
Pendaratan itu terkesan sederhana. Persis di tengah lautan. Bukan di permukaan, tapi di dalam air lautan yang asin. Sem meluncur lebih dahulu menuju dasar, diikuti Nin. Aku dan Deni menyusul di belakang. Portal itu kembali menutup.
Gelembung-gelembung air nampak bergerak menuju permukaan. Ikan-ikan kecil berlarian riang kesana-kemari. Terdengar beberapa gelembung pecah dan riak air. Kami sempurna mendarat di dasar laut. Anggapan Deni soal tidak bisa bernafas tidak tebukti. Kami bisa bernafas dengan lancar disini. Tidak ada yang menahan nafas. Hanya saja, pergerakan tubuh di dasar laut terasa melambat karena tekanan air. Apalagi arus dasar laut yang kencang. Kaki kami mendarat di Posidonia, seperti tumbuhan yang ada di laut Mediterania. Menjadi tanda, lautan ini benar-benar bersih dari polusi.
“Itu apa, Jon?” Deni menunjuk-nunjuk, bertanya. Seperti biasa, dia selalu terpana dengan pemandangan baru yang ada disekitar.
“Sepertinya itu Kelp, Den. Rumput laut yang kaya nutrisi. Lihat saja, banyak ikan di sekitarnya.” Saat aku selesai menjawab, Deni sudah sibuk memerhatikan sudut lautan yang lain. Matanya liar.
Saat ini seluruh mata sibuk menatap sekitar. Padahal ada satu hal yang tidak kami sadari. Bentuk wajah yang berubah. Tapi itu terlupakan sejenak, karena pemandangan di depan mata terlalu memikat. Ikan-ikan kecil saling kejar yang menggemaskan, warna-warni, rumput laut yang melambai-lambai, karang laut yang menggunung menjadi sarang ikan, dan gelembung-gelembung air yang naik ke permukaan berurutan. Tidak ada semilir angin disini, minim cahaya matahari. Hanya dari jarak 50 meter saja, semua terlihat remang-remang. Kami berempat terus berjalan.
Satu jam, pemandangan berubah. Tidak ada lagi karang dan rumput laut. Perkampungan penduduk menghias di depan mata, samar-samar. Rumah dengan bentuk kotak-kotak persegi. Ukuran yang sederhana. Beberapa penduduk berlalu lalang di luar rumah. Tidak ada yang menghiraukan kehadiran kami. Seperti di negara Hutan Hujan Tropis, mereka juga tidak menyadari aku dan Deni adalah player. Perkampungan ini luas, entah apa namanya. Bersambung lagi dengan perkampungan lainnya. Lebih terlihat seperti sebuah kota. Bangunan-bangunan itu terlihat nampak sama, warnanya buram.
“Apa disini juga ada toko, Sem? Kita belum makan siang.” Deni memegang perutnya.
“Negara ini tidak ada dalam ingatanku, Den. Kita terpaksa harus menanyakannya dengan penduduk setempat.” Sem menjawab, kepalanya menoleh sana-sini. Mencari seseorang yang bisa ditanyai.
“Sepertinya disana ada seseorang yang bisa diajak berbicara.” Nin menunjuk ke salah satu rumah penduduk. Rumah dengan halaman berpagar itu nampak terang, diberi lampu pada kedua sisi halamannya. Sinar matahari di tempat ini sangat minim. Siang malam mereka menyalakan lampu. Padahal sumber energi di laut sangat terbatas.
Berempat beranjak mendekati penduduk yang bersantai dengan anaknya masih bayi dalam gendongan, menikmati suasana lautan. Penduduk disini memiliki tubuh yang mirip dengan manusia. Hanya ada satu perbedaan. Ada semacam insang yang menggurat di bagian pipi dan rahang. Dan itulah yang tidak kami sadari, wajah kami juga berubah seperti mereka. Memiliki insang.
“Jon, sejak kapan-?” Belum habis Deni berkomentar, sudah diserobot oleh Nin yang mengajak berkenalan dengan penduduk setempat.
“Jadi kalian orang baru disini?” Penduduk itu bertanya. Dia adalah ayah dari bayi dalam gendongannya.
“Benar. Kami mencari gedung pemerintahan.” Sem yang menjawab.
“Jon!” Deni terus meningkahi. Aku menyikut, mencegatnya berbicara.
“Kalian lurus saja. Mungkin dua kilo dari sini kalian akan menemukan gedung itu.” Penduduk itu ternyata ramah. Bayi dalam gendongannya menguap, mengantuk. Sangat menggemaskan.
Tidak ingin mengganggu, kami berencana meneruskan perjalanan. Tapi tiba-tiba lampu yang menerangi bagian halaman rumah itu padam. Diikuti lampu-lampu di rumah penduduk yang lain. Serta lampu jalananan. Langkah kami terhenti.
“Sial. Pemerintah tidak becus! Apa yang mereka rencanakan!? Tidak berguna!” Terdengar suara dari salah satu rumah yang memaki-maki.
Sem mengangkat tangan. Bertanya-tanya. Ada apa?
“Ini kejadian yang sering terjadi. Hampir setiap hari.” Penduduk yang masih berada di dekat kami itu menghela nafas prihatin.
“Apa masalahnya?” Nin mendekati, membelai-belai bayi di dalam gendongan itu.
“Kalian pasti sudah menyadari. Tempat ini minim cahaya matahari. Berada di laut terdalam. Penerangan sangat penting disini. Tapi belakangan ini, sistem penerangan kota terganggu. Pemerintah beralasan mereka kekurangan energi.” Penduduk itu menjelaskan, ikut membelai-belai bayi mungilnya.
“Apa itu listrik? Bukankah listrik dan air salahs satu senjata pembunuhan massal yang mematikan?” Deni kebingungan, keningnya mengerut.
“Tidak. Energi lampu di tempat ini bukan berasal dari listrik. Tapi dari mutiara yang diambil dari kerang mutiara. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan proses pengubahan energi itu, mungkin kalian lebih tahu. Mereka beralasan kerang mutiara sekarang sulit ditemukan, sehingga sumber energi penerangan terbatas. Padahal beberapa hari yang lalu, nelayan di tempat kami menemukan beberapa ratus kilo kerang mutiara. Sangat melimpah. Pemerintah berbohong soal kerang itu.” Penduduk itu diam sejenak. Nampak sekali wajahnya kesal.
“Mereka pasti merencanakan sesuatu dalam skala besar.” Sem memangku dagu.
“Benar. Kita harus bergegas.” Nin menambahkan.
Semua mengangguk. Beranjak pergi setelah berpamitan dengan penduduk itu.
Arus air terasa membuat langkah lebih berat. Suara meriak mengiringi langkah. Cahaya matahari tak kuasa menyentuh dasar lauatan. Rumput laut melambai-lambai seakan mengerti, mengucapka kata selamat berjuang. Dua kilo ini seperti terasa perjalanan tiga kilo. Langkah yang berat.
“Kalian. Apa kalian tidak menyadari apa yang telah lama aku sadari?” Deni melanjutkan kalimatnya yang urung ditanyakan saat masih bersama penduduk tadi. Semua menoleh, menatap wajah Deni. “Lihatlah wajah kalian.”
Saling tatap, saling lirik. Sontak, semua serentak menyadari. Ada yang berbeda dengan struktur wajah kami.
“Apa ini?” Nin menyentuh pipinya.
“Sepertinya ini insang. Sama seperti penduduk yang kita temui tadi.” Sem juga merasaka gurat insang itu.
__ADS_1
“Ini menjijikkan, Jon. Apa ku tidak merasa geli. Lihatlah, insangmu itu.” Deni menatap jeri, tubuhnya seperti menggeliang.
Belum sempat aku berkomentar soal wajah. Sesuatu datang ke arah kami. Sesuatu dengan jumlah besar. Bergerombol.
“Apa itu kawanan sarden?” Deni sudah mengganti pertanyaannya.
“Ini buruk. Nin kau bisa jelaskan?” Sem menoleh ke arah Nin. Senjata yang terselempang itu jelas memiliki teropong jarak jauh. Nin bisa melihat gerombolan yang datang itu.
“Itu bukan sarden. Itu kawanan kuda laut raksasa. Ada prajurit yang berada dipunggungnya dengan tali kendali. Mereka menjadikan kuda laut hewan tunggangan. Mereka juga bersenjata. Tombak runcing.” Nin memerhatikan lamat-lamat teropong senjatanya.
“Kau ambil posisi, Nin. Joni, Deni, kalian berdua bersiaplah. Ini akan menjadi pertempuran besar.” Sem sudah menghunus busurnya. Nin menjauh, mengambil posisi sebagai seorang sniper. Deni ingin menghunus pedang. Tunggu, pedang Deni sudah lenyap bersama portal yang dibuat Rem saat di negara Hutan Hujan Tropis. Sem belum menggantinya. Terpaksa dia hanya memasang kuda-kuda. Sementara aku juga menghunus kepalan tangan.
“Bukankah itu terlihat seperti kawanan sarden?” Deni menatap ke depan. Menyelidik.
“Itu memang kuda laut, Den. Mereka terlihat kecil karena jaraknya yang masih jauh.” Sem bersiap membidik.
“Kenapa kuda laut bisa sebanyak itu.” Deni terus bertanya.
“Itu karena jantan mereka juga melahirkan.” Aku yang menjawab. Deni menoleh. Mukanya sudah berlipat-lipat hancur, kebingungan.
“Bersiaplah!” Sem berseru.
Kawanan kuda laut itu semakin mendekat. Para prajurit yang memacu mereka. Kuda laut yang biasanya hanya berukuran kecil, kali ini nampak seperti kuda perang yang bertubuh kekar dan perkasa. Mereka juga perenang yang handal.
Bertiga, kami menatap tajam siluet di depan yang nampak seperti kawanan sarden itu. Barisan depan melemparkan tombaknya. Ribuan tombak meluncur deras menyasar kami. Jumlah keseluruhan dari kuda laut ini mungkin puluhan ribu. Jumlah pasukan yang sangat banyak. Itu juga menjadi pertanda, ada sesuatu yang besar di balik konspirasi masalah energi penerangan di negara ini.
“Sem!” Aku menoleh. Tanpa perlu dikomando, Sem melepas satu anak panah. Melenting deras, membelah menjadi puluhan, ratusan, hingga ribuan. Anak panah itu berbenturan dengan tombak yang dilepaskan prajurit penunggang kuda laut. Jatuh tak beraturan di dasar laut. Sejauh ini, anak panah Sem masih mampu mengimbangi. Tapi dengan jarak mereka yang semakin mendekat, anak panah Sem tak ubahnya hanya seperti anak panah biasa, tidak sempat membelah menjadi banyak.
Sebuah peluru meluncur deras di atas kepala. Tak terlihat, tapi deru anginnya terasa. Nin sudah beraksi. Peluru itu menyasar kawanan penunggang kuda laut barisan depan. Tak pelak, prajurit yang berada di satu garis lurus yang dilintasi peluru itu tumbang. Hingga akhirnya peluru itu kehabisan daya dorong di penunggang kuda laut yang kesekian. Ada belasan prajurit yang tubuhnya sudah menghilang. Tapi itu tidak seberapa dengan jumlah mereka yang masih puluh ribuan.
Nin masih belum selesai. Lagi, sebuah peluru meluncur deras. Kali ini dengan sudut yang lebin lancip. Peluru itu jatuh tepat di depan barisan pertama penunggang kuda laut. Barisan pertama itu berhenti. Peluru itu mengeluarkan asap. Racun, itu rencana selanjutnya dari Nin. Asap itu menyebar luas ke sebagian penunggang kuda laut, mereka yang terkena langsung tumbang. Menghilang. Tapi karena ini di dasar laut, asap itu tak bertahan lama. Ikut menghilang.
“Bagus, Nin.” Deni berseru, mengepalkan tangan. Tidak ada yang bisa dia lakukan, pedangnya tidak ada.
Satu pukulan keras menderu. Mungkin ada ratusan penunggang kuda laut yang terpental. Sarung tangan ini memang sangat membantu. Tubuh-tubuh mereka yang sudah tarjatuh dari hewan tunggannya itu menghilang. Beberapa kawanan lain berhasil mendekat. Pertarungan jarak pendek segera terjadi. Entah apa nama seni bela dirinya, yang penting pukul saja, yang penting tendang saja. Sem memanfaatkan busurnya sebagai pedang. Aku memukul kuat-kuat, beberapa prajurit terpental. Tapi arus bawah laut ini sedikit menekan pukulan tekanan angin yang aku lancarkan. Sementara Deni bekelahi sebisanya. Merebut tombak penunggang kuda laut itu, memukulkannya. Dari kejauhan Nin juga ikut membantu, di sekitar kami banyak penunggang kuda laut itu yang jatuh tersungkur bukan karena pukulan, tapi karena sebutir peluru yang mematikan.
Pertarungan terus terjadi. Sebenarnya mudah saja mengalahkan satu dua prajurit berkuda laut ini. Tapi jumlah mereka lebih unggul. Kami kewalahan. Deni sudah mengeluh, tersengal menghela nafas. Mereka tidak ada habisnya.
“Kau punya sesuatu yang lebih hebat, Jon?” Deni bertanya. Mereka ini akan menyibukkan kami hingga malam tiba. Tidak ada habisnya.
“Bagaimana, Sem?” Aku juga sudah tidak bisa berpikir. Mereka terus menyerang dari semua sisi. Sem juga terlalu sibuk dengan urusannya, busur itu tidak terlalu efektif sebagai pembunuh lawan. Hanya menyakiti, lantas diselesaikan dengan pukulan biasa.
“Kita harus pergi. Bersembunyi!” Nin tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami.
“Bagaimana dengan mereka ini? Lihatlah, melangkah saja sulit. Mereka main keroyokan.” Suara Deni parau. Kelelahan.
“Aku sudah membawa bantuan kesini. Sem kau urus mereka yang agar kita bisa berlari dari sini sekarang.” Nin menarik lenganku, mengajak berlari. Sem mengangguk, melontarkan anak panahnya ke atas secara vertical. Anak panah yang bisa membelah menjadi ribuan itu akan menjadi pengalih perhatian. Sem menyingkirkan penunggang kuda laut yang mencoba menyerang Deni. Menarik lengannya, berlari mengikuti aku dan Nin. Ribuan anak panah itu untuk sementara menyibukkan mereka. Walaupun beberapa prajurit lain sempat mengejar, tapi terhalang oleh asap beracun dari peluru Nin.
“Kita masuk kedalam sana.” Nin menunjuk sebuah karang yang memiliki mulut goa. Mulut goa itu tertutup oleh rumput laut berlapis-lapis, tersamarkan. Dari celah-celahnya, kami masih bisa menyaksikan para penunggang kuda laut itu mencari-cari kebingungan. Berempat bersembunyi di tempat yang sempit itu terasa pengap.
“Apa yang kau maksud dengan bantuan itu?” Sem bertanya. Berusaha mengatur nafas.
“Mereka akan segera datang.” Nin juga tersengal, mengatur nafas.
“Bantuan?” Bukankah kita hanya berempat menjalankan misi ini?” Deni bingung lagi.
Langit-langit lautan tempat kami berada itu tiba-tiba dipenuhi oleh hiu pembunuh. Ukuran mereka lima kali lebih besar daripada hiu paling besar di dunia manusia. Kumpulan hiu yang berjumlah tidak kurang dari ratusan itu menyerang kawanan penunggang kuda laut. Melahap semuanya sebagai makan siang. Beberapa dari mereka berhasil menyelamatkan diri. Lari terbirit-birit.
“Jadi itu yang kau sebut sebagai bantuan, Nin? Mengerikan. Bagaimana kau mengundang mereka.” Aku bertanya.
“Aku melihat mereka melalui teropong jarak jauh. Mereka seperti sedang mencari makan. Aku menembak salah satunya, membuat yang lain marah. Membuat mereka mengejar kesini.” Nin menjelaskan.
__ADS_1
“Itu ide yang brilian.” Deni mengacungkan jempol, memuji.
Nin tersipu. Mukanya memerah. Saat ini satu rintangan berhasil dihadapi, tapi saat berada di depan gedung pemerintahan nanti. Peperangan akan jauh lebih besar daripada pertempuran dengan hanya dikeroyok penunggang kuda laut.
Lengang. Kawanan hiu pembunuh itu sudah pergi. Menyisakan suara riak air di kejauhan. Kami keluar dari goa karang yang sempit itu bergiliran. Satu celah sinar matahari menimpa wajah. Terasa lembut. Ini mungkin satu-satunya sinar matahari yang sampai ke dasar.
Perjalanan terus kami lakukan. Sesekali berpapasan dengan penduduk lokal. Melepas senyum. Ramah. Masalah insang itu sudah terlupakan. Semua memiliki wajah seperti itu, bahkan bayi dalam gendongan. Tidak ada yang aneh.
Setengah jam lagi. Kami masih melintasi perumahan penduduk. Bangunan-bangunan nampak sama. Kotak-kotak dengan warna abu-abu. Beberapa bangunan terlihat berlumut. Kami tidak tahu apa pekerjaan penduduk setempat, tapi penduduk yang pertama kami ajak bercakap-cakap mengatakan sebagian dari mereka menjadi nelayan. Dan nelayan-nelayan itu sekarang berada di depan kami. Menangkap ikan-ikan kecil.
“Apa mereka tidak khawatir dengan serangan hiu seperti tadi?” Deni bertanya, berbisik.
“Mereka sudah berpengalaman, Den. Hiu juga tidak akan menyerang jika tidak diganggu.” Sem yang menjawabkan.
Para nelayan itu sedang membereskan jaring dan ikan tangkapan, sepertinya mereka akan pulang. Jumlah mereka ada lima orang.
“Yo.” Salah seorang mengangkat tangan, menyapa.
Kami berempat berjalan mendekat. Nelayan ini sama sekali tidak merasa heran dengan kehadiran kami. Padahal, sejak awal kedatangan ke tempat ini, pakaian kami sangat mencolok, berbeda dengan pakaian penduduk setempat yang hanya berpakaian biasa. Bukan pakaian perang, baju zirah seperti yang aku kenakan.
“Kalian mau kemana?” Salah seorang nelayan lain ikut menyapa.
“Gedung pemerintahan.” Sem menjawab singkat.
“Astaga! Apa yang kalian inginkan? Itu tempat paling berbahaya di seluruh lautan. Pemerintah sedang merancang sebuah senjata pemusnah antar negara. Dalam waktu dekat, peperangan akan antar negara akan segera terjadi.” Nelayan yang lain ikut menambahkan, wajahnya terlihat cemas.
“Antar negara?” Aku bertanya. Ini masalah serius.
‘Ya, antar negara. Mereka akan menyerang negara lain. Pemerintah negara ini bersifat otoriter. Mereka tidak bisa diganggu dengan cara apapun. Siapapun yang melayangkan satu kata protes seluruh anggota keluarganya akan di sangrai menjadi abu.”
“Benar-benar kejam.” Nin menunduk lirih, tangannya mengepal lebih kuat. Sem teramat lagi, giginya bergemelatukan.
“Apa kalian pernah mendengar soal kerang mutiara?” Nelayan itu bertanya.
“Ya. Penduduk yang kami temui di perumahan itu mengatakan satu-satunya energi untuk membuat bawah laut ini terang adalah dengan energi yang di ekstrak dari mutiara kerang.” Sem mengangguk. Kami memang sudah dijelaskan soal kerang mutiara itu beberapa sat yang lalu.
“Mereka mengatakan jika stok kerang mutiara saat ini di lautan sudah sangat langka. Padahal setiap hari kami melihatnya melimpah. Nelayan modern yang sejatinya adalah pengawal kerajaan mengeruk kekayaan kerang mutiara itu di lautan. Mereka melarang nelayan seperti kami mengambil kerang.”
“Kalau mereka tetap mencari kerang mutiara itu. Bukankah seharusnya energinya masih bisa digunakan sebagai penerangan?”
“Itu hanya alasan yang tidak masuk akal. Semua penduduk sudah mengetahuinya. Mereka mengumpulkan mutiara-mutiara itu untuk mengisi energi sebuah senjata mematikan. Untuk perang antarnegara.”
“Apakah negara lain sudah mengetahui tentang senjata ini?” Aku semakin cemas.
“Sayang sekali. Sepertinya tidak. Hanya negara ini yang memiliki senjata itu.” Semua nelayan itu terlihat menunduk, prihatin. Peperangan bukan suatu hal yang baik. Dampaknya adalah penduduk itu sendiri. Sementara penguasa hanya berleha-leha pamer senjata.
“Sekarang bagaimana, Jon?” Sem bertanya, semua mata menoleh kepadaku.
“Tentu saja. Kita akan menghentikannya. Bersama-sama.” Aku mencoba melepas senyuman, meski sebenarnya ini terasa akan sulit. Bagaimana jika senjata itu sudah selesai diisi energi? Bagaimana jika mereka sudah menembakkannya? Kami harus bergegas.
“Hei, kalian tidak sedang gila, kan?” Bagaimana mungkin anak-anak seperti kalian menghentikan rencana konyol itu? Jika seluruh kota ini rakyatnya bersatu sekalipun, tidak akan bisa mengalahkan pemerintah yang memiliki prajurit ratusan ribu.” Nelayan itu pesimis.
“Dan kami memiliki kekuatan di atas ratusan ribu prajurit.” Deni membuat nelayan itu terdiam.
Kami beranjak dari tempat itu. Para nelayan hanya diam termangu. Harapan kecil membuncah di hati mereka. Sudah lama mereka ingin pemerintahan yang otoriter itu digulingkan. Sem memimpin di depan. Berlari.
“Kita kemana sekarang, Sem?” Aku bertanya, sambil berlari.
“Kita harus menemukan sebuah toko. Deni memerlukan pedangnya.” Sem menjawab. Suaranya terdengar pelan, terhalang arus air.
“Tapi dimana? Sepanjang jalan hanya ada rumah penduduk. Tidak ada bangunan yang berbeda sejauh ini.” Nin menoleh kiri-kanan. Memang belum ada bangunan yang terlihat berbeda. Dari tadi hanya rumah penduduk yang berbentuk kotak-kotak menghiasi sisi jalan setapak. Jalan yang terkadang harus membuat kami berpapasa dengan ikan-ikan kecil.
__ADS_1
“Yang penting sekarang kita terus saja ke depan. Mungkin ada toko di ujung sana. Jika memang tidak ada, aku tidak keberatan harus merampas senjata lawan lagi.” Deni mensejajari langkah Sem. Mereka berdua kali ini memimpin di depan. Aku dan Nin mengawasi di belakang. Melihat-lihat, mungkin saja ada toko di pinggir jalan yang menjual pedang .
Dan tentunya makan siang.