
...****************...
Sambil meregangkan kakinya di atas sofa dengan anggun ,Caitlyn menyesap sebuah teh hangat yang dibuatkan oleh salah satu maid.
Dengan sebuah laptop dengan logo apple setengah gigit matanya fokus pada layar itu, jari-jarinya menari dengan anggun diatas matras hitam yang terdapat huruf-huruf dan angka .
tok tok tok
pintu kamar diketuk dari luar membuat Caitlyn mengangkat kepalanya dan berniat turun dari sofa.
"Biar aku saja,kau pakai ini." titah Arsal seraya melemparkan sebuah cardigan panjang untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan baju tidur.
Caitlyn tak protes ,dia memakainya lalu kembali fokus pada layar komputernya.
Pintu kamar terbuka ,Arsal masuk dengan seorang lainnya yang mengekorinya. Keduanya duduk di sisi lain sofa dengan berkas-berkas yang Caitlyn tidak tahu.
"malam nyonya."
Caitlyn tersenyum manis "malam Fero."
"Aku diluar saja ,kalian berbicara saja disini." kata Caitlyn berniat pergi kebalkon karena tak mau mengganggu keduanya
"Tak perlu,kau istriku ." ujar Arsal seraya menekankan aksen di kata Istri
Caitlyn menghebuskan nafasnya dan kembali duduk di sofa sedangkan Arsal dia tengah membahas suatu proyek dengan Fero yang kurang dia pahami .
Dia hanya mendengar sayup-sayup Bali.Diam diam dia menggunakan kupingnya untuk mendengar apa yang di bicarakan oleh keduanya.
"Dia akan ke Bali? ." batin Caitlyn
Drtt drtt drtt
Buk
Aw
Caitlyn menatap suaminya dengan kesal "Apa hah !." pekik Caitlyn galak
"Ponselmu berbunyi sedari tadi honey."jawab Arsal dengan lembut membuat Caitlyn geli
Buru-buru dia mengambil ponselnya dan mengerutkan keningnya ketika melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini.
Caitlyn turun dari sofa dan pergi ke balkon kamarnya.
...Hansel Call...
^^^"Ada apa?"^^^
"Marvin mencarimu."
^^^"Kenapa?."^^^
Terdengar decakan dari sebrang sana
"Tentu ingin bertemu denganmu."
^^^"Sekarang kau ketuanya kau Hans, jangan melibatkan aku dulu."^^^
"Ini lain,dia ingin meminta bantuanmu,karena dia tak mempercayaiku."
^^^"Tentang apa?."^^^
"Mabella Alodie."
^^^"Ada apa dengannya?."^^^
"Bisa kita bertemu?."
Caitlyn terdiam cukup lama untuk berfikir
^^^"Dua hari aku tunggu kalian dua hari, di Firenze."^^^
Caitlyn mematikan sambungan teleponnya ,sedikit berfikir mengenai Mabella kembaran Marvin salah satu orang penting dalam dunia lainnya.
Caitlyn kembali membuka ponselnya dan menelpon Aileen yang beruntungnya di jawab dengan cepat .
__ADS_1
...Aileen call ...
"Ada apa El?."
^^^"Marvin,Mabella Hansel bakalan datang kesini lusa." ^^^
"Waw,ada apa?."
^^^"About Mabella ."^^^
"Jadi ?."
Caitlyn memutar bola matanya malas
^^^"Kau memang menyebalkan Aileen,tentu saja kau ikut denganku kita akan bertemu mereka.Kurasa ini hal yang penting."^^^
"Baiklah, sudah dulu ya.Ada urusan dengan suamiku yang paling tampan bye quuen."
Aileen mematikan sambungan teleponnya membuat Caitlyn memutar bola matanya malas.
dia tahu 'urusan penting '. yang di maksud anak itu.Caitlyn tidak ingin otaknya teracuni oleh ibu-ibu itu ,sudah cukup dia seberani ini saja jangan sampai bablas.
Caitlyn menggelengkan kepalanya ,memutar tubuhnya berniat untuk kembali kekamar tapi wajahnya malah membentur dada bidang suaminya yang tiba-tiba ada dibelakangnya.
"Aw."pekik Caitlyn mengelus jidatnya
"Kenapa kau disini hah?.,tanya Caitlyn dengan sedikit menaikan suaranya
"Kau lama sekali, ayo ikut ada yang ingin dibicarakan."
tangannya di genggam dan diseret oleh Arsal kembali menuju sofa yang masih terdapat Fero asisten suaminya.
"Kau ingin minum Fero?."tanya Caitlyn
"Tidak perlu nyonya."
"Aku ingin kopi."ujar Arsal membuat Caitlyn menyipitkan matanya
"Aku tidak bertanya padamu,cepat katakan ada apa?."Caitlyn duduk begitu saja di sofa yang berhadapan dengan Fero
Jika saja dia bisa,dia akan menendang gadis itu dengan keras tapi sayangnya dia tidak bisa.
Arsal menatap Caitlyn dengan serius "Kita akan ke Bali,untuk menyelesaikan proyek itu dan juga yang lainnya."
Caitlyn manggut-manggut "jadi?."tanya Caitlyn mengangkat alisnya sebelah
"Kau harus ikut." kata Arsal membuatnya terdiam
Dia meneguk ludahnya kasar, dia masih belum berani untuk kembali kenegaranya dia masih takut .
"Kenapa aku harus ikut?."tanya Caitlyn
Fero dan Arsal saling bertatapan seolah sedang berkomunikasi dengan kontak mata membuat Caitlyn bingung.
"Untuk menghadapi tuan besar kembali nona."ujar Fero
"TIDAK !."
Caitlyn bangkit dengan marah "Apa kalian ingin mengembalikanku lagi padanya hah? tidak aku tidak mau ! ."
Caitlyn pergi meninggalkan kamar itu dan kedua pria tadi di dalam kamar .Caitlyn turun menuju taman belakang yang terdapat bunga-bunga indah .
Dia menyusuri taman bunga itu ,dan duduk di salah satu kursi disana sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan dengan indah di langit hitam .
Dia mengusap wajahnya dengan kasar ,bayangan beberapa bulan yang lalu kembali menghantuinya.
CTAS
suara petasan bergema namun di otak Caitlyn itu terdengar seperti suara tembakan,membuatnya gelisah dan kembali mengingat kejadian 5 tahun yang lalu,dia menutup kedua telinganya seraya memejamkan mata dan terus bergumam tanpa henti.
para pelayan dan juga Meena yang kebetulan sedang berjalan-jalan malam menemukan nyonya mereka tengah ditaman sendirian pun menghampirinya.
Meena menghampiri Caitlyn "nyonya."panggil Meena khawatir
Caitlyn terkejut lalu menatap Meena dan memeluknya erat "Ibu."
__ADS_1
satu kata itu terus digumamkan oleh Caitlyn membuat Meena mengernyitkan dahinya tak mengerti.
Meena memeluk Caitlyn "Ada apa nyonya?."tanya Caitlyn dengan lembut
"Ibu, El tidak mau kembali kesana.Bu Meena El tidak mau kembali kesana ,El tidak mau."
Caitlyn memeluk erat Meena dengan memejamkan matanya gelisah ,semakin lama Caitlyn terus meracau dan berteriak keras.
"Ibu."
kata kata yang terus di ucapkan oleh Caitlyn secara terus menerus dalam racauanya dalam pelukan Meena.
Meena yang khawatir memerintahkan maid yang bersamanya untuk memanggil tuan mereka .
Meena memeluk Caitlyn dengan erat dan mengusapnya dengan lembut berusaha menenangkan Caitlyn .
Tak lama Arsal dan Fero berlari ke taman bunga ,dia mengambil Caitlyn dari pelukan Meena .
"Ibu,ibu ,ibu."
"Aaaaa pembunuh, pembunuh." pekik Caitlyn memukul-mukul dada bidang Arsal
"Tidak sayang,tidak, tenang, tenang oke, relax." bisik Arsal
"Ibu." rilih Caitlyn
"Ibu,ibu...ibu ."
"Syuttt tenang sayang ,tenang oke, aku disini."
Tak lama tubuh Caitlyn luruh jika saja tidak ditahan oleh Arsal, dia membawa Caitlyn lalu menatap Meena.
"Meena ,telpon dokter Brad." titah Arsal
Meena mengangguk
Arsal membawa tubuh istrinya itu kembali kedalam kamar dan menidurkannya di ranjang besar itu.
Dia menggigit bibir bawahnya dengan heran juga khawatir "Fero kenapa dia seperti ini?."
Fero pun menggelengkan kepalanya ,dia juga tidak tahu mengenai catatan penyakit Caitlyn karena sangat privasi terlebih Caitlyn bukanlah dari kalangan biasa pada awalnya.
Tidak mudah menemukan informasi tentangnya.
tak lama Brad datang
Pria dengan stelan jas putih itu dipersilahkan oleh Arsal untuk memeriksa istrinya.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan Brad menatap Arsal "Apa kau menekannya?." tanya Brad
ah lebih tepatnya mengintimidasi Arsal.
"Tidak ."
Sudut bibir brad berdenyut
"Coba ceritakan kronologinya padaku."titah Brad
"Tadi kita cuma memintanya kembali ke Bali.Tapi tunggu sebentar...Fero panggil Meena."
Fero pamit untuk memanggil Meena terlebih dahulu,selagi menunggu Meena Brad kembali mengajukan beberapa pertanyaan pada Arsal.
"Apa tempat itu menyimpan sesuatu kenangan buruk ?."
Arsal mengerutkan keningnya dan terdiam sementara sebelum menjawab "Ya."
Brad menatap Arsal
Pintu kamar terbuka, Meena dan Fero masuk Arsal menyuruh Meena untuk menceritakan kronologi tentang Caitlyn tadi.
Setelah mendengar penjelasan keduanya Brad dapat menyimpulkan terlebih dahulu bahwa Caitlyn mengidap sebuah penyakit.
Brad menatap Arsal "Sepertinya dia mengidap penyakit Post-Traumatic Stress Disorder atau kata lainnya PTSD ."
...TBC...
__ADS_1