
Rem tiba-tiba muncul dari jarak dua puluh meter. Kami serentak membalik badan, menghadap lelaki berkulit hitam dengan jubah panjang itu. Wajahnya kembali dingin, tatapannya datar. Nampak sudah, dia jemu dengan pertarungan ini. Ingin segera mengakhirinya.
Sebutir peluru meluncur deras melewati langi-langit di atas kepala kami. Tidak terlihat, tapi deru anginnya terasa. Sniper itu kembali menyerang. Rem mengangkat tangan. Peluru itu tertahan, mengambang, bergerak-gerak, seperti anjing yang menyalak. Satu anggukan pergelangan tangan, peluru itu berputar arah. Tidak kemana-kemana, hanya menyasar pohon besar di sebelahnya. Menembus daun dan ranting.
Deni memperhatikan arah asal peluru. Menimang-nimang.
“Fokus ke depan, Den. Sniper itu ada di pihak kita. Apa kau mau bernasib sama seperti Sem? Diangkat ke langit.” Aku memperingatkan. Memperhatikan tubuh hitam di seberang sana, tidak bergerak lagi. Matanya tajam, membalas tatapanku.
“Sekarang apa?” Deni bertanya.
“Serang bersama-sama.” Sem memberi usul, semua mengangguk. Raja Lan tidak ikut, tubuhnya sudah terlalu tua untuk bergerak lincah. Dia hanya menunggu di belakang pertarungan.
Aku dan Deni bergerak menyerang. Dari ke dua arah, mengoyok dari dua sudut, kiri dan kanan. Sementara Sem berdiri beberapa meter di depan raja Lan, tepat berhadapan dengan Rem, dia yang menyerang pertama. Anak panah itu terlontar. Membelah, melengkung, bergerak dari kedua sisi, sama seperti kami. Anak panah itu tepat berada di atas kepalaku dan Deni. Jika situasinya bukan sebuah pertempuran, itu akan menjadi pemandangan yang hebat. Beberapa anak panah menikung seperti sedang balapan motor, melintasi sela-sela pohon, menukik ke satu sasaran. Anak panah itu seperti dikendalikan.
“Keren, Sem.” Deni bergumam dalam hati.
Ratusan anak panah itu lebih cepat dari pergerakan kami, tiba lebih awal. Tertahan. Menggelantung sama seperti peluru sniper tadi. Lantas berjatuhan di sisi-sisi tubuh itu, kehabisan daya lontar. Rem seperti menggunakan tameng yang tak terlihat. Belum habis anak panah terakhir jatuh menimpa tanah, aku melakukan pukulan. Rem menahannya, menyilangkan tangan. Terdengar suara berdentum. Aku loncat menjauh, Deni menebas tanpa jarak. Mata pedang itu langsung mengenai, tapi sama sekali tidak membuat Rem terluka, bahkan tergores sedikitpun tidak. Disinilah aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya boleh dikatakan terlambat. Rahasia kekuatan Rem. Dan kini, aku telah mempunyai rencana untuk menumbangkannya.
Aku dan Deni melangkah mundur.
“Ikuti aku, Den.” Aku berseru ke arah Deni. Tanpa bertanya, Deni mengikuti. Kami berdua berlari mengitari tubuh yang berwajah dingin itu. Rem kini berada di tengah-tengah, di antara aku dan Deni dengan Sem dan raja Lan. Ini rencana hebat. Tapi masih ada satu masalah. Aku tidak bisa memberitahu rencana ini kepada sniper itu. Padahal dia juga bagian dari rencanaku. Dan aku berharap, Sem mengerti rencana ini tanpa perlu aku beritahukan. Sudah tidak ada waktu lagi mendekati Sem. Semoga sniper itu masih mengawasi dari teropong senjatanya disana, bisa membaca taktik ini.
Aku mengangguk ke arah Sem, lantas Sem mengangguk, mengerti. Hanya Deni yang memasang wajah terlipat, kusut. Sama sekali tak mengerti. Tapi itu tidak masalah, Deni bisa kuberitahukan saat menyerang nanti. Sem berjalan mendekati raja Lan, menjelaskan sesuatu.
“Kau yakin, raja Lan?” Sem menatap prihatin, wajahnya cemas.
“Jika itu memang satu-satunya cara. Aku akan mengerahkan seluruh tenaga, membantu kalian. Tidak peduli bagaimana nasibku nanti. Akan ada seseorang yang menggantikan posisiku. Dan dia jauh lebih baik daripada Has ataupun Rem.” Raja Lan sekali lagi berkaca-kaca, entah karena apa. Sem mengangguk ke arahku. Raja Lan sudah mengerti rencana ini.
“Den, serang dia dengan cepat dari depan. Lakukan sekarang!!” Suaraku sudah mulai serak. Tanpa perlu disuruh dua kali, Deni mengangguku, melakukan serangan. Dan aku bersiap. Bersiap melakukan pukulan dengan kedua tangan. Di seberang sana, Sem sudah membidikkan anak panahnya. Raja Lan juga bersiap di sampingnya.
Aku mengangguk. KALIAN SEMUA, LAKUKAN SEKARANG!! Semoga sniper itu juga mengerti.
Deni menebaskan pedang dari depan. Aku menyerang dengan memukulkan kedua tangan, memanfaatkan tekanan angin. Ini pertama kalinya aku menggunakan kedua tangan secara bersamaan saat menyerang. Sem melepas anak panahnya. Deru angin juga melesat di udara, sniper itu mengerti. Dia menembak secara bersamaan. Semua serangan itu dilakukan secara bersamaan. Hanya saja, target sasarannya lah yang berbeda.
Deni menebas tepat di bagian belakang Rem, Sem membidikkan anak panahnya ke seluruh tubuh Rem bagian muka, dari kepala hingga ujung kaki. Anak panah itu membelah sempurna, sesuai dengan jumlah yang diinginkan Sem. Sniper itu membidik ruang kosong sejengkal dari atas kepala Rem, dan itu memang rencana yang aku inginkan, dia benar-benar mengerti. Sementara aku menyerang dari sisi kanan dan kiri tubuh Rem. Sebenarnya sulit meloloskan pukulan itu melewati tubuh Deni yang ada di depanku. Tapi aku berhasil meniru cara Sem membuat anak panahnya menikung sempurna. Maka pukulanku, juga menikung sempurna, menjauhi tubuh Deni, lantas menikung kuat menuju tubuh Rem. Sarung tangan yang aku beli di negeri Sabana ini benar-benar membantu. Sekarang aku bisa membuat serangan melengkung. Serangan itu sempurna serempak. Tidak ada yang terlambat satu detik pun dari rencana.
Sepersekian detik sebelum serangan dari seluruh arah itu mengenai tubuh Rem, dia bermaksud menghilang. Tapi disitulah peran dari raja Lan. Kekuatannya. Kekuatan yang bisa memodifikasi waktu pada objek tententu. Sem sudah meminta raja Lan untuk memperlambat gerakan Rem barang beberapa detik. Dan itu berhasil, walaupun berefek buruk pada tubuh raja Lan sendiri, dia jatuh tersungkur setelah menggunakan kekuatan itu untuk yang kedua kalinya. Tubuh Rem bak tersetrum listrik bertegarangan tinggi, bekilat-kilat. Pukulanku dan tebasan pedang Deni menyelesaikan tugasnya, menembus tubuh kurus dan hitam itu. Seluruh serangan itu sempurna mengenai, kecuali peluru dari sniper. Tidak mengenai apapun. Apakah itu meleset? Tidak. Sniper itu tidak meleset. Tidak ada sniper yang akan menyia-nyiakan satu butir pelurunya. Itu memang bagian dari rencana. Hanya untuk jaga-jaga, boleh jadi Rem menghindar dengan melompat ke atas. Maka peluru itu sudah siap menghadang.
__ADS_1
Tubuh yang terkena serangan serempak itu tersungkur, lebih parah dari tersungkurnya raja Lan. Tubuhnya berasap, seperti hangus. Nafasnya tersengal. Wajahnya memerah, marah. Hampir tidak terlihat karena kulitnya yang hitam. Tangannya mencengkram kuat-kuat tanah yang bercampur dengan dedaunan. Jubah yang dipakainya melusuh. Compang-camping.
Deni sekali lagi mengepalkan tangan. Yes!
Aku berjalan mendekat. Rem mendongak, menatap tajam.
“Kenapa kau tidak bisa menghindari serangan dari makhluk yang bukan berasal dari dunia ini, Rem? Atau kau hanya bisa mengendalikan benda-benda. Kau bisa menahan peluru, menahan anak panah. Tapi kau tidak pernah bisa menahan pukulanku. Saat pertama kali aku memukulmu, kakimu bahkan sampai terbenam ke dalam tanah. Walaupun itu tak berarti apa-apa bagimu. Kenapa kau tidak menghilang menghindarinya?” Aku berjalan semakin mendekat. Rem sudah tidak punya kekuatan untuk menyerang balik.
Rem diam. Tidak menjawab. Matanya menatap tajam. Wajah dinginnya lenyap, berganti dengan wajah geram yang mendendam.
“Kau menggunakan seluruh kekuatanmu yang bisa mengendalikan benda itu melalui kedua tanganmu itu. Jika tidak ada tangan, kau tidak bisa apa-apa. Kecuali caramu berpindah tempat dengan cepat. Aku tidak bisa menjelaskan itu, aku hanya menebak-nebak. Tapi aku rasa kau berpindah menggunakan bantuan dimensi lain. Saat tubuhmu menghilang, kau berpindah ke dimensi itu, lalu kembali kesini dengan cara muncul tiba-tiba. Tapi sayangnya, dimensi itu tidak bisa dibuka jika berdekatan dengan tekanan angin milikku. Entah kenapa. Tapi itulah sebabnya kau tidak pernah menghilang saat menghindari pukulanku. Begitu kan, Rem?”
Sebagai jawaban, Rem hanya menggeram. Seperti singa yang kehilangan kuku-kuku dan taring tajamnya. Kehilangan kekuatan.
“Tapi bukankah pukulan itu hanya menyasar dua sisi? Kanan dan kiri?” Deni bertanya, ikut mendekat.
“Itu sebenarnya juga pertaruhanku, Den. Rem pasti akan kebingungan dengan serangan dari segala arah. Dua pukulan yang aku lakukan itu untuk menahan pergerakan tangannya. Karena semua kekuatannya, dikendalikan dari tangan. Peluru sniper itu mencegatnya meloncat ke atas. Anak panah Sem menahannya dari depan, dan tebasan pedangmu menjegal dari belakang. Rem akan bingung. Tapi sebenarnya, dia masih bisa menggunakan dimensi di bawah kakinya untuk masuk kembali ke bawah tanah. Sangat bisa. Tapi bagi Rem, membuka dimensi di bawah kaki lebih sulit daripada membuka dimensi di dekat tangannya. Karena itu, dia butuh waktu lebih lama saat menarik kaki Sem dari bawah tanah. Selama ini dia menghindar dengan cara menghilang itu adalah membuka dimensi melalui salah satu tangannya.”
Deni mengangguk perlahan. Entah mengerti atau tidak.
“Soal pengendalian itu?”
Dari kejauhan, dengan dibantu Sem untuk berdiri, raja Lan juga ikut tersenyum. Meski tubuh tuanya itu sudah mati rasa. Semua melontarkan senyuman, juga sniper di ujung sana. Tapi ini semua belum berakhir. Rem licik, lebih licik daripada Has. Di merencakan sesuatu. Sejak tadi, tangannya yang mencengkram tanah bercampur dedaunan itu bukanlah tanpa arti. Tertunduknya Rem, adalah petaka baru. Rem mencoba membuka dimensi yang lebih besar. Portal yang mampu menyedot seluruh isi negeri ini.
Angin menderu lebih kencang. Daun-daun di tangkai melambai ke satu arah yang sama. Menuju tubuh yang tersungkur dan wajah yang tertunduk itu. Seketika, semua mendongak, melupakan senyuman beberapa kejap yang lalu.
“INI AKAN MENYEDOT KALIAN SEMUA!!” Rem tiba-tiba berseru, tertawa. Sisa-sisa tenaganya itu masih mampu menghasilkan portal yang besar.
“AWAS! MENJAUH!!” Sem berseru. Dedauan di sekitar tempat itu sudah tersedot. Portal itu memang tak terlihat, tapi daya sedotnya bisa membuat orang mengira disitulah batas-batasnya. Aku dan Deni segera menjauhi tubuh yang masih tersungkur. Bergabung dengan Sem dan raja Lan.
“Jika portal itu terus membesar. Bukan hanya hutan ini. Tapi seluruh negeri akan tersedot masuk ke dalam.” Sem menghela nafas prihatin.
“Kalau begitu kita harus menghentikannya.” Deni sudah menghunus pedangya, bersiap menyerang.
“Berhenti, Den. Itu sangat berbahaya. Ketika kau mendekat, kau akan tersedot. Lihatlah daun-daun dan ranting itu.” Sem menunjuk. Daun dan ranting perlahan masuk ke dalam portal yang tak terlihat. Hilang. Lenyap. Tak kembali lagi.
“Lalu apa?” Deni selalu melontarkan pertanyaan yang sama saat situasi kehabisan akal.
__ADS_1
Sebuah peluru meluncur deras. Sniper itu beraksi dari kejauhan. Tak sempat menyentuh tubuh yang tersungkur, tak sempat mendekati, peluru itu seperti tertarik, jatuh tiba-tiba. Hilang, tenggelam ke dalam tanah. Lihatlah peluru itu saja, kehilangan daya dorong saat mendekat, apalagi panah, bahkan manusia. Portal itu semakin membesar. Angin kian menderu tak tertahankan. Beberapa daun yang masih diranting pun lepas, rantingnya patah. Jatuh. Masuk kedalam portal tak berhingga. Lari? Tidak mungkin. Bagaimana akan lari, toh seluruh tempar akan tersedot. Kembali ke negara sebelumnya dengan bantuan portal? Tidak. Tidak akan. Jika itu yang dilakukan, misi ini tidak akan selesai. Kami mungkin tidak akan bisa pulang ke dunia nyata selamanya.
Aku menggigit bibir. Kenapa kehabisan akal ini tak lagi tertimpali? Raja Lan bahkan sudah jatuh berlutut dari tadi. Putus asa. Negaranya akan hancur. Bukan hanya hancur, tapi juga menghilang. Kehabisan akal ini harus ada yang menimpali. Seseorang akhirnya datang, berjalan terhuyung-huyung memegang perut. Berjalan setengah berlari mendekati tubuh tersungkur yang di kelilingi portal.
“Apa yang-? Hei!” Aku berseru tertahan. Jelas sekali aku mengenali orang itu. dia Has, benar-benar Has. Ternyata tubuhnya yang tidak menghilang itu benar-benar masih hidup.
Has berjalan terhuyung mendekati Rem. Pemandangan yang memilukan menggelantung di pelupuk mata. Tubuhnya kian mendekat kian tenggelam. Mata kaki, lutut, paha, bahkan hingga pinggang. Portal itu menyedot lebih cepat. Hal yang sama sebenarnya juga terjadi dengan sang pembuka portal antar dimensi ini. Rem, tubuhnya juga sudah tenggelam separuh.
Has berhasil mendekati Rem. Tangan lemah ini mencengkram tangan lemah yang lain. Meletakkannya ke belakang. Memegangnya erat-erat. Macam polisi yang menangkap penjahat.
“Kita harus tenggelam bersama, Rem. Kau tidak bisa meninggalkanku sendirian disini.” Has berbisik ke salah satu kuping Rem. Tangannya masih mencengkram erat kedua tangan Rem. Lelaki hitam itu hanya menoleh pelan, kepalanya sudah berat digerakkan. Mantan kawannya dan mantan raja baru datang. Mengajaknya mati bersama. Benarkah? Tidak juga. Has sebenarnya lebih ingin membalas perlakuan Rem kepadanya saat di istana. Diremehkan tak berdaya di depan para prajurit yang hanya bisa menatap jeri. Itu sungguh melunturkan kehormatannya sebagai panglima pasukan perang. Has ingin membalasnya.
“Hei, kalian! Siapapun, serang dia. Serang jantungnya! Jika dia mati, portal ini akan berhanti.” Suara itu sebenarnya sayup-sayup terdengar. Has berseru untuk yang terakhir.
“Den, berikan pedangmu.” Sem meminta, menjulurkan tangan.
Deni menoleh. Untuk apa, Sem?
“Akan aku jelaskan nanti. Kau bantu aku, Jon. Pukul setelah aku lontarkan.” Sem mengambil pedang Deni, memasangnya dibusur.
“Hei, apa yang_?” Suara Deni terpotong.
“Hanya ini yang bisa menerobos kuatnya tarikan sedotan portal itu, Den. Jangan khawatir soal pedangmu. Nanti aku ganti.” Sem tersenyum.
Pedang yang menjadi anak panah itu dilontarkan dari busur Sem. Ketika separuh jalan, aku memukulnya, menggunakan tekanan angin. Pedang itu melesat kian cepat. Ujungnya yang runcing berkilat. Sem sudah melakukan perhitungan sempurna, rumus parabola. Dia sama sekali tidak membidikkan pedang itu langsung ke arah jantung, tapi malah membidik sejengkal di atas kepala Rem. Sem memperhitungkan sedotan portal itu setelah melihatnya menarik tubuh Has yang mendekat.
Pedang itu melesat bak peluru, lebih cepat. Hingga tiba di wilayah portal, jaraknya dari tanah menurun. Tidak masalah, itu sudah diperhitungkan. Hingga akhirnya, pedang itu menghujam, menancap sempurna. Bukan hanya Rem, bukan hanya jantungnya. Tapi juga Has, juga jantungnya. Kedua orang yang melakukan kudeta itu seketika tak bernyawa setelah kedua jantungnya hancur. Portal itu terus menarik mereka berdua, hingga menghilang, bersama dengan pedang Deni yang menancap di kedua tubuh. Di telan tanah. Tapi karena Rem sudah tewas, portal itupun akhirnya ikut menghilang. Menyisakan dedaunan yang menumpuk, ranting-ranting yang bergerombol. Berakhir sudah.
Aku menarik nafas lega, Sem mengusap wajahnya, Deni menghela nafas prihatin, pedangnya raib bersama kedua orang itu, raja Lan jatuh pingsan. Tapi tak masalah, dia hanya kelelahan. Dan aku yakin sniper itu juga menyeka keringatnya, menarik nafas panjang. Berseru kemenangan.
“Bagaimana dengan pedang itu, Sem?” Deni langsung mempertanyakannya, tangannya bergerak-gerak seperti ingin memunculkannya. Tapi tidak bisa.
“Aku akan menggantinya, Den. Jangan khawatir.” Sem menepuk bahu Deni. Tersenyum.
“Jangan seperti anak kecil, Den. Pedangmu itu sudah tenang di alam sana. Ingat, hilang satu tumbuh seribu.” Aku tersenyum, mencoba menggoda.
Deni ber puh pelan. Kehilangan sebuah pedang cukup berat baginya.
__ADS_1
Kami bertiga membawa raja Lan kembali ke istana. Disana sudah menunggu seseorang yang digadang-gadang akan menggantikan raja Lan sebagai raja. Anak dari raja Lan sendiri.