memejamkan mata!" desak Josh.


Evelyn pun segera mendekat dan mencium pipi suaminya itu, dan bukan hanya bagian kiri, tetapi pipi kanannya pun Evelyn cium.


"Nah, sudah. Seharusnya kau mendapatkan double energi, karena aku mencium–mu dua kali."


Josh tampak tersipu malu, lalu segera mengangguk dan memejamkan matanya. "Ayo, apa yang ingin kau berikan, Sayang. Aku sudah memejamkan mata," ucapnya.


"Buka matamu," kata Evelyn sembari malu-malu setelah memberikannya.


Josh mengerutkan keningnya. Ia bahkan tidak menyangka jika Evelyn akan memberinya sebuah kotak. Ia mengira jika Evelyn akan memberikannya ciuman mesra saja.


"Apa ini, Sayang?" tanya Josh yang sudah penasaran dan mengamati kotak itu.


"Buka saja. Semoga apa yang ada di dalamnya membuatmu bahagia, Sayang. Hanya itu yang bisa aku berikan untukmu," tutur Evelyn.

__ADS_1


Josh pun segera membuka kotak itu dan terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. "Sayang? Apa ini sungguhan? Kau? Kau hamil, Evelyn?"


Evelyn tersenyum dan segera mengangguk. Lalu Josh pun segera memeluk istrinya itu dengan erat, dan kembali mengamati sebuah alat tes kehamilan. Ia tidak menyangka jika Evelyn akan hamil secepat itu.


Josh melepaskan pelukannya dan segera mengusap lembut perut sang istri yang tampak masih rata itu. "Sudah berapa lama?"


"Baru satu bulan, Sayang. Kemarin saat aku ke rumah Mommy, aku tidak sengaja mual ketika mencium aroma sebuah masakan. Itu tampak aneh, karena tidak seperti biasanya. Lalu, Mommy segera mengajakku untuk pergi memeriksanya ke dokter, dan kami mendapatkan kabar baik ini," jelas Evelyn.


"Daddy sudah tahu tentang kehamilan ini? Kenapa semalam kau tidak bilang padaku?"


"Mungkin Mommy sudah mengatakannya sekarang. Maaf, karena aku ingin memberimu kejutan," jawan Evelyn.


"Ini berita yang sangat membahagiakan, Sayang. Aku tidak menyangka jika kau akan hamil secepat ini. Aku berjanji akan menjagamu dengan baik, bahkan kau seharusnya sekarang sudah tidak boleh ke mana pun. Eric harus aku perintahkan menjagamu di sini, bukan hanya Nina Saja."


"Kau jangan terlalu protektif, Sayang. Aku tentu akan menjaga anak kita dengan baik. Jadi, kita sama-sama menjaganya, ya," ucap Evelyn dengan tersenyum.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita. Apakah dia akan setampan aku? Atau dia akan secantik kau, Sayang? Kapan kita bisa melihat jenis kelaminnya?"


"Masih lama, Sayang. Mungkin saat kehamilanku menginjak 4 bulan atau 5 bulan, kita sudah bisa melihatnya saat pemeriksaan di rumah sakit. Kau harus sabar untuk itu," jawab Evelyn sembari mengusap lembut bahu suaminya.


"Boleh kah hari ini aku libur pergi ke kantor? Rasanya aku ingin seharian bersamamu."

__ADS_1


Josh tampaknya lebih excited, dan Evelyn bersyukur karena suaminya sebahagia itu. Sampai ia tidak ingin bekerja untuk hari ini, Evelyn pun tampaknya tidak bisa menolak itu. Josh bahkan meminta Evelyn untuk meminta izin pada Tuan Luise agar Josh bisa berlibur sehari ini saja, dan, ya, sesuai dugaan, Tuan Luise tentu mengizinkannya.


__ADS_2