The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 10: SEPULUH


__ADS_3

Lantai dua sudah bersih dari para petarung yang menghalangi. Lengang, senyap, suara denting petarungan beberapa saat lalu hilang sejenak. Pertanyaannya, dimana lantai tiga?


“Ada sebuah tombol di lantai dua ini untuk membuka jalan menuju lantai tiga.” Sem menjelaskan.


“Dimana? Deni bertanya. Dia sudah tidak menunjukkan wajah menggerutu lagi.


“Ikuti aku.” Sem sepertinya sudah tahu banyak. “Aku pernah ke gedung ini satu kali, secara tidak sengaja aku melihat tombol itu.”


Kami bertiga berjalan menuju salah satu ruangan. Ruang kontrol lantai satu dan dua. Sem mendorong pintu, bersih. Tidak ada penjaga seorang pun disini. Mereka ternyata benar-benar habis saat pertarungan di lorong tadi. Suasana senyap, tetapi tetap menegangkan. Sem menuju ke salah satu sudut ruangan.


“Di tempat ini, dulu aku pernah bertemu dengan Was. Aku hanya membeli beberapa peralatan, salah satunya adalah busurku ini.” Sem bercerita.


“Was berjualan?” aku bertanya.


“Bukan seperti itu. Selain sebagai pebisnis, dia sebenarnya juga kolektor barang antik. Ada banyak senjata yang dia koleksi, satu atau dua dari jenisnya.” Sem terus berjalan, sudah tahu apa tujuannya.


Aku mengangguk. Di dalam game ini hanya toko itu yang berjualan. Itupun tidak ada makanan.


“Nah, ini dia. Tombol menuju lantai tiga.” Sem menemukan sebuah tombol berwarna putih terang terbungkus kaca berbentuk persegi. Dia langsung memecahkan kaca itu, peduli amat dengan keamanan. Ini sudah dalam sebuah pertempuran.


Saat ditekan, dinding dalam ruangan itu bergetar. Seperti ada pergerakan. Sebuah pintu terbentuk di salah satu dinding.


“Kita masuk lewat sana.” Sem menunjuk ke arah pintu itu. Aku dan Deni mengikuti, segera beranjak.


Kami bertiga memasuki pintu itu. Beberapa detik setelah aku yang terakhir masuk, pintu itu menutup otomatis dengan sendirinya. Gelap, tempat yang kami masuki benar-benar tidak ada cahaya. Sem menekan jam tangan canggih miliknya, membuat penerangan sementara.


“Ini sekat pemisah antara lantai dua dengan lantai tiga. Sebentar lagi kita akan tiba.” Sem menjelaskan, wajahnya terus menatap ke depan.


Benar saja. Aku baru menyadari, kami sebenarnya ada di dalam ruang antar dimensi, bergerak. Sebuah titik putih terlihat dari kejauhan, semakin lama semakin mendekat, semakin membesar. Aku tahu, itu adalah pintunya.


“Kita sudah sampai.” Sem masih berkata dengan intonasi datar.


Aku menelan ludah, Deni pun sepertinya sama. Ini menegangkan. Seperti apa Was itu? Pemimpin negara ini.

__ADS_1


Kami melangkah keluar dari lubang putih itu. Deni menengok ke arah jendela dekat lorong. Ini memang benar-benar lantai tiga. Ruangan ini sepertinya bisa dilihat dari dalam, tapi tak nampak dari luar. Gedung tiga lantai yang unik. Lantai tiga ini tidak jauh berbeda dengan lantai dua. Tidak terlihat, itu saja yang membuat perbedaan.


“Dimana Was itu? Aku akan menebasnya.” Deni sudah menghunus pedang. Dia sudah mahir soal memunculkan dan menghilangkan.


“Sembunyikan pedangmu, Den. Kita tidak perlu menampakkan kekuatan. Nanti malah akan merepotkanmu.” Aku meminta Deni kembali menyembunyikan pedangnya.


“Joni benar. Mereka mungkin saja memata-matai kita saat ini. Lihatlah lantai tiga pada gedung ini saja tidak terlihat. Bagaimana dengan CCTV? Mereka pasti mudah menyembunyikannya.” Sem memihakku.


Deni mengangguk, kembali menyembunyikan pedangnya.


Kali ini aku yang memimpin di depan, berjalan perlahan.


Lorong itu benar-benar lengang. Tidak ada suara, bahkan semilir angin. Senyap.


Saat kami melintas hendak menuju ujung lorong di sisi gedung yang lain. Aku melihat ada sebuah pintu yang berbeda. Ukurannya lebih besar. Ada ukiran-ukiran yang aku sendiri tidak mengerti. Aku membentangkan tangan, menghentikan gerakan Sem dan Deni. Di antara ruangan yang kami lalui, ruangan inilah yang paling mencurigakan. Naluriku mengatakan Was berada dalam ruangan ini. Hei, aku memiliki naluri? Sem sudah bermaksud mendorong pintu itu.


“Hati-hati, Sem. Kita tidak tahu apa yang mereka rencakan. Ini terlalu mencurigakan.” Aku berkata pelan, berdiri sigap di belakang Sem. Deni juga menyapukan pandangan ke seluruh arah, waspada.


Ketika pintu di buka. Di situlah puncak dari ketegangan kami bertiga. Seseoang dengan sedang duduk di atas kiani. Di sebelahnya berdiri seseoarang, mungkin tangan kanannya. Menatap ke arah kami dengan senyum menghina. Raut keduanya sama, yang membedakan mungkin hanya usia. Aku yakin sekali yang duduk di atas kiani itu usianya lebih dari 60 tahun. Sedangkan yang berdiri itu kurang dari 40 tahun.


“Ayo bertarung denganku, Was.” Deni kembali menghunus pedang, dia tidak sabaran.


Melihat kelakuan Deni, seseorang yang berdiri di dekat Was itu bersiap menyerang. Namun Was mencegahnya.


“Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Aku yakin sekali kalian sedang lelah sekarang. Bagaimana kalau istirahat sejenak.” Was tersenyum, penuh rasa hormat.


Deni menatap tajam. Sambutan ini, senyuman itu, semuanya hanya sandiwara. Begitu kira-kira tatapan Deni.


“Mereka tidak punya waktu bermain-main disini, Was.” Sem akhirnya ikut berbicara.


“Oh, kau anak muda itu. Apa kau ingin membeli beberapa koleksiku lagi?” Was menatap Sem. Mereka memang pernah melakukan jual beli sebelumnya.


“Sayang sekali, Was. Aku kesini berniat sama dengan mereka berdua.” Sem menjawab datar.

__ADS_1


“Oo.. Apa kau ingin meruntuhkan hubungan bisnis kita, Sem?” Was tersenyum, sandiwara.


Sem diam, tidak terpengaruh. Baginya, sejak kedatangan kami kesini, maka tugasnya telah dimulai.


Was kemudian melirik seseorang yang berdiri di dekatnya. “Apa kau ingin menguji kekuatan mereka, Hon?”


Lelaki itu bernama Hon. Tubuhnya tegap, kekar, dan terlihat bertenaga, wajahnya sama dengan penjaga gerbang utama. Hanya saja seragamnya berwarna kuning.


Tanpa menunggu aba-aba kedua, Hon sudah melesat, menerjang bak kuda liar. Aku menyilangkan tangan di atas kepala, membuat tameng. Hon memukulnya. Retak. Tamengku tak mampu bertahan, kekuatan pukulan Hon lebih kuat daripada petarung sok-tangguh di lantai dua. Wajar saja dia menjadi tangan kanan Was. Tameng itu kali ini bagai kaca yang retak, semakin lama semakin melebar. Hancur. Tidak habis sampai disitu, pukulan Hon masih menyisakan tenaga. menembus tameng yang sudah hancur lebur, mengenai kami bertiga. Suara pukulannya terdengar berdentum keras. Menggetarkan seluruh isi ruangan.


Kami bertiga terpental jauh, menembus pintu, membuat beberapa dinding yang ada di belakang kami retak dan rontok. Tubuh kami tergeletak di lorong lanntai tiga. Itu pukulan terkuat yang pertama kali kami rasakan di dalam game ini. Aku dan Deni merasakan kekuatan kami berkurang drastis. Pukulan itu sepertinya mengambil banyak energi kami berdua. Sedangkan Sem, dia meringis menahan sakit. Sem berbeda, dia adalah makhluk asli di dalam game ini, bukan player seperti aku dan Deni. Sem merasakan sakit akibat pukulan itu.


Lengang sejenak, menyisakan suara reruntuhan dinding yang rontok perlahan.


Deni yang sejak naik ke lantai tiga berkoar semangat, menghunus pedangnya. Bersipa menyerang. Tubuh Hon muncul dari balik reruntuhan. Daun pintu sudah tidak ada, hancur lebur. Begitu juga dengan beberapa dinding di sekitarnya, lubang-lubang besar menghiasi akibat tembok terkena hantaman tubuh kami yang terpental. Deni menyerang, menebas. Sia-sia, tebasan itu dapat ditangkis. Hon memukul Deni sebelum dia siap untuk menahan. Lagi, tubuh Deni terpental, menghantam tembok. Jika menembusnya, Deni akan jatuh ke lantai dasar. Beruntung, dia mampu mengurangi efek pukulan itu dengan bertumpu pada pedang. Lantai di lorong itu membentuk garis pedang akibat goresan pedang Deni. Pukulan pertama saja sudah menguras banyak energi kami, Deni menerimanya yang kedua kali. Itu pasti membuat energinya lebih terkuras. Deni tersengal.


Aku dan Sem sudah bangkit, berusaha berdiri tegak. Sem lebih susah payah. Dia juga sudah dua kali kena pukul. Di belakang kami berdua, Deni juga sudah berdiri dengan pedang terhunus. Rupanya daya tahan kami lebih kuat disini.


“Kita serang bersama!” Deni  berseru.


Aku dan Sem mengangguk. Deni ikut bergabung.


“Kau yang pertama, Den.” Sem memimpin. Deni mengangguk. Dia menebaskan pedang dari jarak lima meter. Goresan cahaya keluar, tepat seperti saat Deni menghabisi ratusan petarung di lantai dua. Goresan cahaya itu seakan berjalan berdesis menuju tubuh Hon. Semakin cepat. Tanpa kami duga, Hon kembali menangkisnya. Bahkan hanya dengan satu tangan. Goresan cahaya itu terpental, merusak barisan dinding sebelah kiri dari sudut pandang kami, terus hingga keujung. Lantas lenyap. Sempurna sudah bagian kiri lantai tiga itu tanpa dinding depan. Sem melontarkan anak panah, sempat terbagi menjadi dua. Tepat sasaran. Mengenai bahu kanan dan kiri Hon. Sial, itu tidak terlalu kuat. Hon tidak bergeming, meringis pun tidak. Di saat Hon mencabut kedua anak panah itu, aku menyerangnya dengan sebuah pukulan. Gerakan Hon di luar dugaanku, dia lebih gesit daripada petarung sok-tangguh berseragam merah. Tangan Hon menyilang seperti aku membuat tameng. Itu adalah pukulan paling keras yang pernah aku lakukan. Walaupun bisa menahan, tubuh Hon tetap terdorong ke belakang. Jauh hingga hampir bersentuhan dengan kiani Was.  Dia masih sempat bertumpu pada ujung jari-jari kaki, yang membuat dorongan dari pukulanku tertahan. Tubuh itu akhirnya terhenti. Aku meloncat beberapa langkah ke belakang. Sem dan Deni sudah mendekatiku.


“Sepertinya kau memerlukan arena pertarungan yang lebih luas, Hon.” Was tersenyum, dia duduk berpangku tangan. Bosan. Tangannya kini memegang sebuah alat dengan beberapa tombol, mungkin itu alat kendali beberapa ruangan. Was menekan salah satunya.


Lengang sejenak.


Hamparan pasir terlihat dari lantai tertinggi gedung itu. Juga rumah-rumah penduduk dengan bentuk tudung setengah lingkaran. Jika dilihat dari atas, bentuknya seperti jamur berserakan. Sesekali angin padang pasir menderu. Aku bahkan lupa, saat ini kami sedang berada di negeri gurun.


Ruangan itu bergetar. Kiani Was bergerak melayang, sedikit menjauh. Dinding-dinding saling terlepas. Membentuk sebuah bangunan baru. Sebuah arena pertarungan, bersih tanpa ada dinding penghalanag. Bahkan atap ruangan pun menghilang, nampak langit bersih tanpa awan. Biru. Ini seperti berada di atap gedung di kotaku. Matahari menusukkan teriknya. Kami tak terpengaruh panasnya matahari. Kami lebih mengkhawatirkan arena pertarungan ini.


“Kau bisa lakukan sesukamu, Hon.” Was tertawa, tatapannya tetap saja menghina. Dia dengan santai menonton dari kiani yang melayang.

__ADS_1


Hon diam, menatap datar tanpa ekspresi. Kami bertiga bersiap—dengan senjata masing-masing. Bagaimana kami akan mengalahkannya petarung yang satu ini? Ini jauh lebih sulit daripada kumpulan petarung yang ada di lantai dua tadi. Tubuhnya kekar, kuat, tangguh. Pukulanku tak mempan, tebasan pedang Deni diabaikan, anak panah Sem hanya seperti gangguan nyamuk yang usil. Perbedaan kekuatan yang sangat jauh. Sem memaki kesal dalam hatinya, itu artinya lawan di depannya saat ini beratus kali lebih tangguh dari pada singa yang menyerang kami saat di pinggir danau. Hon bagai tembok kokoh yang sulit ditembus.


Kami kehabisan akal.


__ADS_2