The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 15: LIMA BELAS


__ADS_3

Sem membangunkanku dan Deni. Pagi sudah tiba. Matahari sudah menampakkan sinarnya. Rasanya seperti beberapa menit lalu aku tertidur. Tidak ada kicauan burung di sini. Mungkin memang tidak ada burungnya.


“Kita akan makan daging kijang pagi ini.” Sem menyalakan api dari rumput kering, ranting dan daun, menusuk beberapa daging mentah dengan ranting kayu yang lebih besar. Memanggang. Rupanya dia telah berhasil memburu seekor kijang saat kami masih tertidur. Tangannya cekatan bekerja. Kami hanya menonton apa yang Sem lakukan, tidak ada pengalaman soal memasak daging dengan cara seperti itu.


Deni mencoba menekan-nekan tombol di pergelangan tangannya. Berharap ada respon dari petugas layanan game di kota kami. Sia-sia. Tidak ada jawaban. Deni menunduk lesu.


“Kau mau? Aku memang bukan koki di game ini. Tapi aku tahu cara memasak daging dalam situasi darurat.” Sem menjulurkan satu tusuk daging kepada Deni. Tersenyum. “Kau ambil sendiri, Jon.”


Aku mengangguk.


Deni ragu-ragu menerimanya.


“Enak, Den. Kau harus mencobanya.” Aku sudah mengunyah beberapa gigitan.


“Terima kasih, Jon.” Sem menoleh kepadaku.


Deni akhirnya menerima uluran tusuk daging yang matang itu. Mencoba menggigit. Kunyahannya pelan, suasana hatinya memang masih buruk. Saat menelan beberapa kunyahan. Deni mulai mempercepat gigitan. Lahap. Bahkan dia meminta Sem kembali berburu. Suasana sarapan pagi itu mulai meriah. Daging piksel, tidak masalah. Asalkan bisa mengganjal perut yang kosong.


“Aku membawa air dari negeri Hutan HujanTropis, tapi hanya satu botol. Kita terpaksa harus bergiliran. Ini hanya sementara. Makan siang nanti, kalian akan aku ajak ke tempat yang aku katakan itu.” Sem menyerahkan botol minum kepadaku, meminta membagi tiga. Aku meminum sepertiganya, menyerahkan kepada Deni. Deni meminumnya, hingga tersisa sepertiga terakhir. Sem menghabiskannya. Air piksel, tidak masalah. Asal bisa melepas keringnya kerongkongan.


Kami duduk-duduk sebentar setelah sarapan. Bercanda. Bergurau. Matahari sudah mulai mendaki naik. Cuaca kembali cerah.


“Kita akan mengunjungi gedung itu.” Aku berdiri. Menatap gedung dari kejauhan.


“Apakah acara itu dimulai sepagi ini, Sem? Kemarin kan sore saat kita tiba disini.” Deni masih duduk, malas berdiri, perutnya penuh.


Sem mengangkat bahu. Dia pun tidak tahu. “Tapi kita sebaiknya kesana, Den. Aku belum tahu apa masalah negera ini.”


Sem benar. Aku hampir saja lupa. Game yang kami mainkan ini adalah tentang korupsi. Bentuk korupsi macam apa yang ada di negeri ini? Aku tidak tahu.


Kami bertiga beranjak pergi. Sem memastikan api tempat memanggang daging tidak menyala lagi. Tujuan selanjutnya adalah gedung pemerintahan. Kami hanya berjalan kaki. Tidak ada bison lagi. Jaraknya lebih dekat daripada kemarin sore. Dari kejauhan, kami melihat kerumunan penonton sudah membludak. Ada layar besar yang terpasang, akan digunakan untuk siaran langsung dari arena pertandingan.  Mereka masih menggunakan teknologi drone untuk memantau jalannya perlombaan. Tapi sepertinya ada sedikit masalah disana. Satu-dua penonton berbicara keras, memprotes.


Aku, Deni dan Sem mendekat. Menyibak beberapa penonton yang berada di bawah tribun sang pemimpin. Kami bertiga berdiri lebih dekat dengan podium. Ini pertama kalinya aku berhadapan dengan pemimpin negeri ini lebih dekat. Para penonton masih berseru-seru.


Ganti..! Ganti saja.. tidak seru kalau hanya empat peserta.. Suara penonton berseru hal serupa.


“Baik. Baik. Kami minta semuanya tenang.” Seseorang, mungkin asisten pimpinan berusaha menenangkan. Berdiri di belakang podium. Mengangkat kedua tangan, melambai-lambai. “Kami akan menerima usulan tersebut. Tiga peserta yang mengundurkan diri akan kami ganti.


Yeee.. Huu.. Terdengar riuh suara sambutan kegembiraan. Lantas suara gemuruh tepuk tangan.


“Sekarang kita akan mencari peserta yang sukarela menggantikan tiga orang yang sudah mengundurkan diri. Tiga orang tersebut juga sudah sepakat, tidak masalah jika posisi yang mereka tinggalkan ada yang menggantikan. Alasan mereka mengundurkan diri sekali lagi adalah masalah keluarga.” Asisten pemimpin itu diam sejenak, menatap kerumunan penonton.


“Sekarang siapa yang sukarela menggantikan?” Penonton diam. Hening. Keributan sebelumnya sontak menghilang.


“Sekali lagi, siapa tiga orang yang sukarela menggantikan?” Asisten itu masih mencari-cari, matanya liar menatap ke arah penonton. Siapa tahu ada yang malu-malu mengangkat tangan.


Dua menit berlalu. Tidak ada respon dari hadirin.


“Baik. Karena ini adalah permintaan kalian semua. Maka kami sendiri yang akan memutuskan siapa tiga orang yang menjadi penggantinya.” Asisten itu kembali ke belakang sebentar. Menemui sang pemimpin. Berdiskusi. Tiga menit lagi, dia kembali ke belakang podium.


“Kami sudah putuskan.” Suarnya terdengar serak. Beberapa penonton menutup wajah. Takut? Entahlah.


Asisten itu menunjuk kami bertiga. Spontan kami mengarahkan telunjuk ke dagu masing-masing. Berkata dalam hati bersamaan. Aku?


“Iya, kalian bertiga. Silakan masuk ke dalam gedung. Kalian akan melakukan persiapan.” Asisten itu meminta kami memasuki ruangan depan gedung pemerintahan. “Perlombaan akan kita mulai tiga puluh menit lagi. Harap bersabar.” Itu kata terakhir dari asisten tersebut kepada penonton yang jumlahnya mungkin sudah lebih dari ratusan. Dia kemudian turun dari lantai dua bersama sang pemimpin.


“Bagaimana ini?” Deni mengangkat tangan.


Sem menggaruk-garuk kepala. Mengangkat bahu. Tidak punya pendapat. Aku berpikir sejenak. Asisten pimpinan itu sudah menunggu kami di depan pintu.


“Kita mungkin juga sulit menolaknya. Ini tawaran tiba-tiba. Lagipula, bukankah ini hanya perlombaan adu cepat jet ski darat? Kita sudah pernah menunggangi bison sebelumnya. Aku juga bisa membawa skuter. Jet ski itupun aku rasa tidak ada bedanya dengan skuter.” Aku memberi tanggapan.


“Kita ikut, Jon?” Deni bertanya. Aku menoleh kepada Sem.


Sem mengangguk. Kami sepakat. Ikut perlombaan itu, sebagai peserta pengganti.


Kami masuk ke dalam ruangan. Disambut ramah oleh asisten pemimpin dan pemimpin itu sendiri. Pintu ditutup rapat.


“Selamat datang. Namaku Nax. Perkenalkan, beliau adalah pimpinan negeri ini. Tuan Nuw.” Asisten itu memperkenalkan diri. Menjulurkan tangan, bersalaman. Lantas memperkenalkan seseorang dengan jenggot putih.


“Aku Nuw. Pemimpin disini. Senang berkenalan dengan kalian.” Nuw terlihat bersahabat, menjulurkan tangan. Bersalaman. Lantas tersenyum lebar. Sepertinya dia juga bukan orang jahat. Kami bertiga membalas juluran tangan itu, membalas senyum, membalas memperkenalkan diri.


“Kalian terlihat berbeda. Apa kalian bukan asli dari penduduk sini?” Nuw bertanya.


“Mereka adalah player.” Nax menjawabkan.


Nuw menanggapinya dengan mengangguk pelan. Dia mengerti.


Itulah satu poin penting yang aku sungguh dibuat heran di dalam game ini. Semuanya menyadari kami adalah player. Tapi tidak pernah menganggap kami orang asing. Atau terlalu asing.


“Nax, siapkan jet ski mereka.” Nuw meminta asistennya.


“Semua sudah siap tuan Nuw. Para petugas itu hanya tinggal mengisi bahan bakar.” Nax sedikit membungkuk.


“Ho..ho..ho.. mereka memang pekerja yang cekatan.” Nuw terkekeh. Jenggot putihnya bergoyang. Wajahya memang benar-benar bersahabat. Tidak ada aura jahat sedikitpun disini.


“Kalau boleh aku tahu, apa nama bahan bakar itu, Tuan Nuw?” Sem tiba-tiba bertanya.

__ADS_1


“Kami belum memutuskan memberi nama bahan bakar itu, Sem. Kami juga baru saja melakukan bahan bakar itu beberapa tahun terakhir. Penjual hanya mengatakan itu minyak bumi kualitas terbaik. Kami tidak banyak tanya. Hanya membelinya, lantas menggunakannya untuk bahan bakar jet ski. Jet ski di tempat ini pun sebenarnya kami temukan beberapa tahun lalu. Tepatnya dua tahun sebelum ini. Sebelumnya tidak ada perlombaan seperti ini.” Nax yang menjelaskan.


“Penjual? Siapa dia?” Aku ikut bertanya. Sesuatu titik terang muncul dalam benakku. Sepertinya ini benar-benar berhubungan.


“Eh, siapa? Lelaki itu berpakaian rapi. Aku lupa_” Perkataan asisten itu terpotong.


“Dia menyebut dirinya Sew saat aku bertanya.” Nuw yang melanjutkan.


“Sew!?” Kami bertiga terbelalak.


“Ya, apa kalian mengenalnya?” Nuw sepertinya memang tidak tahu apa-apa. Wajah itu bertanya dengan polos.


“Dia adalah mafia minyak yang membuat pemimpin negeri pasir di tinggalkan rakyatnya. Minyak itu ia dapatkan dari tambang di negeri pasir. Membelinya di sana. Aku tidak menduga dia menjualnya disini.” Sem menjawab, menjelaskan.


“Dan itu berarti. Kau juga bagian dari mafia minyak itu.” Deni menghunuskan pedang.


Aku menahannya. Raut wajah Nuw sepertinya memang tidak tahu apa-apa. Dia hanya pembeli. Tidak tahu urusan mafia.


“Simpan pedangmu, Den. Kita tidak akan berperang disini.” Aku menatap tajam Deni.


Nuw dan Nax menatap kami tidak mengerti. Dua wajah tua itu penuh pertanyaan.


“Maafkan kawan kami ini, Tuan Nuw. Dia memang selalu seperti itu.” Aku harap-harap cemas.


“Apa maksudmu, Jon. Jelas-jelas lelaki ini adalah kawan Sew. Dia juga penjahat, kan?” Deni masih tak tertahankan.


“Tapi tuan Nuw tidak tahu apa-apa. Dia hanya pembeli, Den.” Aku tetap berusaha menjelaskan.


“Joni benar, Den. Sew hanya menjual minyak disini. Tuan Nuw dan Nax hanya sebagai pembeli. Mereka tidak tahu asal usul dari minyak itu.” Sem akhirnya angkat bicara.


“Itu benar. Kami memang tidak tahu asal minyak itu dari negara pasir. Kami memang tidak pernah menanyakan langsung kepada Sew. Kami hanya membelinya untuk keperluan lomba ini.” Nuw berkata datar, dia tetap tenang.


Deni akhirnya menyimpan pedangnya.


“Kami sungguh minta maaf. Jika saja kami tahu dia mafia minyak. Kami tidak akan membelinya. Kami akan mencari penjual lain.” Nax sekali lagi meminta maaf.


“Kami seharusnya juga meminta maaf.” Sem membungkuk.


“Sudahlah. Kita lupakan soal tadi. Nax, jelaskan kepada mereka tentang perlombaan ini.” Nuw sudah mengalihkan topik pembicaraan. Pengaruh cara bicaranya sangat melekat. Dia sepertinya pemimpin yang sangat di hormati disini.


“Pada dasarnya, tidak ada aturan khusus untuk peserta. Mereka menang jika lebih dahulu menggapai garais finish. Untuk arena perlombaan, kami akan menggunakan yang lebih besar. Bukan yang di belakang gedung itu lagi. Kami sudah siapkan di tempat lain. Panjang arena sekitar 50 kilo, lebarnya 10 kilo. Kalian akan cukup leluasa untuk menyebar. Kami akan mendiskualifikasi peserta yang tidak tiba di ujung arena yang lain, memutar di tengah-tengah. Sudah ada sensor yang kami letakkan disana. Kami hanya mencari tiga orang peserta sebagai pemenang. Perlombaan ini adalah tiga kali putaran, sehingga kalian harus melintasi arena sebanyak empat kali. Berawal dari garis start dan berakhir di tempat finish yang sama.” Nax menarik nafas sejenak, “Silakan jika ada yang ingin kalian tanyakan.”


“Bagaimana jika ada peserta yang berlaku curang, maksudku seperti memukul, menendang, atau sebagainya?” Aku bertanya. Ragu-ragu.


“Sekali lagi. Tidak ada peraturan khusus. Soal pukul memukul itu di luar tanggung jawab kami. Tapi jika peserta yang dipukul itu mati, pemukul dinyatakan keluar dari pertandingan.” Nax menjawab, menjelaskan.


“Baik, aku rasa kalian sudah harus menuju arena. Peserta lain mungkin sudah menunggu. Ikuti aku.” Nax mengajak kami masuk lebih dalam di ruang tengah, menuju tangga yang menurun. Tidak banyak percakapan sepanjang anak tangga. 


“Ini salah satu statiun bawah tanah milik kami. Ada banyak tempat seperti ini di bawah tanah. Ini adalah stasiun terkecil. Masyarakat disini menggunakan transportasi seperti ini. Dan ini gratis, untuk siapapun.” Nuw juga ikut bersama kami. Sementara Nax menyuruh kami masuk ke dalam kapsul.


“Bukankah perlombaan itu kurang dari tiga puluh menit lagi? Bagaimana kita akan sampai ke sana? Apakah jaraknya jauh?” Sem bertanya. Dia ikut dengan Nax. Sementara aku dan Deni satu kapsul.  Nuw memimpin di depan, sendirian.


“Jarak arena itu dari tempat ini mungkin 200 kilo.” Nax tertawa ringan.


“200 kilo?” Wajah Sem terlipat. “Bagaimana kita akan sampai ke sana? Itu bukan jarak yang dekat.”


Nax terkekeh. “Kapsul ini akan mengurusnya, Sem. Dia mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 500 kilometer perjam. Hebat, bukan? Kita akan sampai ke sana tepat waktu.” Nax kembali tersenyum


Sem mengangguk takzim. Itu luar biasa. Belum pernah ada kendaraan darat secepat itu.


Suasana bawah tanah ini sepi. Lalu lintas yang ramai sepertinya bukan disini. Mungkin juga hari ini adalah waktu libur mereka. Kebanyakan menonton lomba jet ski darat ini di halaman belakang gedung pemerintahan dengan layar super besar. Kenapa mereka berkumpul di belakang gedung pemerintahan? Bukankah sepanjang lintasan tempat kami mendarat dari portal kemarin, aku tidak melihat ada satu bangunan rumah pun?


“Alasannya sederhana, Jon. Mereka ingin melihat penyerahan medali kepada juara. Satu-satunya jalur menuju tempat ini adalah ruang bawah tanah ini. Sedangkan rumah-rumah para penduduk lebih banyak di daerah sana. Jauh dari tempat ini. Jika mereka memilih berangkat dari rumah saat lomba usai dan saatnya penyerahan medali. Tempat ini dipastikan akan macet. Tapi kami  punya kebijakan lain. Hari ini, kami hanya mengkhususkan jalur ini untuk peserta. Tempat ini di tutup untuk umum. Sehingga mereka sudah datang sejak kemarin sore.” Nax menjawab pertanyaanku, ternyata kapsul ini saling terhubung oleh satu alat komunikasi. Bisa saling bercakap-cakap antar kapsul.


 Nuw sudah memimpin di depan. Diikuti Nax dan Sem, kapsul kami paling belakang. Kapsul begerak pelan, semakin cepat. Hingga akhirnya kapsul benar-benar melintas pada kecepatan penuh. Aku dan Deni sama sekali tidak bisa memperhatikan jalanan di samping. Hanya ada satu garis putih mendatar di apit oleh warna yang lebih gelap. Garis putih itu yang jika dilihat dari keadaan sebenarnya adalah susunan lampu penerangan yang berjarak lima meter antar bohlam. Kapsul ini berjalan otomatis setelah informasi tujuan sudah di masukkan ke dalam sistem. Mereka tidak akan bertabrakan dengan kapsul lain saat berada di persimpangan. Sudah ada timing waktu yang disesuaikan secara otomatis. Jujur saja, ini benar-benar kecepatan luar biasa. Tidak ada goncangan saat seperti naik kereta atau pesawat, kapsul  melaju benar-benar dalam keadaan mulus tanpa hambatan.


20 menit. Kami sudah sampai di tempat tujuan. Meninggalkan kapsul di statiun bawah tanah, menaiki anak tangga, berjalan di lorong. Lantas tiba di area yang sangat luas. Empat peserta lain sudah menanti kedatangan sisa tiga peserta lainnya. Itulah kami. Tidak ada penonton di tempat ini. Hanya ada pengawas pertandingan. Jumlah mereka mungkin puluhan. Tempat garis start sekaligus finish itu nampak sangat luas. Padang rumput.


Pagi itu cerah, cahaya matahari menyilaukan. Langit biru bersih tanpa awan. Semilir angin kian menambah syahdu.


“Aku kira kau tidak akan membawa pengganti, tuan Nax.” Salah seorang peserta berseru, nada suaranya terdengar congkak.


“Kau seharusnya lebih sportif, Cun.” Nuw angkat bicara. Cun diam, menunduk. Ada sesuatu yang dia rencanakan.


“Kalian ambil jet ski masing-masing. Pertandingan ini akan disiarkan langsung di seluruh kota. Termasuk di belakang gedung pemerintahan.” Nax tersenyum. Dia meminta kami menuju jet ski masing-masing. Masih ada tiga yang kosong.


Mereka pasti sudah melakukan seuatu pada jet ski ini saat kami belum tiba. Deni bergumam.


“Itu tidak akan terjadi, Den. Kami punya banyak pengawas pertandingan disini.” Nax seakan tahu apa yang dipikirkan Deni.


Deni menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


Aku memilih satu jet ski paling pinggir, di sebelahku Deni, di sebelahnya lagi Sem, lantas beberapa peserta lain. Kami sudah berada di atas jet ski masing-masing.


“Kau tahu cara menjalankan benda ini?” Deni bertanya kepadaku.


Aku memperhatikan. Tidak ada injakan gas disini. Hanya ada setir. Sama seperti skuter milikku. Mungkin itu satu-satunya kemudi. Tidak rumit seperti mobil.

__ADS_1


“Aku rasa tidak jauh berbeda dengan skuter, Den.” Aku masih memperhatikan. Ini jet ski yang mampu melaju dengan kecepatan 150 kilometer perjam. Ada batas kecepatan di panel depan.


“Sekarang semuanya harap perhatikan.” Nax berdiri di depan semua peserta. “Penonton sudah tidak ingin menunggu lagi. Pertandingan akan segera dimulai. Aturannya sama, tidak ada peraturan pada perlombaan ini. Tugas kalian hanya tiba di tempat ini pada putaran ketiga. Kalian paham?”


Semua peserta mengangguk. Masing-masing menyalakan mesin. Bagiku, mesin jenis ini tidaklah terlalu asing. Ini tidak berbeda dengan skuter di duniaku. Yang aku perhatikan hanya Deni, mungkin dia akan kesulitan di awal. Tapi ketika melihat wajahnya, rasa cemasku sirna. Dia orang yang paling bersemangat di garis start ini.


“Sekarang ambil posisi pada garis berwarna merah.” Sem kembali berseru, tidak ada bantuan alar pengeras suara. Masing-masing peserta dipisahkan jarak 15 meter. Sudah ada tempat yang disediakan dengan garis start berwarna berbeda, merah.


“Bersiap!” Nax berseru. Dia sudah berdiri di belakang garis start. Tangannya memegang pistol suar. Mengacungkannya. Kami bertiga langsung mengerti, jika pistol suar itu meletus maka itu artinya “Go..”


Suar itu akhirnya memuntahkan amunisi, meluncur keras menuju birunya langit, bak rudal kendali. Pertandingan telah dimulai. Penonton di belakang gedung pemerintahan bersorak riuh. Begitu juga dengan penonton yang ada di rumah. Drone terbang mengikuti semua peserta dari atas. Melakukan siaran langsung. Semua peserta sudah meninggalkan garis start. Tancap gas. Berharap secepatnya mendapatkan kecepatan maksimal.


Langit cerah mendukung pertandingan ini. Aku bisa membayangkan betapa riuhnya suasana belakang gedung pemerintahan saat ini. Juga di tempat-tempat lain.


Saat ini, hampir semua peserta melaju sejajar. Semua berambisi memimpin di depan. Bahkan, aku Deni dan Sem pun saling mendahului. Menoleh, lantas saling melontarkan senyum. Selain menegangkan, ini juga menyenangkan. Di kota kami, sudah pasti anak usia dibawah umur tidak akan diperkenankan balapan di jalan raya, kebut-kebutan. Ini sebuah pengalaman baru yang menghapus kesedihan beberapa saat lalu. Saat aku dan Deni putus asa karena tidak bisa pulang. Setidaknya, ini bisa menghibur kami. Beberapa peserta lain sudah lebih unggul daripada kami. Mereka beberapa meter berada di depan.


Saat kami menikmati pertandingan ini. Sesuatu terjadi. Salah satu peserta terjatuh dari jet ski nya. Terlempar, berguling-guling. Semua peserta melewati tubuh itu. Jet ski nya bergerak tak terarah, hampir bertabrakan dengan Sem. Beruntung, Sem cekatan menghindar.


“Mereka sengaja melakukannya.” Sem berkata pelan. Jet ski nya mendekat kepadaku.


“Apa salah satu dari mereka curang?” Aku bertanya. Berbisik.


Sem mengangkat bahu. Entahlah. Lagipula, syarat untuk menang di pertandingan ini hanyalah menjadi orang pertama yang menggapai garis finish. Tidak ada peraturan.


“Hei, bukankah?” Aku berseru tertahan.


“Ada apa, Jon?” Deni juga mendekat, bertanya.


“Tidak ada peraturan. Itu kan yang dikatakan Nax? Jangan-jangan, semua peserta boleh melakukan apapun untuk menang.” Aku menjawab pertanyaan Deni.


“Tapi bukankah mereka akan mendiskualifikasi peserta yang membuat peserta lain kehilangan nyawa?” Deni kembali bertanya, rautnya cemas.


“Kecuali membunuh, Den. Semua boleh dilakukan.” Aku berhasil menyimpulkan.


“Sialan si Nax itu! Kenapa dia tidak mengatakannya kepada kita.” Sem berseru kesal.


Saat kami sedang bercakap-cakap salah satu peserta lain mendekat.


“Yo, anak baru. Aku tidak menyangka Nax dan tuan Nuw menunjuk kalian, anak ingusan, menggantikan tiga peserta yang pengecut itu.” Peserta itu menyapa, wajahnya sama sekali tidak bersahabat.


“Pengecut?” Sem masih terlihat kesal.


“Ya, mereka mengundurkan diri dengan alasan keluarga. Padahal mereka takut mati. Kalian tahu? Ini bukan hanya tentang siapa yang mecapai garis finish pertama. Tapi ini tentang kejantanan. Sudah banyak yang kehilangan nyawa di arena ini.” Salah satu peserta itu tertawa. Gelagatnya sudah mencurigakan. “Dan apa kalian tahu? Kalian juga akan menjadi salah satu incaranku.”


“Dan apa kau tahu? Kami tidak akan semudah itu dikalahkan.” Sem langsung tancap gas, meninggalkan sedikit peserta yang cerewet itu.


“Hei.. Hei.. Bukankah aku belum memperkenalkan diri?” Peserta itu menyusul Sem. Aku dan Deni mengikuti di belakang. Berjaga-jaga.


“Bukankah kau yang menjatuhkan salah seorang peserta di belakang itu?” Sem bertanya.


“Hei.. Itu bukan aku, kawan. Mereka yang melakukannya.” Peserta itu beralasan.


Sem mendengus tak peduli, terus melaju.


“O.oo.. Baik. Kau yang memintanya.” Peserta itu membenturkan jet ski nya. Sem terserobot ke samping. Sem tidak apa-apa,dia memperlambat kecepatan.


“Itu anak nakal.” Deni berseru. Aku setuju. “Biar aku yang membalasnya.” Deni melaju ke depan. Sementara peserta itu tidak menambah kecepatan, dia tahu akan menerima balasan. Raut wajahnya tetap pada posisi meledek, menghina, dan merendahkan.


“Apa kau tidak pernah belajar sportifitas, hah? Atau kau selalu dihukum gurumu? Sehingga kau tidak pernah diizinkan ikut pelajaran budi pekerti?” Deni mendekati jet ski peserta yang sok-keren itu.


“Oo.. Lihatlah, ada anak kecil yang ingin kembali merebut permennya.”


“Bukankah anak kecil nakal itu selalu mengganggu orang lain? Cari perhatian.” Deni membalas mengejek. Perbantahan akhirnya tak terelakkan. Deni dan peserta sok-keren itu saling sikut dengan jet ski yang terus melaju. Saling membenturkan besi-besi yang mengambang di atas rumput.


“Wow, anak kecil yang berani melawan.” Mereka terus saling berbenturan.


“Di depan adalah putaran pertama, Den. Pastikan kau melewati garisnya.” Sem berseru, mengingatkan. Kami sudah hampir mendekati garis batas untuk menuju satu putaran, tempat berbalik arah. Jika dalam balapan, kami akan segera memasuki Lap yang kedua. Sementara aku melirik, di samping kanan, dua pembalap lain sudah berbalik arah. Mereka lebih cepat beberapa detik daripada kami.


Matahari terasa semakin terik. Siang semakin meninggi. Rerumputan yang baru saja kami lalui nampak tersibak. Walaupun jet ski darat ini menggelantung sejengkal di atas tanah. Hembusan angin dari knalpot pembuangan menderu. Membuat rumput-rumput yang berada diburitan bergoyang cepat.


Kami sudah memasuki lapi yang kedua.


Deni dan peserta sok-keren itu masih saling sikut, bahkan selepas dari tikungan memutar. Sementara dua peserta lain semakin memimpin di depan. Sebuah anak panah akhirnya meluncur mengenai sisi jet ski milik peserta sok-keren. Mendenting, membuat lecet. Semua terkejut. Deni dan salah satu peserta itu menghentikan aksi sikut-menyikut di atas jet ski nya.


Hening sejenak.


Peserta sok-keren itu akhirnya menoleh.


“Rupanya aku harus berhenti bermain-main disini. Lihatlah, kita sudah ditinggal.” Si sok-keren berseru kesal. Dia menganggap ini sama sekali tidak adil. Satu melawan tiga. Dia membuat sesuatu yang membuat kami tercengang, sesuatu yang biasanya dilakukan Sem. Si ­sok-keren itu mengeluarkan busur panah dari genggamannya. Lantas menarik busur, membidik ke langit biru. Anak panah meluncur deras ke atas tanpa sasaran.


“Bahaya! Anak panah itu akan kembali. Lebih tepatnya ribuan anak panah akan kembali. Itu sama dengan cara yang aku lakukan.” Sem berseru. Sayang sekali, kecapatan beranak-pinak panah itu lebih cepat dari kemampuan Sem. Ribuan anak panah sudah membumbung tinggi di langit-langit, bersiap menghujam. Itu lebih mirip kawanan – yang pernah bermigrasi di bumi. Mata tajam anak panah itu berkilat, meluncur dengan gayanya masing-masing.


Deni juga panik, dia sudah menghunus pedang. Ingin menebas satu persatu. Tapi sehebat apapun kemampuan menebas pedang Deni, itu tidak akan menolong. Anak panah itu menang dari segi jumlah. Beberapa drone yang mengikuti kami terbang perlahan. Berusaha menjauhi jangkauan anak panah.


Saat beberapa meter lagi menyentuh sasaran. Aku berseru santai.


“Jangan lupakan kemampuanku, kawan.” Ribuan anak panah itu berhasil di bendung. Jatuh bergedebuk seperti benda berat. Sebuah tameng besar dan tebal melindungi kami bertiga. Sementara si sok-keren sudah tancap gas menjauh. Lelaki itu menoleh ke belakang dengan berseru Cih!. Kesal.

__ADS_1


Ini sudah bukan perlombaan biasa. Ini sudah menjadi arena pertempuran di atas perlombaan. Deni dan Sem menghunus pedang dan panah, aku menghunus kepalan tangan. Tancap gas. Berusaha mengejar ketertinggalan.


__ADS_2