The Amazing Joni

The Amazing Joni
CHAPTER 19: SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Kami mendarat dari portal yang mengantarkah ke tengah hutan di lereng sebuah gunung. Gunung ini ditumbuhi pohon yang tinggi-tinggi. Besar-besar. Tempat ini minim sinar matahari. Cahaya remang. Pohon disini rata-rata memiliki lingkar batang 4,5 meter. Tingginya 45 meter. Entah kenapa portal selalu mengantar kami ke tempat-tempat yang tanggung. Kenapa pula tidak mengantar kami langsung ke hadapan musuh.


Pendaratan kami semua sempurna. Sudah terbiasa dengan kondisi portal yang mengambang tidak menyentuh tanah. Sejenak, kami menyapukan pandangan ke sekitar.


“Wow! Amazon! Ini hutan Amazon, kan?” Deni berseru.


“Ini game, Den.” Aku mengingatkan.


“Aku berharap bisa bertemu Bekantan disini, Jon.” Deni menoleh, tersenyum. Apa maksudnya senyum itu?


“Kita bukan di pulau Borneo, Den.” Lagi-lagi aku mengingatkan.


“Dan aku ingin bertemu Tarzan.” Sem ikut bicara. Aku dan Deni sontak menoleh, tertawa. Sem juga ikut tertawa. Sejak kapan dia mengenal tarzan? Hebat, itu kata yang disematkan kepada pembuat tokoh Sem. Bagaimana tidak, seorang tokoh tarzan pun dimasukkan ke dalam memorinya.


Kami meneruskan perjalanan setelah bergurau beberapa kejap kemudian. Sem memimpin di depan. Hari sudah sore. Kami harus mencari tempat yang bagus untuk berteduh malam nanti. Dan tentu punya persiapan untuk makan malam.


“Kau ingin makan macan kumbang, Den?” Sem bertanya, tangannya menyibak dedaunan dan ranting pohon muda yang menghalang wajah. Membiarkan kami lewat, lantas melepasnya.


Deni menggeleng. Itu bukan menu yang bagus. “ Aku lebih menyukai daging kijang daripada yang baru saja.. apa tadi katamu? Macan kumbang? Jangankan macannya, kumbangnya saja aku tak mau, Sem.” Deni tersenyum kecut. Aku mengangguk, setuju apa yang dikatakan Deni.


“Kalau kita ingin makan nanti malam, kita harus mencarinya sekarang. Atau gelap akan menghalangi kita, membiarkan perut kita bernyanyi semalaman.” Aku kini berada di barisan rombongan paling belakang.


Jalanan yang kami lalui sebenarnya tidak mudah. Banyak tanaman berduri yang bisa saja menggores kulit. Itulah peran bagus yang dilakukan zirah baru kami. Mereka tak mempan dengan duri apapun. Jangankan duri, injakan bison saja tidak akan membuatnya remuk. Terlepas dari zirah hebat ini, sepatu bot kamilah yang paling bisa diandalkan. Tanjakan, turunan, jalanan licin, semuanya bisa dilalui dengan mudah. Seperti berjalan di lintasan balap bebas hambatan.


Kami terus melangkah mengikuti Sem. Mencari tempat yang aman untuk berteduh nanti malam. Udara ini terasa dingin, sejuk. Sinar matahati remang, sesekali menerobos masuk melewati celah-celah dedaunan. Tanahnya basah, berlumut, licin. Suasana hening, senyap, hanya sesekali pula terdengar bunyi hewan dari kejauhan.


***


Sementara itu, di sudut hutan yang lain tepat saat portal itu membuka dan menutup sebuah pertempuran terjadi. Sebuah pertempuran jarak jauh. Salah satu yang terlibat dari pertarungan itu adalah sniper. Yang nampak dari pertarungan itu hanya bunyi denting peluru, menghujam sana-sini. Seseorang dengan perawakan tinggi, kurus dan hitam legam berdiri santai, tubuhnya berulang kali diincar peluru yang entah darimana datangnya. Lelaki ini menggunakan jubah putih panjang tanpa kancing di bagian depan.


Pohon-pohon, daun-daun, dan ranting-ranting di sekitar lelaki itu berdiri terlihat berlobang, berbau mesiu. Mata lelaki itu tajam menatap ke depan. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Pergerakannya sebenarnya terkunci, terkurung oleh serbuan peluru yang entah darimana datangnya. Semakin lama, daya serang peluru itu semakin kuat. Dentingannya semakin kencang. Menimbulkan percikan api.


Sebuah peluru kembali meluncur, menembus satu dua daun yang masih hijau muda. Kembali berdenting. Lelaki itu menahannya, lebih tepatnya menangkisnya. Menangkis peluru? Ya, lelaki itu menangkis peluru hanya dengan pergelangan tangan. Si sniper beberapa kali mencari sasaran tembak lain. Kepala, leher, pundak, pinggang, paha, lutut, kaki, semua sasaran sia-sia. Semua peluru dapat ditangkis. Refleksnya luar biasa.


Lubang-lubang yang ada di batang pohon, di ranting besar, di daun besar, semua adalah akibat tangkisan lelaki kurus dan hitam itu. Sementara dari jarak tembaknya, si sniper terus mendekat, mencari celah. Semakin dekat, semakin keras dan tajam puluru itu mengenai sasaran.


Saat si sniper kembali memuntahkan sebuah peluru. Lelaku kurus dan hitam itu memejamkan mata. Mendengarkan setiap gesekan peluru dengan udara yang dilaluinya. Pendengarannya luar biasa. Kali ini lelaki itu tidak menangkisnya, tapi membuat peluru kembali ke tuan nya. Tangannya cekatan, menahan. Lantas peluru hanya diam tak bergerak beberapa senti dari telapak tangan kirinya yang terbuka. Peluru itu sebenarnya memberontak, seperti anjing yang menyalak-nyalak, ingin lepas dari tali kekangnya. Beberapa kejap, tangan kanan lelaki itu terangkat. Seperti mendorong peluru itu ke salah satu sudut hutan. Peluru itu kembali melesat, bahkan lebih deras. Kembali menuju tuannya.


Di tempatnya berada, sniper itu sama sekali peluru itu kembali. Bahunya berdarah, terkena peluru. Si sniper baru menyadari peluru itu kembali setelah beberapa senti lagi dari tubuhnya. Dia hanya sempat mengelak sedikit, menyisakan bagian badan kanan, maka bahunya tak terelakkan. Sobek. Beruntung tak mengenai tulang. Si sniper memutuskan mundur, cukup untuk hari ini.


Celaka! Sniper itu kembali tak menyadari. Lelaki bertubuh kurus itu sudah ada di belakangnya, entah sejak kapan, beberapa detik yang lalu. Itulah kebiasaanya, muncul di suatu tempat degan cara yang janggal, tiba-tiba. Lelaki itu adalah Rem, salah seorang kepercayaan Has. Sniper itu terperanjat, tangan kirinya masih memegang bahu kanan, senjatanya sudah terselempang di punggung. Rem memukul sniper itu. Tubuhnya terpental sejauh tak ada yang menghalang. Dedaunan di tempat itu tersibak. Ranting-ranting berjatuhan, patah. Sniper itu mendesis. Tulang-tulangnya terasa remuk.


Saat hendak berdiri, membenarkan kaki. Rem sudah berada di belakangnya. Cepat sekali. Sepertinya Rem bisa berpindah tempat dalam hitungan sepersekian detik. Rem kembali menyerang, kali ini dengan tendangan. Sepersekian detik pula sniper itu melepaskan bom asap. Semua tiba-tiba berkabut. Tidak bisa melihat dengan jarak pandang 10 meter. Rem menutup wajah dengan pergelangan, khawatir asap itu beracun. Saat saputan asap hilang, maka sniper itu pun telah hilang.


***


Selang beberapa menit setelah pertempuran.


“Sem, kau perhatikan ini.” Aku menunjuk sebuah pohon yang berlubang. Terkena peluru. Sem memperhatikan sejenak.

__ADS_1


“Itu pasti ulah pemburu. Ini kan hutan. Siapa saja boleh berburu rusa atau kancil di tempat ini.” Deni menyimpulkan asal.


“Aku tahu siapa pemilik peluru ini.” Sem mendongak, menatap bagian lain. Beranjak memeriksa beberapa batang pohon lagi. Ada banyak lubang yang sama.


Senyap. Kami memeriksa beberapa bagian. Patahan ranting yang masih bergetah, dedaunan yang masih berbekas, berlubang, bahkan bau bubuk mesiu masih tercium disana sini. Semua ini kejadian yang baru.


“Wow, sepertinya pemburu itu langsung memasak buruannya di tempat ini. Lihatlah, ada beberapa bekas saos tomat disini.” Deni berseru. Aku dan Sem mendekat.


“Ini bukan saos, Den. Ini darah manusia.” Aku yakin sekali.


Hei, darah? Bukankah ini game? Ada darah? Bagaimana mungkin? Sem?


“Darah berlaku untuk kami, Jon. Tapi tidak bagi kalian. Kau ingat saat lomba jet ski tadi pagi? Peserta yang jatuh di senggol itu juga mengucurkan darah. Kehidupan kami disini seperti asli. Sangat berbeda dengan kalian. Jika terkena sayatan atau tebasan pedang, kalian hanya akan merasa seperti kehilangan energi.” Sem menunduk, menatap tanah.


Mungkinkah mereka-mereka yang ada di dalam game ini juga memiliki perasaan? Entahlah.


Aku mangut-mangut menatap wajah Sem. Prihatin.


“Siapa pemilik peluru-peluru itu, Sem? Aku bergegas mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku yakin sekali pernah bertemu dengannya. Dia seorang wanita, tapi aku tidak tahu siapa namanya. Hanya berpapasan saat aku membeli beberapa apel di negara ini.” Sem menjawab dengan nada datar.


“Kau bisa menyeberang portal tanpa kuis dan pernyataan-pernyataa membingungkan itu, Sem. Tapi kenapa kami tidak?” Deni mengangkat tangan. Sepertinya dia lupa, Sem sudah pernah menjelaskannya.


“Portal itu terbatas untuk kalian. Tapi aku punya akses untuk itu. Hanya sampai negara ini. Aku tidak pernah pergi ke negara ke empat dan ke lima. Aku tidak punya kemampuan untuk itu. Seandainyapun aku bisa membuka portal menuju negara ke empat, kalian tetap tidak akan bisa masuk. Portal itu hanya khusus untuk penghuni game ini, bukan untuk player.”


Deni mengangguk takzim. Kepalanya kembali menyapu sekitar.


Langit sore mulai gelap lebih cepat. Mendung. Sinar matahari tersaput awan kelabu. Sepertinya akan turun hujan. Jika benar terjadi, kami akan lebih kerepotan malam ini. Kami berpencar mancari makanan, buah-buahan. Tidak berpisah terlalu jauh, aku melarangnya. Saat mendongak, kami masih bisa melihat gerak-gerik masing-masing. Kami bertiga mengumpulkan buah yang bisa dimakan. Sem mengajarkan cara mendeteksi buah beracun dengan jam tangan canggih yang ada di pergelangan, yang untuk kesekian kalinya Aku dan Deni tidak menyadari fitur itu. Dan cara, bagaimana menyimpan bekal tanpa harus kerepotan membawanya kemana-mana.


Buah-buahan terkumpul. Kami beranjak. Masih mencari tempat yang bagus untuk berteduh. Bulir hujan pertama sudah mulai jatuh ke tanah. Satu dua silih berganti. Angin berhembus semakin deras, memainkan ujung-ujung rambut. Kami tiba di tepian sungai. Airnya jernih, aku bisa melihat bebatuan yang ada di dasar sungai. Satu dua ikan kecil berenang di permukaan. Warna warninya elok menggemaskan. Sem mengambil air dengan wadah dari daun talas yang besar. Sudah berbentuk wadah yang bisa menampung air. Aku tidak tahu bagaimana cara Sem membuatnya. Saat aku bertanya, dia hanya mengatakan air yang ada di dalamnya dipastikan tidak akan membuat gatal kulit saat diminum.


Malam tiba. Hujan deras mengguyur. Kilat menyambar. Petir berdentum membuat takut hewan-hewan kecil, mereka meringkuk di dalam sarang. Guntur bergemuruh, membisingkan langit-langit hutan. Kami bertiga masih berada di tepian sungai jernih itu. Airnya beriak ditimpa hujan. Tameng yang aku buat seperti rumah tudung setengah lingkaran sangat membantu. Walaupun teksturnya hanya seperti kaca, jangankah butir deras air hujan, peluru pun tidak akan bisa menembus. Deni yang punya ide itu. Dia menyebutnya asal-asalan, tapi bisa dipraktekkan. Sempurna, kami tidak kehujanan. Sem bahkan melengkapi ide itu. Dia mengatakan kalau aku tertidur, tameng itu akan hilang. Untuk membuat tameng tetap kokoh walaupun aku sudah terlelap, aku harus membuat energi yang mengalir itu di hentikan. Caranya? Sem lagi-lagi mengajarkan menggunakan jam tangan canggih di pergelangan kami.


Perut sudah kenyang. Kami menghabiskan buah-buahan. Minum dengan air dari tiga buah wadah dari daun talas hasil kerajinan Sem. Deni bahkan berniat mempelajari cara membuatnya. Saat dia sudah berhasil keluar dari game ini, Deni berencana menjual hasil kerajinannya sendiri di toko online.


“Itu ide yang bagus. Kau bisa mendapatkan uang saku yang lebih banyak.” Aku tersenyum, menyambut baik ide itu.


“Terima kasih, Jon.” Deni balas tersenyum.


Beberapa kejap setelah makan, kami sempat-sempatnya bergurau. Bercengkrama. Tertawa bersama. Sejenak, aku dan Deni berhasil melupakan cara keluar dari game ini. Melupakan kehidupan sesungguhnya kami berdua, melupakan sekolah, melupakan rumah-rumah yang nyawan dengan kasur kasarnya. Jadwal jaga malam sudah dibuat. Dua orang tidur lebih dahulu. Satu orang berjaga. Saat sepertiga malam awal sudah habis silakan bangunkan kawan yang lain.


Malam itu, yang pertama kali berjaga adalah Deni. Dia memilih menjadi orang pertama karena ingin tidur pulas hingga fajar di ufuk timur menyingsing. Tidak ada suara hewan-hewan malam, deru air hujan yang jatuh menimpa menutup semua hiruk pikuk kesibukan malam. Aku dan Sem sudah meringkuk tidur. Deni mengawasi sekitar, berada di dalam tameng itu terasa aman dari gangguan apapun.


Sepertiga malam pertama berlalu. Deni membangunkanku. Aku masih menguap, mata terpicing, kantuk. Rasanya baru saja aku tertidur. Jadwal giliran yang sudah dibuat harus dihormati. Aku harus berjaga hingga sepertiga malam kedua berakhir, lantas menyerahkan sepertiga malam terakhir kepada Sem.


Aku menatap sekitar. Hujan sudah berhenti, menyisakan embun-embun berserakan di ujung-ujung daun dan ranting. Rembulan kembali menggelantung, bintang-gemintang tumpah ruah di langit hitam. Dari kejauhan aktifias hewan malam kembali terdengar, bahkan sayup-sayup suara alunan menguntai nada dari sepasang serigala terdengar merdu, membuat bulu kuduk menegang.


Kelelawar terbang melintas di atas kepala menggunakan indera supersonic. Mencari buah. Burung hantu asyik mengintai, mengintip kobra yang menghadang tikus. Kodok dan katak adu loncat tinggi di tepian sungai. Beberapa jangkrik menggaruk-garuk punggungnya. Hewan-hewan besar lain meringkuk di sarang, menunggu pagi. Seperti kami.

__ADS_1


Aku menatap terpana. Terakhir kali aku bermalam di hutan adalah dua tahun yang lalu. Saat aku masih aktif di pramuka. Berkemah. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mendengar dengungan alam seperti ini. Kehidupan kota terbiasa bising, semrawut. Semua ini memang hanya piksel buatan yang terlihat nampak sempurna. Bahkan Sem juga bagian dari itu. Lihatlah, beberapa saat lalu kami hanyalah anak sekolahan yang terbiasa dengan dunia teknologi, kecanggihan, rerba otomatis, instan. Sekarang, kami sudah berada di tempat yang semuanya nampak alami. Sarapan hanya dengan membuat api sederhana, memanggang. Bukan seperti di rumah, yang hanya dengan menekan beberapa tombol di kompor serba otomatis. Sunnguh, aku bergumam takzim. Alam seperti ini tak sepentasnya untuk dirusak.


Di saat aku sibuk dengan lamunan. Terdengar beberapa langkah kaki dari kejauahan. Aku tersentak. Bersiaga. Jangan-jangan mereka yang baru saja bertempur di tempat yang ada banyak lubang peluru itu kembali untuk memeriksa. Dari kejauhan, di balik cahaya rembulan yang remang, aku melihat dua orang dengan pakaian kerajaan. Spontan, tanganku menggoyang-goyangkan punggung Sem dan Deni, meminta mereka bangun. Secepatnya. Deni bahkan protes.


“Apa kau mau curang, Jon? Ini masih giliranmu. Jatah jaga malamku juga sudah habis. Biarkan aku tidur hingga matahari sendiri yang menghangatkan batang hidungku.” Deni dengan mata terpicing kembali merebahkan tubuhnya. Sementara Sem sudah terjaga. Ada apa?


Aku menunjuk dua orang yang berjalan semakin mendekat. Siapa mereka? Bukankah ini sudah dini hari? Sem lantas berdiri. Aku membuka tameng. Deni masih meringkuk terbuai mimpi. Angin malam membelai lembut wajahnya, semakin nyenyak. Dua orang itu semakin mendekat.


“Siapa kalian?” Sem berseru. Bersiaga. Busur masih dalam simpanan.


“Kami hanya dua orang yang yang sedang dikucilkan. Kami bukan orang jahat.” Seseorang nampak sudah tua, wajahnya berkabut, kulitnya sudah kendur. Tubuhnya terlihat lemah, bahkan ada beberapa luka lebam. Pakaiannya terlihat sangat mewah, berkilau di tengah redupnya rembulan. Seseorang lagi sangat kontras. Dia masih muda, gagah, tubuhnya masih berisi. Tapi luka lebamnya lebih banyak.


Aku berusaha menengahi, “Sepertinya mereka orang baik, Sem.” Aku maju ke depan.


“Apa kalian berdua penduduk asli tempat ini?”


“Ya.” Seseorang yang masih muda itu mengangguk.


“Mereka mungkin lapar, Sem. Bangunkan Deni. Kalian bisa bergabung dengan kami. Mungkin masih ada beberada suapan makanan.” Aku sudah mengambil keputusan. Mempersilakan dua orang itu ikut duduk di dekat tubuh Deni.


“Apa tidak berbahaya, Jon?” Deni berbisik.


“Soal bahaya kita akan urus nanti.” Aku menjawab, juga berbisik.


Sem mengangguk. Mengeluarkan beberapa buah, memberikannya pada tamu lewat tengah malam. Mereka bergabung. Deni juga sudah bangun, matanya masih terpicing-picing. Berusaha mengenali.


“Apa kita berada dalam situasi yang disebut mimpi bersama, Jon?” Deni mengangkat tangan, bertanya. Sepertinya otaknya belum sempurna terjaga.


“Ini sudah pagi, Den. Kami sedang sarapan.” Sem menjawab asal. Tersenyum.


“Benarkah. Apa kita makan daging kijang lagi?” Deni bertanya, matanya sudah membulat. Kami semua tertawa. Deni menggaruk kepala, salah tingkah. Setelah aku menjelaskan semuanya.


“Apa yang kalian lakukan ditengah hutan seperti ini?” Seseorang yang sudah tua itu bertanya, sudah selesai menggigit beberapa kali buah-buahan yang kami sediakan.


“Maaf, Pak. Mungkin seharusnya kami yang bertanya seperti itu. Kami hanya anak sekolahan yang sedang camping di tempat ini.” Deni akhirnya sudah mulai nyambung, meskipun jawabannya masih jauh dari itu.


Lelaki tua itu terkekeh. “Hutan ini sangat luas, banyak hewan yang berbahaya disini. Atau mungkin perampok. Beruntung sepertinya kalian tidak pernah menemuinya.” Setengah bergurau, setengah mengolok-olok Deni.


Setengah jam berlalu. Berbagai macam topik pembicaraan dibahas. Lelaki tua itu seperti tahu banyak hal di negara ini, sementara yang satunya lagi memilih banyak diam, sesekali mengangguk mengiyakan. Kami tidak merasa percakapan itu sebenarnya menguras waktu istirahat. Pembicaraan dini hari. Saat kami asyik bergurau, terdengar lagi satu langkah kaki. Seperti berlari. Semakin mendekat.


“Apa itu perampok yang dia bicarakan, Jon?” Deni mendekat ke kupingku, berbisik. Aku diam.


Senyap sejenak.


“Oh, ternyata dia sudah kembali.” Lelaki tua itu tersenyum. Melihat dari kejauhan. Sementara kami, masih berusaha menangkap jelas bayangan yang mendekat itu. Tapi jika lelaki tua ini sudah mengenalinya, itu berarti yang baru datang itu juga bagian dari rombongan yang tersesat ini.


Seseorang itu mendekat. Pakaiannya sama dengan lelaki muda yang duduk di samping lelaki tua. Juga ada luka lebam. Yang satu ini berbeda lagi, datang dengan nafas tersengal. Dia membungkuk memegang lutut sejenak, mengambil beberapa udara segar.


“Maaf, Yang Mulia. Saya baru bisa kembali sekarang. Mereka benar-benar mengambil semuanya.” Seseorang itu masih tersengal, mengelus dada beberapa kali.

__ADS_1


Sejenak, perhatian kami tertuju kepada lelaki yang baru datang ini. Dia sangat kelelahan. Nafasnya tak beraturan. Tapi apa tadi dia bilang? Yang Mulia?


Aku tersentak. Menepuk dahi. Yang mulia? Lelaki tua ini dipanggil Yang Mulia?


__ADS_2