
Hallo gays
...happy reading...
...****************...
Fero mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi,dia tak mau ada korban lagi setelah kakaknya .
Dengan mengikuti arahan dari Maps akhirnya Fero sampai di sebuah rumah yang sedikit sekali bangunan disana.
matanya menyala ketika melihat Shofia tengah diintimidasi oleh pria yang dia kenal,dia berlari lalu mendorong tubuh pria yang tengah mencengkram rahang Shofia.
brak
Pria itu terkejut ketika mendapati seseorang yang menendangnya,pria itu tersenyum simrik lalu berdiri.
menepuk-nepuk debu yang menempel ditangannya "Oh jadi ini yang membuatmu menjauh dariku?."tanya pria itu pada Shofia
Shofia menggelengkan kepalanya,dia takut melihat tatapan mata tunangannya "sikapmu yang membuatku menjauh dariku ! kenapa sekarang kau berubah?."lirih Shofia
Pria itu tak percaya dia menatap tajam Shofia dan Fero ,pria itu maju untuk menyerat Shofia namun langkahnya di hadang oleh Fero.
"jangan ikut campur."ujar pria itu dingin
Pria itu mengalihkan pandangannya,menatap Shofia dengan lembut "Shofia kemari."ujar pria itu lembut
namun bukannya maju Shofia malah mundur membuat amarah pria itu bergejolak "SHOFIE KUBILANG KEMARI KAU !."
"TURUNKAN NADA BICARAMU SIALAN!."pekik Fero seraya mendorong dada bidang milik pria itu membuat pria itu terhuyung beberapa meter
"Jangan mencampuri urusanku!."ucap pria itu dalam seraya menunjuk wajah Fero
Shofia semakin gemetar ,dia tidak terbiasa dengan nada bicara yang tinggi maupun kekerasan.
Pria itu menghajar tubuh Fero ,membuat pertarungan itu tidak bisa dihindari.Shofia terpekik kaget melihat keduanya bertengkar,dia tak mau ada korban disini.
Buk
Fero dan pria itu saling bersaing ,mereka sudah penuh dengan luka membuat Shofie semakin ketakutan.
"Lo udah bikin kakak gue meninggal bajingan dan sekarang lo juga mau bikin sengsara anak orang hah?."tanya Fero di sela-sela pertarungan mereka
"dia yang salah kenapa penyakitan."cibir pria itu membuat Fero semakin tersulut emosi
buk
Fero meninju perut pria itu dengan kencang membuatnya tersungkur ketanah ,Fero menarik kerah baju pria itu .
"ALBERT SIALAN HARUSNYA LO YANG MATI BUKAN KAKAK GUE !." pekik Fero
buk
"Ini untuk kakakku ."gumam Fero
buk
"Ini untuk lukanya."
buk
buk
buk
"ini untuk kematiannya."geram Fero dengan brutal
Tak lama Caitlyn dan Arsal datang tepat waktu, Shofia memeluk erat Caitlyn dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan itu.
__ADS_1
sedangkan Arsal dia mencoba menghentikan Fero ,jika diteruskan dia bisa membunuhnya dan malah membuat dirinya dalam masalah.
"FERO LEPAS!."pekik Arsal seraya mencoba menahan tangannya
Tapi Fero yang diliputi kemarahan dia menghempaskan tangan itu dan mencekik pria bajingan didepannya.
Arsla berdecak kesal ,dia memberikan pukulan pada tangan Fero menghindari hal yang tak di inginkan.
Fero merasakan sakit ditangannya ,dia menatap bosnya dengan tajam.
Arsal menarik Fero menjauh dari Alberto yang sudah terbaring tak berdaya "Dia harus mati!."gumam Fero
"Fero kau tidak berhak membunuhnya."ucap Arsal membuat Fero marah
"AKU BERHAK, KARENA DIA TUAN KARENA DIA ,KARENA DIA KAKAKKU MENINGGAL."pekik Fero dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya
Arsal tahu bagaimana beratnya menjadi Fero,dia merangkul asistennya itu yang duduk di atas tanah dengan lukanya.
"tenangkan dirimu." bisik Arsal
Fero menangis
Setelah kematian kakaknya ini kali pertamanya menangis kembali "dia pantas mati tuan."gumam Fero
Arsal menepuk pundak Fero menguatkan asistennya ,tak lama datang beberapa mobil polisi yang langsung membawa Alberto .
Setelah selesai Fero dan Shofia di bawa ke mansion besar miliknya ,Shofia masih ketakutan badannya gemetar.
Caitlyn mencoba menenangkan bawahannya itu dan membawanya ke kamar tamu ,didalam kamar tamu Caitlyn memeluknya erat.
layaknya seorang kakak dan adik "Tenanglah sekarang kau aman,ibumu juga sudah di tangani oleh dokter."bisik Caitlyn
mendengar kata ibu Shofia mendongkakan Kepalanya menatap Caitlyn "i-ibuku su-sudah di tangani?."
Caitlyn mengangguk,lalu menggengam tangan Shofia dan memberikan senyuman.
"Sekarang istirahatlah ,besok kita akan menemui ibumu di rumah sakit saat makan siang."
Shofia mengangguk
Caitlyn sudah keluar dari kamar Shofia dan menutupnya kembali ,dia melihat Fero yang tengah duduk di atas kasur dengan suaminya.
setelah dirasa aman ,Caitlyn naik ke atas masuk kedalam kamarnya dan merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk itu.
Sedangkan di kamar tamu lainnya ,Arsal tengah berdiri di sudut ruangan seraya menelpon seseorang dengan serius.
setelahnya dia memasukan ponselnya kedalam saku celananya ,dia mendekat pada Fero.
"Ikutlah denganku."
Fero mendongkakan kepalanya ,menatap bos nya yang tampak serius.
Arsal berjalan keluar dari kamar tamu disusul dengan Fero yang mengekor dari belakang.
Sampai di mobil Fero bergegas menuju pintu supir namun Arsal menghentikannya "tidak ,biar aku yang menyetir.Aku tidak mau mati cepat aku ingin jadi ayah dulu."
Fero mengangguk namun dalam hatinya a dia terkekeh ,lagipula tangannya sedang sakit karena bos nya sendiri.
Keduanya masuk kedalam mobil dan memaki safetybelt lalu meninggalkan pekarangan mansion megah itu.
......................
Pagi harinya Caitlyn mengerjapkan matanya ,dia mengucek keduanya mata indahnya .
Dia lupa semalam dia ketiduran,dia meraba-raba kesamping tapi tidak merasakan apapun.
dia mengerenyitkan dahinya , mencari-cari suaminya .Dia turun dari kasur lalu mencari kedalam toilet ,walkin closet hingga balkon.
__ADS_1
tapi dia tak menemukan dimana suaminya,dia berkacak pinggang kesal lalu turun kebawah tanpa mengganti baju tidurnya.
dibawah dia bertemu dengan bi Meena kepala pelayan "Bu ,apa kau melihat Arsal?."
"Tuan semalam pergi keluar nyonya."
dengan memakan buah apel dia mengernyitkan dahinya , menebak-nebak dimana suaminya berada.
Dia mengepalkan tangannya kesal "awas saja jika sampai kau pergi ke bar dan mencari wanita lain ,akan ku patahkan lehernya."batin Caitlyn kesal
dia berdiri dan berjalan untuk kembali ke kamarnya tapi langkahnya terhenti ketika melihat kamar Shofia .
dia membelokkan kakinya menuju kamar Shofia ,dia mengetuk pintu itu hingga akhirnya Shofia membuka pintu.
Shofia menunduk "Pagi bu."
"Kau sudah sarapan?." tanya Caitlyn
"Nanti saja."
Caitlyn mengangguk "Kita sarapan bersama ya,aku akan bersiap dulu."
"Ah tidak perlu bu,saya sarapan setelah ibu saja."
Caitlyn berdecak kesal "kau ini kenapa? kau masih takut dengan yang semalam? kau tenang saja pi dia tak akan mengganggumu lagi aku jamin itu."
tapi Shofia menggelengkan kepalanya membuat Caitlyn kembali bertanya.
"Apa kau sakit? aku aku akan panggilkan dokter untuk mu ya."ujar Caitlyn khawatir dan hendak menelpon Brad tapi dihentikan oleh Shofia
Shofia menarik lengan Caitlyn dengan segan "Bukan bu,aku aku tidak sakit."
"lalu?."
Shofia menggigit bibirnya "Saya saya malu."
"kenapa?."
Shofia menatap Caitlyn "Miss kenapa tidak bilang kalau kau istri tuan Arsal."
Caitlyn membelakan matanya ,dia menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum kikuk "kau tahu dari mana?."
Shofia menunjuk pada satu bingkai gambar yang terpampang jelas ketika dia dan Arsal tengah melakukan pernikahan.
Caitlyn menarik Shofia menuju sofa ,dia menggenggam tangan Shofia dengan hangat "Shofia aku percaya padamu kau bisa menjaga rahasia ini, tolong jangan beritahu orang lain dulu sampai kami sendiri yang akan mempublikasikan."
Shofia mengangguk setuju
"jadi asisten Fero bukan kekasihmu mis?." bisik Shofia
Caitlyn terkekeh geli "bukankah aku selalu bilang,aku tidak memiliki hubungan apapun kecuali pertemanan dengannya."
"padahal aku sudah mensip kalian berdua mrs."gumam Shofia
Caitlyn terkekeh geli "Awalnya aku juga oleng pada asisten itu , tapi kini tidak."
"Shofia kedepannya Fero yang akan menjagamu ya."kata Caitlyn
Shofia menatap Caitlyn dengan bingung "oh tidak bu, aku tidak mampu membayar upahnya."tolak Shofia
Caitlyn memutar bola matanya malas , bawahannya yang satu ini agak sedikit kurang konek .
"Sudahlah cepat pergi bersih-bersih,setelah sarapan kita akan menjumpai ibumu."
Shofia mengangguk lalu tersenyum
"Terimakasih miss El."ucap Shofia tulus
__ADS_1
...Tbc...