Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 35 : Jalan-jalan


__ADS_3

Siang itu Josh dan Evelyn keluar dari kamar. Keduanya merasa sangat lapar dan hendak menuju lantai bawah untuk makan. Tetapi, kedua manusia itu tampak terkejut saat melihat Nina dan Eric terlihat keluar dari kamar yang sama.


"Eric, Nina!"


Keduanya tampak panik saat terpergok oleh tuan dan nyonya–nya karena keluar dari kamar yang sama. Entah apa yang harus mereka katakan sebagai alasan. Meski pasti mereka tidak akan percaya.


"Kau sudah berani, Eric?" tanya Josh dengan alis yang terangkat sebelah. Sedangkan Evelyn, ia tengah menahan tawanya kala melihat wajah malu Nina yang dia benamkan di punggung Eric.


"Maaf, Tuan, Nyonya," ucap Eric menunduk.


"Sialan kau, Eric! Sudah bisa memanggil istriku Nyonya saja. Kemarin-kemarin kau masih memanggil Nona," cibir Josh.


"Sekarang sudah resmi kan, Tuan? Tuan Josh dan Nyonya Evelyn." Eric menahan tawanya melihat sepasang suami istri itu.


"Sudahlah. Ayo kita makan," ajak Evelyn yang sudah sangat lapar.


Mereka pun segera berjalan menuju restoran di lantai bawah hotel tersebut. Hari ini Josh tidak ada jadwal apa-apa. Jeff menunda pemberangkatan menuju Venesia, karena ada acara mendadak dengan keluarganya.


Akhirnya, setelah berunding, Josh pun akan membawa Evelyn untuk berjalan-jalan menikmati wisata terbaik di kota Roma. Apalagi setelah mendengar Evelyn berkata ingin pergi ke Colosseum.


Kini, Evelyn memindahkan semua pakaiannya ke kamar Josh, sesuai dengan permintaan suaminya itu. Setelah mandi dan bersiap-siap, Evelyn dan Josh pun segera keluar.


Mereka berangkat untuk berjalan-jalan di sekitaran colosseum dan tempat wisata lainnya.


***


Nina dan Eric sudah seperti fotographer yang harus memotret setiap momen berharga dari sepasang suami istri itu.


Evelyn terlihat lebih ceria kali ini. Bahkan mungkin sangat-sangat bahagia. Ia bisa berjalan-jalan di kota Roma. Kota yang saat itu pernah diimpikannya bersama teman-teman sekolahnya.


Pikirnya, ia harus berterima kasih pada suaminya. Karena Josh telah mengajaknya untuk pergi ke Roma, dan ya di sini jugalah ia dan Josh akhirnya resmi menjadi sepasang suami-istri. Meski sudah menikah 4 bulan lalu.


Nina kemudian mendekat, saat Josh tengah mengangkat teleponnya. Wanita itu berbisik pada Evelyn. "Apa kataku, Nona. Eh, Nyonya... Anda dan Tuan pasti akan berbulan madu di sini."


Evelyn tersenyum malu. Bisa Nina lihat pipi wanita itu seketika memerah. Ia pun tertawa melihat reaksi alami sang Nyonya.


"Stop, Nina!" Evelyn seketika mengerutkan keningnya. "Apa-apaan tadi kau keluar dari kamar yang sama dengan Eric? Jangan bilang kau ikut berbulan madu seperti kami?" sambung Evelyn bertanya.

__ADS_1


Nina seketika menghentikan tawanya dan menutup wajah karena malu. Ia tidak munafik, karena masih mencintai Eric dan menerima kembali pria itu. "Maaf, Nyonya," ucapnya menunduk.


"Nah, iya kan! Kau ternyata kembali ke dalam pelukan Eric!"


Nina mengangkat kepalanya dan menatap bingung. "Anda tahu tentang hubungan Saya dan Eric, Nyonya?" tanya Nina.


"Gelagat kalian itu tidak bisa disembunyikan, Nina. Dan, aku tahu selebihnya dari suamiku. Barusan dia sedikit bercerita jika kau pernah menjalin hubungan dengan Eric. Hanya saja, sedang putus, kan?"


Nina mengangguk samar. "Iya, Nyonya. Tapi, aku masih tidak yakin dengannya."


"Kenapa, Nina?"


"Karena keluarga Eric mungkin tidak akan pernah setuju dengan Saya, yang hanya seorang pelayan rumah," tutur Nina.


Bisa Evelyn lihat, wajah wanita itu terlihat murung, sangat jauh dengan beberapa menit lalu yang terlihat ceria.


"Aku yakin, Eric adalah pria baik. Jadi percayalah padanya, ya. Sudah, kau harus ceria seperti biasa lagi," ucap Evelyn sembari menepuk pundak Nina.


Nina pun tersenyum dan kembali menghampiri Eric karena Josh sudah selesai meneleponnya.


"Tidak. Kau terlalu percaya diri," jawab Evelyn sembari terkekeh. "Kami hanya membahas Eric. Coba kau beritahu dia, Sayang. Jangan permainkan Nina," sambungnya.


"Ah, soal dia. Sejauh ini aku tidak melihatnya mempunyai wanita lain, selain berhubungan dengan Nina. Jadi dia tidak akan mempermainkannya," tutur Josh.


Evelyn pun tersenyum dan menghela napas. Lalu kembali bertanya, "siapa yang menelpon mu? Sepertinya terlihat serius tadi."


"Kakak. Dia memberi kabar, jika Daddy sudah semakin membaik dan mungkin seminggu lagi akan segera kembali dari Canada," jelas Josh.


"Syukurlah, Sayang. Akhirnya Daddy sudah semakin membaik dan akan segera kembali. Aku senang mendengarnya," ucap Evelyn tersenyum.


"Kau kenapa cantik sekali? Ataukah aku yang baru menyadarinya?"


"Pertanyaan macam apa itu?" Evelyn terlihat mengulum bibirnya menahan senyum. Ia merasa salah tingkah karena dipuji oleh suaminya sendiri. Wajar saja, karena ini pertama kalinya ia mendengar pujian dari Josh.


"Aku merasa bodoh karena sempat menyia-nyiakanmu, kemarin. Tapi, sekarang aku tidak akan melepaskan kau dari genggamanku, Sayang," ucap Josh dengan menangkup wajah Evelyn dan mencium bibirnya.


"Yes, dapat!" seru Nina yang baru saja memotret momen spesial.

__ADS_1


Eric yang berada di sampingnya hanya menggelengkan kepala melihat wanita itu excited sendiri. Padahal, seharusnya mereka berdua juga bisa membuat momen berharga.


"Nina."


"Hmmm?" Nina mendeham sembari melihat foto-foto dalam kamera itu tanpa mengalihkan atensinya.


"Nina lihat aku sebentar," ucap Eric.


"Iya, Apa? Bicara saja, aku sedang melihat foto-foto Tuan dan Nyonya."


Karena merasa Nina tidak membalikan badannya. Terpaksa Eric sendiri yang meraih tubuh wanita itu dan membalikkannya agar melihat dirinya.


Nina gelagapan, karena malu dilihat oleh Tuan dan Nyonya–nya. "Lepaskan, Eric. Aku malu!"


"Dengarkan aku dulu," ucap Eric dengan tangannya mulai meraih tangan Nina. "Nina, mau kan kau menjadi pendampingku? Kita berjuang kembali untuk memperjuangkan cinta kita. Aku tahu kau masih mencintaiku. Jadi, mau kan kau menikah denganku?"


Manik mata Nina membulat, bibirnya spontan membentuk huruf o. Ia tidak menyangka jika Eric akan mengatakan hal itu di sini, di kota Roma.


"Terima saja, Nina," ucap Evelyn mendekat setelah menyaksikan adegan romantis itu.


"Eric. Kau rupanya lebih pintar dariku, ya," tambah Josh.


Ketiganya tampak tertawa, sedangkan Nina ia masih merasa bingung harus menjawab apa.


"Sayang. Mau kan kau menjadi Mommy dari anak-anakku? Mau kan kau melewati setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun bersamaku. Bahkan sampai kita menua bersama," ucap Josh yang sudah berlutut dengan satu kaki di depan Evelyn.


"Josh! Nina baru saja dilamar oleh Eric. Kita sudah menikah," ujar Evelyn yang terkejut.


Sepertinya Josh memang tidak mau kalah oleh Eric.


"Ayo, Sayang. Kau mau kan hidup menua bersamaku?" desak Josh yang ingin mendapat jawaban.


"Iya, Sayang. Aku siap menua bersamamu," jawab Evelyn dengan tersenyum.


"Ayo Nina, jawab cepat pertanyaan Eric. Sebelum pertanyaan itu dijawab oleh orang lain," desak Evelyn, setelah memparodikan adegan romantis di depan wanita yang terlihat masih bingung itu.


Nina menatap Eric secara mendapat. Ia menghela napas dan segera menjawab, "Iya, Eric. Aku menerimamu kembali, dan akan berjuang untuk cinta kita ke depannya."

__ADS_1


__ADS_2