
"Tidak! Aku tidak memikirkannya. Sudahlah, aku ingin pulang!"
Josh segera bangkit dari kursinya. Ia meraih jas miliknya yang ada di punggung kursi, lalu memakainya dengan cepat. Matanya tetap menatap tajam ke arah Eric, bisa saja pria itu mentertawakan–nya. "Kau ikut denganku, atau aku pulang sendirian?!" tanya Josh dengan tegas.
"Masih ada yang harus saya urus di sini, Tuan."
"Oke," sahut Josh singkat. Ia pun bergegas keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju basemen tempatnya memarkirkan mobil.
Di dalam perjalanan ia mendapat telepon dari sang kakak. Dengan cepat Josh pun mengangkatnya karena takut ada hal penting.
"Ada apa, Kak? Apa terjadi sesuatu? Bagaimana kabar Daddy?" tanya Josh sembari meletakkan ponselnya di car holder dan menekan tombol loudspeaker.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin memastikan apakah perusahaan aman? Aku sedikit tidak percaya denganmu. Daddy sudah mulai ada perkembangan, tapi belum tahu kapan kami bisa membawanya pulang."
"Ayolah, Kak. Aku bukan anak kecil lagi yang sedang bermain-main. Aku serius menjaga perusahaan ini, dan terbukti kemarin aku telah memenangkan kerja sama dengan perusahaan luar negeri. Kalian tidak perlu khawatir," tutur Josh berusaha meyakinkan sang kakak bahwa dia benar-benar menjaga perusahaan.
"Bagus lah. Oh, Josh, Mommy katanya mau bicara," ucap Jesslyn.
"Hi, Josh. Bagaimana kabarmu? Kabar Evelyn juga bagaimana? Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanya Nyonya Irish di seberang sana.
Ah, Josh sendiri tidak pernah menyadari hal itu. Dirinya belum menyimpan nomor Evelyn di dalam ponselnya. Ia pun segera menjawab sekenanya, "aku baik-baik saja, Mom. Hanya demam saja kemarin, Evelyn juga baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa ponselnya tidak aktif."
"Kau demam, Josh? Lalu sekarang bagaimana? Kau masih demam?" tanya Nyonya Irish dengan nada khawatir.
"Sudah sembuh, Mom. Tidak perlu khawatir, lagipula Evelyn merawatku dengan baik. Jadi demamku cepat reda," sahut Josh dengan menenangkan sang ibu.
"Syukurlah. Untung saja Mommy memilihkan menantu yang tepat untukmu, dia baik dan telaten bukan?"
__ADS_1
"Iya, Mom. Sudah ya, Josh sedang dalam perjalanan untuk pulang," kata Josh mencoba mengalihkan pembicaraan sang ibu.
"Ya sudah, kau hati-hati ya, jangan mengebut. Mommy titip salam untuk Evelyn dan ingat Josh, perlakukan dia dengan baik!"
"Iya, Mom," sahut Josh mendengarkan nasihat sang ibu. Lalu, sambungan telepon pun terputus.
Hingga beberapa menit kemudian, Josh telah sampai di rumahnya. Ia pun segera masuk ke dalam dan memeriksa keadaan rumahnya yang terlihat sepi.
Tidak ada Evelyn, dan tidak ada para pelayan. Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, tapi keadaan rumahnya terlihat kosong. Ke mana mereka?
Josh memeriksa ke arah dapur, tidak ada siapapun. Karena merasa lelah, ia pun memilih segera naik ke lantai dua untuk masuk ke kamarnya untuk segera mandi agar bisa istirahat. Tapi, ia membutuhkan Evelyn untuk menyiapkan pakaian, karena ia sadar diri jika dirinya yang mencari pakaian tidur, tentu ia akan mengacak-acak seisi lemari itu.
Sebelum melangkah masuk ke kamarnya, ia berjalan lurus menuju kamar Evelyn dan melihat pintunya sedikit terbuka. Lalu, mencoba membuka pintu tanpa mengetuknya.
Alangkah terkejutnya, Josh melihat pemandangan yang dapat membangkitkan naluri seorang pria. Matanya melebar, pandangannya fokus pada Evelyn yang tengah berdiri baru saja keluar dari kamar mandi.
Tubuh seksinya hanya terbalut handuk, dengan tangannya yang tengah mengeringkan rambut memakai handuk dan paha putih mulus Evelyn membuat Josh harus menelan paksa saliva–nya. Ya, siapa yang tidak tergoda melihat seorang wanita di hadapannya dengan keadaan seperti itu. Semua pria pasti mempunyai pemikiran yang sama.
Josh berlari cepat menuju kamarnya karena takut ketahuan. Ia melepaskan pakaiannya dan segera masuk ke kamar mandi. Buru-buru Josh mengguyur seluruh tubuhnya agar tidak merasa kepanasan lagi. Tapi, tetap saja rasanya semakin gerah.
Wajah Evelyn memenuhi pikiran Josh. Bayangan tubuh Evelyn yang baru saja dirinya lihat pun membuat fokusnya buyar.
"Sial! Aku tidak ingin melakukan ini, tapi aku harus untuk melepaskan hasratku!" racau Josh.
Dengan perasaan yang menggebu, Josh pun melakukan solo karirnya dengan membayangkan tubuh Evelyn dan wajah cantiknya. Ia segera meletakan tangan di rudal miliknya. Dengan cepat ia menarik turunkan tangannya, dan berfantasi liar membayangkan tubuh seksi Evelyn dan bibir ranumnya itu.
"Eve!"
__ADS_1
"Argh..!"
Semakin cepat, Josh melakukannya sampai ia meledakan sesuatu dan menyebut nama wanita itu dalam pelepasannya, "Evelyn..."
Setelah merasa lega ia pun segera membersihkan diri dan bergegas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terbalut di pinggangnya. Namun, manik matanya membulat sempurna saat melihat Evelyn sudah berdiri di depan ranjang tengah meletakan pakaian tidur.
"Evelyn?"
Mendengar itu Evelyn segera berbalik. Lagi-lagi ia berteriak saat melihat Josh bertelanjang dadda dengan hanya handuk yang terbalut di pinggang.
"Berisik! Kau sudah melihatku seperti ini sekali, kenapa berteriak lagi. Harusnya kau sudah terbiasa karena bersamaku di rumah ini," kata Josh ketus, meski jantungnya tengah berdebar saat ini dan rasanya seperti akan meledak.
Baru saja dirinya berfantasi dengan membayangkan tubuh Evelyn. Kini, wanita itu sudah ada di hadapannya dan membuat dirinya sedikit salah tingkah.
"Kalau sudah, kau bisa keluar. Oh, tunggu. Tadi Mommy memberimu salam dan bertanya kenapa ponselmu mati?" tanya Josh sembari mendekat dan meraih pakaiannya.
Evelyn sedikit mundur. Tapi, harum tubuhnya yang beraroma lavender itu tercium oleh Josh dan hampir kembali membangkitkan naluri liarnya.
"Ponselku kemarin jatuh ke dalam kolam renang. Aku belum sempat memberitahu Eric untuk menggantinya dengan yang baru, jadi seharian ini aku tidak memegang ponsel," tutur Evelyn dengan menunduk dan sedikit membalikan tubuhnya untuk menghadap tembok.
"Biar aku yang memberitahu Eric nanti dan besok setelah pulang bekerja mungkin dia sudah membelikannya."
"Ah, iya. Terima kasih, aku akan pergi ke dapur. Jika perlu apa-apa panggil saja," ucap Evelyn sembari menunduk dan berlalu pergi.
Setelah Evelyn menutup pintu kamar. Josh baru bisa bernapas dengan lega, ia segera memakai pakaiannya dan merebahkan diri di atas ranjang.
"Sial! Kenapa aku melakukannya dengan membayangkan wajah Evelyn. Saat bersama Sarah atau dengan wanita lain aku tidak pernah seperti ini," gumamnya dengan mengacak rambut.
__ADS_1
Josh mulai memejamkan matanya berharap bisa beristirahat dengan tenang. Tapi, sialnya bayangan Evelyn terus berputar di kepalanya.
"Evelyn, meresahkan!"