
Setelah berita kehamilan Evelyn sampai di telinga Tuan Luise. Pria itu dengan cepat mengajak istrinya, untuk menemui sang menantu.
Nyonya Irish mengatakan untuk memberi hadiah pada menantunya itu. Lalu, keduanya pun berangkat menuju kediaman Josh, tetapi berhenti dulu di sebuah toko. untuk membeli hadiah pada Evelyn.
"Kau akan membeli apa, Sayang?" tanya Tuan Luise yang berjalan dipapah oleh istrinya itu.
"Aku mungkin akan memberi hadiah pakaian hamil padanya, lalu membeli tas mewah untuk Evelyn. Bagaimana? Apa ide–ku bagus?"
Mendengar itu Tuan Luise segera mengangguk dan menjawab, "sudah bagus. Ayo cepat agar kita segera sampai di rumah Josh!"
Setelah kurang lebih lima belas menit Nyonya Irish memilih pakaian dan tas, keduanya pun segera keluar dari toko. Tuan Luise bahkan tidak sabar untuk segera bertemu dengan menantunya itu.
Sesampainya di rumah Josh. Markus segera membukakan pintu untuk Tuan Luise dan Nyonya Irish. Mereka pun segera berjalan masuk ke dalam rumah setelah dibukakan pintunya oleh Nina.
Di dalam, Eric sudah menunggu dan segera mengajak keduanya untuk menuju lantai dua menemui sang pemilik rumah.
__ADS_1
Eric membantu Tuan Luise untuk berjalan di tangga, karena lift di rumah Josh tengah rusah dan belum sempat diperbaiki.
Sesampainya di lantai atas. Mereka pun disambut oleh Josh dan Evelyn yang segera memeluk masing-masing dari mereka.
"Selamat ya, Evelyn. Akhirnya kau akan memberikan kami cucu pertama," ucap Tuan Luise sembari tersenyum.
"Sekali lagi selamat ya, Sayangku, menantu manisku, Evelyn. Ini Mommy bawa hadiah untukmu," ucap Nyonya Irish sembari memberikan dua paper bag berukuran besar.
Evelyn segera meraih paper bag itu dan melihatnya, "apa ini, Mom? Kenapa repot-repot memberiku hadiah?" tanyanya.
Evelyn tersenyum dan melirik ke arah suaminya itu. "Belum, Mom. Aku tidak tahu kapan dia akan memberikan aku hadiah," jawabnya sedikit berbisik.
"Josh, kau sudah mempersiapkan hadiah untuk istrimu belum?" tanya Nyonya Irish pada Josh.
"Sudah aku persiapkan, Mom. Tapi tentunya nanti akan aku beritahu dia sendiri sembari melihat hadiahnya," jawab Josh tersenyum.
__ADS_1
"Ah, iya. Sepertinya Daddy juga ingin memberimu hadiah, Evelyn." Nyonya Irish mengedipkan sebelah matanya dan segera menyenggol sang suami.
Tuan Luise menghela napas. Ia segera menatap Evelyn dan Josh lalu mulai berbicara, "Josh, Evelyn. Seperti yang sudah Daddy katakan, jika Daddy sangat bahagia atas berita kehamilan ini. Maka tanpa banyak berbicara, Daddy akan memberikan saham atas nama Evelyn di Dexter Corporation."
Mendengar itu, manik mata Josh membulat. Ia sempat menoleh pada Evelyn, dan segera mendekat pada sang ayah. "Dad. Apa Daddy bersungguh-sungguh? Daddy serius akan memberikanku saham?" tanya Josh memastikan.
Ia juga menatap sang ibu yang tersenyum sembari mengusap pundaknya. Lalu, Tuan Luise pun segera menjawab. "Iya, Josh. Daddy bersungguh-sungguh, tapi tentu saja itu atas nama menantuku. Sebagai hadiah atas kehamilannya. Nanti, saat kalian sudah bisa melihat jenis kelamin bayi itu, Daddy akan memberikan hadiah lain kepada kalian berdua."
"Dad!"
Josh segera memeluk sang ayah, karena merasa bahagia telah diberi saham sebagai hadiah atas kehamilan istrinya itu. Lalu, ia pun memeluk ibunya dan setelahnya ia memeluk Evelyn sembari mencium mesra perut istrinya itu.
Mereka tampak sangat bahagia dengan berita kehamilan itu, juga atas saham yang diberikan Tuan Luise. Hingga sebuah notifikasi pesan di ponsel Josh membuat dirinya terkejut.
Josh pun sedikit menjauh dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan. Keningnya pun seketika mengerut ketika membaca isi pesan itu.
__ADS_1
"Sial! Aku bahkan hampir lupa kepadanya. Bagaimana ini? Bagaimana jika dia benar-benar nekat datang?"