The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 3: TIGA


__ADS_3

Sebuah peluru melesat deras dengan kecepatan 3.500 meter per detik, tanpa diketahui seorang dengan perawakan gendut, perut buncit, dan mata sipit langsung tergeletak tak bernyawa di dalam sebuah tandu. Empat orang pelayan yang mengusung tandu heran, biasanya Wang Lei gemar bersenandung dalam perjalanan. Keempat pelayan sepakat meletakkan tandu, memeriksa ke dalam. Mereka terperangah, menatap satu sama lain. Wang Lei sudah tewas, kepalanya berdarah tepat di bagian pelipis, berlubang. Sebuah lubang kecil dengan ukuran diameter  kurang lebih 99 mili juga terlihat di dinding tandu yang terbuat dari terpal. Posisinya simetris dengan posisi kepala sebelah kanan Wang Lei, ini jelas ulah sniper. Belum sempat keempat pelayan itu saling tanya karena bingung dengan kejadian yang menimpa bos mereka, satu persatu peluru juga menembus dahi mereka, tembus hingga ke otak. Mereka semua tewas terkapar dalam hitungan kurang dari lima detik.


Suasana hening, menyisakan sebuah tandu yang mematung.


“Ternyata benar, ini ganja.” Seorang wanita mendekati tempat itu, menyingkai ke dalam tandu. Ada lima karung berisi ganja di dalamnya. Wanita itu mengambilnya, membakarnya. Setelah api padam, dia beranjak pergi.


Rombongan itu adalah penyelundup ganja dari luar daerah. Mereka menjualnya dengan harga lebih murah. Sasaran mereka adalah wilayah kerajaan, tepatnya satu orang pengawal kerajaan. Wang Lei adalah bos mafia ganja terkenal, dalam artian terkenal di antara sesama penikmat bisnis sepertinya. Dia dan anak buahnya memiliki kebun ganja terbesar yang tidak bisa diganggu siapapun. Mereka meliliki panjaga yang bersenjata lengkap, pada zaman itu. Ladang ganja itu jauh dari keramaian. Hanya orang-orang tertentu yang menjalin kontrak kerjasama yang mengetahuinya. Termasuk diantaranya, salah seorang pengawal kerajaan yang menjalankan bisnis keji tersebut. Dia bekerja sama dengan Lei tanpa sepengetahuan sang raja.


“Kenapa si mata sipit itu lama sekali.” Has terlihat kesal. Dia mondar mandir di halaman samping istana kerajaan.


“Rem, bukankah dia berjanji mengantarkannya sore ini. Padahal ini saat yang tepat, raja sedang pergi keluar dengan sebagian pengawal, tidak banyak ada orang disini.” Has adalah pengawal yang dimaksud, dia penggerak roda bisnis ganja itu di dalam kerajaan. Ternyata dia sudah punya teman sesama bisnis, Rem. Seorang pengawal yang sudah menjadi mangsa bisnisnya.


Rem mengangguk. Dia memang tidak banyak berbicara. Mereka menunggu rombongan Wang Lei. Perjanjian yang dibuat sebelumnya adalah sore hari sebelum matahari tenggelam. Jika sudah tenggelam, raja akan kembali ke istana.


“Jangan-jangan ini kembali ulah Si Sniper itu.” Has memangku dagu, menyelidik. Dia masih terlihat kesal. Rem di sebelahnya duduk di sebuah bangku panjang, kepalanya mendongak menatap sisa-sisa sinar mentari yang hampir tenggelam.

__ADS_1


“Seberapa hebat dia? Penembak jitu? Dia hanya seorang wanita.” Rem akhirnya ikut berbicara. Suaranya datar, tanpa intonasi.


“Wanita itu sudah tiga kali menggagalkan rencanaku. Terakhir sebelum hari ini (mungkin), dua minggu yang lalu dia membakar garobak yang digunakan mengangkut barang dagangan itu. Dua orang anak buah si mata sipit itu tewas di tangannya. Satu bulan sebelum itu, dia mencegat di jalan seorang anak buah si mata sipit yang mambawa sekarung ganja. Aku tidak tahu bagaimana cara dia mengetahui isi karung itu, tapi sasarannya selalu tepat. Dia seolah bisa mencium benda yang sudah terbungkus rapi berlapis-lapis.” Has ikut duduk di samping Rem. Suasana halaman di samping istana itu kembali lengang. Burung-burung sudah melintas di atas kepala, kembali ke sarang. Matahari juga sebentar lagi akan tumbang.


“Seharusnya pertemuan itu di luar wilayah istana, Has.” Rem mengusulkan.


“Kau benar. Terlalu sering mereka mengantar barang kesini.” Has mengangguk. “Kalau begitu, aku akan menuju jalur lintasan mereka. Kau bisa buat alasan jika raja sudah datang.” Has beranjak meninggalkan Rem yang masih duduk di bangku samping istana. Rem menoleh, menatap punggus Has yang berjalan cepat, lantas membuang pandangannya, mendongak ke arah langit. Sebentar lagi akan gelap.


Rem sebenarnya agak kesal, dia sudah sering mengarang alasan untuk raja karena perbuatan Has. Rem selalu membela Has karena bisa mendapatkan ganja darinya dengan harga lebih murah. Bahkan separuh dari harga aslinya.


“Duagaanku benar. Sniper itu kembali berulah. Dia harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.” Has mendapati tubuh Wang Lei dan empat orang pelayannya sudah terbaring kaku tak bernyawa. Di bagian kepala mereka bersimbah darah, sebagian sudah mengering meresap ke tanah.


Tak jauh dari rombongan Wang Lei yang sudah tewas, daun-daun ganja sudah menjadi debu. Ganja itu sengaja di bakar oleh si sniper.


“Kita harus bertindak sebelum semua ini menjadi berita hangat di kerajaan, Has.” Rem tiba-tiba muncul dari belakang. Has yang mendengar suaranya terkejut.

__ADS_1


“Tidak bisa kah kau menghentikan tingkah anehmu yang selalu muncul tanpa permisi, Rem?” Has terlihat kesal, dia bersuara dengan lantang.


Rem hanya diam, tidak ingin terlalu menanggapi.


“Kau bisa urus mereka ini, Rem?” Has berbalik badan, dia bertanya. Rem hanya mengangguk. Patuh.


“Tunggu dulu. Apa kata raja saat kau pergi kesini?” Has panasaran. Jangan-jangan raja mengetahui kepergiannya.


“Dia sudah di istana beberapa menit setelah kau pergi. Aku sudah membuatkan alasan yang bagus.” Rem menjelaskan.


“Bagus. Kau memang selalu bisa aku andalkan. Sekarang, apa bisa aku meninggalkan tempat ini? Kau bisa mengurus ini sendiri?” Has menatap Rem. Ekspresi Rem terlihat datar, dia tidak punya rasa takut sama sekali terhadap Has. Sebenarnya, Rem jauh lebih kuat daripada Has. Hanya saja, dia selalu menahan kekuatannya demi ganja dengan harga diskon.


“Aku akan mengurusnya.” Rem beranjak dari hadapan Has. Dia mengeluarkan sesuatu di tangannya. Has yang selalu menganggap Rem bisa diandalkan beranjak meninggalkan tempat terbaliknya tandu Wang Lei beserta anak buahnya itu.


Matahari sudah tenggelam sempurna. Hutan sepanjang pinggir jalan terasa sepi. Sesekali terdengar suara binatang malam. Has tidak peduli, dia terus beranjak pergi. Pulang menuju istana.

__ADS_1


__ADS_2