Terpaksa Menikahi Mafia Dingin

Terpaksa Menikahi Mafia Dingin
Bab 23 : Kondisi Tuan Luise


__ADS_3

Mobil putih itu berkelok di jalanan curam dengan cepat. Di belakangnya terdapat mobil hitam yang berusaha menyalip.


"Ada apa dengan mobil di belakang, Markus! Sepertinya tengah mengintai kita," tanya Tuan Luise dengan kepanikannya.


Markus terus menyetir menghindari mobil hitam itu. Sepertinya memang benar dugaan Tuan Luise, tengah ada yang mengikuti mereka. "Saya tidak tahu, Tuan. Pegangan, Tuan. Saya akan mengebut," ucap Markus.


Kedua mobil itu mencapai kecepatan yang tidak semestinya. Jalanan memang terlihat lengang karena masih terlalu pagi, tapi tentu tidak bagus di jalanan curam itu untuk menaikan kecepatan kendaraan. Hingga mobil putih yang ada di belakang semakin mempercepat kendaraannya dan menghantam mobil hitam yang ditumpangi Tuan Luise.


Merasa mobil hitam itu belum oleng. Sekali lagi mobil putih itu menghantamnya dengan keras.


Brak!


Mobil hitam itu menabrak sebuah pembatas jalan dengan kencang dan mengakibatkannya terbalik.


Setelah melihat mobil hitam itu terbalik. Pengendara mobil putih pun dengan cepat pergi dari lokasi.


Markus setengah sadar segera berusaha keluar dari dalam. Tubuhnya sudah penuh luka, ia gegas melihat sang tuan yang ternyata terlempar ke luar.


"Ah... Tuan, apa Anda bisa mendengar suara Saya?" desah Markus sembari memeriksa keadaan Tuan Luise.


Merasa tidak ada respon apapun, Markus bersusah payah merogoh ponselnya dan segera menelepon Eric. "Halo, Eric. Tolong... Saya dan Tuan Luise kecelakaan!"


Eric terkejut di sebrang sana. "Anda di mana? Saya akan segera meluncur!"


Setelah mendapat jawaban, Eric pun segera bergegas menuju lokasi tempat di mana Tuan Luise dan Markus berada, sekaligus memanggil petugas medis.


Sesampainya di sana, Tuan Luise dan Markus pun segera dibawa oleh pihak rumah sakit. Eric dan beberapa anak buah yang lain segera memeriksa mobil. Ia mencabut rekaman dasbor yang ada di mobil untuk diperiksa. Lalu, setelah itu mereka pun mengamankan mobil yang rusak cukup parah itu.


Sesampainya di rumah sakit Tuan Luise dan Markus segera ditangani. Eric pun berusaha menghubungi Nyonya Irish dan memberitahu kecelakaan itu.


***


Evelyn yang mendapat kabar itu, dengan cepat berlari menuju lantai dua. Ia harus memberitahu Josh. Belum sempat mengetuk pintu, rupanya Josh lebih dulu membukanya.


Dengan kening yang mengerut Josh pun bertanya, "kenapa wajahmu panik begitu, Evelyn?"

__ADS_1


"Daddy!"


"Ada apa dengan Daddy, Evelyn! Bicara yang benar!" protes Josh.


"Daddy kecelakaan!"


"Apa?!" Josh terkejut mendengar pernyataan Evelyn, ia kembali bertanya. "Siapa yang memberitahumu? Lalu di mana Daddy sekarang?"


Belum sempat Evelyn menjawab, tiba-tiba Eric menghubungi. Josh pun segera mengangkat telepon itu dan menanyakan kebenaran tentang sang ayah. "Apa yang terjadi, Eric? Apa benar Daddy kecelakaan?"


Josh masih menatap Evelyn tidak percaya, takut wanita itu berbohong. Lalu semakin mengerutkan keningnya setelah mendapat jawaban dari Eric.


"Ikut denganku!" ajak Josh setelah mematikan teleponnya dengan Eric.


Keduanya pun segera menuruni tangga dan bergegas menuju mobil. Nina yang melihat itu ingin bertanya, tapi Evelyn segera menggelengkan kepalanya memberi isyarat tidak apa-apa.


Josh dan Evelyn pun segera masuk ke dalam mobil. Untuk pertama kalinya, Josh masuk ke dalam mobil dengan Evelyn yang ada di sampingnya. Ia mulai menghidupkan mobil dan mengemudikannya menuju rumah sakit yang telah Eric sebutkan.


Keduanya tampak gelisah, ditambah Josh mengemudikan mobil dengan cepat. Itu semakin membuat Evelyn khawatir dan menegur, "pelan-pelan saja! Kau tidak perlu mengebut seperti ini!"


"Iya tapi bagaimana jika kita kecelakaan juga karena kau terlalu mengebut? Daddy sudah ditangani, kau jangan menambahkan kepanikan dengan mengebut seperti ini. Aku belum mau mati!" pekik Evelyn yang dengan kuat mencengkeram kursi mobil.


Dengan mendengus, Josh pun menurunkan kecepatan kendaraannya. Ia mencoba menuruti Evelyn, karena tidak mau terjadi sesuatu juga.


Sesampainya di rumah sakit. Keduanya segera berlari menuju emergency room.


"Bagaimana keadaan Daddy?" tanya Josh menghampiri sang ibu yang sudah berada di sana.


"Masih ditangani dokter, Josh. Ibu khawatir dengan keadaan Daddy... Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Nyonya Irish mulai kembali menangis.


Josh segera merengkuh sang ibu dan memeluk wanita paruh baya itu. "Mommy tenang. Josh ada di sini, dan Josh yakin Daddy tidak akan kenapa-kenapa," ucapnya.


"Apa yang terjadi Eric?" tanya Evelyn mendekati pria itu.


Eric menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Saya belum memastikan apa yang terjadi. Tapi, Saya sudah memegang kamera dasbor mobil. Sepertinya bukan kecelakaan biasa, karena ada jejak kendaraan lain di sana dan bekas hantaman mobil lain di belakang mobil yang dikendarai Tuan," jelasnya.

__ADS_1


Mendengar itu Josh melepaskan pelukannya dari sang ibu. Lalu mendekati Eric dan bertanya, "apa seseorang mencoba mencelakai Daddy, Eric?"


"Sepertinya begitu, Tuan. Saya akan mencoba menyelidikinya dan nanti akan meminta keterangan Tuan Markus," jawab Eric sekenanya. Karena ia juga belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi.


"Mom. Apa Daddy mempunyai seorang musuh?" tanya Josh saat membalikan tubuhnya menghadap sang ibu.


Nyonya Irish ragu. Karena ia tidak pernah mengetahui tentang bisnis suaminya selain perusahaan dan kelima kasino itu. Apalagi ia tidak pernah mendengar suaminya bermusuhan dengan pengusaha lain.


"Mommy tidak tahu, Josh. Bisa saja Daddy mempunyai musuh yang diam-diam mulai menyerangnya. Mommy takut," resah Nyonya Irish dengan raut wajah gelisah.


"Mommy tenang saja. Selama ada Josh, kalian akan baik-baik saja. Bahkan jika benar ada yang berusaha mencelakai Daddy, maka aku yang akan maju lebih dulu!" tegas Josh berusaha meyakinkan sang ibu.


Dua jam berlalu. Karena kecelakaan yang cukup parah, dokter memvonis Tuan Luise mengalami kelumpuhan otak dan mengakibatkan pria paruh baya itu harus ditangani dengan intensif.


Nyonya Irish menangis pilu saat mendengar pernyataan sang dokter. Ia meminta perawatan yang lebih bagus dan rela mengeluarkan banyak uang demi kesembuhan suaminya.


"Kita cari rumah sakit terbaik, Mom. Aku akan menghubungi Kakak."


Ucapan Josh berhasil membuat Nyonya Irish menoleh dan menatapnya tajam. "Apa kau bilang, Josh?"


"Mom. Demi Daddy, kita memerlukan Kakak, karena dia pasti tahu yang terbaik. Jadi, izinkan aku menghubungi Kakak, ya?" bujuk Josh dengan memohon.


Ya, Josh bukanlah anak satu-satunya dari Nyonya Irish dan Tuan Luise. Ia mempunyai seorang kakak perempuan yang berusia dua tahun di atasnya. Sayang, karena keegoisan keluarganya, sang kakak terpaksa harus keluar dari rumah karena tidak mau di jodohkan tiga tahun lalu.


"Memangnya kau tahu di mana Kakakmu? Bukankah Daddy sudah melarang untukmu agar tidak berhubungan lagi dengan Jesslyn?" tanya Nyonya Irish.


Josh menghembuskan napas pelan. "Maaf, Mom. Aku selalu mencaritahu tentang Kakak, dan kami selalu bertukar kabar. Aku akan menghubunginya sekarang," ucap Josh.


Nyonya Irish tidak lagi berbicara. Mungkin, Josh ada benarnya, ia harus menurunkan egonya demi kesembuhan sang suami. Karena bagaimana pun, Jesslyn adalah seorang dokter.


"Di mana dia saat ini, Josh?" tanya Nyonya Irish. Sudah lama ia tidak mengetahui kabar sang anak, karena suaminya selalu melarang.


"Kakak sudah menjadi dokter terbaik di California, Mom. Dia sukses menjadi wakil direktur di sebuah rumah sakit ternama," jelas Josh. Lalu, ia pun mencoba menghubungi sang kakak dan sedikit menjauh dari ibunya.


Evelyn yang baru mengetahui itu mencoba mendekati sang mertua. Ia merangkul Nyonya Irish dan mengusap lembut lengannya untuk sekedar menguatkan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2