
Tidak pernah ada yang menyangka. Raja dari negara Laut adalah orang yang selama ini kami cari. Mafia minyak yang mengendalikan negara pasir, pengacau negara Sabana, borunan. Sew selama ini memang tidak terlihat seperti raja. Tapi saat aku melihatnya duduk di kiani itu, memakai pakaian kebesaran. Nampak sudah rencana besar yang selama ini Sew rencakan. Menguasai seluruh negara. Jika dilihat dari segi kekuatan, negara ini memang tidak ada apa-apanya dibanding negara lain seperti Hutan Hujan Tropis yang memiliki Rem, atau negara pasir yang memiliki Was yang sudah meluluh lantakkan negaranya sendiri. Negara Laut hanya unggul dari segi jumlah pasukan.
“Selamat datang.” Suara cempreng itu menyapa dengan senyuman.
“Kami kesini untuk menangkapmu, Sew. Hentikan semua rencana ini.” Deni berseru tertahan. Waspada. Sew memiliki senjata yang mematikan. Dia mampu membunuh hanya dengan satu peluru.
“Rencana apa?” Sew tertawa.
“Jangan pura-pura, Sew. Kami kesini bukan untuk bergurau.” Aku memotong tawa itu.
Sew mengangkat tangan. “Bukankah anak-anak seperti kalian menyukai bersenang-senang.” Tertawa.
Membenci kalimat basa-basi itu. Deni menebaskan pedangnya. Goresan berpilin itu meluncur deras menuju kiani. Sew meloncat menghindar. Kiani itu kini hancur berkeping-keping. Sew membalas dengan meraih pistolnya di balik punggung. Menembak. Kami meloncat menghindar ke belakang. Pualam itu kini penuh dengan lubang. Dan satu pemandangan mengerikan lagi, pualam yang terkena peluru itu meleleh.
“Peluru itu berbahaya, Den.” Aku menoleh. Deni mengangguk.
Sekarang giliranku. Gesit berlari menghindari peluru yang terus keluar dari moncongnya, tiba di depan Sew. Satu pukulan menyasar bagian rahang. Sew terpental.
“Yes!” Dari belakang, Deni mengepalkan tangan. Dinding ruangan yang menahan tubuh Sew itu retak. Maka aku menyadari, Sew bukan orang sembarangan. Pukulanku yang jika mengenai seratus orang pasukan berkuda laut, mereka langsung tewas. Tapi Sew terlihat baik-baik saja. Daya tahan tubuhnya luar biasa.
“Dengan pukulan seperti itu kau menghabisi anak buahku. Sungguh, aku sendiri tidak pernah menyadari jika selama ini aku memiliki anak buah yang payah.” Sew menyeka mulutnya. Beringsut perlahan keluar dari retakan dinding yang memendam tubuhnya. Berjalan mendekati kami berdua.
“Serang dia, Den.” Suaraku serak, gugup. Ini pertama kalinya aku melawan musuh dengan perasaan teramat cemas.
Belum sempat Deni menebaskan pedangnya. Sebuah peluru masuk menerabas ke dalam melalui pintu yang terbuka. Tepat mengenai dahi Sew. “Berhasilkah?” Kami berdua bertanya-tanya. Kepala Sew terdongak ke belakang, matanya menatap langit-langit ruangan. Terdiam.
Aku dan Deni menelan ludah berkali-kali. Jika ini di daratan, peluh dingin mungkin sudah mengguyur deras tubuh kami.
Lengang.
Tubuh yang menatap langit itu terkekeh, bergoyang. Lubang yang dibuat oleh peluru Nin itu perlahan menutup. Sew ternyata memiliki sistem penyembuhan pada tubuhnya. Ini akan semakin rumit.
“Kita serang bersama, Den.” Aku mengepalkan tangan. Deni mengangguk.
Deni menebaskan pedangnya beberapa meter dari Sew, tebasan bercahaya itu bergetar keras, membuat angin di dasar laut berderu. Lagi, tebasan itu mengenai tubuh Sew. Tapi hanya menimbulkan bekas sobek di pakaiannya. Luka yang dibuat tebasan pedang itu menutup cepat sebelum aku melepaskan pukulan. Tubuh Sew kembali terpental, terkena pukulan dari jarak tiga meter.
“Percuma, anak muda. Percuma.” Sew terkekeh, bangkit dari dinding yang kini sudah roboh. Puing-puing mulai berserakan.
Serangan belum berakhir. Ribuan anak panah masuk melalui pintu yang terbuka. Aku dan Deni terpaksa harus menunduk. Ribuan anak panah itu seperti lebah yang menyerang, menggerogoti tubuh Sew, menghujam bersamaan.
“Kita serang setelah anak panah itu selesai.” Aku berbisik pelan.
Pemandangan yang membuat jeri kembali menggantung di depan mata kami. Ribuan anak panah itu, sebagian menancap di tubuh Sew, sebagian lagi berjatuhan di lantai pualam. Menggunung. Anak panah yang menancap itu meleleh seperti terkena zat asam. Luka yang dibuatnya juga menutup dengan cepat. Apakah Sew tidak bisa mati?
Sew menatap tajam. Kini dia sudah bertelanjang dada. Pakaiannya sobek, hancur terkena ribuan anak panah. Tubuh kecil itu sebenarnya kekar, penuh otot.
“Apa rencanamu dengan rudal antar dimensi itu, Sew?” Sem melangkah mendekat. Mensejajari kami berdua.
“Kau tidak apa-apa, Sem?” Deni berbisik pelan. Sem mengangguk.
“Rencana apa? Aku hanya sedang bermain-main.” Sew terkekeh. Matanya tetap menatap tajam. Mulai bosan bermain-main.
“Kau bukan hanya membohongi rakyatmu. Kau bilang kerang mutiara itu sudah langka, rakyat dibatasi menggunakan energinya sebagai penerangan. Itu semua bohong. Kau menggunakannya untuk kepentinganmu sendiri. Kau membuat rudal yang mampu menyerang negara lain menggunakan portal. Satu rudal sudah kau luncurkan. Entah, negara mana yang sudah tinggal nama. Kau bukan hanya menyakiti perasaan rakyat negara ini. Tapi seluruh negara akan menjadi korban ambisi butamu itu, Sew.” Sem membidikkan busurnya, bersiap menyerang. Anak panahnya di dalam arrow rest hanya tinggal satu, atau mungkin dua.
“Ambisi apa? Sudah aku katakan. Aku hanya sedang bermain-main. Negara lain itu tak ubahnya seperti bidak catur yang bisa aku mainkan. Aku yang membuat peraturannya sendiri. Prajuritku boleh maju lebih dari satu langkah di daerah lawan.” Sew kembali terkekeh, tubuhnya bergoyang.
“Sayang sekali, Sew. Mesin rudal itu sudah aku hancurkan. Anak buahmu di luar sudah aku habisi. Hanya tinggal kau sekarang.” Sem tersenyum sinis.
Aku mengerti sekarang. Itu sebabnya anak panah Sem hanya tinggal dua.
Sew yang mendengar pernyataan itu sebenarnya terkesiap. Tapi tak menampakkannya. Malu. Itulah sifat penjahat yang licik. Giginya sudah mulai bergemelatukan. Marah.
“Kalau begitu kalian akan membayarnya.” Suara itu bergetar, marah. Sew menodongkan pistolnya.
Tanpa ampun peluru yang keluar menembak apa saja. Meleleh. Kami bertiga terpaksa harus terus berlari menghindar. Gedung itu sekarang sudah hampir runtuh. Ditambah lagi, Nin juga menghajarnya dari luar dengan rentetean peluru sekaligus peledak.
“Ada apa dengan pistol itu, Jon? Kenapa pelurunya tidak bisa habis?” Deni bertanya sambil berlari.
“Itu pistol jenis unlimited. Pelurunya tidak akan pernah habis.” Sem yang menjawab setengah berteriak. Suara desing peluru itu memekakkan telinga. Membuat bising. Ikan-ikan di luar gedung berlarian menjauh.
Sem melepas satu anak panah. Tidak sempat membelah, malah terbelah oleh tembakan peluru Sew. Dua bagian anak panah itu jatuh ke lantai pualam. Sem berusaha meraih satu anak panahnya yang tersisa, mendesis pelan. Itu amunisi terakhirnya. Sementara Sew terus menembaki, tanpa peduli gedung miliknya itu sudah seperti es krim yang mencair. Atap bangunan jatuh berdebam. Kami bertiga menghindar. Nin berhasil merobohkan bagian atas bangunan itu.
“Bagun, Nin. Sekarang, Sem!” Sambil berlari.
Sem melontarkan anak panahnya atas. Langit-langit di atas gedung itu tiba-tiba penuh oleh kawanan anak panah yang menyerupai lebah madu. Jumlahnya ribuan. Berputar-putar secara spiral. Menukik tajam menuju tubuh Sew. Mendongak, Sem menembaki anak panah itu. Satu peluru satu anak panah. Gerakan Sew semakin cepat. Dia bahkan mampu mengimbangi gerakan panah yang jatuh. Tidak ada anak panah yang jatuh ke tanah sebelum terbelah menjadi dua oleh pelurunya. Jika Sew bukan orang jahat, dia mungkin penembak jitu terhebat yang pernah ada.
Semua hanya memandang heran. Nin yang sesekali membantu menembak dari kejauhan pun ketahuan. Pelurunya tidak pernah lagi sampai ke lokasi gedung itu. Hanya setengah jalan, jatuh tertembak peluru Sew. Kemampuan Sew benar-benar meningkat, bukan hanya gerakan tubuhnya yang gesit, tapi jemari tangan dan gerakan bola matanya tidak kalah cepat. Tidak ada satu serangan jarak jauh pun yang luput dari penglihatannya.
Bosan menunggu ribuan anak panah itu habis. Sew melakukan satu cara yang belum pernah dilakukannya. Meniru gaya Sem. Peluru yang di lepaskan moncong pistolnya ikut membelah berkali lipat. Sontak, anak panah yang masih berpilin itu habis berjatuhan. Maka habis pula amunisi Sem. Tidak mungkin ia meminjam pedang Deni lagi sebagai anak panah. Deni jauh lebih memerlukan pedangya.
Hening. Akhirnya suara desing peluru yang melawan gemuruh anak panah itu terhenti. Sew menoleh ke arah kami. Wajah itu sama sekali tidak kewalahan. Moncong pistol itu menodong kami bertiga. Berbahaya jika sampai terkena peluru itu, walaupun aku tidak yakin bisa merobek zirah kami. Tapi bagaimana dengan Sem? Dia makhluk asli dunia ini. Kami melangkah pelan menjauh. Sebenarnya beresiko. Itu akan semakin memberi jarak kepada peluru Sew berkembang biak.
__ADS_1
“Sekarang apa, Jon?” Pertanyaan sama yang selalu diucapkan Deni dalam situasi mirip seperti ini.
Belum sempat aku menjawab. Beberapa peluru dalam satu kali tembakan menyasar kami bertiga. Berhasil menghindar. Tapi tanpa kami bertiga sadari, Sew punya kemampuan lebih hebat. Peluru yang sudah melewati tubuh kami itu kembali. Tak pelak tiga peluru itu mengenai tubuh kami dari belakang. Sew tersenyum puas tembakannya mengenai sasaran.
“Sem!!” Aku jelas mengkhawatirkan tubuh asli dunia ini itu.
Kami bertiga terdorong ke depan. Terjerembab.
Berita baiknya adalah peluru itu sama sekali tidak bisa menembus zirahku dan Deni. Hanya sedikit melelehkan, membuat lubang tak berarti. Berita buruknya, Sem jatuh tersungkur ke lantai pualam yang sudah retak-retak.
“Sem! Kau tak apa? Hei, Sem!” Aku berteriak parau.
“Percuma saja. Kalaupun dia bisa bertahan. Tubuhnya itu tidak akan bisa menahan peluru terkuat yang pernah ada. Dia akan meleleh, menghilang.” Sew kembali tersenyum puas.
Sem mendongak. Mendesis tertahan. Sial. Wajahnya mulai pucat pasi. Aku tidak bisa membiarkan Sem bernasib sama seperti Hon. Aku menggeram. Apalah yang aku bisa lakukan pada Sem? Aku membantu membopong tubuh lemah itu berdiri. Deni melakukan serangan. Sew menghindar.
“Terus lakukan itu, Den.” Aku membawa tubuh Sem menjauh dari pertarungan. Meminta Deni mengalihkan perhatian sementara.
Peluru Nin melesat. Dua kali, peluru itu mengenai kepala Sew. Seperti sebelumnya, hanya perlu waktu beberapa kejap untuk membuat lubang di kepala itu kembali menutup. Apakah Sew memang benar-benar tidak bisa mati? Deni menyusul menyerang, tebasan pedangnya banyak yang sia-sia. Kalaupun kena, luka goresannya langsung sembuh seketika. Deni menyeka dahi.
Sementara Sem masih terkulai lemah. Matanya sayu. Semua yang dilihatnya remang. Bukan hanya matahari sudah akan tumbang dan minimnya cahaya di tempat ini, peluru yang menembus punggungnya itu membuat Sem kehilangan banyak energi. Semakin lama, semakin berkurang. Sem mendesis panjang.
Aku terpaksa harus meninggalkan Sem sendiri, membantu Deni. Menyerang. Tapi bagitulah seterusnya. Peluru Nin, tebasan pedang Deni, pukulan dan tendanganku, tak ada yang memberi bekas berarti pada tubuh Sew. Seolah semua sudah akan berakhir disini. Aku dan Deni mundur beberapa langkah ke belakang, mengambil nafas. Peluru Nin juga berhenti menyerang. Mungkin Nin di kejauhan sana juga sudah tersengal.
“Apa kalian sudah puas menyerang?” Sew manatap sinis. Pistolnya mengacung. Walaupun peluru itu tidak akan mempan menembus zirah, tapi dengan tubuh yang kelelahan seperti ini. Dampaknya mungkin akan lebih merepotkan daripada tadi.
“Baiklah, anak muda. Nikmatilah pemndangan indah ini.” Sew terkekeh. Moncong pistiol itu bukan menyasar kami. Sew meniru gaya Sem. Membidikkannya ke arah langit-langit. Sebuah peluru terlontar. Meluncur deras, berderu. Lantas menukik tajam bak elang mengincar mangsa. Peluru itu berkembang biak menjadi ratusan, bahkan ribuan. Seluruh lantai di daerah kami mulai bergetar. Tekanan dan gelombang energi yang luar biasa dari kawanan peluru yang sudah seperti lebah marah.
Aku membuat tameng. Sebesar dan setebal yang aku bisa. Meliputkannya ke tubuh Sem yang masih tergeletak. Menyilangkan tangan. Rentetan peluru itu menghujam keras tameng yang kubuat. Bunyi bising yang memekakkan telinga kembali menyumpal. Berdentingan. Satu persatu peluru itu berguguran kehilangan tenaga. Tapi itu bukan akhir dari serangan Sew. Satu dua peluru yang menghujam keras itu perlahan membuat tamengku meleleh, membuat celah bagi peluru lain. Semakin lama, celah itu semakin besar. Sementara stok peluru yang mengantre di belakang masing mengukung tumpah ruah. Tameng yang kubuat akhirnya pecah. Tak kuasa terdesak oleh rentetan peluru. Bukan hanya itu, Sew juga menembaki tubuh kami dari bawah. Deni berusaha menahannya dengan pedang. Melindungiku.
Gerombolan peluru di langit-langit itu mulai meluncur deras tanpa hambatan. Dari kejauhan Nin berusaha semampunya menahan dengan menembaki peluru. Peluru menembak peluru. Satu dua hanya berdenting keras. Menimbulkan percikan api di dalam air. Sama sekali tak mengurangi jumlah peluru yang siap menubruk kami.
Sem mencoba berdiri. Mengenaskan. Tubuh lemah itu merangkak. Bertumpu pada busur yang beralih fungsi menjadi tongkat. Anak panah di dalam arrow rest nya sudah habis. Itu artinya petarung jarak jauh seperti Sem sudah tamat. Punggungnya sudah mulai meleleh. Matanya terpicing satu. Kasihan sekali Sem. Tapi apalah daya? Ini sebuah pertempuran. Tidak ada waktu untuk saling meratap. Tangan Sem mencoba meraba-raba ke punggung. Berharap masih ada satu anak panah saja. Tidak ada. Arrow rest itu sudah kosong. Tubuh itu terus beringsut berjalan bertumpu pada sebilah busur.
Aku berusaha menyilangkan tangan lagi. Membuat tameng kedua. Tapi Sew menembakku. Aku terjerembab jatuh terguling bebrapa meter.
“Jon!” Deni berseru. Tidak apa. Aku hanya merasakan energi yang berkurang. Tubuhku masih utuh, tidak meleleh.
Nin membalaskan serangan itu dari jauh. Sia-sia. Pelurunya tertembak di perjalanan. Deni gemetar menggenggam pedangnya yang mulai meleleh. Kakinya tidak kalah dari gemetaran tangannya. Tidak ada yang bisa bercakap-cakap. Semua dibungkus rasa yang entahlah, menjelang akhir dari segalanya. Game yang sungguh menyedihkan. Tidak ada perasaan gembira di akhir petualangan.
Beberapa meter lagi. Kawanan peluru di langit-langit itu menghujam tubuh kami. Sew bahkan tidak puas hanya sampai disitu. Dia membidik kami bertiga. Satu peluru yang membelah menjadi lima terlontar. Lagi, tangan Sem mencoba meraba punggungnya, hatinya berharap dalam, seandainya ada satu saja lagi anak panah di dalam arrow rest itu. Di saat itulah, bukan hanya harapan dari Sem seorang. Aku, Deni dan Nin juga tidak ingin perjuangan ini cepat berakhir. Kami ingin semua petualangan ini memberi kesan menyenangkan di bagian ending. Tidak ada satupun yang menginginkan semuanya Game Over.
Di saat yang bersamaan dengan jutaan anak panah putih yang mampu memusnahkan ribuan peluru dari pistol Sew. Di saat itu juga, sebuah peluru berhasil lolos menghujam kepala Sem. Tubuh yang dari awal sudah lemah itu terpantal ke belakang, terpental perlahan.
“SEEMM!!” Aku dan Deni berteriak serempak. Tidak ada yang bisa menahan, tidak ada yang bisa mencegah. Peluru mematikan itu sempurna menghantam kepala. Tubuh Sem akhirnya telentang sempurna di atas pualam yang retak. Aku dan Deni berlari mendekat. Menggoyang-goyang tubuh yang hampir menghilang itu. Nin juga lari terhuyung dari posisinya, menyusul kami.
“Petualangan yang menyenangkan, Joni, Deni. Sampaikan juga kalimat ini kepada Nin.” Tersenyum. Aku berusaha meraih lengan Sem. Kosong. Tubuh itu sudah tidak bisa disentuh. Menghilang perlahan. Membekas, menjelma menjadi cahaya, terbang ke permukaan seperri kunang-kunang. Sem sudah pergi. Nin menghentikan larinya, mengganti dengan berjalan perlahan. Kesedihan memenuhi langit-langit arena pertempuran.
Jutaan anak panah putih bercahaya milik Sem itu berhasil menghabisi seluruh peluru dari pistol Sew. Tapi tidak hanya sampai disitu. Beberapa anak panah bercahaya itu menukik tajam setelah menuntaskan perlawanan peluru. Menyasar tubuh Sew. Terkesiap, Sew mencoba menembakinya. Sia-sia, kali ini anak panah bercahaya itu yang lebih unggul. Tidak mempan tehadap peluru. Beberapa anak panah telak menghujam tubuh Sew. Pistolnya terlepas. Tubuh itu sudah seperti kaktus hidup, penuh duri anak panah bercahaya. Bahkan pistol yang terlepas itu sempurna hancur dihujam satu anak panah.
Lengang. Gelembung-gelembung air beriak naik ke permukaan. Cahaya di dalam lautan semakin berkurang.
Kali ini pemandangan tubuh itu yang mengenaskan. Anak panah cahaya Sem bukan anak panah biasa. Tubuh yang biasanya sembuh dengan cepat setelah terkena serangan. Kali ini sempurna terluka. Satu anak panah cahaya itu mengenai jantung kedua Sew. Letaknya di atas pada dada, hampir mendekati leher. Jantung itu berderik, memercikkan api. Rusak. Selama ini, jantung kedua itu yang melindunginya dari serangan apapun, membuatnya pulih lebih cepat. Tapi kelemahan Sew sudah nampak, tidak ada yang benar-benar abadi.
Jantung kedua itu terbuat dari kumpulan mutiara kerang yang sudah diolah sedemikian rupa. Ditempa ulang menjadi jantung besar, dimasukkan beberapa energi dari mutiara kerang lain dalam jumlah ribuan. Membuat Sew terlihat seolah tak akan bisa mati. Tapi sekarang, Sew bukanlah apa-apa. Hanya pria kecil berpistol.
Aku menyeka ujung mata. Menyapukan pandangan beberapa kejap ke arah terumbu karang. Rerumputan di atasnya melambai-lambai, mengucapkan selamat tinggal kepada Sem.
“Perjuanganmu tidak akan sia-sia, kawan.” Aku berbisik pelan. Mengepalkan tangan. Ayo, Sem. Bantu aku melakukan seranga akhir.
Aku menatap tajam tubuh Sew yang masih tidak bisa bergerak dikekang anak panah cahaya, mukannya menggeram. Aku memasang kuda-kuda, tangan mengepal, otot-otot kaki mengencang. Berlari. Meloncat. Melepaskan pukulan. Pukulan terkuat yang pernah aku lakukan. Air laut itu bergelombang, berderu. Rumput-rumput di tengah karang itu melambai ke satu arah. Nin yang baru saja tiba di lokasi menutup wajah dengan belakang telapak tangan, Deni juga serupa. Hembusan tekanan anginnya berlipat kali lebih besar daripada pukulanku sebelumnya. Permukaan air laut bergelombang besar. Membuat pusaran air raksasa. Ikan-ikan dan binatang laut lain menjauh. Panik. Deru angin itu dirasakan seluruh warga kota negeri ini. Belum pernah ada angin yang berhembus kencang di kedalaman air laut seperti ini.
Sew terpental, menghantam beberapa gundukan karang. Sempat menggerakkan tangan, mencoba menahan. Sew tak kuasa. Bergelegar. Jauh. Jauh sekali tubuh itu melayang. Anak panah yang menggerogoti tubuhnya juga ikut hancur terkena pukulan. Berdebam, bergetar, berputar-putar. Tubuh itu berdecit saat tiba di penghujung gundukan karang. Berdesis pelan, seperti benda panas yang tiba-tiba dicelupka ke dalam air es. Sew tersungkur kaku. Tubuhnya meringkuk tak bergerak.
Aku, Deni dan Nin mendekati tubuh itu. Tiga ratusan meter dari tempatnya semula berdiri. Mengenaskan. Tubuh kecil itu seperti terpanggang. Tidak ada penyembuhan seketika lagi, tidak ada luka yang menutup sendiri, dan yang terpenting tidak ada perlawanan. Sew telah kalah, bersama dengan ambisinya. Kami bertiga berdiri mengelilingi tubuh yang perlahan menghilang itu. Seperti kepiting hangus. Berdesis seiring menghilangnya. Meninggalkan bekas tubuh di pasir dekat karang.
Lengang.
Kami bertiga saling tatap. Menunduk. Kesedihan itu kembali menggurat di pelupuk mata. Scene dari game ini ternyata mengambil seorang archer yang luar biasa. Nin, walaupun ini pertarungan pertamanya, tetap saja Sem adalah salah satu kawan yang berharga baginya.
“Sekarang apa?” Pertanyaan Deni.
Aku diam sejenak. Bukankah masih ada satu negara yang harus kami kunjungi?
“Kita kembali ke tempat saat kita mendarat di negara ini.” Aku berkata pelan. Deni dan Nin tanpa perlu aku minta dua kali spontan menggerakkan kaki melangkah mengikuti. Berjalan pelan.
Aku terjatuh. Berpangku pada lutut dan kedua lengan. Tubuhku teras kesemutan. Sepertinya pukulan besar yang aku lakukan beberapa saat berdampak besar bagi energi di tubuhku.
“Kau tidak apa-apa, Jon?” Nin memegang lenganku. Khawatir.
Matahari sebenarnya sudah hampir tumbang di kaki cakrawala barat. Cahaya di dasar lautan ini semakin meredup. Entah apa jadinya disini jika malam hari. Senyap. Lautan ini ikut berduka. Tidak ada ikan berenang mendekat. Riak air hanya terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Gelembung-gelembung perlahan terangkat ke permukaan. Aku mengusap wajah. Deni mengguratkan jemari ke rahang bawah. Insang itu selalu membuatnya geli. Nin hanya melengok, melihat-lihat sekitar.
__ADS_1
Tiba di perkampungan. Pemandangan indah terlukis di depan mata. Kemerlap lampu di setiap rumah menyala terang. Juga di halaman depan. Entah bisa bertahan seberapa lama. Kami berjalan pelan, menangkap setiap moment keindahan dasar lautan yang selama ini hanya aku dan Deni nikmati melalui layar tablet dan televisi. Melupakan sejenak kepergian Sem.
“Bagaimana kita ke negara selanjutnya?” Deni bertanya.
“Aku tidak tahu, Den. Bukankah kita selalu mendapat petunjuk setelah kita selalu kehabisan jalan? Kita kembali saja dulu.” Aku berkata tanpa menatap wajah Deni yang mengerut.
Seorang penduduk setempat yang kami temui saat pertama kali mendarat di negara ini memanggil kami berseru-seru ketika kami kembali melintas di depan rumahnya. Meminta kami untuk bertamu. Bertiga, saling tatap. Saling tanya. Bagaimana?
“Baiklah, sebentar saja.” Aku yang memutuskan. Sem sudah tidak ada lagi.
Kami bertiga melangkah masuk ke halaman rumah sederhana itu. Ayah dari anak itu terlihat riang. Anak dalam gendongannya menguap, baru saja sore hari, dia sudah mengantuk. Ayah anak itu mempersilakan masuk. Sebenarnya ingin menolak, tapi demi melihat Nin yang sudah terpincut dengan bayi menggemaskan di dalam gendongan aku terpaksa menerima tawaran itu.
“Kalian sebaiknya istirahat disini. Aku memang tidak punya kamar lagi untuk kalian. Tapi di luar sebentar lagi gelap. Kalian tidak akan bisa membedakan mana karang dan mana hiu pembunuh. Oh, iya. Perkenalkan, namaku Bob. Aku sebenarnya nelayan di tempat ini. Tapi setelah semenjak kami dilarang untuk mencari kerang mutiara itu dan pembatasan menangkap ikan. Aku urung. Berhenti sementara, menggantung jaring.”
Aku, Deni dan Nin membiarkan Bob bercerita banyak. Bob lantas mempersilakan kami duduk. Tidak ada kursi, tidak ada sofa empuk. Kami langsung duduk di lantai batu. Bangunan ini ternyata terbuat dari batu yang dipahat. Tapi dipoles sedemikian rupa menjadi bangunan yang bisa dihuni. Lantai ini juga licin, mengkilap.
“Honey, bisa kau ambilkan tiga buah minuman. Ada tamu spesial malam ini.” Bob berseru.
“Yaa. Tunggu sebentar..” Terdengar sayup-sayup suara wanita dari dalam.
Deni menutup mulutnya menahan tawa. Honey? Itu lucu sekali. Aku menyikutnya. Deni berusaha keras menata raut wajah agar tidak membuat Bob tersinggung.
Tak lama. Seorang wanita keluar, isteri dari Bob dan ibu dari bayi di dalam gendongan itu. Membawa satu nampan dengan tiga gelas minuman. Unik memang. Meminum air di dalam air.
“Perkenalkan. Ini Bey, isteriku.” Bob memperkenalkan. Kami bersalaman.
“Kalian akan menginap, kan?” Bey bertanya dengan wajah antusias. Membagikan gelas satu persatu.
Kami diam sejenak. Tidak ada yang berani menjawab.
“Bukankah kalian sebenarnya berempat? Kemana satunya lagi?” Bob menghitung-hitung.
“Dia sudah pergi.” Deni memberanikan diri menjawab. Semua memakluminya.
“Oh, maaf soal itu. Aku mengerti. Kalian adalah pahlawan negeri ini. Tapi aku sungguh minta maaf. Kalian harus kehilangan seorang teman. Kami semua, pemduduk negeri ini sudah mengetahui akan ada sekelompok anak muda yang menghentikan aksi konyol Sew. Aku yakin sekali, bukan hanya aku dan Bey yang menyaksikan siluet pertarungan itu melalui bingkai jendela. Seluruh penduduk negeri menyaksikannya. Kami hanya menyaksikan dentuman-dentuman cahaya, ribuan anak panah mengudara, ribuan peluru berpilin, dan hanya berdo’a utnuk kemenangan kalian. Tidak ada yang bisa kami bantu. Maaf soal itu.” Bob menunduk, terlihat menyesal telah bertanya. Bayi dalam gendongan itu kembali menguap.
“Tidak apa.” Aku menanggapi singkat.
“Silakan diminum. Itu sejenis ramuan yang mampu mengembalikan stamina. Kalian akan terasa segar setelah meminumnya.” Bey tersenyum riang.
Aku meminum lebih dahulu. Tidak ada rasanya. Bey bilang ini adalah ramuan, tapi serasa minum air putih biasa. Tidak perlu berkomentar, takut Bey tersinggung. Deni dan Nin juga minum. Benar apa kata Bey, setelah beberapa tegukan tubuh terasa kembali fit. Minuman ini cepat meresap ke seluruh tubuh. Mengganti ion tubuh yang menguap.
“Terima kasih.” Nin mengangguk sopan.
“Tidak perlu sungkan.” Bob membalas anggukan itu.
Aku berdiri. Beranjak hendak pulang. Diikuti Deni dan Nin.
“Eh, kalian tidak jadi menginap?” Bey mengerutkan kening, heran.
“Maafkan kami, Bey. Tapi kami harus segera ke negara selanjutnya. Dan kami ingin pulang.” Deni memasang wajah menyesal, menghormati tuan rumah.
“Tapi bukankah di luar gelap. Itu terlalu berbahaya.” Bey tetap bersikeras menahan.
“Ada banyak hal yang tidak mungkin kami jelaskan. Tapi kami harus pergi segera.” Aku membuat Bey urung menahan lebih lama.
“Bagaimana kalian akan pergi?” Bob bertanya, menyerahkan bayi dalam gendongannya kepada Bey.
“Kami akan menggunakan portal—“ Suaraku terpotong.
“Yang kalian sendiri bahkan tidak tahu cara membukanya, kan? Kalian bahkan tidak tahu apa tujuan kalian setelah ini.” Bob yang memotong, melangkah mendekat kepada kami bertiga.
Kami semua menunduk. Bob benar. Tidak ada yang tahu tujuan kami setelah ini. Bahkan nama negara selanjutnya yang harus kami kunjungi pun tidak ada yang tahu.
“Menginaplah malam ini. Besok, akan aku tunjukkan cara menuju negara awan.” Bob menepuk bahuku.
Apa tadi yang dikatakan Bob. Negara Awan. Semua terkesiap. Bob ternyata tahu negara selanjutnya.
“Isteriku berasal dari sana. Aku punya banyak kenalan. Tapi sejak menikah dengan Bey. Tidak pernah lagi aku membuka portal itu. Tidak. Bukan aku yang membukanya. Tapi isteriku, Bey. Dia punya kemampuan untuk itu. Kami memutuskan untuk tinggal disini. Lihatlah, apakah kalian tidak menyadari? Hanya isteriku yang memiliki wajah berbeda. Cantik bukan?” Bob terkekeh setelah penjelasannya.
Benar. Bey tidak memiliki insang seperti kami. Tapi bagaimana dia bernafas? Entahlah. Makhluk negeri awan mungkin punya cara lain untuk bertahan hidup di dalam air. Kulitnya juga terlihat lebih putih penduduk negeri ini.
“Bagaimana? Kalian mau menginap, kan? Aku akan menyiapkan makan malam.” Bey sudah menyimpulkan. Belum lagi kami bertiga memberikan jawaban, dia sudah lari-lari kecil menuju dapur, menyerahkan bayinya lagi kepada Bob. Nin ikut membantu.
Akhirnya, kami memutuskan akan menginap di rumah Bob. Besok, pagi-pagi sekali. Kami akan segera berangkat. Tidak akan ada perayaan, tidak akan ada seremonial pelepasan. Memang tidak perlu. Buat apa? Tak disangka, jalan menuju negara awan ada pada Bob.
Aku, Deni, dan Bob berbicara banyak saat menunggu makan malam. Juga saat makan malam itu tiba. Sesekali bergurau. Bob bercerita tentang pekerjaannya, tentang masa kecilnya, tentang masa-masa sulit, tentang masa muda, dan saat dia bertemu dengan Bey, isterinya sekarang. Kehidupan mereka tergolong bahagia dengan intensitas tinggi. Sederhana, tapi amat bahagia. Bob selalu memanggil isterinya dengan honey, begitu romantis. Walaupun Deni selalu menutup mulut menahan tawa saat mendengarnya.
Malam itu semua tidur nyenyak. Lelah. Sebelumnya Bob meminta maaf, dia hanya memiliki satu kamar. Kami bertiga mengangguk, tidak masalah. Tidur di ruang tengah, sekaligus ruang makan, sekaligus ruang tamu. Itu lebih dari cukup, daripada harus tidur di luar bersama kawanan hiu lapar.
Rembulan bersinar terang. Tapi tak sebenderang sinar matahari yang sedikit memberi cahaya bagi kehidupan lautan. Jika saja tidak ada penerangan itu, dasar laut terdalam ini benar-benar gelap total. Malam yang indah dengan kemerlap lampu di rumah-rumah. Bak kunang-kunang yang sedang singgah. Esok lusa, para penduduk setempat sudah bisa mencari ikan sebanyak-banyaknya. Tidak ada lagi pemerintah yang otoriter, tidak ada lagi larangan ini dan itu. Dan yang terpenting, esok pagi, kami akan menuju negara terakhir. Negara Awan.
__ADS_1