
Namaku Joni, aku lahir di tahun 2034 dan aku anak tunggal. Sekarang, usiaku 16 tahun, aku seorang siswa kelas X di salah satu SMA. Aku menyukai hari-hariku di sekolah, semua menyenangkan. Semua pelajaran di sekolah aku menyukainya, tak terkecuali matematika. Guru-guruku, teman-temanku, semuanya menyenangkan. Untuk remaja seusiaku, aku adalah remaja yang biasa-biasa saja. Aku berambut hitam dan lurus, kulit sawo matang khas Asia Tenggara. Aku menyukai hal-hal baru, apapun itu. Satu benda yang selalu aku bawa adalah gadget, pinjaman dari sekolah. Walaupun aku juga memilikinya satu di rumah. Lewat benda itu aku bisa mengetahui apapun di dunia, termasuk mencari kucing dan kelinci tetangga yang hilang. Ibuku sering menggunakannya mencari resep masakan baru. Ayahku menggunakannya untuk memudahkan pekerjaan di kantor. Namaku Joni, aku menyukai tekhnologi dan aku membenci koruptor.
Kamarku sederhana, pada masaku. Sama seperti kebanyakan kamar remaja lainnya. Jendela kamarku bergorden hijau muda, di bagian dinding ada satu buah kalender tahun 2050 dengan tema Corruption Graft bergambar tikus yang sedang ngemil duit recehan. Aku membenci tikus itu. Di bagian lain, ada meja belajar, ada kasur yang tidak terlalu empuk, lemari pakaian, ada karpet berwarna biru yang terhampar di lantai kamar, dan ada lemari buku dengan tiga rak bersususn simetris. Rak buku paling bawah penuh dengan buku bergenre travel, jalan-jalan. Rak buku di tengah-tengah adalah buku umum, buku berjenis How to?, buku-buku motivasi, dan buku tentang dunia tekhnologi. Rak buku paling atas diisi buku-buku milik ayah, lemari buku di kamarnya sudah over kapasitas. Aku memiliki satu perangkat PC rakitan yang sangat jarang aku gunakan. Lihatlah, penuh dengan debu. Aku lebih menyukai gadget pribadi yang aku miliki. Aku bisa berkomunikasi dengan teman, membaca buku, browsing, mendengarkan musik, bermain game dengan layar kualitas high definition. Kamarku lebih sejuk daripada di luar, karena ayahku baru saja membeli pendingin ruangan berteknologi paling mutakhir.
Aku juga memiliki satu buah konsol game keluaran Jepang di tahun 2020. Itu milik ayahku semasa kecil, masih berfungsi dengan baik. Jika waktu senggang dalam satu bulan sekali, ayahku sering mengajakku bermain bersama, game sepakbola. Kualitas gambar sangat mengesankan, wajah para pemain di lapangan dalam game susah sekali dibedakan dengan aslinya di dunia nyata. Bahkan jika yang memainkan game lebih cekatan, pemain dalam game itu bisa memiliki skill lebih baik dari aslinya. Satu fasilitas game ini yang sangat disukai adalah pemilik game bisa menggunakan wajahnya sendiri sebagai avatar. Namun sebelumnya mereka harus merekam struktur wajah hanya dengan menggunakan webcam. Selebihnya, konsol game ini bisa mengurusnya sendiri.
Pada masa itu, konsol game dengan kecanggihan seperti itu sebenarnya sudah dianggap game jadul yang ketinggalan zaman. Konsol game terbaru yang paling diminati adalah Video Game 10 V.1, sebuah konsol game keluaran negara Asia Tenggara. Konsol game ini mulai hadir pada tahun 2021, terus berkembang dengan peningkatan berbagai fitur hingga serinya yang kesepuluh sekarang. Namun, ada satu buah kekurangan pada konsol game ini, mesin konsolnya terlalu banyak menguras listrik. Jika satu buah rumah memiliki mesin pembangkit listrik secara mandiri dan konsol game ini dihidupkan, maka peralatan lain tidak akan bisa ikut dinyalakan, sekring akan otomatis ke tombol off. Bahasa yang lebih mudah adalah game ini memakai kapasitas listrik yang sangat besar. Itulah sebabnya perusahaan yang memproduksi konsol ini menyematkan V.1 pada ujung nama konsol game mereka. Konsol game itu masih perlu diperbaharui, penyempurnaan pada bagian sistem penyerapan dan penyaluran energi listrik.
Pemilik konsol game ini kebanyakan adalah penyedia layanan game online sejenis warnet dan sebagainya. Karena tidak mampu digunakan bersamaan dengan listrik rumahan, mereka memang mengkhususkan penggunaan listrik hanya pada konsol game ini. Walaupun dirasa berat dan sulit, game ini hampir pasti ada di setiap kota. Peminatnya bersedia antre berjam-jam hanya untuk memainkan permainan sederhana.
Lalu apa keistimewaan Video Game 10 V.1? Konsol game yang berasal dari Asia Tenggara ini memiliki fitur luar biasa, pemain bisa langsung masuk ke dalam game. Menggunakan tubuh sendiri, darah sendiri, dan nyawa sendiri. Berbahaya? Tentu saja. Pemain bisa saja sewaktu-waktu diserang di dalam game dan tidak sempat menekan tombol start. Game ini dibekali dengan fasilitas continue hitungan mundur dari sembilan sebanyak tiga kali. Jika pemain tidak menekan start atau log out dari game, mereka akan langsung game over bersamaan dengan hilangnya nyawa sendiri.
Tantangan dan protes keras dari negara luar semakin berdatangan. Mereka beranggapan ini melanggar HAM, akan dibahas di sidang PBB. Game itu terlalu beresiko. Negara pembuat konsol game seakan tidak peduli, mereka terus berusaha menyempurnakan berbagai fitur. Diantaranya adalah penambahan fasilitas continue dan pengurangan beban listrik, sehingga game bisa dimainkan di rumah tanpa perlu khawatir membuat sekring meledak.
“Joni!” Terdengar suara sayup-sayup memanggil dari belakang.
__ADS_1
Joni menoleh ke belakang, dia sedang berjalan di lorong samping sekolah, sekarang waktu istirahat. Seorang dengan perawakan hampir sama dengannya, berjalan santai menuju ke arahnya. Joni baru saja keluar dari kantin sekolah.
“Ada apa, Deni?” Aku bertanya.
“Ehm..” Deni menutup mulutnya dengan genggaman, mempersiapkan suara terbaik. “Kau sudah dengar tentang konsol game terbaru itu? Mereka akan merilisnya hari ini.” Deni mengepalkan tangan, dia sangat bersemangat.
Aku menatap Deni, hening sejanak.
“Ya, tentu saja aku tahu. Dengar, tidak ada produk baru apapun negara ini yang berhubungan dengan game lolos dari perhatianku. Yang kau maksud itu Video Game (VG) 10 V.2, kan?” Aku tersenyum sok tahu, nyegir.
“Lantas, apa yang kau inginkan dariku? Kau mau mengajakku bermain game itu? Jujur saja, Den. Aku sebenarnya kasihan dengan penyedia layanan game online itu. mereka seperti terbebani biaya tagihan listrik. Walaupun sekarang mereka menggunakan listrik dengan biaya pulsa. Kau ingat, kan? Saat kita kesana hari minggu lalu, Om pemilik konsol game itu bersedia kepanasan tanpa pendingin ruangan karena listriknya yang tidak mampu hanya karena ingin menyediakan layanan game yang menurutku sudah tidak menarik. Isterinya juga marah-marah. Tentu saja, aku merasa terganggu.” Raut wajahku terlihat menyesal, sekaligus kesal.
Deni mengangguk, tertegun. Itu benar. Wajar saja negara lain memprotes keras.
“Nah, apa fitur terbaru yang mereka tawarkan?” Deni bertanya.
__ADS_1
“Penghematan beban penggunaan listrik, di tambah dengan fitur continue yang lebih banyak untuk membuat game lebih aman dan tidak membahayakan.” Joni menjelaskan, dia memang sudah tahu betul dengan konsol game edisi revisi itu. Aku menjawab sambil berjalan, diikuti Deni di belakang. Kami mencari bangku kosong di beranda depan ruangan kelas.
“Sebanyak apapun mereka menambahkan fitur continue, itu tetap saja membahayakan, Jon. Bagaimana jika fitur itu habis hingga tinggal angka nol? Sedangkan mereka masih ingin melanjutkan, menekan tombol start.” Deni dan Joni sudah di duduk di sebuah bangku panjang.
“Aku rasa mereka juga membuat kode peringatan berlapis soal menekan tombol start, Den.” Aku berharap.
“Dan aku rasa, kita juga perlu mengetahui semua fitur baru itu. Mereka merilisnya hari ini.” Deni menoleh, dia tersenyum.
Aku balas menoleh. Mengetahui?
“Kita akan mencobanya, hari minggu nanti.” Deni menjawab kebingungan Joni, tersenyum.
Suasana sekolah jam istirahat penuh hiruk pikuk. Lapangan sekolah dipenuhi para siswa yang bermain basket. Sebagian lagi hanya duduk menonton di samping lapangan. Di bagian lain, terdengar suara gurauan para siswa, mereka tertawa, bercanda. Sekolah itu luas, ada banya bangunan di kompleknya. Bangunan utama bertingkat dua, dengan cat berwarna kuning muda. Di bagian belakangnya ada kantin serba ada. Lumayan untuk menghibur perut para siswa saat jam istirahat.
Suasana kembali lengang. Bel tanda masuk jam pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Para siswa kembali ke ruangan kelas mengikuti pelajaran.
__ADS_1
Aku dan Deni adalah sebagian dari siswa SMA yang menyukai video game, mereka selalu memainkannya sewaktu liburan. Refresing rutin saat setiap akhir pekan. Tidak banyak tahu, game yang akan kami mainkan di kemudian hari, akan membawa kami berdua ke sebuah petualangan yang baru.