The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 22: DUA PULUH DUA


__ADS_3

Halaman istana kerajaan itu nampak lengang. Para pengawal berjaga di depan gerbang, membawa tombak panjang. Berpakaian perang. Satu dua lalu lalang di bagian beranda depan. Juga dengan pakaian perang. Rem memerintahkan mereka semua bersiaga. Dia tahu betul soal kudeta jilid II itu. Terlebih lagi, si sniper  itu akan kembali mengusiknya.


Dari jarak 200 meter. di bawah teduhnya pepohonan. Kami sepakat memulai menggertak. Sem yang beraksi pertama. Sasarannya bukan hanya dua orang penjaga gerbang, tapi siapapun yang ada di beranda istana. Sem memunculkan busur barunya, lebih panjang, lebih kokoh, jangkauannya tempuh anak panahnya juga lebih jauh.


“Lakukan itu dua kali, Sem.” Aku meminta. Sem mengangguk, paham.


Sem membentangkan busur, mengambil anak panah dari arrow rest, meletakkan di busur yang baru, membidik. Bukan dua orang pengawal di depan itu yang jadi sasaran bidikan, tapi ujung atap dari istana kerajaan. Raja Lan dan dua pengawalnya nampak bingung. Sem tersenyum. Lihat saja aksiku, tuan raja. Untuk sekarang, jangan banyak tanya dulu. Begitu kira-kira maksud senyum Sem. Satu hal yang baru aku sadari pada scene ini adalah para pelengkap permainan tidak menyadari jika aku dan Deni adalah player. Mereka menganggap kami penduduk asli tempat ini. Tidak seperti pada ­scene-scene sebelumnya.


Satu anak panah itu meluncur deras menuju angkasa. Sebagai salah satu kemampuan Sem, tidak sempat setengah jalan, anak-anak panah itu sudah mampu membagi menjadi ratusan anak panah baru. Kemampuan membelah diri anak panah itu lebih baik dan lebih cepat dari sebelumnya. Jika jarak sasaran lebih jauh lagi, itu akan membuat anak panah membelah menjadi ribuan. Maka ratusan anak panah itu bersiap menghujani, tanpa disadari seorangpun yang ada di halaman kerajaan. Dua orang pengawal kerajaan itu mendapatkan jatahnya, dua anak panah. Masing-masing mengenai organ vital, tewas seketika. Beberapa orang pengawal kerajaan yang berlalu lalang di halaman juga mengalami nasib serupa. Keributan pecah, teriakan minta tolong terdengar sana-sini. Itu sebenarnya yang diharapkan dari rencana kami. Keributan itu memancing para prajurit yang ada di dalam keluar.


Tanpa perlu diperintah lagi, anak panah Sem yang kedua meluncur, membelah menjadi ratusan. Kali ini korban yang jatuh lebih banyak. Kerumunan yang kebingungan itu menjadi sasaran empuk ratusan anak panah. Sebelum akhirnya kelompok prajurit yang berada di dalam istana menyadari jika itu hanya umpan. Atap-atap bangunan itupun tersibak, air mancur yang ada di halaman depan itu hancur berantakan terkena hujan panah Sem. Tidak ada lagi dari para prajurit itu yang keluar. Sejauh ini, rencana pertama kami berjalan dengan lancar.


“Cukup untuk aksi anak panah itu, Sem. Sekarang giliranku unjuk batang hidung. Kau ikuti di belakang” Aku tersenyum, ini sepertinya akan mudah. “Kalian berempat tunggu disini. Aku akan memberikan tanda saat kalian bisa masuk.” Aku beranjak, Sem mengikutiku di belakang, memasuki halaman istana yang sudah bersih dari penjagaan.


Istana kerajaan itu hanya ada satu lantai. Lantai dengan pualam yang mengkilap dan sedikit licin, bening. Ruang singgasana itu sedikit berada di belakang. Lebih banyak ruangan depan untuk pejabat penting pemerintahan dan penglima-panglima penting kerajaan. Sesuai arahan dari raja Lan, kami berdua sudah mengetahui letak persis dari ruangn itu. Aku dan Sem menyangka Has akan ada disana. Saat ini kami tidak mengetahui jika kerajaan sepenuhnya diambil oleh Rem.


Perjalanan menuju ruangan itu tidaklah mulus. Beberapa prajurit menghadang dengan berbagai senjata. Sem sesekali membantu dari belakang, dengan melesatkan anak panah dari celah-celah sempit, anak panah itu selalu tepat sasaran. Saat ini, sudah tidak bisa dibedakan lagi. Mana prajurit yang masih setia, mana prajurit yang sudah benar-benar berkhianat. Jika mereka menyerang, anggap mereka adalah bagian dari pengkhianatan. Sejauh ini tidak ada halangan yang berarti. Aku dengan mulus melancarkan serangan, bahkan hanya dengan lambaian tangan beberapa prajurit sudah jatuh tersungkur. Sarung tangan yang aku beli dari negara Sabana ini membantu banyak.


“Apa kita perlu berpencar, Jon?” Sem bertanya, kami berdua terus merangsek masuk ke dalam, berlari.


“Tidak perlu, Sem. Sebentar lagi kita akan sampai.” Aku menjawab dengan yakin.


Para prajurit kerajaan itu terus menghalangi, sesekali kontak fisik terjadi. pertarungan jarak dekat. Sem sudah berpengalaman, dia juga ikut terjun membantu, walaupun bukan keahliannya berkelahi dengan adu jotos. Prajurit seperti itu jelas mudah saja baginya, tidak lebih dari seekor singa di negara pasir. Aku melepaskan pukulan, puluhan prajurit itu terpental, membentur dinding-dinding beton. Membuat retak. Sepertinya aku berlebihan. Lampu-lampu bahkan berjatuhan. Hancur berkeping-keping. Tubuh bergelimpang para prajurit itu langsung menghilang dari permainan.


Kami tiba diruangan yang dituju.


“Kau yakin ini ruangannya?” Sem menunjuk gagang pintu. Ragu.


Aku mengangguk. Aku yakin sekali. Kerajaan ini memang berbeda dengan kerajaan kebiasaan. Ada ruangan-ruangan seperti di kantor untuk petinggi-petinggi istana. Ruangan khusus untuk sang raja juga dibuat seperti ini. Bahkan letaknya di bagian belakang.


Sem mendorong pintu. Mengintip perlahan. Senyap. Tak ada gerak-gerik dari dalam yang membahayakan. Saat pintu terbuka penuh, pemandangan tak mengenakkan terlukis di pelupuk mata. Seseorang dengan lubang dibagian dada, singgasana yang terlempar dari tempat asalnya yang entah dimana. Aku dan Sem berjalan mendekat, mengambil langkah waspada.


Tubuh itu terbaring tak berdaya. Dia tewas? Entahlah. Mulutnya menganga, lubang besar dikelilingi darah menggurat di bagian perut atas, dekat dada. Pakaiannya lembab bekas darah. Sem memeriksa singgasana yang terjungkal dan terpental. Juga ada lobang di bagian sandaran punggung, seperti irisan benda tipis dan tajam. Tembus sempurna.


“Aku memang tidak yakin. Tapi untuk sementara, orang ini bisa kita simpulkan adalah Has, raja baru kerajaan ini.” Sem menyimpulkan.


Aku mendongak, menatap wajah Sem yang masih menatap lamat-lamat tubuh yang dingin dan kaku itu. Has? Bagaimana mungkin? Siapa pelakunya? Atau siapa penjahat keduanya?


“Kita tidak bisa memastikan Jon. Mungkin hanya raja Lan yang dapat mengambil kesimpulan. Sebaiknya kita buat tanda agar Deni dan yang lain bisa kesini.” Sem sudah mengambil satu anak panah dari arrow rest nya.


“Tunggu, Sem. Dimana Rem?” Aku memegang tangan Sem.


Aku dan Sem terdiam seketika. Has memang sudah melakukan kudeta. Tapi dimana Rem? Bukankah menurut raja Lan, mereka adalah teman akrab, teman bisnis barang terlarang? Jika dugaanku benar, ini bukan hanya kudeta biasa. Ini adalah kudeta di atas kudeta. Dan kami akan merebut kudeta di atas itu. Sehingga jadilah kudeta di atas dua kudeta. Penyerangan di atas pemberontakan dari pemberontak. Rem? Dimana dia? Jangan-jangan?


Aku langsung memukul atap ruangan, membuat lubang sebesar telapak tangan. Pukulan yang aku keluarkan sudah bisa kuatur seseui kehendak. Aku bisa mengendalikan pengeluaran energi dan tekanan angin. Sehingga dampak pukulan itu tidak akan membahayakan kepada orang yang tidak aku kehendaki untuk dipukul. Sem lantas melontarkan anak panah melalui lubang yang aku buat itu. Memberikan tanda kepada Deni dan raja Lan jika mereka sudah bisa masuk.


Kesepakatan sebelumnya. Berikan tanda jika dua kemungkinan terjadi. Pertama, jika aku dan Sem sudah tidak mampu melawan musuh. Dua, jika raja Has telah benar-benar kalah (dengan mudah). Tapi dua kemungkinan itu sama sekali tidak terbukti. Dari sinilah rencana yang kami susun berubah. Strategi sebelumnya diabaikan. Dimana Rem?


Anak panah itu sudah meluncur melewati atap istana kerajaan(dengan tanpa membelah). Itu berarti rombongan Deni sudah melihat tanda itu. Mereka akan segera menuju kesini dalam beberapa menit. Aku dan Sem menunggu di dalam sambil memperhatikan tubuh Has yang tergelimpang.

__ADS_1


“Sem, apa kita melupakan sesuatu?” Aku betanya. Sem menoleh, mengangkat tangan. Apa?


“Bukankah di dalam game ini semua yang sudah tewas tubuhnya akan menghilang? Lihatlah tubuh ini. Masih ada.”


Sem memperhatikan lamat-lamat. Memegang pembuluh darah yang ada di pergelangan. “Dia memang masih hidup.”


Aku seketika tersentak, mundur beberapa langkah. Hampir saja terjerembat. Dia masih hidup? Sem mengangguk.


“Tapi tubuhnya sudah tidak ada energi lagi. Ini hampir sama seperti stroke yang terjadi pada manusia. Dia tidak mati, tapi mustahil untuk bisa bergerak normal seperti orang hidup. Cepat atau lambat, dia akan mati.” Sem menjelaskan.


Aku mengangkat tangan. Apa yang harus kita lakukan? Orang ini adalah pelaku kudeta, sebelum ia sendiri juga di kudeta. Sem mengangkat bahu. Entahlah.


Lengang sejenak. Sepi. Sudah tidak ada prajurit kerajaan yang mencoba menyerang lagi. Semuanya benar-benar habis, tewas. Karena melawan. Tidak ada larangan dari raja Lan untuk menahan kekuatan. Habisi mereka yang melawan. Beberapa prajurit yang masih setia dengan raja Lan kemungkinan sudah di bunuh oleh Has anak buahnya, atau mungkin Rem. Yang tersisa melakukan perlawanan ini semuanya murni adalah anak buah Has. Semuanya juga sudah tewas.


Hening. Menunggu. Tubuh di depan kami itu sedikitpun tak bergerak.


Sementara rombongan Deni dan Raja Lan belum juga menuju ruangan istana, walaupun mereka sudah melihat tanda yang diberikan Sem. Terhalang. Terhalang oleh sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak akan membuat mereka lolos, kecuali aku dan Sem yang kembali menemui mereka.


Tubuh itu muncul begitu saja. Dari belakang, tanpa sedikitpun ada yang menyadari, bahkan tanda-tanda kehadirannya. Lantas tubuh melakukan sekali tendangan. Empat orang langsung terpental, terlempar lurus ke dalam hutan, menjauh dari istana. Berguling-guling tanpa henti, selama tak ada yang menopang tubuh. Efek tendangan itu benar-benar luar biasa. Beberapa ranting patah, daun-daun berserakan. Tersibak. Deni mendesis. Dua pengawal itu berdiri, tubuh mereka sudah terbiasa dipukul. Membantu raja Lan berdiri. Sosok yang menendang mereka itu tidaklah asing, apalagi bagi raja Lan.


“Rem! Kenapa dia ada disini?” Raja Lan mendesis, tubuhnya sudah tidak terlalu kuat menahan tendangan itu, dua pengawal membantunya berdiri.


“Jadi ini yang namanya Rem. Aku membayangkan dia adalah lelaki kuning langsat, ternyata dugaanku meleset.” Deni berlari, menguhunus pedang. Menyasar tubuh yang entah nyata atau tidak itu.


Ayunan pedang itu berkilat. Tebasannya meluncur dari jarak tiga meter. Jarak terdekat untuk melakukan serangan bagi Deni. Tapi tubuh itu, wajahnya, ekspresinya, seolah tidak peduli. Santai. Hanya satu langkah menyamping. Ya, hanya satu langkah menyamping. Rem berhasil menghindari serangan itu. Tebasan pedang Deni meluncur deras menghantam pohon-pohon besar, menumbangkan apapun yang ada di hadapan, memecah batu, menyibak dedaunan yang telentang di tanah, selama energi tebasan itu masih ada. Hingga akhirnya tebasa itu hilang kehabisan tenaga. Deni mundur beberapa langkah ke belakang. Rautnya mulai cemas. Jelas, lelaki di hadapannya, walaupun kurus, hitam, dan aneh, tapi orang yang bisa menghindari serangannya dengan jarak sedekat itu bukanlah orang sembarangan.


Lengang. Dedaunan berayun di tangakainya. Jatuh ke tanah, menutup jalur goresan pedang. Deni mengusap wajah. Keringat keluar.


“Karena aku suka berjalan-jalan di hutan.” Rem menganggapi santai. Tangannya bersedekap. Wajah itu selalu bersikap dingin.


“Apa Has yang memintamu menahan kami disini?” Raja Lan kembali bertanya, melepaskan papahan dua pengawal.


Rem tersenyum, melepaskan sedekapannya. “Raja baru itu sudah tidak ada.”


Deni mendongak, dia sudah mencium bau-bau pengkhianatan.


“Apa maksudmu, Rem? Raja Lan menatap wajah dingin itu dengan ekspresi kuyu.


Wajah dingin itu tersenyum kembali. “Apa aku perlu menjelaskannya kepadamu tuan mantan raja? Dia sudah mengkhianatimu, mengambil alih kerajaanmu, merampas semua yang kau miliki. Entahlah, rakyat percaya atau tidak kepadanya. Entahlah rakyat masih percaya kepamu atau tidak. Kau terlalu lemah. Untuk apa menanyakan orang yang  sudah mengambil semuanya darimu? Untuk apa mengkhawatirkannya? Dia pengkhianat. Raja Lan, bergabunglah bersamaku. Kau bisa membantuku untuk membuat kepercayaan rakyat kembali. Aku yang akan memimpin, dau kau bisa menjadi penasihat kerajaan.”


Raja Lan diam. Tak berkomentar. Buncah, dalam pikirannya sudah terpampang nasib Has. Tewas di tangan Rem.


Tebasan pedang itu kembali meluncur deras, berpilin, berkilat, bersinar terang. Rem dengan mudah menghindar, bahkan tanpa melihat. Deni menggeram, dia seolah bukan apa-apa di tempat ini. Keberadaannya tidak dianggap. Dan itu membuat kemarahannya meledak. Serangan betubi-tubi(membabi buta) dilancarkan. Tebas kanan, tebat kiri, sabet atas, sabet bawah. Nihil. Wajah dan tatapan Rem menatap raja Lan, tubuhnya bergerak lincah menghindari serangan pedang. Terlalu kuat, terlalu hebat. Deni akhirnya tersengal. Semua serangannya sia-sia.


“Apa itu caramu bertarung, hitam, kurus!?” Deni berseru, tatapannya dibuat setajam mungkin.


Rem tidak memperdulikan ejekan itu. Dia terus menunggu jawaban dari Raja Lan. Deni semakin menggeram. Kembali menyerang. Kali ini bukan dengan tebasan, bukan dengan sabetan, tapi dengan tusukan. Mata pedang itu bergerak lurus di genggaman tangan tuannya. Menjurus, menyasar lambung. Jika memang tidak bisa diserang dengan masih adanya jarak. Makan Deni akan membuatnya tanpa jarak. Berusaha menancapkan pedang itu sedalam-dalamnya menembus lambung. Atau mungkin jantung. Masih ada dua pilihan di benaknya.


Terus-terusan di serang, terusa-terusan menghindar. Akhirnya membuat Rem bosan. Bosan karena seperti di lawan anak-anak yang ingin merebut mainan dari orang dewasa dan bosan karena ajakannya kepada raja Lan tak kunjung mendapatkan jawaban. Saat ujung pedang itu sepersekian senti lagi menyentuh pakaian Rem, tubuh itu menghilang. Cepat. Muncul di belakang Deni. Telak, tendangan keras dari belakang menghujam punggung. Deni terpental belasan meter. Bukan tendangan bertenaga seperti awal kemunculannya, tapi lebih kepada tendangan biasa.

__ADS_1


“Kau sadar bocah? Itu hanya tendangan biasa. Seperti itulah tendanganmu. Aku bahkan tidak perlu mengeluarkan energi sepersekian persenpun untuk melakukan itu. Sebaiknya kau pulang dan melapor pada ayahmu. Merengeklah dan bilang jika ada temanmu yang menjahilimu.” Rem berbicara tanpa menatap. Pandangannya tetap kepada raja Lan.


Deni tersungkur. Mengerang. Energinya seperti sudah terkuras habis. Merangkak. Berusaha berdiri lagi. Kakinya kebas. Sial! Makhluk macam apa ini?


“Dengar raja Lan! Kalau kau tidak mau ikut bergabung. Terpaksa, kepalamu aku jadikan hiasan lorong kerajaan. Semua prajurit akan melihatnya. Bahkan penduduk negara ini, jika mereka mau. Aku bisa membuat acara pameran benda berharga, banyak benda-benda di kerajaan ini yang antik yang menarik perhatian. Salah satunya adalah kepalamu yang sudah beruban itu.” Rem terkekeh. Entah sejak kapan dia mulai bisa terkekeh.


Dua pengawal menggeram marah. Kedunya tanpa aba-aba serentak menyerang. Apalah daya, mereka hanya pengawal biasa. Ahli bertarung? Iya. Berpengalaman? Iya. Tapi lawan mereka? Itulah yang membuat mereka tak berdaya. Dua tubuh itu terpental jauh. Pohon-pohon pun tak mampu menahan tubuh mereka. Terus meluncur deras hingga tak terlihat. Entah mereka mati atau tidak, atau bahkan sudah kehilangan nyawa sebelum tubuh itu terhenti, tertahan batu yang besar.  Dua tubuh itu akhirnya lenyap, menghilang. Daun-daun tersibak, jatuh dari tangakainya. Itu pukulan, bukan tendangan. Rem melepaskannya dengan bertenaga. Terlihat kepulan asap putih dari kepalan tangan yang masih terangkat setinggi dada. Satu pukulan, dua prajurit bisa tak bernyawa.


Raja Lan hanya diam mematung, menatap jeri dua pengawalnya yang sudah binasa. Tak bisa berbuat banyak. Di negerinya, tidak ada orang yang mampu memukul sekuat itu. Bahkan Has yang dikenalnya sekalipun. Rem selama ini benar-benar menyimpan semua kekuatan itu darinya.


“Sekarang giliranmu, tuan mantan raja.” Rem melangkah perlahan, mendekati tubuh kaku yang sudah tua itu.


Sementara Deni masih berusaha berdiri, kakinya mati rasa. Langkahnya berat, pedangnya juga terjatuh. Situasi yang sulit. Saat akan melakukan pukulan, lelaki dengan tubuh hitam itu mendadak melangkah mundur. Satu anak panah hampir saja mengenai bahu kirinya, meleset, lantas tertancap di batang pohon yang kokoh. Sem melepaskan anak panah itu dari kejauhan, menerapkan cara asli dari seorang archer. Sementara aku, berlari sekencang-kencangnya. Melepas pukulan sebelum menggapai jarak sepuluh meter. Rem tak bergeming dari tempatnya berdiri. Tapi kakinya terbenam ke bawah tanah hingga mata kaki, menahan pukulanku.


Pukulan kedua, aku meloncat tinggi. Memukul lagi. Tapi sayang, tubuh itu sudah menghilang. Aku menghantam tanah bekas kaki Rem terpendam. Membuat daun-daun di sekitar tempat itu bergelombang, seperti lapisan atas air yang terkena tetesan sabun. Angin di sekitar tempat itu berderu keras. Ranting-ranting berterbangan. Rem menghilang.


Aku mencari-cari. Menoleh sana-sini. Kemana dia? Berbahaya jika Rem tiba-tiba muncul di belakang raja Lan, lantas menghajarnya tanpa ampun. Deni juga sama, kakinya sudah mulai terasa ringan. Sem bahkan lebih cemas. Busur dan anak panahnya bersiaga membidik. Mencari-cari. Berhadapan dengan musuh yang memiliki kemampuan seperti ini memang menjengkelkan. Rem mungkin bisa melihat kebingungan kami entah darimana, tapi kami tidak.


“Den, lindungi raja Lan.” Aku berkata pelan. Memangggil Deni yang bergerak mendekat. Seperti mengendap-endap.


‘Sial! Lelaki hitam legam itu malah main petak umpet di tengah hutan.” Deni memaki. Kesal.


Nampak lengang. Sepi. Semilir angin berhembus pelan. Tak kuasa menggetarkan ujung rambut. Tertahan kokohnya ratusan pohon bercabang. Dimana Rem? Jangan-jangan..


“Sem!!” Aku berseru.


Di bawah tanah. Tangan itu mencengkram. Kaki Sem terbenam hingga lutut, tertarik ke bawah. Rem ternyata berada di bawah tanah. Kehilangan keseimbangan, Sem tak kuasa membidikkan anak panahnya. Rem masih memegang kedua kakinya. Tubuh itu keluar dengan deras, membongkar-bangkir tanah di sekitar. Kaki Sem terkunci, tubuhnya mengiringi gerakan Rem yang naik ke atas. Rem terbang? Entahlah. Sejak berada di negara pasir, kami sudah pernah menyaksikan orang yang bisa terbang. Tidak aneh. Rem membawa Sem meluncur ke atas, seperti roket. Astaga! Jangan-jangan!


Dugaan itu benar. Rem akan kembali. Kembali menghempaskan tubuh itu ke tanah. Berdua? Tidak. Rem bisa saja menghilang sebelum tubuhnya terhempas. Tapi Sem? Ini benar-benar gawat. Panik. Semua panik. Deni menutup wajah, tak sanggup jika harus menyaksikan tubuh itu menghujam keras ke atas tanah. Ini bukan hanya seperti sekedar jatuh dari pesawat, tapi lebih daripada itu. Rem menggunakan kecepatannya ditambah dengan gravitasi. Kecepatan meluncur dari angkasa itu melebihi lazimnya benda yang jatuh. Keras, sangat keras. Cepat, sangat cepat.


Aku mencoba membuat tameng. Menyilangkan tangan, bermaksud menahan. Separuh tameng sudah siap. Tidak. Itu tidak akan membantu. Tameng yang keras akan menambah efek benturan yang membahayakan Sem. Urung, tameng itu kembali menghilang. Tidak ada yang bisa dilakukan.


Saat itulah, saat kami kehabisan akal untuk kesekian kalinya di dalam game ini. Sesuatu yang tak terlihat meluncur keras. Dari kejauhan, entah dari sudut mana di hutan ini. Sebuah peluru lepas landas dari moncong senjatanya. Sasaran bergerak itu sudah terkunci. Peluru itu mengenai bahu kanan, bahu kanan Rem. Terlalu fokus dengan Sem, deru angin yang kencang saat meluncur, ditambah mempersiapkan diri untuk segera menyingkir dari tubuh itu sepersekian senti sebelum menyentuh permukaan tanah, membuat Rem tak mampu menyadari kehadiran sebutir peluru. Tubuh itu akhirnya terlepas, kecepatan jatuh Sem berangsur pelan, mendekati normal. Tapi tetap saja, jarak yang terlalu tinggi. Jatuh dengan kecepatan apapun akan  berdampak fatal.


Hening. Menyisakan dua tubuh yang sudah terpisah meluncur deras menyasar tanah. Seperti rudal kendali antar benua. Tidak ada waktu, tidak ada ide, tidak ada kesempatan. Sem sepertinya akan benar-benar menghujam tanah. Untuk kesekian kalinya, kehabisan akal itu kembali tertimpali. Tubuh Rem menghilang, bukan sepersekian senti dari permukaan tanah. Tapi beberapa meter di atasnya. Dia sudah berpindah tempat. Sementara tubuh Sem bergerak semakin pelan, semakin pelan. Bagaimana mungkin? Tubuh itu bahkan tidak seperti seseorang yang jatuh, hanya seperti benda yang mengambang kehilangan gravitasi. Tubuh Sem mendarat sempurna, seperti saat keluar dari portal.


Aku menoleh. Raja Lan yang melakukannya. Dia menurunkan tangan yang terangkat.


“Aku pikir aku sudah bisa lagi melakukan kemampuan itu. Tubuhku sudah terlalu tua.” Raja Lan tersengal, nafasnya tak beraturan. Memperlambat benda seperti itu menguras banyak energi dari tubuhnya. Tidak masalah, Sem sudah selamat.


Satu pertanyaan. Baik, aku sudah tahu yang membuat tubuh Sem itu melambat adalah kekuatan dari raja Lan yang baru saja kembali terbangun dari tidur panjang. Tapi entahlah dia bisa menggunakannya lagi atau tidak. Yang masih membuat ujung-ujung rambutku digantungi pertanyaan adalah kenapa Rem melepas tubuh Sem sebelum menubruk tanah. Aku hanya bisa melihats sekilas. Tapi aku tidak yakin. Pistol? Senjata? Tidak ada dari kelompok kami yang menggunakan benda itu.


“Itulah yang aku sebut tambahan bantuan. Ternyata dia benar-benar datang. Ahli senjata yang aku sebutkan sebelumnya. Seorang sniper.” Raja Lan masih tersengal, rautnya nampak sayu. Ujung matanya berair. Entah apa penyebabnya.


“Datang? Kenapa dia tidak berada di tengah-tengah kita sekarang?” Deni mendekat, bertanya. Kakinya kebasnya sudah benar-benar pulih.


“Itu memang tugas seorang sniper, Den. Mereka bukan petarung jarak dekat. Sama sepertiku, aku memerlukan jarak untuk bertarung. Mereka lebih memerlukan jarak lagi, bahkan lebih jauh daripada yang aku perlukan. Satu peluru yang diletuskan dari seorang sniper benar-benar harus tepat sasaran. Walapun dari jarak satu kilo. Mereka ikut bertarung, tapi tidak telibat langsung di medan perang. Bersembunyi.” Sem menjelaskan, mengusap wajah pucatnya yang baru saja selamat dari menubruk tanah dengan kecepatan meteor.


“Aku rasa pertanyaan dan penjelasannya sudah usai, kawan-kawan. Lelaki itu masih mengincar kita sekarang.” Aku memperingatkan. Kami berempat saling membelakangi, saling mengawasi arah punggung masing-masing. Tidak mungkin Rem melakukan cara yang sama, mengendap dari bawah tanah.

__ADS_1


Lengang. Senyap. Dedaunan satu dua berjatuhan dari tangkainya. Sinar matahari terhalang awan putih, terhalang ratusan pohon yang besar. Menegangkan.


__ADS_2