The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 14: EMPAT BELAS


__ADS_3

Beberapa jet ski melesat deras. Wussh..wushh..


Kami bertiga menyingkir. Hampir saja tertabrak. Nampak sebuah lintasan khusus seperti lomba lari. Beberapa rumput tersibak. Layu. Bahkan mengering.


“Apakah cara kita mendarat selalu seperti ini? Membahayakan.” Deni mengangkat tangan, hendak protes.


“Ini adalah perlombaan Jet ski. Kita sekarang berada di tengah-tengah arena perlombaan. Aku rasa ini tidak terlihat aman. Jet ski itu akan kembali lagi melintasi daerah ini.” Sem berkata datar.


“Jetski? Di tengah padang rumput ini? Astaga! Bukankah jetski membutuhkan air?” Aku heran, bertanya-tanya.


“Di tempat ini jet ski digunakan di darat. Sebagai kendaraan. Tidak ada roda, tidak ada baling-baling. Mereka mengambang.” Sem menjelaskan. “Sebaiknya kita menyingkir.” Sem mengajak kami menuju sisi arena.


Padang rumput ini terlihat seperti lapangan yang luas. Aku tidak melihat sisi ujung jet ski itu menuju. Tapi di sisi sebaliknya, nampak ada bangunan yang megah.


Awan membungkus langit, cahaya matahari remang. Bayangan benda meredup.


“Aku rasa kita hanya punya waktu satu jam di tempat ini. Hari sudah mau gelap.” Aku mengangkat tangan, menengok ke arah jam tangan  canggih di pergelangan.


Sem mengangguk. Dia mengerti. Kami terus berjalan menuju sisi lapangan luas itu. Berharap belum ada jet ski yang kembali melintas.


“Itu bangunan apa?” Deni menunjuk ke arah sisi arena terlihat ada bangunan menjulang, dari tempat itulah jer ski tadi berasal.


“Gedung pemerintahan. Itulah tujuan kita.” Sem menjawabkan.


“Apa disini bermasalah dengan minyak lagi?” Deni kembali bertanya.


“Entahlah, Den. Aku tidak yakin.” Sem mengangkat bahu.


Kami terus berjalan. Membelakangi matahari.


“Aku rasa kau harus memikirkan cara untuk kita tiba disana secepat mungkin, Jon. Bukankah waktu kita hanya satu jam. Pusat layanan game akan tutup pukul 18.00, jangan-jangan kita malah ditinggal di dalam game.” Deni mengada-ada. Wajah cemasnya menggurat.


“Soal itu, aku punya ide yang bagus.” Sem tersenyum, mencurigakan.


Aku dan Deni saling tatap, menoleh. Apa?


Sem menunjuk kawanan bison yang tak jauh dari batas pinggir arena.

__ADS_1


“Itu kendaraan kita.” Sem berseru riang.


Bison liar? Aku dan Deni saling tatap untuk kesekian kalinya.


“Bagaimana caranya, Sem? Mereka bisa saja menyeruduk sebelum kita mendekat. Atau menginjak-injak kita. Tubuh kita akan melumer.” Deni memegang zirahnya.


“Zirah kalian itu tidak akan bisa dihancurkan hanya karena diinjak bison, Den. Ditambah lagi, aku memiliki ini.” Sem memasukkan tangan ke saku bajunya, memperlihatkan tiga buah benda seperti botol minyak angin kecil. Besarnya seperti telunjuk. “Aku membelinya di kota Hutan Tropis.”


“Apa fungsi benda sekecil itu?” Deni bertanya.


“Kau akan melihatnya, Den. Tapi aku hanya akan menggunakan dua, sisanya aku simpan. Mungkin kita akan membutuhkannya nanti. Dua ekor bison cukup, kan?” Sem tersenyum. Dia mengambil dua anak panah dari arrow rest. “Benda ini bisa di mix  dengan anak panahku.” Sem membuka botol satu persatu, memasukkan ujung runcing dua anak panahnya ke dalam masing-masing botol itu.


Aku dan Deni memperhatikan, menebak-nebak. Kawanan bison itu sangat banyak. Tengkuknya berbulu lebat, kepalanya besar, tanduknya kecil, dan ada punuk di punggung. Sem langsung memasang kedua anak panah itu pada busur peraknya. Sekaligus dua. Sekaligus? Ya. Sem sudah terlatih untuk itu.


Sem melepaskan dua anak panah dari busurnya. Tidak butuh baginya waktu yang lama untuk membidik. Anak panah itu seperti sudah mengerti apa yang tuannya inginkan. Dua bison besar terkena. Merengkeh. Panah itu tidak seperti panah yang menghabisi satu singa saat kami di negeri pasir. Saat mengenai tubuh bison, anak panah itu langsung menghilang. Yang terjadi tidak ada dalam sangkaanku dan Deni. Dua bison yang terkena anak panah itu berjalan mendekati kami.


Sontak, Deni memunculkan pedangnya. Berseru, “Bersiap!”


Sem menepuk pundaknya. “Tidak apa-apa, Den. Mereka sudah jinak. Itu adalah obat penjinak hewan. Sepertinya berfungsi dengan baik. Kita bisa menungganginya sekarang.” Sem tersenyum puas.


Deni membuang rasa cemas, menghela nafas panjang. Dua bison sudah bergabung bersama kami.


Sem sudah duduk manis di atas punggung bisonnya. Lantas meminta kami naik berdua, berboncengan. Aku mencengkram surai. Saat kami hendak berangkat, tujuh buah jet ski melintas kembali, melesat dengan kecepatan penuh. Hanya ada tujuh. Padahal sebelumnya, aku melihat banyak sekali. Mungkin puluhan. Aku mengusir jauh-jauh sangkaan buruk. Mungkin mereka masih tertinggal di belakang. Lagipula jalan kami juga di luar batas arena, tidak akan mengganggu atau menghalangi jalan mereka.


Sem sudah menggebah bisonnya. Bergerak cepat meninggalkan kami. Aku dan Deni sebenarnya masih terlihat canggung. Bermaksud meniru cara Sem, aku malah kedahuluan Deni. Dia usil menggebah punggung belakang bison. Bison itu bergerak, berlari cepat menyusul kawannya. Karena bison adalah salah satu hewan terbesar, kecepatan lari maksimalnya hanya 65 kilometer perjam, tidak terlalu cepat. Tapi cukup membantu kami untuk tiba lebih cepat di tujuan.


“Lebih cepat, kawan.” Aku dan Deni berhasil menyusul Sem.


Sem menoleh, merasa tertantang. Kami akhirnya jadi lomba pacuan bison.


Matahari kian meredup, hampir tumbang di langit barat. Awan jingga membungkus semburat sinar matahari sore.


Sore itu, kami tiba di depan gedung pemerintahan saat lingkaran bawah matahari sudah menyentuh garis horizon. Gedung yang mewah. Ada dua lantai. Tapi arena perlombaan jet ski itu ternyata adalah wilayah di belakang gedung. Bukan halaman depan. Ada sejenis tribun VIP di belakang rumah itu, menggelantung di lantai dua gedung. Tempat sang pemimpin menyaksikan perlombaan. Suasana disini jauh lebih ramai. Banyak penonton yang hadir. Kali ini tekstur wajah mereka tidak terlalu asing, sama seperti kami. Manusia kebanyakan. Tujuh buah jet ski itu tertambat rapi di bawah tribun.


“Kalian bisa melakukan saving disini. Besok atau kapanpun, kalian bisa menyambungnya.” Sem turun dari bison, mengusap tengkuknya.


Aku dan Deni juga ikut turun. Mengangguk. Tapi Deni sepertinya ingin sekali mendengar satu pengumuman yang akan disampaikan sang pemimpin. Dia mendongak, menatap dari kejauhan.

__ADS_1


Hari ini, kita sudah menemukan tujuh orang dari dua puluh peserta yang mengikuti ajang ini. Maka besok, kita akan menentukan tiga orang yang akan naik ke atas podium kehormatan. Sebegai juara 1, 2, dan 3.. Bukan di tempat ini, saudara-saudara. Tapi di arena yang lebih panjang, lebih luas, dan lebih menantang.


Suara itu terdengar serak, bisa ditebak berapa usia yang sedang berdiri di belakang mikrofon. Rambutnya juga sudah memutih. Jenggotnya panjang. Putih.


“Apa kau sudah selesai, Den? Aku bertanya. Deni menoleh, mengangguk.


Aku melakukan saving game. Jadi besok, kami akan muncul dari portal di tempat ini lagi. Ya, besok. Aku dan Deni tidak ingin melewatkan ajang jet ski darat yang sepertinya terlihat menarik.


Saat aku akan menekan tombol, membuka portal pulang, saat itulah petugas yang membimbing kami di ruang layanan game menghubungi. Bukankah kami hanya bisa melakukan komunikasi satu kali di setiap scene?


Hologram muncul. Gambar jelek. Seperti televisi jadul yang banyak semutnya. Petugas itu terlihat kusut, acak-acakan. Terburu-buru, seperti di kejar-kejar kawanan singan, “Aku sungguh minta maaf kepada kalian. Ini di luar dugaan kami semua. Sistem kami di bajak. Portal antar dimensi telah dirusak. Kerusakan sudah menjalar. Beberapa konsol game terbakar. Ada dua rombongan seperti kalian yang sudah terjebak di dalam game. Dan sekali lagi, aku sungguh minta maaf. Hal yang serupa juga terjadi dengan kalian. Portal sudah tidak berfungsi. Aku juga memaksakan melakukan komunikasi dengan cadangan energi yang ada. Kondisi disini sangat darurat. Kekacauan terjadi__” Suara di ujung sambungan itu terputus.


Aku dan Deni pucat. Rasa cemas menyelebung, memeluk erat separuh hati kami. Ini benar-benar di luar dugaan. Kami tidak mungkin akan berada selamanya di dalam game ini. Aku menggigit bibir, tidak percaya, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Deni diam, mematung. Sem ikut prihatin, tahu apa yang kami rasakan.


“Bagaimana kita akan pulang, Jon?” Suara itu terdengar lirih. Deni menatapku, mengharap. Semua harapan itu seolah jatuh menimpa pundakku.


Aku menggeleng. Tidak tahu. Kepalaku sesak. Semua ini sudah gagal. Konsol game terhebat di dunia? 2050? Dominasi teknologi? Kecanggihan-kecanggihan? Entahlah. Semua musnah hanya dengan beberapa kejapan.


Matahari sudah sempurna tenggelam. Sinar jingga masih menyembur selubung awan. Sudah hampir gelap.


“Kita akan bermalam disini. Aku akan menemani kalian.” Sem menepuk pundak Deni, mencoba menghibur. “Setidaknya kalian masih bisa makan, tidak akan kelaparan di “tempat ini”, apel itu sudah membuktikannya.”


“Tidak ada pilihan lain, Den. Aku tetap akan menyelesaikan misi ini. Aku yakin, para ilmuan kita di luar sana tidak akan tinggal diam. Mereka telah bekerja keras. Mereka akan mengembalikan portal itu lagi. Kita pasti akan pulang.” Aku berusaha tegar, menghibur Deni yang tertunduk lesu.


“Aku belum sempat berpamitan dengan siapapun, Jon. Kau tahu? Mereka pasti mencari kita. Orang tua kita, guru kita, teman-teman kita.” Nada suara itu tetap terdengar lirih.


Sem menetap prihatin. Memegang erat pundak Deni.


“Kita akan pulang, Den. Percayalah.” Aku sekali lagi meyakinkannya.


Hening. Malam datang dengan cepat. Gelap.


“Aku tahu tempat yang bagus untuk mencari makan di negeri ini. Aku kenal dengan pemilik tokonya. Tapi itu terlalu jauh. Bison kita juga sudah kembali ke kawanannya. Tapi aku masih punya beberapa apel. Kita bisa memakannya. Makan malam.” Sem menekan beberapa tombol di pergelangannya. Tiga biji apel besar muncul dalam genggaman.


Aku rasa apel pun tidak masalah. Lagipula, selera makan kami sudah hilang. Kejadian ini datang dengan tiba-tiba. Di saat aku sudah mengetahui cara menggunakan pukulan itu, di saat Deni sudah mahir menggunakan pedangnya, di saat kami sudah mengalahkan musuh pertama, di saat kami sudah berhasil menuju negara ini, di saat kami berencana tidak akan melewatkan perlombaa jet ski darat besok, semua kekacauan ini datang mengganggu. Sehebat apapun kecanggihan tekhnologi, manusia tidak bisa mengelak dari kehendak alam. Entah apa penyebabnya? Portal itu rusak. Dibajak? Interferensi negara lain? Entahlah. Kami hanya ingin pulang.


Malam semakin larut, berlalu dengan cepat. Bintang-gemintang tumpah ruah di langit. Bulan sabit menggelantung seperti senyum sang puteri. Semilir angin dingin membelai ujung rambut. Sepi, senyap. Ini bukan kamar di rumahku. Tidak ada penghangat rungan. Tidak ada TV setebal kertas HVS itu.

__ADS_1


Sem sempat mengajak masuk ke gedung pemerintahan. Aku menolak. Belum ada satupun disana yang kami kenal. Sem akhirnya mengajak kami menuju satu tempat yang ditumbuhi pohon palem. Sabana. Padang perdu. Hanya makan malam dengan masing-masing sebiji apel. Lebih dari cukup karena suasana hati kami sedang kacau. Seharusnya saat ini, kami sudah menyantap sop hangat, atau mungkin opor ayam di ruang keluarga. Kami bertiga merebahkan tubuh, beralaskan kedua pergelangan tangan, menghadap langit. Sesekali membahas soal rasi bintang, bintang jatuh, komet, asteroid, meteor, bahkan planet lain. Planet baru yang katanya bisa dihuni.


Lelah dengan beban di benak. Kami akhirnya jatuh tidur.


__ADS_2